<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fisika Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/fisika/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/fisika/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>fisika Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/fisika/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Wawasan Alam Semesta Pada Astrofisika untuk Orang Sibuk</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/wawasan-alam-semesta-pada-astrofisika-untuk-orang-sibuk/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/wawasan-alam-semesta-pada-astrofisika-untuk-orang-sibuk/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2018 16:53:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[astrofiska]]></category>
		<category><![CDATA[astromi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[kimia]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah sering disebutkan, penulis merupakan penggemar berat alam semesta. Jika ada acara televisi maupun buku tentang astronomi, kemungkinan besar penulis akan melihat atau membelinya. Itulah yang menjadi dasar penulis membeli buku Astrofisika untuk Orang Sibuk tulisan Neil de Grasse Tyson di Paperclip. Apalagi, buku ini tergolong tipis dan harganya cukup murah. Apa Isi Buku Ini? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/wawasan-alam-semesta-pada-astrofisika-untuk-orang-sibuk/">Wawasan Alam Semesta Pada Astrofisika untuk Orang Sibuk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah sering disebutkan, penulis merupakan penggemar berat alam semesta. Jika ada acara televisi maupun buku tentang astronomi, kemungkinan besar penulis akan melihat atau membelinya.</p>
<p>Itulah yang menjadi dasar penulis membeli buku <strong>Astrofisika untuk Orang Sibuk</strong> tulisan <strong>Neil de Grasse Tyson</strong> di Paperclip. Apalagi, buku ini tergolong tipis dan harganya cukup murah.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari sepuluh bab yang membahas beberapa topik astronomi umum. Karena buku ini diperuntukkan untuk <em>orang sibuk</em>, maka muatan buku ini tidak seberat buku sains sebagaimana pada umumnya.</p>
<p>Pada bab pertama menjelaskan tentang peristiwa <strong>big bang</strong>, peristiwa terbentuknya alam semesta yang paling banyak diyakini oleh para ilmuwan. Penjelasannya tidak terlalu ilmiah, bahkan Tyson menulis dengan cara <em>countdown</em>, menghitung dari ukuran satu per setriliun detik.</p>
<p>Selain itu, terdapat pula bab-bab yang menjelaskan tentang <strong>Zat Gelap</strong>, <strong>Energi Gelap</strong>, berbagai jenis sinar yang ada hingga bentuk <a href="http://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">Bumi bulat atau datar</a>. Banyak sekali materi-materi yang belum pernah penulis ketahui sebelumnya.</p>
<p>Salah satu bagian favorit penulis adalah bagaimana Tyson menjelaskan hukum-hukum Fisika yang berlaku di Bumi juga berlaku di bagian lain alam semesta, termasuk yang paling jauh sekalipun.</p>
<p>Hal tersebut menambahkan keyakinan penulis terhadap kuasa sang Maha Pencipta atas segala keteraturan yang telah Ia tetapkan. Penulis sama sekali tidak percaya bahwa semua ini terjadi hanya karena kebetulan semata yang tunduk kepada hukum Fisika.</p>
<p>Bagian menarik lainnya adalah tentang penamaan unsur-unsur kimia yang ternyata diambil dari nama planet. Contohnya, <strong>Thorium</strong> yang diambil dari nama planet Jupiter. Di mana letak kesamaannya? Thor dan Jupiter sama-sama dewa perang di dalam dunia mitologi.</p>
<p>Selain itu, terdapat pula <strong>Uranium </strong>dari planet Uranus, <strong>Neptunium</strong> dari planet Neptunus, dan <strong>Plutonium</strong> dari planet Pluto. Meskipun tidak menyukai kimia, penjelasan latar belakang penamaan sebuah unsur merupakan hal yang menarik bagi penulis.</p>
<p>Di bagian terakhir, Tyson mengajak kita untuk merenungi alam semesta kita, sesuatu yang sering penulis biasa lakukan sebelum tidur.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Meskipun buku sains, Tyson berhasil membuat buku ini nyaman untuk dibaca orang awam yang tidak mendalami astrofisika secara mendalam. Apalagi, sang penulis buku ini sesekali menyelipkan candaan sehingga kita tidak tegang sewaktu membaca buku ini.</p>
<p>Yang penulis sukai dari buku ini adalah banyaknya wawasan tentang alam semesta yang penulis dapatkan setelah membaca buku ini, seperti yang sudah disebutkan di atas.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan buku-buku Stephen Hawking yang sudah penulis baca, jelas buku ini lebih mudah dicerna dan dipahami. Yang jelas, buku ini sangat penulis rekomendasikan bagi para <em>astrophilia</em>.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 November 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku <strong>Astrofisika untuk Orang Sibuk </strong>karya Neil de Grasse Tyson</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/wawasan-alam-semesta-pada-astrofisika-untuk-orang-sibuk/">Wawasan Alam Semesta Pada Astrofisika untuk Orang Sibuk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/wawasan-alam-semesta-pada-astrofisika-untuk-orang-sibuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi Itu Datar</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2018 16:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam semesta]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[flat earth]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tata surya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1641</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sadarilah bahwa selama ini kita telah dibohongi oleh Amerika Serikat dengan NASA-nya. Teori Heliosentris yang dikembangkan oleh Copernicus dan Galileo adalah sebuah pembohongan. Bumi adalah pusat alam semesta. Dunia ini terbentang datar. Benda-benda langit mengelilingi Bumi. Hukum gravitasi yang dituliskan Newton tidaklah nyata. Negara-negara adidaya menyimpan rahasia besar di balik tembok es Antartika. Mereka tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">Bumi Itu Datar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sadarilah bahwa selama ini kita telah dibohongi oleh Amerika Serikat dengan NASA-nya. Teori Heliosentris yang dikembangkan oleh Copernicus dan Galileo adalah sebuah pembohongan. Bumi adalah pusat alam semesta.</p>
<p>Dunia ini terbentang datar. Benda-benda langit mengelilingi Bumi. Hukum gravitasi yang dituliskan Newton tidaklah nyata. Negara-negara adidaya menyimpan rahasia besar di balik tembok es Antartika. Mereka tidak ingin rahasia mereka terbongkar.</p>
<div id="attachment_1644" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1644" class="size-large wp-image-1644" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1644" class="wp-caption-text">via youtube.com</p></div>
<p>Hehehe, begitulah kira-kira secara umum teori-teori yang dilontarkan oleh kubu yang mempercayai teori bahwa planet tempat kita tinggal ini berbentuk datar, bukan bola seperti yang sudah diajarkan di sekolah sejak kita kecil.</p>
<p>Apakah teori-teori tersebut salah dan pantas ditertawakan? Tentu jangan. Bagaimanapun kita harus menghargai persepsi mereka. Jika bertemu mereka, bantahlah data mereka dengan data yang Anda miliki. Jangan hanya debat kusir yang tak berdasar.</p>
<p>Membuat analisa tanpa data adalah sebuah kesalahan besar, begitulah kira-kira ucapan Sherlock Holmes. Selama ini mayoritas dari kita mempercayai teori Heliosentris adalah sebuah kebenaran karena teori tersebut menyajikan data kepada kita.</p>
<p>Bagaimana dengan kubu <em>flat earth</em>? Tentu mereka juga memiliki data-data yang menyanggah data milik kubu lawan. Mereka mempertentangkan apa yang selama ini ditelan mentah-mentah oleh masyarakat dunia.</p>
<p><strong>Lalu, manakah yang penulis percaya?</strong></p>
<p>Untuk sementara, penulis masih yakin bahwa Bumi ini berbentuk bola. Tentu ada alasan-alasan yang mendasari keyakinan tersebut.</p>
<p>Pertama, penulis meyakini bahwa planet kita tentu memiliki bentuk yang sama dengan benda-benda yang kita amati setiap hari. Jika matahari dan bulan berbentuk bola, mengapa Bumi harus berbeda sendiri? Apa karena tempat tinggal manusia sehingga mendapatkan keistimewaan?</p>
<p>Kedua, hukum Fisika yang berhasil ditemukan oleh para ilmuwan sudah banyak terbukti dan teruji dari waktu ke waktu. Hukum Fisika membuat kita bisa memahami apa yang terjadi pada diri kita, pada planet kita.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/E9tL-lPsDZM?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>Ketiga, teori yang diajukan oleh kaum bumi datar bisa didebat oleh kamu bumi bola dengan jawaban-jawaban yang ilmiah. Mungkin sudah banyak yang menonton saluran Youtube <strong>Flat Earth 101</strong>. Kebetulan, penulis menemukan <a href="https://www.kiblat.net/2016/07/13/bantahan-ilmiah-teori-konspirasi-flat-earth-fakta-atau-konspirasi-bag-1/">blog yang menangkis semua teori</a> yang ada pada video-video tersebut.</p>
<p>Terakhir, penulis mengikuti pendapat ulama. Setidaknya ada dua ustadz yang mengatakan bahwa Bumi berbentuk bulat, yakni Abdul Somad dan Zakir Naik. Sampai saat ini penulis belum menemukan ada seorang ustadz yang percaya bahwa Bumi itu datar,</p>
<p><strong>Hal Terpenting</strong></p>
<p>Dari semua tulisan tadi, terkadang manusia lupa hal terpentingnya. Yang lebih <em>urgent </em>untuk dipikirkan bersama adalah bagaimana kita berbuat baik untuk Bumi kita, untuk tempat tinggal kita tercinta ini.</p>
<p>Mau mendukung teori yang manapun, kalau kita masih saja acuh terhadap lingkungan, ya percuma. Kalau kita percaya bumi ini berbentuk bola lantas berbuat kerusakan di dunia, ya buat apa.</p>
<div id="attachment_1643" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1643" class="size-large wp-image-1643" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1643" class="wp-caption-text">Photo by Sergei Akulich on Unsplash</p></div>
<p>Biarlah mereka yang memiliki data dan kemampuan otak saling adu argumen untuk menentukan teori siapa yang paling benar, karena menentukan planet merupakan pengujian ilmiah yang bisa dibuktikan. Berbeda dengan mengukur hati seseorang yang tak bisa dilihat.</p>
<p>Kita, yang tidak mempunyai data dan tidak memiliki kemampuan untuk meneliti alam semesta, bertugas untuk menjaga Bumi dengan apapun yang bisa kita lakukan. Hal-hal yang paling sepele seperti mengurangi penggunaan plastik pun memiliki dampak terhadap lingkungan.</p>
<p>Apapun keyakinan kita terhadap bentuk Bumi, yang harus kita pikirkan bersama adalah apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian planet ini. Mau bentuknya bulat, kotak, ataupun segitiga, tugas kita sebagai manusia adalah merawat planet ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 November 2018, terinspirasi setelah menonton saluran Youtube Flat Earth 101 yang kolom komentarnya dinonaktifkan</p>
<p>Photo: blenderartists.org<a href="http://blenderartists.org">http://blenderartists.org</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">Bumi Itu Datar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
