<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edukasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/edukasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/edukasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>edukasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/edukasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SWI Mengajar 2.0</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 12:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[proker]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[SWI Mengajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4148</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu passion-nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah berburu beasiswa S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen. Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama SWI Mengajar yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar. Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu <em>passion-</em>nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berburu beasiswa</a> S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen.</p>



<p>Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/"><strong>SWI Mengajar</strong></a> yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar.</p>



<p>Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini sempat terhenti karena beberapa alasan. Nah, mumpung sedang berada di Malang untuk jangka waktu yang belum ditentukan, Penulis mengusulkan <strong>SWI Mengajar 2.0</strong>. Apa itu?</p>



<h3>Konsep SWI Mengajar 2.0</h3>
<div id="attachment_4155" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4155" class="size-large wp-image-4155" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4155" class="wp-caption-text">SWI Mengajar 1.0</p></div>



<p>Pada SWI Mengajar edisi lama, anggota akan berkumpul di satu tempat untuk <strong>mengerjakan tugasnya masing-masing</strong>. Nanti akan ada anggota yang saling membantu.</p>



<p>Untuk yang tidak memiliki tugas, biasanya Penulis akan <strong>mengajar</strong> <strong>Bahasa Inggris</strong>. Walaupun tidak punya sertifikasi, setidaknya Penulis pernah belajar di Kampung Inggris.</p>



<p>Nah, di SWI Mengajar 2.0 ini konsepnya sedikit berbeda. Anggota tidak lagi membawa tugas sekolahnya, melainkan <strong>mempelajari sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah</strong>.</p>



<p>Di sini, anggota divisi internal Karang Taruna akan mengusulkan ide-ide materi. Nanti usulan-usulan ini akan diberikan kepada Penulis (dan satu rekannya) sebagai &#8220;tutor&#8221; agar dipilih untuk menjadi topik minggu ini.</p>



<p>Pelaksanaannya sendiri setiap hari Rabu, dua minggu sekali. Kenapa tidak setiap minggu? Takutnya anggota akan menjadi cepat bosan dan ujung-ujungnya pesertanya menjadi sedikit.</p>



<h3>Materi-Materi yang Sudah Diajarkan</h3>



<p>Sampai saat ini, sudah ada 3 pertemuan SWI Mengajar 2.0, yakni <strong>Public Speaking</strong>, <strong>Microsoft Word dan Penggunaan Font</strong>, serta<strong> Microsoft Excel</strong>.</p>



<p>Jumlah anggota yang ikut pun lumayan banyak, termasuk anggota <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/karang-taruna-junior/">Karang Taruna Junior</a> yang sedang dipersiapkan menjadi anggota penerus kakak-kakaknya.</p>



<p>Selain itu, ada hari spesial di mana Penulis membuat semacam kuis edukasi. Untuk edisi pertama, Penulis mengangkat tema geografi.</p>
<h3>Game Edukasi</h3>
<div id="attachment_4157" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4157" class="size-large wp-image-4157" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png" alt="" width="800" height="420" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-300x158.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-768x403.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-390x205.png 390w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2.png 1200w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4157" class="wp-caption-text">Jimmy Kimmel Live! (via <a href="https://www.boredpanda.com/americans-answer-can-you-name-country-jimmy-kimmel/">Bored Panda</a>)</p></div>



<p>Pemilihan topik ini terinspirasi dari acara talkshownya Jimmy Kimmel, di mana warga Amerika Serikat dipilih secara acak untuk ditunjukkan sebuah peta buta dunia. Mereka harus bisa menunjuk suatu negara secara bebas.</p>



<p>Hasilnya? Banyak di antara mereka yang <strong>gagal menunjukkan satu negara pun!</strong> Tidak ingin ini terjadi kepada adik-adiknya, Penulis pun ingin memberikan edukasi umum terhadap topik ini.</p>



<p>Game dimainkan secara tim dan dibagi menjadi <strong>dua babak</strong>. Tim yang mengumpulkan poin tertinggi akan keluar menjadi pemenang.</p>



<p>Babak pertama adalah <strong>pertanyaan-pertanyaan seputar Geografi</strong> yang dibagi menjadi 3 level, yakni <em>easy</em>, <em>medium</em>, dan <em>hard</em>. Semakin susah, semakin besar nilai yang akan didapatkan.</p>
<div id="attachment_4156" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4156" class="size-large wp-image-4156" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg" alt="" width="800" height="451" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-768x433.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3.jpg 1429w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4156" class="wp-caption-text">Tampilan Game Babak Kedua</p></div>



<p>Babak kedua, di layar proyektor akan muncul <strong>25 kotak yang dibagi menjadi 5 kolom</strong>. Setiap kolom mewakili benua yang ada di dunia. Masing-masing kolom juga menunjukkan angka 10, 20, 30, 40, 50.</p>



<p>Di balik kotak tersebut terdapat negara dalam bentuk peta buta beserta pilihan jawabannya. Angka yang ada di kotak menunjukkan tingkat kesulitan. Semakin tinggi, semakin susah.</p>



<p>Tim dengan poin tertinggi di babak pertama berhak memilih duluan secara bebas. Jika bisa menebak dengan benar, tim akan mendapatkan angka yang tertera di kotak. Jika salah, poin tim akan dikurangi 10.</p>
<div id="attachment_4158" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4158" class="size-full wp-image-4158" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png" alt="" width="900" height="700" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-300x233.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-768x597.png 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-4158" class="wp-caption-text">Contoh Bentuk Negara yang Harus Ditebak</p></div>



<p>Karena tim berjumlah 3, maka pertanyaan terakhir (ke-25) menjadi rebutan. Siapapun boleh mempertaruhkan poin yang sudah dikumpulkan. Tim yang mempertaruhkan nilai paling tinggilah yang akan mendapatkan kesempatan untuk menjawab.</p>



<p>Jika benar, poin yang dipertaruhkan akan ditambahkan, sedangkan jika salah poin akan dikurangi. Karena sistem ini, tim yang awalnya berada di peringkat terakhir berhasil memenangkan kuis ini karena keberaniannya mempertaruhkan semua poinnya.</p>
<p>Setelah game, ada semacam selebrasi kecil-kecilan dan masing-masing tim mendapatkan hadiah yang nilainya tidak seberapa. </p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Salah satu amal jariyah dalam Islam adalah <strong>ilmu yang bermanfaat</strong>. Karena itulah Penulis sangat senang jika bisa berbagi ilmunya kepada siapapun.</p>



<p>SWI Mengajar 2.0 ini adalah wadah untuk Penulis berbagi ilmunya. Pengemasannya harus menarik agar tidak membosankan. Topik yang dihadirkan pun harus bervariasi.</p>
<p>Selama Penulis di Malang, semoga proker ini bisa terus terlaksana secara rutin dan bisa bermanfaat untuk adik-adik Karang Tarunanya.</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 26 November 2020, terinspirasi dari proker SWI Mengajar 2.0 yang tengah dijalankan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 11:28:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut. Terakhir, Penulis membeli buku berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir. Penulis membelinya bersamaan dengan novel Guru Aini dan mendapatkan potongan harga. Apa Isi Buku Ini? Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni Falsafah Pendidikan, Konsep dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut.</p>
<p>Terakhir, Penulis membeli buku berjudul <strong><em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Haidar Bagir</strong>. Penulis membelinya bersamaan dengan novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/"><em>Guru Aini</em></a> dan mendapatkan potongan harga.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni <em><strong>Falsafah Pendidikan</strong>, <strong>Konsep dan Metode Pendidikan</strong>, </em>dan <em><strong>Falsafah Pendidikan Islam</strong>. </em>Masing-masing bagian terdiri dari beberapa esai yang satu lingkup.</p>
<p>Bagian pertama membahas seputar konsep dasar pendidikan. Pada beberapa kesempatan, penulis buku ini menyisipkan kritik terhadap sistem pendidikan yang kita anut.</p>
<p>Yang paling utama adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Apa tujuan dari para murid harus belajar di sekolah? Mencetak generasi penerus yang berakhlak dan penuh imajinasi atau sekadar mencetak calon karyawan top?</p>
<p>Pendidikan seharusnya mampu melihat potensi masing-masing muridnya, apapun bentuknya. Tidak semua murid memiliki bakat di bidang akademis, ada yang memiliki bakat di bidang seni, olahraga, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ironisnya, pendidikan kita sekarang cenderung menyamaratakan muridnya. Contoh, murid dianggap pintar jika mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran matematika. Nilai di atas kertas seolah menjadi satu-satunya tolak ukur siswa.</p>
<p>Selain itu, Haidar juga membahas bagaimana posisi manusia menghadapi saingan terbesarnya di masa depan: <em>Artificial Intelligence </em>(AI). Ada juga bab yang membahas pentingnya menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ pada murid.</p>
<p>Pada bagian kedua, Haidar lebih membahas mengenai sistem pendidikan yang ada di Indonesia termasuk kurikulumnya. Apakah kurikulum yang kita gunakan sekarang sudah tepat ataukah terasa berlebihan?</p>
<p>Ada satu bab khusus yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju seperti Finlandia dan China. Kita diajak untuk mencari metode pembelajaran yang terbaik, termasuk mempertanyakan kehadiran <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Ujian Nasional</a>.</p>
<p>Bagian terakhir membahas mengenai dasar-dasar pendidikan Islam di sekolah, termasuk pendidikan akhlak. Di bandingkan dua bagian sebelumnya, bagian ini mendapatkan porsi yang lebih sedikit.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</h3>
<p>Buku ini berukuran kecil dan harganya cukup murah (30 ribuan), namun isinya sangat berbobot. Penulis tidak bisa memahami buku ini secara keseluruhan karena bahasanya cukup berat dan banyak istilah yang tidak dipahami.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini akan menambahkan banyak wawasan kita seputar dunia pendidikan. Meskipun tidak bisa menangkap semuanya, poin-poin utamanya mampu disampaikan dengan baik.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, buku ini memiliki banyak sekali kritik terhadap sistem pendidikan kita. Mulai dari kurikulum yang terlalu padat hingga penilaian yang hanya berdasarkan rata-rata nilai, adalah sekelumit permasalahan pendidikan kita.</p>
<p>Apalagi, ada halaman-halaman yang berisikan kalimat kunci dari masing-masing esai untuk memudahkan kita mencari inti dari tulisan. Buku ini Penulis rekomendasikan untuk semua kalangan yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em>karya Haidar Bagir.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perang Diksi Tanpa Makna</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2018 13:12:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[diksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perang diksi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali. Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali.</p>
<p>Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang ini.</p>
<p>Jarang sekali penulis menemukan sebuah perang konsep yang berusaha untuk menawarkan program-program yang ditawarkan apabila mereka terpilih. Jika pun ada, masyarakat yang terlihat di media sosial juga terlihat enggan menggubris.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang dilihat media sebagai pasar, sehingga yang mereka <em>expose </em>adalah hal-hal berbau bombastis yang digemari mayoritas masyarakat.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang membuat kedua kubu memilih untuk berperang diksi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka melakukan serangan apabila kubu lawan membuat pernyataan yang mempunyai celah untuk dicela.</p>
<p>Artinya, jika ditarik secara garis besar, kitalah yang berperan untuk menentukan mana yang akan disorot. Kita, sebagai rakyat, yang memiliki kuasa untuk mengubah hal ini.</p>
<p><div id="attachment_1683" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1683" class="wp-image-1683 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg" alt="" width="1024" height="770" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-300x226.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-768x578.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-339x255.jpg 339w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1683" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Caranya? Ya jangan gubris berita-berita minim konten yang tidak mendidik masyarakat untuk berpolitik secara sehat. Sebaliknya, kita sebarkan berita-berita tentang program-program yang ditawarkan oleh mereka, sehingga fokus mereka pun (mungkin) akan berubah,</p>
<p>Bukankah itu hal yang susah? Benar, bahkan hampir bisa dibilang mustahil. Mental masyarakat kita (atau bahkan masyarakat dunia?) sudah terpatri untuk menikmati <em>bad news</em> dibandingkan <em>good news</em>.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita harus berdiam diri saja menyaksikan ini semua terjadi. Minimal, dimulai dari diri kita sendiri dan pengaruhi lingkungan sekitar kita. Ajak mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita media.</p>
<p>Anggap saja mereka yang masih berbuat hal-hal seperti itu sebagai bayangan di dinding. Ada gerakannya, tapi kita tidak bisa mendengar apa yang diucapkan karena mereka hanyalah sebuah bayangan.</p>
<p>Bayangan tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi suara. Tentu kita tidak ingin membuang waktu untuk berusaha mendengar bayangan bukan? Hal yang sama juga berlaku di dunia nyata, jangan buang waktu kita yang berharga untuk mendengar kalimat kosong.</p>
<p>Jika para elit politik benar-benar peduli terhadap rakyatnya, sudah seharusnya perang diksi tanpa makna ini diakhiri. Sudah saatnya masyarakat mendapatkan edukasi politik yang lebih mendidik daripada serangan kata-kata yang tak bermanfaat.</p>
<p>Sudah seharusnya kedua kubu menjabarkan program kerja mereka lima tahun ke depan apabila nanti terpilih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 November 2018, terinspirasi dari pengamatan politik melalui Twitter akhir-akhir ini</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/E0rsKheWqmk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jonathan Sharp</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/debate?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
