Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)

Published

on

Pada tulisan Dulu Kerja di Mana, penulis sudah bercerita tentang perjalanannya setelah lulus kuliah dan mengapa baru bekerja formal lebih dari satu setengah tahun setelah wisuda.

Alasan terkuatnya adalah penulis yang ingin mengejar beasiswa di luar negeri dan mengejar karir sebagai seorang dosen. Maklum, penulis memiliki passion mengajar hingga menggagas kegiatan SWI Mengajar di lingkungan penulis.

Karena bulan depan sertifikat IELTS penulis akan kedaluwarsa (masa berlakunya 2 tahun), penulis ingin sedikit berbagi pengalaman tentang kegagalan (atau kebelumberhasilan) dalam mengejar beasiswa.

Chevening

Beasiswa pertama yang penulis kejar adalah Chevening. Bagaimana tidak, penulis terobsesi dengan Inggris sejak lama sehingga bisa sekolah di sana tentu menjadi impian.

Apalagi beasiswa Chevening termasuk yang pertama buka, sekitar bulan Agustus sampai November. Pada periode tersebut di tahun 2017, penulis sedang mengambil kursus perisiapan IELTS di Kampung Inggris.

Loh, berarti belum punya sertifkat IELTS, dong? Belum, tapi kita memang bisa mendaftar tanpa IELTS dan mencantumkan keterangan kalau akan menyusulkan hasil tesnya. Toh, tidak ada risiko yang diambil.

Beasiswa Chevening mengharuskan kita memilih tiga jurusan berserta kampusnya. Sebagai orang awam, tentu awalnya penulis mengalami kesulitan kampus mana yang cocok.

Setelah melakukan riset, penulis menemukan ada tiga kampus yang cocok untuk penulis. Kampus tersebut adalah University of Reading (UR)Manchester Metropolitan University (MMU), dan University of Brighton.

Jurusan yang diambil kurang lebih bidangnya sama, yakni Information Management. Ketiga kampus tersebut memiliki jurusan tersebut dan memiliki peringkat yang tidak terlalu tinggi, tapi lebih tinggi dari kampus Indonesia pada waktu itu.

Untuk lebih memahami jurusan yang akan diambil, penulis rela berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri acara Pameran Studi Luar Negeri, salah satu yang terbesar di Indonesia.

Di sana, penulis bertemu dengan perwakilan dari University of Reading dan Manchester Metropolitan University secara langsung. Setelah pertemuan, penulis pun mendaftar ke kampus-kampus tersebut untuk mendapatkan Letter of Acceptance atau LoA.

Alhamdulillah, penulis berhasil mendapatkan LoA conditional dari UR dan MMU yang artinya penulis telah diterima di kampus tersebut.

Penulis tinggal berusaha mendapatkan nilai IELTS dan melengkapi berbagai persyaratan Chevening lainnya, termasuk menjawab empat pertanyaan Chevening.

Empat pertanyaan tersebut adalah tentang Leadership & Influence, Networking, Studying in the UK, dan Career Plan. Penulis juga membuat Motivation Letter. Mungkin kapan-kapan, penulis akan membagikan jawaban-jawaban tersebut di blog ini.

Karena berhasil mendapatkan nilai minimum IELTS (6.5), penulis berhasil menngubah LoA di UR menjadi unconditional. Untuk MMU belum karena surat rekomendasinya dianggap kurang memenuhi syarat.

Sayangnya pada awal tahun 2018, penulis mendapatkan pengumuman kalau belum berhasil mendapatkan beasiswa Chevening yang begitu didambakan.

Sebenarnya, penulis mendapatkan beasiswa sebesar 5.000 poundsterling dari MMU, akan tetapi jumlah uang sekolahnya 13.000 poundsterling. Penulis tidak akan sanggup membayar sisa uang tersebut.

New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS)

New Zealand ASEAN Scholarship (Oxbridge)

Sempat drop karena kegagalan pertama, penulis mencoba beasiswa lainnya yang tersedia. Salah satu yang menarik minat penulis adalah New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS).

Penulis melakukan pendaftaran di sela-sela pelatihan menjadi volunteer Asian Games, di mana penulis memutuskan untuk ikut setelah kegagalan mendapatkan beasiswa Chevening.

Selandia Baru adalah negara yang menarik. Apalagi, mereka juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi sehingga akan membantu banyak.

Sama seperti Chevening, penulis pun melakukan pendaftaran beasiswa. Penulis juga berusaha mendapatkan LoA dari kampus-kampus yang dituju walaupun tidak mendapatkan balasan.

Dibandingkan dengan Chevening, ada banyak pertanyaan yang harus dijawab ketika kita ingin mendaftar. Kalau tidak salah, ada belasan soal esai yang harus penulis selesaikan.

Persiapan yang penulis lakukan untuk mendaftar di kampus ini tidak segigih ketika mendaftar di Chevening, sehingga bisa ditebak jika penulis pun gagal mendapatkan beasiswa NZAS.

Ignacy Łukasiewicz

Ignacy Łukasiewicz (NAWA)

Dua kali kegagalan cukup membuat penulis semakin merasa drop, tapi tidak cukup untuk menghentikan penulis untuk mencoba mendapatkan beasiswa. Ignacy Łukasiewicz dari Polandia menjadi target selanjutnya.

Penulis memilih negara ini bukan tanpa alasan. Penulis memiliki teman yang sudah melakukan studi di sana, sehingga setidaknya penulis memiliki referensi secara langsung. Penulis juga mendaftar di kampus dan jurusan yang sama dengannya.

Selain mengerjakan esai, untuk pertama kalinya penulis diminta untuk membuat surat keterangan sehat. Hal ini tidak dipersyaratkan oleh kedua beasiswa yang penulis coba sebelumnya.

Setelah menyelesaikan berbagai proses administrasi, lagi-lagi penulis harus menelan kekecewaan karena belum berhasil mendapatkan beasiswa. Bedanya, penulis sempat masuk ke dalam daftar cadangan walau akhirnya juga tidak mendapatkan panggilan.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)

Tiga kali kegagalan membuat penulis mulai melupakan impiannya untuk mendapatkan beasiswa (dianggap mental lemah enggak apa-apa, kok). Oleh karena itu ketika LPDP mulai membuka pendaftaran, penulis agak setengah hati mengerjakannya.

Kegagalan mendaftar beasiswa yang satu ini bukan karena tidak memenuhi persyaratan, melain karena penulis memutuskan untuk tidak jadi mendaftar.

Salah satu persyaratan mendaftar adalah memiliki surat bebas dari penyakit TBC. Ketika coba pergi ke Rumah Sakit Sumber Waras, ternyata biayanya cukup tinggi dan butuh waktu agak lama.

Mendengar kabar tersebut, penulis memutuskan untuk membatalkan niat mendaftar LPDP. Apalagi, penulis mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan Asian Games waktu itu.

Mengapa Bisa Gagal?

Setelah lewat satu tahun, terkadang penulis melakukan kontemplasi untuk mencari alasan mengapa bisa gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali. Jawabannya adalah karena diri penulis sendiri.

Pertama, penulis kurang mempersiapkan diri. Semua serba mendadak dan tidak dipersiapkan secara matang. Apalagi setelah menonton video Jerome Polin, penulis semakin yakin kalau start-nya sedikit terlambat.

Kedua, penulis kurang mencurahkan waktunya untuk belajar. Memang penulis berhasil mendapatkan nilai IELTS yang dipersyaratkan, akan tetapi lebih banyak waktu penulis yang habis untuk hal yang sia-sia.

Seharusnya, penulis mengalokasikan waktunya untuk melakukan riset tentang kampus, jurusan, negara tujuan, target ke depan, rencana karir, dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut tentu akan membantu penulis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang harus penulis jawab ketika mendaftar. Ini menjadi alasan ketiga mengapa penulis gagal.

Alasan terakhir yang mungkin juga menjadi alasan utama adalah jawaban-jawaban esai penulis yang kurang mengena, terlalu muluk, dan kurang realistis. Penulis menyadari hal ini ketika membaca ulang jawaban-jawaban penulis.

Mungkin ada alasan-alasan lain yang menyebabkan penulis gagal, namun keempat hal tersebut penulis anggap sebagai alasan utamanya. Yang jelas, penulis tidak akan menuduh buku-buku motivasi ataupun orang-orang yang memberi semangat sebagai toxic positivity.

Penutup

Apakah penulis merasa menyesal karena sudah membuang waktunya satu tahun lebih untuk mengejar beasiswa? Jawabannya tentu saja TIDAK.

Selama proses mendapatkan beasiswa, penulis mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan yang berharga. Banyak sekali hal yang baru penulis ketahui, banyak kejadian yang menjadi pemicu mengapa penulis berada di tempatnya sekarang.

Penulis membuat blog ini juga sebagai upaya mendapatkan beasiswa. Penulis mendaftar sebagai volunteer Asian Games juga ketika sedang mengejar beasiswa.

Oleh karena itu, penulis ingin berbagi pengalaman ini kepada pembaca sekalian. Kalau kata pakde penulis, jangan hanya berlajar dari keberhasilan seseorang, belajarlah dari kegagalannya juga.

Apakah penulis akan menyerah untuk mendapatkan beasiswa? Untuk sementara waktu, iya. Sertifkat IELTS yang penulis miliki akan habis bulan depan, dan penulis harus belajar secara intens lagi untuk bisa mendapatkan sertifikat yang baru.

Penulis masih mendapatkan email dari University of Reading dan Manchester Metropolitan University. Sekarang sudah agak jarang sih, mungkin sudah di-blacklist karena penulis mengundurkan diri tanpa keterangan.

Untuk sekarang, penulis ingin belajar di luar kampus terlebih dahulu. Penulis akan menikmati pekerjaan yang sekarang dimiliki dan akan terus belajar hal baru. Jika ada kesempatan untuk melanjutkan studi lagi, mengapa tidak?

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi dan semangat bagi pembaca yang sedang mengejar atau memiliki impian melanjutkan studi di luar negeri.

 

 

Kebayoran Lama, 9 November 2019, terinspirasi setelah teringat sertifikat IELTS-nya akan kedaluwarsa bulan depan

Foto:

Pengalaman

Whathefan adalah Investasi Saya

Published

on

By

Rasanya semenjak pandemi Covid-19 menyeruak, seruan untuk berinvestasi semakin banyak. Munculnya perubahan yang mendadak seolah mengingatkan kalau kita butuh dana darurat di saat-saat darurat seperti pandemi sekarang.

Pilihannya pun beragam, mulai saham hingga reksadana. Penulis termasuk salah satu orang yang mempelajari dan mulai “bermain” investasi di berbagai platform. Penulis sadar investasi menjadi hal yang penting, apalagi nilai uang makin lama makin turun.

Hanya saja, bentuk investasi tidak hanya itu. Membuka bisnis sendiri juga bentuk investasi. Menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga bentuk investasi. Beramal dan berbuat baik juga bentuk investasi.

Bagi Penulis, blog Whathefan ini pun merupakan bentuk investasi yang berharga. Selain sebagai portofolio, blog ini juga terbukti telah membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan hingga dua kali.

Awal Mula Whathefan

Niagahoster (Paulipu)

Penulis telah menceritakan sedikit awal mula nama Whathefan. Secara singkat, keinginan untuk membuat blog berawal ketika Penulis sedang mempersiapkan diri untuk tes IELTS di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Salah seorang teman mengatakan bahwa memiliki blog pribadi akan menjadi salah satu nilai tambah jika ingin mendapatkan beasiswa. Berhubung Penulis juga suka menulis, maka Penulis pun membeli domain dan hosting whathefan.com pada tanggal 2 Januari 2018.

Penulis memilih Niagahoster karena memiliki layanan purnajual yang baik. Ketika memiliki software house bersama teman-teman kuliah, Penulis selalu membeli domain dan hosting di sana dan bisa dibilang tidak pernah mengecewakan.

Waktu itu, Penulis mengambil paket Pelajar yang sedang promo domain gratis. Kalau tidak salah, waktu itu Penulis membelinya dengan harga 600 ribuan. Selain itu, Penulis membeli tema WordPress seharga 700 ribuan yang sudah lama tidak Penulis gunakan.

(Tema yang sedang diterapkan di Whathefan sekarang adalah tema premium dari Envato Market. Penulis mendapatkannya secara gratis berkat bantuan seorang kawan.)

Setelah itu, Penulis harus membayar biaya hosting tahunan sebesar Rp777.600,00 belum termasuk PPN 10%. Biaya tersebut tentu tidak murah, apalagi Penulis tidak bisa mengandalkan AdSense-nya yang hingga artikel ini ditulis baru menyentuh angka 240 ribu setelah berjalan tiga tahun.

Jika tidak menghasilkan, di mana letak investasinya?

Portofolio Daring

Teman-Teman Mainspring Technology

Di tahun pertama Whathefan Penulis berhasil memproduksi 302 tulisan dalam satu tahun. Jumlah tersebut berkurang hampir setengahnya pada tahun 2019 karena Penulis hanya menghasilkan 189 tulisan. Tahun 2020 lebih sedikit lagi, hanya 140 tulisan.

Meskipun dari tahun ke tahun jumlah artikel yang ditulis makin sedikit, setidaknya jumlah sudah cukup untuk menunjukkan kalau Penulis termasuk produktif menulis. Selain itu, dengan banyaknya tulisan yang sudah dibuat artinya keterampilan menulisnya (seharusnya) juga terus meningkat.

Selain karena ridho Tuhan dan doa orang tua, blog ini juga membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika di Mainspring Indonesia (sekarang Main Games Indonesia), Penulis hampir tidak diloloskan dari tahap wawancara pertama karena dianggap kurang pengalaman oleh orang HRD.

Hanya saja, orang HRD satunya ingin memberikan kesempatan karena blog yang Penulis miliki. Fakta ini Penulis ketahui setelah masuk dan menjadi cukup dekat dengan orang-orang HRD di sana. Tentu hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri.

Di kantor yang baru (UP Station, grup dari UniPin), ternyata salah satu alasan Penulis diterima sebagai Gaming Editor adalah karena Whathefan ini. Ketika sudah bergabung, atasan Penulis bercerita kalau dirinya berusaha meyakinkan Vice President-nya untuk menerima Penulis karena blog ini.

Oleh karena itu, Penulis menganggap kalau Whathefan ini adalah salah satu investasi Penulis yang berhasil. Alhamdulillah.

Penutup

Penulis yang memang passion-nya di dunia penulisan merasa beruntung karena memiliki blog pribadi sebagai wadah untuk berkreasi, mengasah kemampuan, sekaligus portofolio daring. Blog ini telah menjadi investasi yang berhasil, setidaknya bagi Penulis.

Para Pembaca sekalian mungkin juga memiliki bentuk investasi lain yang tidak kalah menarik. Jika ada, bolehlah kita saling sharing agar Penulis mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi.

Lawang, 8 April 2021, terinspirasi setelah mendengar kalau salah satu alasan Penulis diterima di kantor baru adalah karena blog ini

Foto: Photo by XPS on Unsplash

Continue Reading

Pengalaman

Tur Kamar Saya (Sisi Timur)

Published

on

By

Setelah tertunda dua bulan, akhirnya Penulis bisa kembali melanjutkan tulisan tentang tur kamar. Kali ini, Penulis akan menjelaskan tentang sisi timur dari kamarnya.

Sebenarnya penundaan ini ada berkahnya juga karena ada perombakan yang lumayan banyak. Penulis mengganti meja dan menambah beberapa aksesoris.

Sisi timur adalah sisi tempat Penulis paling banyak menghabiskan waktunya, baik untuk bekerja maupun bermain game. Sisi utara menyimpan koleksi buku terbanyak.

Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Pembaca yang hendak melakukan dekorasi kamar atau ruang kerjanya!

Sisi Timur Kamar

Sisi timur adalah sisi kamar yang menghadap ke halaman belakang. Aliran udara pagi bisa masuk melalui kedua jendela secara langsung.

Pada sisi ini, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Di sebelah kanannya, terdapat rak buku tiga tingkat yang merangkap sebagai tempat laptop.

Karena bagian ini banyak berisikan barang yang menarik untuk dibeli, Penulis akan cantumkan harganya di bawah.

Keyboard Tray

Penulis akan mulai dari meja terlebih dahulu. Aslinya, meja ini merupakan meja makan yang tidak terpakai. Oleh karena itu, kakinya lumayan tinggi sehingga kurang ergonomis untuk bekerja.

Oleh karena itu, Penulis membelikan keyboard tray berukuran 60 x 30 cm di Tokopedia agar posisi keyboard dan mouse bisa lebih rendah sehingga lebih nyaman untuk digunakan bekerja.

Penulis menggunakan keyboard Logitech K380 dan mouse Logitech M331 Silent. Keduanya sama-sama wireless sehingga bisa menimbulkan kesan minimalis dan rapi.

Permukaan keyboard drawer yang Penulis beli ini memiliki permukaan licin sehingga mouse tidak bisa digunakan. Untuk mengatasi masalah ini, Penulis membeli mousepad berukuran 60×30 dengan harga murah.

Monitor dan Berbagai Akesorisnya

Beralih ke bagian atas meja. Sebagai penunjang kerja, Penulis menggunakan layar Samsung Curved 24″ LED LC24F390. Tidak alasan khusus kenapa Penulis menggunakan layar curved, biar beda saja.

Penulis juga memiliki sebuah webcam NYK Nighthawk A80 yang diletakkan di atas monitor. Alasan Penulis membelinya adalah agar ketika mendapatkan undangan interview kerja, Penulis memiliki kamera yang layak.

Di bagian belakang monitor, ada speaker Dell AY410 yang sudah cukup lama Penulis gunakan. Suaranya terdengar mantap dan jernih, cukup untuk memenuhi standar Penulis.

Di sebelah kanan monitor, ada lampu Miniso yang lebih sering Penulis gunakan ketika bekerja di malam hari. Lampu ini memiliki tiga mode pencahayaan, tapi Penulis lebih sering menggunakan mode warna kuning biar lebih estetik.

Di dekat lampu, ada sebuah gelas Mastercard yang Penulis alih-fungsikan sebagai tempat alat tulis. Ada lumayan banyak, mengingat Penulis gemar membuat catatannya terlihat warna-warni.

Penulis paling menyukai Staedtler Triplus Fineliner karena ujungnya yang kecil dan tidak mudah mblobor. Sayangnya di Malang Penulis tidak menemukan yang warna hitam, sehingga memilih Staedtler Pigment Liner berukuran 0.3 sebagai penggantinya.

Ada juga bulpen Faber Castle yang ketika zaman kuliah menjadi andalan. Sebagai pewarna, Penulis juga memiliki highlighter dari Joyko. Selebihnya adalah alat tulis biasa seperti pensil dan correction pen.

Di sebelah kiri monitor, ada sebuah jam digital dan aroma diffuser yang Penulis beli di Ace Hardware ketika diskon. Di dekatnya, ada dua buku catatan yang Penulis gunakan untuk menulis to-do-list harian.

Selebihnya adalah action figure yang baru Penulis beli. Ada Shuichi Akai dari Detective Conan, ada Midoriya dan Ochaco dari My Hero Academia. Ada juga miniatur mobil Mini Cooper dan sebuah mobil klasik yang tidak Penulis ketahui.

Manajemen Kabel

Mengingat ada banyak sekali barang elektronik di sekitar meja, kabelnya pun bisa dipastikan ada banyak sekali. Jika tidak diatur, maka meja kerja Penulis akan terlihat berantakan.

Oleh karena itu, Penulis membeli sebuah box organizer untuk menyembunyikan stop kontak Xiaomi. Selain itu, Penulis menggunakan semacam perekat untuk menyembunyikan kabel-kabel.

Trik yang Penulis gunakan adalah membuat kabel-kabel tersebut mengelilingi kaki-kaki meja. Dengan demikian, bagian tengah-belakang meja akan bersih dari kabel.

Di bagian kanan, ada sebuah rak Tevalen berwarna putih yang Penulis beli di IKEA. Bagian atas Penulis gunakan untuk menyimpan berbagai macam buku catatan, sedangkan bagian bawah untuk subwoofer dari speaker Dell yang Penulis gunakan.

Rak Buku

Di sisi kanan meja, ada sebuah rak tiga tingkat. Bagian atapnya Penulis gunakan untuk meletakkan laptop beserta berbagai akseorisnya seperti kipas dan USB Hub.

Rak pertama berisikan buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan Steve Jobs dan Apple. Maklum, Penulis lumayan mengagumi sosok beliau sehingga memiliki banyak buku biografinya.

Rak kedua dan ketiga berisikan buku-buku sejarah, baik sejarah Indonesia maupun sejarah luar negeri. Yang paling Penulis suka adalah Seri Buku Tempo dan Seri Buku Perang Eropa karya P. K. Ojong.

Selain itu, rak ini Penulis gunakan untuk menyimpan gamepad-nya. Penulis menggunakan Rexus Gladius GX100, yang sayangnya ketika tulisan ini dibuat sedang rusak.

Bagian-Bagian Lainnya

Untuk tempat duduk, Penulis menggunakan kursi gaming Rexus RGC R50 Sporty. Bukan karena Penulis suka main game, tapi lebih karena kursi ini memiliki sandaran untuk tangan dan kepala.

Tembok di sisi ini sebenarnya digunakan untuk memajang foto-foto. Hanya saja, Penulis memutuskan untuk menggantinya dengan Peta yang sebelumnya ada di tembok bagian barat.

Foto-foto tersebut Penulis pindahkan ke sisi barat dengan presisi sesempurna mungkin. Ketika proses pemasangan, Penulis menggunakan berbagai alat bantu untuk memastikan semuanya lurus.

Untuk bagian jendela, Penulis memasang tirai DIY dengan memanfaatkan kain bekas dengan sebuah tiang serbaguna. Hanya saja, tirainya gampang jatuh jika ditarik terlalu keras.

Di dekat jendela ada sebuah pajangan kucing tiga (mungkin melambangkan Penulis dan dua saudaranya) dan action figure dari My Hero Academia.

Daftar Harga

Setelah menjelaskan apa saja barang yang ada di sisi timur, Penulis ingin berbagai informasi mengenai harga-harganya. Bukan untuk pamer, hanya berbagi informasi karena siapa tahu Pembaca tertarik untuk membeli barang yang sama.

  • Keyboard Tray: Rp150.000
  • Keyboard Logitech L380: Rp355.000
  • Mouse Logitech M331 Silent: Rp177.000
  • Mouse Pad Motif Peta: Rp26.800
  • Samsung Curved 24″ LED LC24F390: Rp1.650.000
  • Webcam NYK Nighthawk A80: Rp350.000
  • Speaker Dell AY410: Rp650.000
  • Lampu Miniso: Rp120.000
  • Jam Kayu Digital: Rp109.000
  • Ultrasmith Aroma Diffuser: Rp199.000
  • Action Figure Shuichi Akai: Rp49.000
  • Action Figure My Hero Academia Set (5pcs): Rp150.000
  • Box Organizer: Rp55.000
  • Rak IKEA Tevalen: Rp120.000
  • Cooling Pad Havit HV-F2050: Rp165.000
  • Gamepad Rexus Gladius GX100: Rp245.000
  • Kursi Gaming Rexus RGC R50 Sporty: Rp1.450.000
  • Peta Dunia + Pigura: Rp88.200 + Rp300.000
  • Tiang Gorden: Rp18.700

Penutup

Kurang lebih seperti itu penjelasan mengenai sisi kamar bagian timur. Sisi ini menjadi bagian yang paling produktif jika dibandingkan sisi kamar lainnya.

Selanjutnya Penulis akan membahas mengenai sisi kamar bagian utara, sisi kamar yang menyimpan segudang koleksi buku Penulis dan berbagai macam jenis pajangan dinding!

Lawang, 11 Maret 2021, terinspirasi setelah menyelesaikan dekorasi ulang sisi timur kamar

Continue Reading

Pengalaman

Tur Kamar Saya (Sisi Selatan dan Barat)

Published

on

By

Sebagai orang yang waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar, suasana kamar harus dibuat senyaman mungkin. Oleh karena itu, Penulis sangat suka melakukan dekorasi kamar.

Penulis tak segan untuk merogoh gocek demi menambah keindahan kamar, seperti untuk memberi pajangan, furnitur, dan lain sebagainya.

Kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit tentang interior kamarnya. Siapa tahu, bisa jadi inspirasi para pembaca sekalian.

Sisi Selatan Kamar

Penulis akan mulai bercerita tentang sisi selatan kamar. Bagian ini lumayan menarik karena menjadi tempat beberapa koleksi mainan Penulis dan buku-buku favorit Penulis.  

Mainan-Mainan Impian

Sebuah lukisan batik Pandawa Lima yang dibeli di Yogyakarta nampak mendominasi tembok bagian selatan. Sebagai penggemar wayang, Penulis merasa wajib memiliki pajangannya.

Di belakang lukisan ini, Penulis menyisipkan lampu LED berwarna biru yang kerap dinyalakan ketika tidur. Hanya saja, lampu tersebut sering copot karena Penulis hanya merekatkannya dengan isolasi.

Di bawahnya terdapat rak kayu yang dibeli secara online di Tokopedia. Dari awal, tujuan dari adanya rak ini adalah sebagai tempat pajangan koleksi Penulis.

Dapat dilihat di atas rak ini terdapat action figure Son Goku dan Vegeta dari anime Dragon Ball. Mulai zaman sekolah, Penulis sudah punya cita-cita untuk memilikinya.

Di kanan kirinya terdapat dua buah Gundam, yakni Build Strike Gundam Full Package dan Gundam Aria Dark Matter. Sama seperti sebelumnya, memiliki Gundam merupakan salah satu impian Penulis.

Di depannya terdapat enam buah Hotwheels yang serinya dibeli acak karena promo lima puluh ribu dapat tiga. Lagi-lagi, memiliki Hotwheels merupakan salah satu cita-cita Penulis waktu kecil. 

Ada lagi yang merupakan barang yang dicita-citakan sejak kecil? Ada, yakni board game Monopoly asli yang dibeli setengah harga ketika ada diskon. 

Monopoly tersebut Penulis letakkan di atas rak buku bersama dengan kartu UNO dan kardus-kardus dari koleksi mainan Penulis. Lantas, apa saja isi rak buku ini?

Koleksi Buku di Rak Selatan

Di rak buku yang paling tinggi, isinya merupakan koleksi novel dan antalogi cerpen dari Penulis Indonesia. Rak paling atas berisikan novel karya Dee Lestari dan Andrea Hirata, dua penulis terfavorit Penulis.

Di bawahnya merupakan koleksi buku dari penulis favorit lainnya, seperti Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Sapardi Djoko Damono, Kuntowijoyo, dan lain sebagainya.

Di bawahnya lagi merupakan koleksi antalogi cerpen, di mana mayoritas merupakan kumpulan cerpen Kompas. Rak keempat berisikan novel-novel Indonesia lain yang biasa saja bagi Penulis, sedangkan yang paling bawah digunakan untuk menyimpan barang.

Rak sebelahnya berisikan novel-novel luar negeri, seperti buku-buku karya Jostein Gaarder, George Orwell, serial Diary of Wimpy Kids, serial How to Train Your Dragon, dan beberapa novel lainnya. Rak paling bawah digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen.

Koleksi novel Game of Thrones dan Harry Potter Penulis letakkan di atas rak sebelahnya. Di depan serial novel ini, terdapat bandul yang Penulis beli waktu zaman SMA.

Di dua rak buku kecil yang ada di bagian bawah, terdapat buku-buku karya Emha Ainun Najib, Sujiwo Tejo, dan beberapa buku self improvement. Di atasnya terselip pula beberapa komik buatan Benny dan Mice. Mereka berdua merupakan komikus favorit Penulis.

Di atas rak buku ini, terdapat meja lipat yang dibeli secara online. Awalnya meja ini hendak digunakan sebagai meja utama. Sayangnya karena kurang ergonomis, meja ini menjadi meja serba guna yang kerap digunakan ayah untuk bekerja.

Di atas meja lipat terdapat tempelan sticky notes untuk mencatat to-do list yang harus dilakukan dari hari ke hari. Di sebelahnya, terdapat kenang-kenangan dari anak-anak Karang Taruna.

Sisi Barat Kamar

Berbeda dengan sisi-sisi kamar lainnya, sisi barat dari kamar Penulis bisa terbilang sangat minimalis. Hanya terdapat sebuah peta bermodel vintage menghiasi tembok.

Penulis membeli peta tersebut secara online dan memberinya pigura yang sama seperti pigura lukisan wayang. Sebagai orang yang hobi baca atlas sejak SD, keberadaan peta di kamar menjadi sesuatu yang wajib.

Selain itu, hanya ada kasur beserta bantal-guling-selimutnya sebagai tempat Penulis tidur setiap hari. Seprei yang digunakan pun seadanya, antara yang model minimalis atau bercorak Union Jack.

Di bawah tempat tidur, terdapat sebuah kursi penyimpanan yang juga bermotif bendera Inggris. Di dalamnya, terdapat ratusan koleksi komik jadul Donal Bebek.

Ada pula semacam pendingin ruangan. Kamar Penulis kerap menjadi tempat berkumpul untuk bermain game FIFA, sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan untuk mengusir panas.

***

Untuk tulisan kali ini, cukup bagian selatan dan barat terlebih dahulu. Untuk bagian utara dan timur akan dijelaskan pada tulisan berikutnya. Stay tuned!

 

 

Lawang, 7 Desember 2020, terinspirasi setelah timbulnya keinginan untuk membuat tulisan tentang kamar

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan