Connect with us

Renungan

Tuhan Tidak Punya Media Sosial

Published

on

“Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT” kata A pada story WhatsApp-nya.

“Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!” kata B pada linimasa Twitter-nya.

Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan…” kata C pada feed Instagram-nya.

Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan tersebut!” kata D pada kolom komentar di Webtoon.

***

Pernah mengeluh atau berdoa kepada Tuhan melalui media sosial? Penulis merasa tidak pernah melakukan hal ini karena menyadari sesuatu: Tuhan tidak punya media sosial!

Keluh kesah ataupun harapan kita yang ditujukan kepada Tuhan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung tanpa harus melalui perantara digital.

Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu Maha Pendengar. Apapun yang sedang kita rasakan atau pikirkan, Tuhan bisa mengetahuinya dengan mudah. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan.

Maksud Terselubung?

Jika doanya seperti “teman-teman, minta doanya agar bencana di daerah kami segera mereda”, penulis masih bisa memaklumi karena mungkin akan ada banyak orang yang membaca pesan tersebut dan langsung mengirimkan doa.

Ada juga akun yang memang mengkhususkan diri untuk mengunggah doa-doa yang sebaiknya dibaca pada saat-saat tertentu. Kalau seperti itu, penulis sangat menyetujuinya.

Yang penulis permasalahkan di sini adalah doa-doa yang ditujukan untuk kepentingan pribadi. Penulis berasumsi bahwa doa online tersebut memiliki maksud terselubung. Contohnya, memberi tahu orang lain tentang keadaan dirinya. Bahasa lainnya, ngode.

Buktinya ketika berusaha memosisikan diri sebagai orang yang membuat status seperti itu, penulis malah jadi menyimpan harapan agar doa dan keluhan itu ditanggapi oleh orang lain. Penulis tidak bisa menemukan alasan lain.

Jika bukan itu tujuannya, lantas mengapa dipublikasikan ke media sosial yang secara otomatis akan dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang lain? Sekadar mengekspresikan diri mungkin? Rasanya tidak.

Berharap Kepada Manusia

Seandainya asumsi di atas benar, itu menunjukkan bahwa kita masih banyak berharap kepada manusia. Padahal, seharusnya kita hanya boleh menggantungkan harapan kepada Tuhan semata.

Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri di dunia yang makin hari makin keras ini.

Akan tetapi, bukan berarti kita bisa menggantungkan diri kepada manusia secara total dan melupakan peran Tuhan di sini. Perlu diingat, segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat izin-Nya.

Penulis menulis artikel ini bukan karena merasa telah bisa menggantungkan diri kepada Tuhan sepenuhnya. Justru, penulis merasa bahwa dirinya masih sering menggantungkan harapan kepada manusia.

Contoh kecilnya adalah perasaan kesepian yang sering penulis derita. Seharusnya, penulis tidak perlu merasa kesepian karena Tuhan selalu bersama kita. Akan tetapi, praktik selalu lebih sulit daripada teorinya.

Bahkan, penulis memiliki ketergantungan kepada manusia agar tidak merasa sepi. Jadi, tulisan ini penulis susun sebenarnya lebih bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri.

Mungkin penulis memang tidak membuat status berdoa di media sosial, namun penulis nyatanya juga masih berharap kepada manusia dengan cara-cara yang lain.

Penutup

Mungkin, dulu penulis pun masih pernah melakukannya ketika masih labil (memang sekarang enggak?). Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, kita pun makin menyadari hal ini.

Jika sedang kesal atau bersusah hati, utarakanlah kepada Tuhan secara langsung. Tidak perlu menuliskannya di media sosial karena Tuhan tidak butuh perantara untuk bisa mendengar kita.

Menuliskan isi hati di media sosial justru menunjukkan bahwa kita masih sering menggantungkan diri kepada orang lain, bukan kepada Tuhan.

Sekali lagi, penulis sendiri masih melakukan hal yang sama. Semoga dengan tulisan ini, kita semua bisa saling memperbaiki diri dan belajar untuk hanya berharap kepada Tuhan.

 

 

Kebayoran Lama, 26 September 2019, terinspirasi dari banyaknya doa yang bertebaran di media sosial

Foto: Keegan Houser

Renungan

Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?

Published

on

By

Banyak crazy rich yang pada akhirnya bermasalah dan terlibat dengan hukum. Contoh paling “panas” adalah kasus korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 triliun yang melibatkan beberapa crazy rich.

Kalau mundur ke belakang lagi, ada banyak kasus penipuan yang juga melibatkan crazy rich. Hingga hari ini, masih ada beberapa kasus yang masih mengintai para crazy rich, entah terlibat dalam pencucian uang maupun kasus-kasus lainnya.

Seperti yang kita tahu, para crazy rich ini kerap membagikan gaya hidupnya yang mewah, sehingga membuat sebuah fenomena kalau hidup itu harus bisa sampai berfoya-foya seperti mereka. Kita belum bisa dibilang sukses kalau uang dan kekayaannya belum melimpah.

Hal ini membuat Penulis merenung, mengapa kita ini seolah begitu menghamba pada uang dan kekayaan?

Uang itu penting. Uang bisa membuat kita hidup lebih tenang. Uang bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Uang bisa membeli banyak keinginan kita. Uang bisa menjadi jalur untuk beribadah. Uang harus diakui telah menjadi barang yang penting di dunia.

Jika disuruh memilih antara miskin barokah atau kaya tidak barokah, pasti mayoritas dari kita akan memilih kaya barokah. Bahkan di dalam keyakinan Penulis, menjadi kaya itu dianjurkan karena kita bisa bersedekah, naik haji, menyantuni anak yatim piatu, dan lain sebagainya.

Memiliki uang dan kekayaan juga bisa meminimalisir potensi masalah yang terjadi. Kita tidak bingung ketika susu anak habis, tidak bingung ketika anak akan masuk sekolah, tidak bingung ketika genteng rumah bocor, dan lain sebagainya.

Uang dan kekayaan bisa mulai menjadi masalah ketika dijadikan sebagai target dalam hidup, bukannya sebagai alat. Kalau kita hidup untuk mengejar uang dan kekayaan saja, tidak akan ada puasnya. Nafsu kita sebagai manusia membuat kita terus merasa kurang jika tidak bersyukur.

Menjadikan uang dan kekayaan sebagai tujuan hidup akan mendorong kita untuk tak memedulikan bagaimana kita mendapatkannya. Korupsi, penipuan, judi online, ada banyak cara instan dan pastinya haram untuk bisa menjadi kaya.

Mungkin ada yang berhasil menjadi kaya dengan cara tersebut, tapi bisa dipastikan hartanya tidak barokah. Karena tidak barokah, pasti ada saja hal buruk yang menimpanya. Beberapa crazy rich yang telah menjadi tersangka adalah contoh mudahnya.

Memang ada yang berhasil lolos dari jeratan hukum, tapi Penulis tidak yakin ia bisa hidup dengan tenang. Penulis membayangkan mereka akan senantiasa merasa was-was, tidak pernah merasa tenang meskipun memiliki banyak harta.

Mendapatkan uang dan kekayaan dengan cara yang tidak barokah terjadi ketika manusia tidak mampu mengalahkan ego dan nafsunya. Banyaknya keinginan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan. Alhasil, banyak cara haram yang dilakukan.

Penulis yakin para koruptor atau penipu itu bukan dari kalangan miskin. Jika memiliki gaya hidup yang sederhana, harta yang dimiliki sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa karena gengsi atau memang tamak saja, akhirnya mereka ingin menambah kekayaan secara cepat.

Uang dan kekayaan adalah hal yang tidak abadi dan tidak dibawa mati. Lantas, mengapa kita rela mendapatkannya dengan cara yang tidak barokah? Untuk apa punya banyak harta di dunia yang sementara, tapi cara mendapatkannya membuat kita kehilangan sesuatu yang abadi seperti surga?

***

Tentu tak mudah untuk mempertahankan prinsip dan idealisme di era yang semakin positivistik ini: semua hanya bisa diukur dari sesuatu yang bisa dilihat, termasuk harta. Apalagi, kemunculan berbagai platform media sosial semakin memperparah keadaan ini.

Kita belum dianggap sukses jika belum memiliki ini itu, yang mungkin sebenarnya tidak kita benar-benar butuhkan. Calon pasangan mengikuti standar TikTok dan menuntut kita untuk bisa membelikan mereka ini itu. Ada banyak desakan seolah kita ini harus kaya dengan cepat, sehingga tak jarang orang memilih jalan pintas yang salah.

Terkadang kita ini saking cintanya dengan dunia, kita sampai lupa kalau ada kehidupan setelah kematian. Kita menjadi takut dengan kematian karena terlalu cinta dunia, terlalu mengejar dunia.

Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan sebagai alat semata, bukan tujuan. Semoga kita semua bisa mendapatkan uang dan kekayaan yang barokah, tidak diperoleh dengan cara yang salah dan merugikan banyak orang. Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan yang dimiliki untuk hal yang benar. Aamiin.


Lawang, 3 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kita sebagai manusia kerap menghamba ke uang dan kekayaan

Foto Featured Image: Psychology Magazine

Continue Reading

Renungan

Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?

Published

on

By

Meskipun tidak ditampilkan di dalam film Oppenheimer, Penulis bisa membayangkan betapa dahsyatnya ledakan bom atom yang dijatuhkan di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Selain hancurnya kota, banyaknya korban jiwa juga menjadi bukti nyata.

Penulis pun jadi berpikir, ledakan sedahsyat tersebut terjadi hampir 80 tahun yang lalu. Pasca-Perang Dunia 2, banyak negara yang tetap mengembangkan bom mereka yang jauh lebih dahsyat. Beberapa yang pernah terdengar adalah Hydrogen Bomb dan Tsar Bomba.

Itu yang ketahuan dan diketahui oleh publik. Bagaimana dengan senjata-senjata rahasia yang lebih mematikan? Bagaimana dengan bom yang daya ledaknya jauh lebih eksplosif? Bagaimana dengan penggunaan senjata nuklir dan biologis?

Sama seperti kekhawatiran banyak pihak, Penulis pun jadi merasa was-was seandainya dunia kembali saling melempar senjata nuklir ke lawan mereka. Jika hal buruk tersebut benar-benar terjadi, akan seperti apa dampaknya ke kita?

Linkin Park dan Peringatannya akan Perang Nuklir

Peringatan akan potensi terjadinya perang nuklir (ataupun jenis perang lainnya yang juga destruktif) bukan Penulis temukan pertama kali setelah menonton Oppenheimer. Jauh sebelumnya, Penulis telah mengetahuinya dari album-album Linkin Park.

Sebagai informasi, nama album Minutes to Midnight yang dirilis pada tahun 2007 tersebut diambil dari sebuah istilah metafora, yang merujuk kepada betapa dekatnya kita akan kehancuran gara-gara apa yang kita buat sendiri.

Beberapa track yang ada di dalamnya pun penuh dengan pesan perdamaian sekaligus pengingat betapa besar kerusakan yang telah kita buat. Tengok saja video klip dari lagu “What I’ve Done” yang terkenal.

Selang tiga tahun kemudian, Linkin Park merilis album A Thousand Suns. Nama album ini diambil dari kutipan Bhagavad Gita yang diucapkan oleh J. Robert Oppenheimer, yang menggambarkan ledakan nuklir akan seterang seribu matahari.

Linkin Park juga menyisipkan pidato Oppenheimer yang paling terkenal, di mana ia sekali lagi mengutip Bhagavad Gita dan mengatakan, “Now I am death, destroyer of the world.” Banyak yang mengintepretasikan kalau ini menjadi penyesalannya karena telah membuat bom atom.

Perang Dunia Berakhir, Pengembangan Senjata Terus Berlangsung

Bom atom yang dibuat melalui Manhattan Project awalnya ditujukan ke Jerman. Namun, berhubung Jerman sudah menyerah duluan, alhasil bom atom tersebut dialihkan ke Jepang dengan tujuan membuat mereka menyerah dan mengakhiri perang.

Beberapa ilmuwan yang terlibat dalam Manhattan Project mengajukan petisi agar bom atom tidak perlu dijatuhkan. Namun, pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Harry Truman bersikeras dengan alasan Jepang tidak menghiraukan ultimatum mereka.

Alhasil, dengan dalih agar jumlah korban yang jatuh tidak lebih banyak lagi, bom atom pun dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Perang Dunia 2 pun resmi berakhir. Namun, pengembangan senjata nuklir tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Oppenheimer selaku kepala Manhattan Project mendesak agar pemerintah AS berhenti mengembangkan senjata nuklir, yang kini hendak membuat Hydrogen Bomb dengan daya hancur yang berkali-kali lipat. Sayang, pendapatnya tidak digubris dan ia pun “dikucilkan”.

Pada masa-masa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, banyak kekhawatiran kalau perang nuklir akan benar-benar terjadi, mengingat kedua kubu memang sama-sama gencar dalam mengembangkan arsenal tempur mereka.

Untungnya hingga Uni Soviet bubar, hal tersebut tidak pernah terjadi. Memang masih ada banyak perang di mana-mana, termasuk akibat perang ideologi antara kapitalisme melawan komunisme. Setidaknya, tidak ada kejadian seperti Hiroshima dan Nagasaki lagi.

Senjata Tak akan Pernah Menghentikan Perang

Perlombaan Senjata Tak Pernah Usai (SIPRI)

Terus berlangsungnya perang di berbagai belahan dunia seolah mematahkan harapan Oppenheimer dan ilmuwan lainnya. Mereka sebenarnya berharap kalau senjata yang mereka buat akan menghentikan perang, karena lawan terlalu takut untuk menyerang.

Kenyataannya, justru lawan jadi terdorong untuk menciptakan senjata yang jauh lebih hebat. Alhasil, masing-masing negara justru saling berlomba untuk membuat senjata terhebat yang akan membuat mereka ditakuti oleh lawan.

Contoh nyata bisa kita lihat di era Perang Dingin. Jika Amerika Serikat ditanya mengapa mereka membuat senjata nuklir, mereka akan menjawab karena Uni Soviet. Sebaliknya pun begitu, Uni Soviet membuat senjata nuklir karena Amerika Serikat.

Ketegangan dunia pun seolah berada di titik yang konstan. Seolah-olah ada bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ketika Rusia tiba-tiba menginvasi Ukraina, siapa yang menyangka? Mungkin segelintir orang, tapi orang pada umumnya tidak akan mengira.

Kekhawatiran akan diluncurkannya senjata nuklir pun kembali mencuat. Sama seperti ketika Amerika Serikat menjatuhkan Fat Man dan Little Boy, bukan tidak mungkin ada negara lain yang ingin show off kepada dunia kalau mereka memiliki senjata yang pantas untuk ditakuti.

Pada akhirnya, pembuatan senjata tidak akan pernah menghentikan perang. Yang ada, justru akan melanggengkan perang. Saling curiga antarnegara akan terus terjadi, karena selalu ada kemungkinan kalau negara lain menyimpan senjata yang sangat berbahaya.

Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?

Ilustrasi Ledakan Bom Nuklir (University of Colorado Boulder)

Lantas, bagaimana jika (amit-amit) perang nuklir benar-benar terjadi? Bagaimana jika para negara adidaya memutuskan untuk meluncurkan senjata pemusnah massal yang sama sekali tidak berperikemanusiaan tersebut?

Ya sudah, terima takdir apa adanya. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan orang biasa seperti kita. Tidak mungkin juga kita tiba-tiba terjun ke medan perang dan menghentikan semua aktivitas perang atau membatalkan peluncuran senjata nuklir.

Jika perang nuklir benar-benar terjadi, maka artinya tengah malam (midnight) telah tiba. Apa yang diperingatkan oleh Linkin Park melalui albumnya benar-benar terjadi, dan kita harus menerima kenyataan kalau tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya.

Paling banter, yang bisa kita lakukan adalah menjadi aktivis dan kerap menyerukan perdamaian. Namun, seberapa lantang suara kita hingga akan didengar oleh para pemangku kekuasaan di dunia? Memang ada peluangnya, tapi sangat kecil.

Untuk sekarang, yang bisa kita lakukan hanyalah berharap perang nuklir tidak pernah terjadi. Sampai detik ini, terhitung baru Amerika Serikat saja yang pernah menjatuhkan senjata nuklir berupa bom atom ke negara lain. Semoga saja itu juga menjadi yang terakhir kalinya.

Kita hanya bisa berharap (dan berdoa) negara-negara besar yang membuat senjata-senjata berbahaya tersebut punya kesadaran untuk tidak memusnahkan kehidupan manusia sebelum hari kiamat tiba.


Lawang, 25 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton film Oppenheimer

Foto Featured Image: NJ.com

Sumber Artikel:

Continue Reading

Renungan

Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan

Published

on

By

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

-Ali bin Abi Thalib-

Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.

Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.

Mari kita renungkan. Ketika kita menolong seseorang, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?

Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?

Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?

Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.

Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya menuruti hawa nafsu semata yang berkedok cinta?

***

Itu adalah beberapa contoh bentuk “berharap kepada manusia” yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.

Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.

Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.

Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia.

Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi workload yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.

Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat “haus” akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level “menyayangi dengan ikhlas” dan tidak mengharapkan balasan.

Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.

Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni Tuhan? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.

Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.

Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.

Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.

Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.


Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan

Foto: cottonbro studio

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan