Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)

Published

on

Pada tulisan Dulu Kerja di Mana, penulis sudah bercerita tentang perjalanannya setelah lulus kuliah dan mengapa baru bekerja formal lebih dari satu setengah tahun setelah wisuda.

Alasan terkuatnya adalah penulis yang ingin mengejar beasiswa di luar negeri dan mengejar karir sebagai seorang dosen. Maklum, penulis memiliki passion mengajar hingga menggagas kegiatan SWI Mengajar di lingkungan penulis.

Karena bulan depan sertifikat IELTS penulis akan kedaluwarsa (masa berlakunya 2 tahun), penulis ingin sedikit berbagi pengalaman tentang kegagalan (atau kebelumberhasilan) dalam mengejar beasiswa.

Chevening

Beasiswa pertama yang penulis kejar adalah Chevening. Bagaimana tidak, penulis terobsesi dengan Inggris sejak lama sehingga bisa sekolah di sana tentu menjadi impian.

Apalagi beasiswa Chevening termasuk yang pertama buka, sekitar bulan Agustus sampai November. Pada periode tersebut di tahun 2017, penulis sedang mengambil kursus perisiapan IELTS di Kampung Inggris.

Loh, berarti belum punya sertifkat IELTS, dong? Belum, tapi kita memang bisa mendaftar tanpa IELTS dan mencantumkan keterangan kalau akan menyusulkan hasil tesnya. Toh, tidak ada risiko yang diambil.

Beasiswa Chevening mengharuskan kita memilih tiga jurusan berserta kampusnya. Sebagai orang awam, tentu awalnya penulis mengalami kesulitan kampus mana yang cocok.

Setelah melakukan riset, penulis menemukan ada tiga kampus yang cocok untuk penulis. Kampus tersebut adalah University of Reading (UR)Manchester Metropolitan University (MMU), dan University of Brighton.

Jurusan yang diambil kurang lebih bidangnya sama, yakni Information Management. Ketiga kampus tersebut memiliki jurusan tersebut dan memiliki peringkat yang tidak terlalu tinggi, tapi lebih tinggi dari kampus Indonesia pada waktu itu.

Untuk lebih memahami jurusan yang akan diambil, penulis rela berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri acara Pameran Studi Luar Negeri, salah satu yang terbesar di Indonesia.

Di sana, penulis bertemu dengan perwakilan dari University of Reading dan Manchester Metropolitan University secara langsung. Setelah pertemuan, penulis pun mendaftar ke kampus-kampus tersebut untuk mendapatkan Letter of Acceptance atau LoA.

Alhamdulillah, penulis berhasil mendapatkan LoA conditional dari UR dan MMU yang artinya penulis telah diterima di kampus tersebut.

Penulis tinggal berusaha mendapatkan nilai IELTS dan melengkapi berbagai persyaratan Chevening lainnya, termasuk menjawab empat pertanyaan Chevening.

Empat pertanyaan tersebut adalah tentang Leadership & Influence, Networking, Studying in the UK, dan Career Plan. Penulis juga membuat Motivation Letter. Mungkin kapan-kapan, penulis akan membagikan jawaban-jawaban tersebut di blog ini.

Karena berhasil mendapatkan nilai minimum IELTS (6.5), penulis berhasil menngubah LoA di UR menjadi unconditional. Untuk MMU belum karena surat rekomendasinya dianggap kurang memenuhi syarat.

Sayangnya pada awal tahun 2018, penulis mendapatkan pengumuman kalau belum berhasil mendapatkan beasiswa Chevening yang begitu didambakan.

Sebenarnya, penulis mendapatkan beasiswa sebesar 5.000 poundsterling dari MMU, akan tetapi jumlah uang sekolahnya 13.000 poundsterling. Penulis tidak akan sanggup membayar sisa uang tersebut.

New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS)

New Zealand ASEAN Scholarship (Oxbridge)

Sempat drop karena kegagalan pertama, penulis mencoba beasiswa lainnya yang tersedia. Salah satu yang menarik minat penulis adalah New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS).

Penulis melakukan pendaftaran di sela-sela pelatihan menjadi volunteer Asian Games, di mana penulis memutuskan untuk ikut setelah kegagalan mendapatkan beasiswa Chevening.

Selandia Baru adalah negara yang menarik. Apalagi, mereka juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi sehingga akan membantu banyak.

Sama seperti Chevening, penulis pun melakukan pendaftaran beasiswa. Penulis juga berusaha mendapatkan LoA dari kampus-kampus yang dituju walaupun tidak mendapatkan balasan.

Dibandingkan dengan Chevening, ada banyak pertanyaan yang harus dijawab ketika kita ingin mendaftar. Kalau tidak salah, ada belasan soal esai yang harus penulis selesaikan.

Persiapan yang penulis lakukan untuk mendaftar di kampus ini tidak segigih ketika mendaftar di Chevening, sehingga bisa ditebak jika penulis pun gagal mendapatkan beasiswa NZAS.

Ignacy Łukasiewicz

Ignacy Łukasiewicz (NAWA)

Dua kali kegagalan cukup membuat penulis semakin merasa drop, tapi tidak cukup untuk menghentikan penulis untuk mencoba mendapatkan beasiswa. Ignacy Łukasiewicz dari Polandia menjadi target selanjutnya.

Penulis memilih negara ini bukan tanpa alasan. Penulis memiliki teman yang sudah melakukan studi di sana, sehingga setidaknya penulis memiliki referensi secara langsung. Penulis juga mendaftar di kampus dan jurusan yang sama dengannya.

Selain mengerjakan esai, untuk pertama kalinya penulis diminta untuk membuat surat keterangan sehat. Hal ini tidak dipersyaratkan oleh kedua beasiswa yang penulis coba sebelumnya.

Setelah menyelesaikan berbagai proses administrasi, lagi-lagi penulis harus menelan kekecewaan karena belum berhasil mendapatkan beasiswa. Bedanya, penulis sempat masuk ke dalam daftar cadangan walau akhirnya juga tidak mendapatkan panggilan.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)

Tiga kali kegagalan membuat penulis mulai melupakan impiannya untuk mendapatkan beasiswa (dianggap mental lemah enggak apa-apa, kok). Oleh karena itu ketika LPDP mulai membuka pendaftaran, penulis agak setengah hati mengerjakannya.

Kegagalan mendaftar beasiswa yang satu ini bukan karena tidak memenuhi persyaratan, melain karena penulis memutuskan untuk tidak jadi mendaftar.

Salah satu persyaratan mendaftar adalah memiliki surat bebas dari penyakit TBC. Ketika coba pergi ke Rumah Sakit Sumber Waras, ternyata biayanya cukup tinggi dan butuh waktu agak lama.

Mendengar kabar tersebut, penulis memutuskan untuk membatalkan niat mendaftar LPDP. Apalagi, penulis mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan Asian Games waktu itu.

Mengapa Bisa Gagal?

Setelah lewat satu tahun, terkadang penulis melakukan kontemplasi untuk mencari alasan mengapa bisa gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali. Jawabannya adalah karena diri penulis sendiri.

Pertama, penulis kurang mempersiapkan diri. Semua serba mendadak dan tidak dipersiapkan secara matang. Apalagi setelah menonton video Jerome Polin, penulis semakin yakin kalau start-nya sedikit terlambat.

Kedua, penulis kurang mencurahkan waktunya untuk belajar. Memang penulis berhasil mendapatkan nilai IELTS yang dipersyaratkan, akan tetapi lebih banyak waktu penulis yang habis untuk hal yang sia-sia.

Seharusnya, penulis mengalokasikan waktunya untuk melakukan riset tentang kampus, jurusan, negara tujuan, target ke depan, rencana karir, dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut tentu akan membantu penulis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang harus penulis jawab ketika mendaftar. Ini menjadi alasan ketiga mengapa penulis gagal.

Alasan terakhir yang mungkin juga menjadi alasan utama adalah jawaban-jawaban esai penulis yang kurang mengena, terlalu muluk, dan kurang realistis. Penulis menyadari hal ini ketika membaca ulang jawaban-jawaban penulis.

Mungkin ada alasan-alasan lain yang menyebabkan penulis gagal, namun keempat hal tersebut penulis anggap sebagai alasan utamanya. Yang jelas, penulis tidak akan menuduh buku-buku motivasi ataupun orang-orang yang memberi semangat sebagai toxic positivity.

Penutup

Apakah penulis merasa menyesal karena sudah membuang waktunya satu tahun lebih untuk mengejar beasiswa? Jawabannya tentu saja TIDAK.

Selama proses mendapatkan beasiswa, penulis mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan yang berharga. Banyak sekali hal yang baru penulis ketahui, banyak kejadian yang menjadi pemicu mengapa penulis berada di tempatnya sekarang.

Penulis membuat blog ini juga sebagai upaya mendapatkan beasiswa. Penulis mendaftar sebagai volunteer Asian Games juga ketika sedang mengejar beasiswa.

Oleh karena itu, penulis ingin berbagi pengalaman ini kepada pembaca sekalian. Kalau kata pakde penulis, jangan hanya berlajar dari keberhasilan seseorang, belajarlah dari kegagalannya juga.

Apakah penulis akan menyerah untuk mendapatkan beasiswa? Untuk sementara waktu, iya. Sertifkat IELTS yang penulis miliki akan habis bulan depan, dan penulis harus belajar secara intens lagi untuk bisa mendapatkan sertifikat yang baru.

Penulis masih mendapatkan email dari University of Reading dan Manchester Metropolitan University. Sekarang sudah agak jarang sih, mungkin sudah di-blacklist karena penulis mengundurkan diri tanpa keterangan.

Untuk sekarang, penulis ingin belajar di luar kampus terlebih dahulu. Penulis akan menikmati pekerjaan yang sekarang dimiliki dan akan terus belajar hal baru. Jika ada kesempatan untuk melanjutkan studi lagi, mengapa tidak?

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi dan semangat bagi pembaca yang sedang mengejar atau memiliki impian melanjutkan studi di luar negeri.

 

 

Kebayoran Lama, 9 November 2019, terinspirasi setelah teringat sertifikat IELTS-nya akan kedaluwarsa bulan depan

Foto:

Pengalaman

Untuk Apa Belajar Geografi?

Published

on

By

Sewaktu mengisi materi SWI Mengajar 2.0 untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi.

Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota Karang Taruna memiliki pengetahuan umum seputar geografi.

Lantas, terbesit satu pertanyaan yang menggelitik Penulis: Untuk apa kita belajar geografi?

Penulis dan Geografi

Meskipun Penulis adalah anak IPA, entah mengapa Penulis tertarik dengan pelajaran-pelajaran IPS. Selain sejarah, Penulis juga menyukai geografi, lebih tepatnya mengetahui negara-negara yang ada di dunia.

Bahkan, sejak kecil Penulis sudah hobi membaca atlas dan menghafalkan di mana negara itu berada, apa ibu kotanya, hingga bentuk benderanya. Rasanya begitu menyenangkan dan mengasyikkan waktu itu.

Hingga kini pun Penulis masih menyukainya. Waktu ke Big Bad Wolf terakhir, Penulis bahkan membeli dua atlas yang jelas jauh lebih rinci dibandingkan atlas yang Penulis miliki waktu kecil.

Alasan untuk Belajar Geografi

Kesukaan Penulis dengan geografi terbantukan dengan adanya channel YouTube Geography Now. Channel ini akan memberikan penjelasan semua negara yang diakui oleh PBB, urut mulai A hingga Z. Ketika artikel ini ditulis, channel tersebut sudah sampai negara Swiss.

Di video pertama channel ini, ada alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Pembaca bisa menontonnya di bawah ini:

Intinya adalah bumi ini adalah rumah kita, tempat tinggal kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempelajari “rumah” kita dan memahaminya. Bayangkan di rumah kita tidak tahu di mana letak kamar mandinya, kita pasti akan merasa kebingungan ketika ingin pipis.

Memiliki pengetahuan umum tentang negara-negara yang cukup rasanya perlu dimiliki oleh semua orang. Entah itu sebuah nama negara, apa ibu kotanya, apa landmark atau tempat wisata yang dimiliki, gunung apa yang tertinggi di dunia, dan lain sebagainya.

Kalau Penulis sendiri, mempelajari tentang negara-negara menjadi motivasi lebih untuk bisa punya impian pergi ke luar negeri. Dengan mengetahui bagaimana kultur dan budaya di sana, Penulis seolah sedang mempersiapkan diri jika suatu saat bisa pergi ke sana.

Bagi yang belum tahu, pergi ke luar negeri adalah salah satu impian Penulis yang belum tercapai. Setidaknya ada dua negara yang sangat ingin Penulis kunjungi, yakni Jepang dan Inggris. Bahkan, Penulis pernah melamar beasiswa Chevening agar bisa kuliah dan tinggal di Inggris.

Mungkin masih banyak alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Beberapa alasan yang Penulis kutip dari Galamedia adalah:

  • Mengetahui bagaimana bumi bekerja dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari
  • Mengetahui tentang budaya dan gaya hidup masyarakat di belahan negara lain, serta bagaimana iklim dan tropis memengaruhi hal tersebut
  • Mengetahui alasan mengapa masyarakat memiliki lokasi tinggal di tempat tertentu
  • Lebih memahami bagaimana kita semakin saling tergantung secara global
  • Menghargai bumi sebagai tempat tinggal kita

Penutup

Penulis akan terus menyukai geografi, sehingga setidaknya ketika sudah punya anak nanti, Penulis bisa menyalurkan ilmu tersebut kepadanya. Deretan buku seputar geografi yang Penulis miliki juga akan menjadi media pembelajaran untuknya.

Meskipun sampai saat ini Penulis belum bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke luar negeri, Penulis memiliki keyakinan kalau suatu saat akan bisa mencapainya. Aamiin.


Lawang, 29 Oktober 2021, terinspirasi setelah memberikan materi SWI Mengajar 2.0 seputar geografi

Foto: WallpaperAccess

Sumber Artikel:

Continue Reading

Pengalaman

Apa Niche Whathefan?

Published

on

By

Jika ada yang bertanya apa sebenarnya niche dari Whathefan, sejujurnya Penulis akan kebingungan untuk menjawabnya karena memang blog ini kesannya campur aduk sesukanya. Tagline-nya saja “Apa yang Terpikir, Apa yang Tertuang“.

Padahal, salah satu teknik blogging yang benar adalah memiliki niche tertentu sehingga pasarnya jelas siapa. Kalau blog isinya terlalu bermacam-macam, bisa jadi Google dan mesin pencari lainnya akan kebingungan melihat identitas blog kita.

Meskipun mengetahui fakta ini, Penulis tetap memutuskan untuk tidak menulis blog di satu-dua niche tertentu. Ada beberapa alasan tentunya yang menjadi dasar Penulis memilih jalan tersebut.

Mengetahui Apa Itu Niche

Niche Sama dengan Target Pasar yang Diincar (FreeCodeCamp)

Dilansir dari Google Dictionary, niche adalah a specialized segment of the market for a particular kind of product or service atau segmen pasar khusus untuk jenis produk atau jasa tertentu.

Mengetahui pasar yang ditarget jelas menjadi hal yang mutlak untuk bisa mengoptimalkan pemasukan dari blog. Ketika mengetahui segmentasi pasar yang dikejar, kita jadi tahu apa saja yang harus kita lakukan

Misal, kita ingin berjualan pakan hewan. Agar maksimal, kita membuat blog tentang hewan peliharaan dan menerapkan berbagai teknik SEO. Nantinya, goal akhir dari blog tersebut adalah mendatangkan pembeli untuk pakan hewan tersebut. (Coba mampir ke pintarpet.com)

Contoh lain, kita ingin membantu para calon peraih beasiswa untuk mendapatkan informasi-informasi penting. Bisa juga ingin berbagi tips sesuai dengan pengalaman pribadi. Meskipun tidak mengincar profit, blog tersebut jelas punya niche di bidang pendidikan/beasiswa. (Coba mampir ke isalworld.com)

Nah, kalau melihat blog Whathefan, rasanya hampir semua hal ada. Opini, ada. Motivasi, ada. Yang galau-galau, ada. Ulasan buku, ada. Ulasan film, ada. Novel, cerpen, hingga sajak, ada. Anime, ada. Bahkan, Penulis juga memiliki rubrik Musik dan Sepak Bola.

Jika dianalogikan, pintarpet.com adalah toko hewan dan isalworld.com adalah IDP (badan yang membantu mahasiswa untuk kuliah ke luar negeri). Whathefan.com adalah toserba, lebih tepatnya toserba yang tidak terlalu laris karena yang dijual terlalu random.

Alasan Whathefan Tidak Memiliki Niche

Ketika memutuskan untuk memiliki blog, profit jelas bukan menjadi tujuan utamanya. Memang, Penulis memasang AdSense, tapi jumlah yang sudah dihasilkan tidak seberapa. Hingga artikel ini ditulis, total Penulis telah mendapatkan 500 ribu selama tiga tahun.

Seperti yang sudah pernah Penulis bahas di beberapa tulisan sebelumnya, alasan pertama Penulis membuat blog adalah karena mendengar kata teman kalau blog bisa jadi nilai plus untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Selain itu, menulis sudah lama menjadi passion Penulis walaupun dulu tidak bisa tersalurkan dengan baik. Blog ini hadir sebagai wadah Penulis untuk terus mengasah kemampuannya dalam merangkai kata.

Nah, karena itulah Penulis memutuskan untuk mengisi blog ini sesuka hatinya. Apa yang sedang ingin ditulis, itulah yang akan menjadi artikel blog. Karena Penulis menyukai banyak hal, blog ini pun jadi memiliki berbagai variasi rubrik yang tidak saling terkait.

Apalagi, ini adalah blog milik pribadi. Penulis tidak ingin dirinya jadi tertekan karena harus menulis sesuatu yang sesuai dengan niche blognya. Penulis ingin menulis dengan sebebas-bebasnya.

Kategori Mana yang Paling Menghasilkan Traffic?

Traffic Whathefan Oktober 2019 – September 2021

Meskipun ngomongnya seperti itu, Penulis tentu masih tetap berharap bisa mendapatkan traffic yang cukup tinggi. Grafik di atas merupakan traffic Whathefan sejak Penulis menghubungkannya ke Google Analytics.

Bisa dilihat, beberapa bulan terakhir blog ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut terjadi setelah Penulis mengganti tema blog dan belum pulih hingga sekarang. Apalagi, Penulis lumayan jarang menulis beberapa waktu belakangan ini.

Untuk kategori, jika dilihat dari daftar artikel yang menjadi top article di Google Analytics, kategori Buku dan Anime & Komik menjadi yang sering muncul. Berikut merupakan daftar top 20 artikelnya beserta kategori dan angka traffic-nya:

  1. Digantung Ala Anime (Bagian 2) – Anime & Komik – 17,624
  2. Antara Pulang dan Pergi – Buku/Fiksi – 16,104
  3. Setelah Membaca Hidup Apa Adanya – Buku/Non-Fiksi – 14,705
  4. Setelah Membaca Berani Tidak Disukai – Buku/Non-Fiksi – 10,642
  5. Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama) – Pengalaman – 9,874
  6. Wanita 2D vs Wanita 3D – Sosial Budaya – 7,930
  7. Setelah Membaca Selena dan Nebula – Buku/Fiksi – 6,544
  8. Makna Keluarga Ala Clannad After Story (Bagian 2) – Anime & Komik – 6,403
  9. Laporan Pertanggungjawaban Karang Taruna – Karang Taruna – 5,848
  10. Bijak Menggunakan Caps Lock – Sosial Budaya – 5,428
  11. Setelah Menonton Cinta Itu Buta – Film & Serial – 5,099
  12. Poligami Ala In Another World With My Smartphone – Anime & Komik – 4,311
  13. Wanita Bermata Sayu – Whathefan! – Cerpen – 4,144
  14. Mengapa Kita Harus Gemar Membaca? – Pengembangan Diri – 3,896
  15. Digantung Ala Anime (Bagian 1) – Anime & Komik – 3,883
  16. Klub Sekolah Ala Anime – Anime & Komik – 3,860
  17. Dicintai Banyak Wanita Ala Anime – Anime & Komik – 3,832
  18. Kenapa Sih Harus Judgemental? – Sosial Budaya – 3,509
  19. Kisah Jerome Polin Pada Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa – Buku/Non-Fiksi – 3,417
  20. Sajak-Sajak Depresi – Sajak – 3,270

Mengetahui ada beberapa artikelnya yang bisa mendapatkan angka traffic yang lumayan menjadi motivasi tersendiri bagi Penulis untuk terus menulis di blog ini. Apalagi, blog ini sudah “terbukti” menjadi portofolio yang baik untuk Penulis.

Penulis memutuskan untuk mempertahankan Whathefan sebagai blog campur-campur alias tidak memiliki niche. Penulis merasa nyaman menulis tanpa tekanan dan menuangkan apapun yang ada di dalam pikirannya.


Lawang, 20 Oktober 2021, terinspirasi setelah menyadari kalau Whathefan membahas begitu banyak hal

Continue Reading

Pengalaman

Perjalanan Cita-Cita Saya, Mulai Astronot hingga Menteri Pendidikan

Published

on

By

Entah mengapa secara random Penulis ingin berbagi kronologi cita-citanya mulai kecil hingga sekarang. Kebetulan, Penulis ingat apa saja karir yang diinginkan mulai SD hingga usianya yang sudah mendekati kepala tiga ini.

SD: Astronot dan Ilmuwan

Menjadi Astronot (SpaceFlight Insider)

Penulis merasa bersyukur memiliki privilege berupa orangtua yang gemar memberikan bacaan sejak kecil. Bukunya pun semacam ensiklopedia mini dengan beragam topik.

Menariknya, sejak kecil Penulis sudah menunjukkan ketertarikan terhadap luar angkasa. Rasanya semesta menyimpan begitu banyak misteri yang begitu indah sekaligus menakutkan.

Oleh karena itu, kalau tidak salah ketika kelas 2 SD, Penulis bercita-cita menjadi seorang astronot. Tidak pernah terbesit pikiran untuk menjadi dokter, tentara, guru, ataupun pekerjaan yang lebih umum di saat itu.

Ketika kelas 5 atau 6, Penulis sudah mulai membaca komik Seri Tokoh Dunia yang berisi tentang biografi singkat orang-orang penting. Beberapa di antaranya adalah Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Loius Pasteur, dan lainnya.

Oleh karena itu, Penulis sempat berangan-angan menjadi ilmuwan seperti mereka, walau belum tahu apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan.

SMP: Penulis

Menjadi Penulis (Enterpreneur)

Penulis mulai suka membaca novel ketika SMP. Beberapa novel yang Penulis baca adalah Sherlock Holmes dan Harry Potter. Tumbuhnya kesukaan membaca ini mendorong hobi baru yang masih dijalani hingga sekarang: menulis.

Draft pertama novel Leon dan Kenji tercipta ketika ada tugas PPKN yang menyuruh muridnya untuk menunjukkan bakat apa yang dimiliki. Karena merasa tidak punya bakat lain, Penulis pun memutuskan untuk membuat sebuah cerita pendek dan berhasil mendapatkan nilai 90.

Oleh karena itu, Penulis bercita-cita untuk menjadi seorang penulis yang ternyata menjadi jalan hidupnya sekarang. Memang belum bisa menerbitkan novelnya sendiri, tapi setidaknya Penulis bisa merintis karir dari hobinya sejak SMP ini.

SMA: Diplomat

Menjadi Diplomat (Good News From Indonesia)

Selain membaca buku-buku yang berkaitan tentang luar angkasa, sejak SD Penulis juga sangat suka membaca atlas. Entah berapa ibukota dan bendera negara yang sudah Penulis hafal sejak dini.

Ketika duduk di bangku SMA, entah mengapa muncul dorongan untuk bisa hidup dan tinggal di luar negeri. Karena tidak punya biaya sendiri, Penulis pun coba mencari peluang pekerjaan apa yang bisa membuat Penulis mendapatkan hal tersebut.

Jawabannya pun adalah diplomat. Terserah tinggal di mana, yang penting Penulis bisa merasakan sensasi tinggal di negara lain selain Indonesia.

Ketika memilih jurusan SBMPTN, Penulis memilih jurusan Hubungan Internasional sebagai pilihan keduanya karena merasa jurusan ini bisa membawa dirinya ke cita-cita tersebut.

Sayangnya (atau untungnya?), takdir berkata lain. Penulis justru diterima di jurusan pilihan pertamanya: Informatika.

Kuliah: Dosen dan Punya Software House

Menjadi Dosen (LP2M)

Kuliah di jurusan Informatika benar-benar berbeda dari yang dibayangkan. Penulis memang suka dengan komputer sejak kecil, tapi tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya bahasa pemograman.

Sejak semester awal, Penulis sudah merasa yakin kalau dirinya tidak berbakat untuk menjadi seorang programmer ataupun pekerjaan lain yang bersentuhan dengan itu.

Maka dari itu, Penulis ingin menjadi seorang dosen. Penulis sempat memiliki rencana untuk melanjutkan studi S2 dengan jurusan Manajemen Informatika. Harapannya, setidaknya Penulis bisa menjadi dosen untuk jurusan Sistem Informasi.

Selain itu, Penulis dan teman-temannya ingin memiliki semacam software house. Kami sudah mencobanya, sayang kurang berhasil karena berbagai kendala.

Selepas Kuliah: Menteri Pendidikan

Pernah Punya Cita-Cita yang Sama dengan Dia (Berita KBB)

Anehnya, walau punya cita-cita sebagai seorang dosen, Penulis malah coba untuk melamar pekerjaan di NET TV. Sayangnya, Penulis gagal di babak seleksi terakhir.

Keinginan untuk menjadi seorang dosen pun timbul lagi. Berkat nasihat seseorang, Penulis jadi terdorong untuk mengombinasikan beberapa cita-citanya: pergi ke luar negeri untuk kuliah, lalu pulang ke Indonesia untuk menjadi seorang dosen.

Penulis pun sampai harus pergi ke Kampung Inggris untuk persiapan tes IELTS. Nah, saat itu Penulis sedang membaca buku karya Rhenald Khasali yang berjudul Strawberry Generation.

Buku tersebut membuat Penulis tergugah untuk bisa membantu memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tercetuslah cita-cita yang kedengarannya sangat tinggi: Menteri Pendidikan. Cita-cita yang sama dengan Jerome Polin.

Sayangnya, kegagalan mendapatkan beasiswa secara bertubi-tubi menjatuhkan Penulis. Boro-boro jadi menteri, sekadar mendapatkan beasiswa saja tidak berhasil.

Dengan segala kondisinya yang penuh kelimbungan, Penulis memutuskan untuk merantau ke ibukota dan menemukan jenjang karir yang akhirnya cocok dengan dirinya.

Penutup

Sebagai luluan Informatika yang tidak memiliki kemampuan programming, berkesempatan untuk merintis karir sebagai Content Writer adalah kesempatan yang luar biasa.

Tidak hanya itu, Penulis juga sempat mencicipi bidang pekerjaan lain seperti Social Media Specialist hingga Apps & Games Lead. Karir Penulis sekarang sebagai seorang editor juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Memiliki banyak cita-cita yang unik dan kerap berubah justru menjadi kebanggaan bagi Penulis. Setidaknya, cita-cita sebagai seorang penulis pada waktu SMP tersampaikan, walau dalam bentuk yang berbeda dengan bayangannya.

Jika ditanya apa cita-citanya sekarang, Penulis pun akan kebingungan untuk menjawabnya. Setidaknya, Penulis akan berusaha untuk terus mengembangkan diri dan karirnya. Hasilnya seperti apa, kita lihat saja nanti.


Lawang, 3 Agustus 2021, terinspirasi dari pikiran random yang tiba-tiba muncul

Foto: The Macleay Argus

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan