<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gen Z Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/gen-z/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/gen-z/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jun 2024 15:45:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Gen Z Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/gen-z/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2023 00:05:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6976</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan. Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan <em>Artificial Intelligence </em>(AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan.</p>



<p>Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, salah satu alasannya, menentang adanya AI ini di tempat kerja mereka.</p>



<p>Jika menengok ke situs <a href="https://www.insidr.ai/">https://www.insidr.ai/</a>, ada begitu banyak <em>tools </em>AI yang bisa digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan, sehingga kebutuhan <em>manpower </em>di sebuah perusahaan bisa dikurangi untuk memangkas biaya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<p>Pertanyaannya, sebagai generasi yang akan langsung berhadapan dengan AI, <strong>apakah para Gen Z sudah siap untuk bersaing? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Baru Mau Kerja, Langsung Lawan AI</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6982" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gen Z Sedang Berpacu Melawan AI (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pearsonaccelerated.com%2Fblog%2Fgen-z-more-likely-to-go-to-college.html&amp;psig=AOvVaw2i3sWiJM6d6DuhkmIaKRG3&amp;ust=1701302268208000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCOCmnJb054IDFQAAAAAdAAAAABAE">Pearson Accelerated Pathways</a>)</figcaption></figure>



<p>Jika mengacu pada pendapat Jean Twenge, Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun <strong>1995 hingga 2012</strong>. Sedangkan menurut Pew Research Center, <em>range </em>tahun lahir Gen Z adalah antara tahun <strong>1997 hingga 2012</strong>.</p>



<p>Berdasarkan tahun lahir tersebut, tentu Gen Z yang lahir di tahun 90-an kemungkinan besar sudah merasakan bagaimana persaingan di dunia kerja. Untuk yang lahir di tahun 2000 ke atas, mayoritas baru kerja atau baru lulus dari bangku kuliah.</p>



<p>Nah, apesnya, mereka masuk ke dunia kerja di saat AI sedang <em>booming</em>. Pekerjaan yang dulunya terlihat aman dan tak akan tergantikan oleh mesin nyatanya bisa saja digantikan. Dari bidang Penulis saja, pekerjaan menulis dan mendesain sudah bisa dikerjakan oleh AI.</p>



<p>Artinya, para Gen Z terutama yang lahir di tahun 2000 ke atas harus menghadapi kenyataan kalau <strong>saingan mereka di dunia kerja bukan hanya manusia, tapi juga harus melawan AI</strong>. Persaingan kerja yang aslinya sudah ketat menjadi jauh lebih ketat lagi.</p>



<p>Para bos perusahaan tentu mempertimbangkan untuk menggunakan AI jika memang terbukti lebih cepat dan murah. Bayangkan jika manusia membutuhkan 1 jam untuk menulis satu artikel pendek, mungkin AI hanya butuh sekian menit atau bahkan detik saja.</p>



<p>Untuk urusan akting saja sudah ada wacana untuk menggunakan AI, sehingga SAG-AFTRA melakukan aksi mogok yang dampaknya begitu luar biasa. Menurut World Economic Forum, tahun 2025 diprediksi akan ada <strong>85 juta pekerjaan yang akan berpotensi diganti oleh AI</strong>. </p>



<p>Bahkan sebelum AI ini ramai seperti sekarang, banyak bidang pekerjaan yang telah digantikan oleh mesin. Contoh yang paling mudah adalah pegawai gerbang tol yang diganti Gardu Tol Otomatis (GTO) dan mesin <em>order </em>otomatis di restoran cepat saji.</p>



<p>Penulis belum mendalami secara menyeluruh bidang apa saja yang sangat berpotensi untuk digantikan AI. Namun, contoh yang Penulis sebutkan membuktikan kalau tidak ada bidang yang benar-benar aman untuk digantikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lawan AI, Kita Harus Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="586" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-1024x586.jpg" alt="" class="wp-image-6983" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-1024x586.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-300x172.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-768x440.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1.jpg 1170w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bagaimana Cara Melawan AI? (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.cumanagement.com%2Farticles%2F2018%2F09%2Fhumans-versus-ai&amp;psig=AOvVaw0uENBnzhyArJRaCDgqbd-n&amp;ust=1701302644131000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCNjOh7D054IDFQAAAAAdAAAAABAE">CU Management</a>)</figcaption></figure>



<p>Pada tulisan <em> <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/">Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI)</a></em>, Penulis sudah menuliskan bahwa salah satu cara untuk bisa <em>survive </em>dari persaingan kerja melawan AI ini adalah dengan <strong>terus mengasah <em>skill </em>kita</strong>, terutama yang sekiranya tidak tergantikan oleh AI.</p>



<p>Bisa dibilang, hingga saat ini manusia masih unggul untuk masalah <strong>kreativitas </strong>dan <strong>imajinasi</strong>. AI masih terasa terbatas untuk kedua hal tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi mereka bisa menyusul kemampuan kita.</p>



<p>Perlu dicatat kalau AI yang ada sekarang baru permulaan saja. Di masa depan, akan terus hadir AI-AI yang lebih canggih. Bahkan, sudah ada istilah <strong>Artificial General Intellegence (AGI) </strong>yang berusaha meniru konsep berpikir manusia serealistis mungkin. Terdengar seram, bukan?</p>



<p>Kabar baiknya, kemunculan AI kemungkinan besar juga akan melahirkan ladang pekerjaan baru. Masih menurut World Economic Forum, diproyeksikan akan ada <strong>93 juta lapangan pekerjaan baru yang tercipta karena kemunculan AI</strong>.</p>



<p>Lho, bukannya tadi katanya kita harus bersaing dengan AI? Iya, itu benar, untuk pekerjaan-pekerjaan yang bisa diotomatisasi dengan AI. Namun, jangan lupa kalau AI masih membutuhkan orang untuk mengoperasikannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Iya, AI Masih Butuh Manusia untuk Dioperasikan.</strong></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6979" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ilustrasi Pekerjaan Seorang AI Prompter (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fgenerativeai.pub%2Fai-prompter-a-new-nicheai-job-in-the-market-8f01729e0798&amp;psig=AOvVaw0O4wTt_0W30kKWQPF8TGXo&amp;ust=1701302301429000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCLiIg4_z54IDFQAAAAAdAAAAABAJ">Generative AI</a>)</figcaption></figure>



<p>Secanggih-canggihnya <em>tools </em>AI, mereka belum bisa mengoperasikan dirinya sendiri. Bahkan, <a href="http://autoblogging.ai">autoblogging.ai</a> yang mampu menghasilkan artikel berkualitas saja masih butuh manusia untuk memasukkan <em>prompt </em>atau perintah agar bisa <em>generate </em>tulisan.</p>



<p>Secanggih-canggihnya <em>tools </em>untuk membuat gambar tertentu, mereka belum bisa membuat gambar berdasarkan imajinasinya sendiri. Mereka membutuhkan imajinasi manusia untuk bisa menghasilkan gambar yang telah diperintahkan.</p>



<p>Oleh karena itu, selain terus melakukan <em>upgrade </em>diri dengan mempelajari <em>skill-skill </em>tertentu, kita juga harus bisa <strong>beradaptasi dengan cara belajar untuk menguasai <em>tools-tools </em>AI tersebut.</strong> Istilah kerennya adalah <strong>AI Prompter</strong>.</p>



<p>Secara sederhananya, AI Prompter<strong> bertanggung jawab untuk menuliskan sebuah perintah AI agar bisa memberikan hasil terbaik secara spesifik</strong>. Untuk bisa menguasainya, dibutuhkan beberapa <em>basic skill </em>seperti kemampuan menulis dan analitikal. </p>



<p>Selain AI Prompter tentu masih banyak ladang pekerjaan di seputar AI. Hanya saja, Penulis belum benar-benar memahaminya, sehingga tidak memasukkannya di tulisan ini. Yang jelas, AI bisa menjadi ancaman sekaligus peluang untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bisa menguasai AI, termasuk menjadi seorang AI Prompter, adalah bentuk adaptasi kita sebagai manusia atas perubahan zaman. Kita harus bisa menerima kenyataan untuk hidup berdampingan dengan AI. </p>



<p>Menolak kehadiran AI sama dengan bagaimana <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">pedagang di Tanah Abang menolak TikTok Shop</a> dan ojek pangkalan menolak kemunculan ojek <em>online</em>. Kemunculan AI adalah disrupsi di berbagai bidang industri yang tak terhindarkan. </p>



<p>Maka dari itu, pilihan yang kita miliki sekarang adalah menyerah dengan keberadaan AI atau justru membalikkan keadaan dengan berusaha menguasai AI. <strong>Kita harus bisa memanfaatkan AI</strong> agar tidak terlindas zaman begitu saja. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.linkedin.com/pulse/humans-vs-ai-lost-battle-navin-sabharwal">LinkedIn</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.pewresearch.org/short-reads/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/">Where Millennials end and Generation Z begins | Pew Research Center</a></li>



<li><a href="https://findweb3.com/posts/how-many-jobs-will-ai-replace?gclid=CjwKCAiAvJarBhA1EiwAGgZl0M4tEe-6nujVNydip-bMgsFxhEWdlFtWThzBGGDJC-ZeiBHh2ld7EhoCJTUQAvD_BwE">How Many Jobs Will AI Replace: 85 Million by 2025 (findweb3.com)</a></li>



<li><a href="https://www.forbes.com/sites/forbestechcouncil/2022/06/28/as-ai-advances-will-human-workers-disappear/?sh=4f0a54095e68">As AI Advances, Will Human Workers Disappear? (forbes.com)</a></li>



<li><a href="https://generativeai.pub/ai-prompter-a-new-nicheai-job-in-the-market-8f01729e0798">‘AI Prompter’ A New Niche AI job in the market | by My Manifestation Guru | Generative AI</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
