Connect with us

Pengalaman

Salah Jurusan Sampai Lulus

Published

on

Penulis kerap kali merasa dirinya salah jurusan sewaktu kuliah, bahkan hingga detik ini. Bahkan pekerjaannya sekarang lumayan melenceng dari studi yang telah ditamatkan selama 4.5 tahun.

Kenapa bisa seperti itu? Apa yang membuat Penulis memutuskan untuk mengambil jurusan Informatika? Bagaimana konsekuensinya di kehidupan yang sekarang?

Mumpung adik kandung Penulis dan adik-adik Karang Taruna banyak yang sedang mengikuti ujian masuk universitas, Penulis ingin berbagi pengalamannya.

Kenapa Merasa Salah Jurusan?

Mungkin ada yang penasaran, mengapa Penulis sampai merasa salah jurusan. Jawabannya sederhana, Penulis tidak bisa menguasai apa yang dipelajarinya selama kuliah.

Sebagai sarjana yang menyandang gelar S. Kom, orang akan berekspetasi kalau Penulis akan mahir dalam pemograman alias ngoding. Kenyatannya, tidak.

Sejujurnya ketika ada yang bertanya “kok anak TI enggak bisa ngoding?” atau “lulusan IT kok enggak jadi programmer?”, Penulis akan merasa sedikit terbebani dan semakin menegaskan kalau Penulis salah jurusan.

Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Penulis menyadari bahwa itu sudah suratan takdir yang telah dilalui. Tidak mungkin semua itu terjadi begitu saja tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.

Bagaimana ceritanya sehingga Penulis bisa memilih dan masuk ke jurusan ini?  

Awal Mula Pemilihan

Kampus Tercinta (Twitter)

Sewaktu SMA, Penulis masuk ke kelas IPA. Tidak termasuk anak pintar, biasa-biasa saja. Nilai rata-rata UN-nya hanya 7, walau setidaknya itu murni hasil sendiri.

Bisa dibilang tidak ada pelajaran IPA yang Penulis senangi atau kuasai. Penulis justru lebih tertarik dengan pelajaran IPS seperti sejarah dan geografi.

Oleh karena itu, sama sekali tidak pernah terbesit untuk kuliah di jurusan IPA, baik murni maupun terapan. Hal ini membuat Penulis sempat bingung ingin mengambil jurusan apa.

Penulis justru merasa ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Selain karena tertarik dengan materinya, orangtua Penulis juga sama-sama lulusan HI.

Kalaupun ada jurusan IPA yang membuat Penulis tertarik, mungkin jurusan Teknik Informatika (TI). Alasannya sederhana, Penulis sejak kecil suka mengutak-atik komputer.

Sempat ragu karena passing grade-nya tinggi, Penulis akhirnya memilih jurusan tersebut setelah mendapatkan dorongan dari ayah. Pada akhirnya, Penulis mengikuti jalur IPC (Campuran) dengan memilih 3 jurusan di Universitas Brawijaya:

  1. Teknik Informatika
  2. Hubungan Internasional
  3. Pariwisata

Harapannya, karena TI passing grade-nya tinggi, Penulis bisa masuk ke jurusan HI yang passing grade-nya lebih rendah. Sayang, takdir berkata lain. Penulis diterima di jurusan TI.

Shock Therapy

Bahasa Java (netbeans.org)

Penulis suka dunia komputer sejak kecil. Komputer Pentium 4-nya dulu kerap dimodifikasi tampilannya dengan berbagai cara. Penulis juga suka melakukan editing gambar ataupun video.

Ekspetasi Penulis seperti itu ketika masuk ke jurusan IT. Kenyataannya, jauh berbeda. Penulis benar-benar merasa masuk ke dunia yang sama sekali asing.

Memang Penulis pernah tahu tentang bahasa pemrograman karena teman SMA pernah ada yang mengikuti olimpiade komputer. Penulis tak pernah membayangkan sebelumnya kalau akan bertemu dengannya secara langsung, setiap hari, tanpa ampun.

Kenapa bisa sampai seperti itu? Mungkin karena waktu melakukan pemilihan, Penulis kurang melakukan riset dan tidak punya orang yang bisa ditanyai seputar dunia perkuliahan.

Maka dari itu, Penulis sekarang berusaha semaksimal mungkin untuk membantu adik-adiknya dalam memilih jurusan kuliah. Kalau bisa, jangan sampai apa yang Penulis alami ini terulang pada mereka.

Dasar dari jurusan TI adalah pemograman. Semester 1, mata kuliah Pemograman Dasar, Penulis berkenalan dengan Java dan mendapatkan nilai C. Padahal, itu mata kuliah dasar yang akan menjadi landasan untuk mata kuliah lainnya.

Pemograman membutuhkan pemahaman yang kuat. Masalahnya, Penulis mengalami kesulitan dalam memahami konsep logika pemograman, termasuk memahami bahasa-bahasanya.

Apalagi di semester-semester berikutnya, Penulis bertemu dengan bahasa pemograman lain yang tak kalah rumit dari Java, seperti PHP dan mySQL.

Alhasil, sempat terbesit di kepala untuk mengundurkan diri dari jurusan TI dan mengikuti SBMPTN tahun berikutnya. Untungnya, Penulis mengurungkan niat tetsebut dan melanjutkan kuliah. Mengapa Penulis bisa bertahan hingga lulus?

Ketua Kelas D dan 11 Pria Tampan

11 Pria Tampan

Pada hari pertama kuliah, Penulis dengan percaya dirinya mengajukan diri sebagai ketua kelas TIF-D. Alasannya jelas, Penulis ingin membuka lembaran hidup baru.

Bahkan sejak kuliah, Penulis meninggalkan nama panggilannya di rumah dan memilih untuk menggunakan nama Fanandi saja.

Dengan menjadi ketua kelas, Penulis bisa berinteraksi dengan semua teman kelas dan dosen, sesuatu yang mungkin akan sulit terwujud jika Penulis hanya menjadi mahasiswa biasa.

(Trivia, zaman dulu kami belum terbiasa menggunakan Google Drive, sehingga jika dosen memberikan materi, teman-teman akan memberikan Flash Disk-nya ke Penulis dan Penulis akan mengopinya satu per satu.)

Setelah satu semester bersama kelas D, semester 2 kelas kami dicampur dengan kelas H. Kami pun berkenalan dengan banyak teman baru.

Penulis masih ingat ketika semester 4, secara iseng Penulis membuat grup bernama 11 Pria Tampan (disingkat 11PT). Siapa yang menyangka kalau grup (atau geng) tersebut masih bertahan hingga sekarang, walau ada anggota yang “menghilang”.

Bisa dibilang, 11PT inilah yang membuat Penulis bisa bertahan di jurusan ini sampai lulus. Selain karena membuat Penulis betah karena rasa persaudaraan yang muncul, mereka juga kerap membantu studi Penulis termasuk ketika menyusun skripsi.

Menyesal?

Penulis merasa salah masuk jurusan hingga lulus, iya. Penulis menyesal karena sudah berkuliah di jurusan Informatika, tidak. Ada banyak hal yang Penulis dapatkan di luar bidang akademis.

Selain mendapatkan kawan-kawan yang suportif hingga sekarang, Penulis juga mendapatkan banyak pengalaman hidup yang dampaknya terasa hingga sekarang.

Dengan menjadi ketua kelas, Penulis yang cenderung introvert ini jadi bisa menjalin hubungan dengan banyak orang. Sebenarnya Penulis melakukan hal yang sama ketika SMA, namun entah mengapa dampaknya lebih terasa ketika kuliah.

Selama kuliah, Penulis mengikuti dua kegiatan kampus, yakni Pers Mahasiswa dan Kelompok Riset Mahasiswa. Dua-duanya tidak berakhir dengan baik karena kesalahan Penulis. Dari sana, Penulis belajar banyak.

Yang jelas, potongan-potongan peristiwa yang terjadi ketika masa kuliah berkontribusi banyak kepada diri Penulis yang sekarang. Karena itu semua, tidak sekalipun Penulis pernah merasa menyesal telah berkuliah di jurusan Informatika.

Penutup

Merasa salah jurusan bukan berarti Penulis tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari kampus. Setidaknya, dasar penalaran logikanya sangat membantu Penulis hingga sekarang.

Sebagai contoh, Penulis mampu menganalisa data dari tabel dan membuat kesimpulannya. Materi ini tidak diajarkan di kampus, namus basis pengetahuannya adalah logika.

Penulis berharap adik-adiknya tidak perlu mengalami apa yang sudah dialami oleh Penulis. Semoga mereka berhasil masuk ke jurusan yang sesuai dengan bayangan mereka. Amin.

 

 

Kebayoran Lama, 11 Juli 2020, terinspirasi dari adik-adiknya yang sedang mengikuti ujian SBMPTN

Foto: Inside Higher Ed

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengalaman

Untuk Apa Belajar Geografi?

Published

on

By

Sewaktu mengisi materi SWI Mengajar 2.0 untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi.

Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota Karang Taruna memiliki pengetahuan umum seputar geografi.

Lantas, terbesit satu pertanyaan yang menggelitik Penulis: Untuk apa kita belajar geografi?

Penulis dan Geografi

Meskipun Penulis adalah anak IPA, entah mengapa Penulis tertarik dengan pelajaran-pelajaran IPS. Selain sejarah, Penulis juga menyukai geografi, lebih tepatnya mengetahui negara-negara yang ada di dunia.

Bahkan, sejak kecil Penulis sudah hobi membaca atlas dan menghafalkan di mana negara itu berada, apa ibu kotanya, hingga bentuk benderanya. Rasanya begitu menyenangkan dan mengasyikkan waktu itu.

Hingga kini pun Penulis masih menyukainya. Waktu ke Big Bad Wolf terakhir, Penulis bahkan membeli dua atlas yang jelas jauh lebih rinci dibandingkan atlas yang Penulis miliki waktu kecil.

Alasan untuk Belajar Geografi

Kesukaan Penulis dengan geografi terbantukan dengan adanya channel YouTube Geography Now. Channel ini akan memberikan penjelasan semua negara yang diakui oleh PBB, urut mulai A hingga Z. Ketika artikel ini ditulis, channel tersebut sudah sampai negara Swiss.

Di video pertama channel ini, ada alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Pembaca bisa menontonnya di bawah ini:

Intinya adalah bumi ini adalah rumah kita, tempat tinggal kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempelajari “rumah” kita dan memahaminya. Bayangkan di rumah kita tidak tahu di mana letak kamar mandinya, kita pasti akan merasa kebingungan ketika ingin pipis.

Memiliki pengetahuan umum tentang negara-negara yang cukup rasanya perlu dimiliki oleh semua orang. Entah itu sebuah nama negara, apa ibu kotanya, apa landmark atau tempat wisata yang dimiliki, gunung apa yang tertinggi di dunia, dan lain sebagainya.

Kalau Penulis sendiri, mempelajari tentang negara-negara menjadi motivasi lebih untuk bisa punya impian pergi ke luar negeri. Dengan mengetahui bagaimana kultur dan budaya di sana, Penulis seolah sedang mempersiapkan diri jika suatu saat bisa pergi ke sana.

Bagi yang belum tahu, pergi ke luar negeri adalah salah satu impian Penulis yang belum tercapai. Setidaknya ada dua negara yang sangat ingin Penulis kunjungi, yakni Jepang dan Inggris. Bahkan, Penulis pernah melamar beasiswa Chevening agar bisa kuliah dan tinggal di Inggris.

Mungkin masih banyak alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Beberapa alasan yang Penulis kutip dari Galamedia adalah:

  • Mengetahui bagaimana bumi bekerja dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari
  • Mengetahui tentang budaya dan gaya hidup masyarakat di belahan negara lain, serta bagaimana iklim dan tropis memengaruhi hal tersebut
  • Mengetahui alasan mengapa masyarakat memiliki lokasi tinggal di tempat tertentu
  • Lebih memahami bagaimana kita semakin saling tergantung secara global
  • Menghargai bumi sebagai tempat tinggal kita

Penutup

Penulis akan terus menyukai geografi, sehingga setidaknya ketika sudah punya anak nanti, Penulis bisa menyalurkan ilmu tersebut kepadanya. Deretan buku seputar geografi yang Penulis miliki juga akan menjadi media pembelajaran untuknya.

Meskipun sampai saat ini Penulis belum bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke luar negeri, Penulis memiliki keyakinan kalau suatu saat akan bisa mencapainya. Aamiin.


Lawang, 29 Oktober 2021, terinspirasi setelah memberikan materi SWI Mengajar 2.0 seputar geografi

Foto: WallpaperAccess

Sumber Artikel:

Continue Reading

Pengalaman

Apa Niche Whathefan?

Published

on

By

Jika ada yang bertanya apa sebenarnya niche dari Whathefan, sejujurnya Penulis akan kebingungan untuk menjawabnya karena memang blog ini kesannya campur aduk sesukanya. Tagline-nya saja “Apa yang Terpikir, Apa yang Tertuang“.

Padahal, salah satu teknik blogging yang benar adalah memiliki niche tertentu sehingga pasarnya jelas siapa. Kalau blog isinya terlalu bermacam-macam, bisa jadi Google dan mesin pencari lainnya akan kebingungan melihat identitas blog kita.

Meskipun mengetahui fakta ini, Penulis tetap memutuskan untuk tidak menulis blog di satu-dua niche tertentu. Ada beberapa alasan tentunya yang menjadi dasar Penulis memilih jalan tersebut.

Mengetahui Apa Itu Niche

Niche Sama dengan Target Pasar yang Diincar (FreeCodeCamp)

Dilansir dari Google Dictionary, niche adalah a specialized segment of the market for a particular kind of product or service atau segmen pasar khusus untuk jenis produk atau jasa tertentu.

Mengetahui pasar yang ditarget jelas menjadi hal yang mutlak untuk bisa mengoptimalkan pemasukan dari blog. Ketika mengetahui segmentasi pasar yang dikejar, kita jadi tahu apa saja yang harus kita lakukan

Misal, kita ingin berjualan pakan hewan. Agar maksimal, kita membuat blog tentang hewan peliharaan dan menerapkan berbagai teknik SEO. Nantinya, goal akhir dari blog tersebut adalah mendatangkan pembeli untuk pakan hewan tersebut. (Coba mampir ke pintarpet.com)

Contoh lain, kita ingin membantu para calon peraih beasiswa untuk mendapatkan informasi-informasi penting. Bisa juga ingin berbagi tips sesuai dengan pengalaman pribadi. Meskipun tidak mengincar profit, blog tersebut jelas punya niche di bidang pendidikan/beasiswa. (Coba mampir ke isalworld.com)

Nah, kalau melihat blog Whathefan, rasanya hampir semua hal ada. Opini, ada. Motivasi, ada. Yang galau-galau, ada. Ulasan buku, ada. Ulasan film, ada. Novel, cerpen, hingga sajak, ada. Anime, ada. Bahkan, Penulis juga memiliki rubrik Musik dan Sepak Bola.

Jika dianalogikan, pintarpet.com adalah toko hewan dan isalworld.com adalah IDP (badan yang membantu mahasiswa untuk kuliah ke luar negeri). Whathefan.com adalah toserba, lebih tepatnya toserba yang tidak terlalu laris karena yang dijual terlalu random.

Alasan Whathefan Tidak Memiliki Niche

Ketika memutuskan untuk memiliki blog, profit jelas bukan menjadi tujuan utamanya. Memang, Penulis memasang AdSense, tapi jumlah yang sudah dihasilkan tidak seberapa. Hingga artikel ini ditulis, total Penulis telah mendapatkan 500 ribu selama tiga tahun.

Seperti yang sudah pernah Penulis bahas di beberapa tulisan sebelumnya, alasan pertama Penulis membuat blog adalah karena mendengar kata teman kalau blog bisa jadi nilai plus untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Selain itu, menulis sudah lama menjadi passion Penulis walaupun dulu tidak bisa tersalurkan dengan baik. Blog ini hadir sebagai wadah Penulis untuk terus mengasah kemampuannya dalam merangkai kata.

Nah, karena itulah Penulis memutuskan untuk mengisi blog ini sesuka hatinya. Apa yang sedang ingin ditulis, itulah yang akan menjadi artikel blog. Karena Penulis menyukai banyak hal, blog ini pun jadi memiliki berbagai variasi rubrik yang tidak saling terkait.

Apalagi, ini adalah blog milik pribadi. Penulis tidak ingin dirinya jadi tertekan karena harus menulis sesuatu yang sesuai dengan niche blognya. Penulis ingin menulis dengan sebebas-bebasnya.

Kategori Mana yang Paling Menghasilkan Traffic?

Traffic Whathefan Oktober 2019 – September 2021

Meskipun ngomongnya seperti itu, Penulis tentu masih tetap berharap bisa mendapatkan traffic yang cukup tinggi. Grafik di atas merupakan traffic Whathefan sejak Penulis menghubungkannya ke Google Analytics.

Bisa dilihat, beberapa bulan terakhir blog ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut terjadi setelah Penulis mengganti tema blog dan belum pulih hingga sekarang. Apalagi, Penulis lumayan jarang menulis beberapa waktu belakangan ini.

Untuk kategori, jika dilihat dari daftar artikel yang menjadi top article di Google Analytics, kategori Buku dan Anime & Komik menjadi yang sering muncul. Berikut merupakan daftar top 20 artikelnya beserta kategori dan angka traffic-nya:

  1. Digantung Ala Anime (Bagian 2) – Anime & Komik – 17,624
  2. Antara Pulang dan Pergi – Buku/Fiksi – 16,104
  3. Setelah Membaca Hidup Apa Adanya – Buku/Non-Fiksi – 14,705
  4. Setelah Membaca Berani Tidak Disukai – Buku/Non-Fiksi – 10,642
  5. Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama) – Pengalaman – 9,874
  6. Wanita 2D vs Wanita 3D – Sosial Budaya – 7,930
  7. Setelah Membaca Selena dan Nebula – Buku/Fiksi – 6,544
  8. Makna Keluarga Ala Clannad After Story (Bagian 2) – Anime & Komik – 6,403
  9. Laporan Pertanggungjawaban Karang Taruna – Karang Taruna – 5,848
  10. Bijak Menggunakan Caps Lock – Sosial Budaya – 5,428
  11. Setelah Menonton Cinta Itu Buta – Film & Serial – 5,099
  12. Poligami Ala In Another World With My Smartphone – Anime & Komik – 4,311
  13. Wanita Bermata Sayu – Whathefan! – Cerpen – 4,144
  14. Mengapa Kita Harus Gemar Membaca? – Pengembangan Diri – 3,896
  15. Digantung Ala Anime (Bagian 1) – Anime & Komik – 3,883
  16. Klub Sekolah Ala Anime – Anime & Komik – 3,860
  17. Dicintai Banyak Wanita Ala Anime – Anime & Komik – 3,832
  18. Kenapa Sih Harus Judgemental? – Sosial Budaya – 3,509
  19. Kisah Jerome Polin Pada Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa – Buku/Non-Fiksi – 3,417
  20. Sajak-Sajak Depresi – Sajak – 3,270

Mengetahui ada beberapa artikelnya yang bisa mendapatkan angka traffic yang lumayan menjadi motivasi tersendiri bagi Penulis untuk terus menulis di blog ini. Apalagi, blog ini sudah “terbukti” menjadi portofolio yang baik untuk Penulis.

Penulis memutuskan untuk mempertahankan Whathefan sebagai blog campur-campur alias tidak memiliki niche. Penulis merasa nyaman menulis tanpa tekanan dan menuangkan apapun yang ada di dalam pikirannya.


Lawang, 20 Oktober 2021, terinspirasi setelah menyadari kalau Whathefan membahas begitu banyak hal

Continue Reading

Pengalaman

Perjalanan Cita-Cita Saya, Mulai Astronot hingga Menteri Pendidikan

Published

on

By

Entah mengapa secara random Penulis ingin berbagi kronologi cita-citanya mulai kecil hingga sekarang. Kebetulan, Penulis ingat apa saja karir yang diinginkan mulai SD hingga usianya yang sudah mendekati kepala tiga ini.

SD: Astronot dan Ilmuwan

Menjadi Astronot (SpaceFlight Insider)

Penulis merasa bersyukur memiliki privilege berupa orangtua yang gemar memberikan bacaan sejak kecil. Bukunya pun semacam ensiklopedia mini dengan beragam topik.

Menariknya, sejak kecil Penulis sudah menunjukkan ketertarikan terhadap luar angkasa. Rasanya semesta menyimpan begitu banyak misteri yang begitu indah sekaligus menakutkan.

Oleh karena itu, kalau tidak salah ketika kelas 2 SD, Penulis bercita-cita menjadi seorang astronot. Tidak pernah terbesit pikiran untuk menjadi dokter, tentara, guru, ataupun pekerjaan yang lebih umum di saat itu.

Ketika kelas 5 atau 6, Penulis sudah mulai membaca komik Seri Tokoh Dunia yang berisi tentang biografi singkat orang-orang penting. Beberapa di antaranya adalah Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Loius Pasteur, dan lainnya.

Oleh karena itu, Penulis sempat berangan-angan menjadi ilmuwan seperti mereka, walau belum tahu apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan.

SMP: Penulis

Menjadi Penulis (Enterpreneur)

Penulis mulai suka membaca novel ketika SMP. Beberapa novel yang Penulis baca adalah Sherlock Holmes dan Harry Potter. Tumbuhnya kesukaan membaca ini mendorong hobi baru yang masih dijalani hingga sekarang: menulis.

Draft pertama novel Leon dan Kenji tercipta ketika ada tugas PPKN yang menyuruh muridnya untuk menunjukkan bakat apa yang dimiliki. Karena merasa tidak punya bakat lain, Penulis pun memutuskan untuk membuat sebuah cerita pendek dan berhasil mendapatkan nilai 90.

Oleh karena itu, Penulis bercita-cita untuk menjadi seorang penulis yang ternyata menjadi jalan hidupnya sekarang. Memang belum bisa menerbitkan novelnya sendiri, tapi setidaknya Penulis bisa merintis karir dari hobinya sejak SMP ini.

SMA: Diplomat

Menjadi Diplomat (Good News From Indonesia)

Selain membaca buku-buku yang berkaitan tentang luar angkasa, sejak SD Penulis juga sangat suka membaca atlas. Entah berapa ibukota dan bendera negara yang sudah Penulis hafal sejak dini.

Ketika duduk di bangku SMA, entah mengapa muncul dorongan untuk bisa hidup dan tinggal di luar negeri. Karena tidak punya biaya sendiri, Penulis pun coba mencari peluang pekerjaan apa yang bisa membuat Penulis mendapatkan hal tersebut.

Jawabannya pun adalah diplomat. Terserah tinggal di mana, yang penting Penulis bisa merasakan sensasi tinggal di negara lain selain Indonesia.

Ketika memilih jurusan SBMPTN, Penulis memilih jurusan Hubungan Internasional sebagai pilihan keduanya karena merasa jurusan ini bisa membawa dirinya ke cita-cita tersebut.

Sayangnya (atau untungnya?), takdir berkata lain. Penulis justru diterima di jurusan pilihan pertamanya: Informatika.

Kuliah: Dosen dan Punya Software House

Menjadi Dosen (LP2M)

Kuliah di jurusan Informatika benar-benar berbeda dari yang dibayangkan. Penulis memang suka dengan komputer sejak kecil, tapi tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya bahasa pemograman.

Sejak semester awal, Penulis sudah merasa yakin kalau dirinya tidak berbakat untuk menjadi seorang programmer ataupun pekerjaan lain yang bersentuhan dengan itu.

Maka dari itu, Penulis ingin menjadi seorang dosen. Penulis sempat memiliki rencana untuk melanjutkan studi S2 dengan jurusan Manajemen Informatika. Harapannya, setidaknya Penulis bisa menjadi dosen untuk jurusan Sistem Informasi.

Selain itu, Penulis dan teman-temannya ingin memiliki semacam software house. Kami sudah mencobanya, sayang kurang berhasil karena berbagai kendala.

Selepas Kuliah: Menteri Pendidikan

Pernah Punya Cita-Cita yang Sama dengan Dia (Berita KBB)

Anehnya, walau punya cita-cita sebagai seorang dosen, Penulis malah coba untuk melamar pekerjaan di NET TV. Sayangnya, Penulis gagal di babak seleksi terakhir.

Keinginan untuk menjadi seorang dosen pun timbul lagi. Berkat nasihat seseorang, Penulis jadi terdorong untuk mengombinasikan beberapa cita-citanya: pergi ke luar negeri untuk kuliah, lalu pulang ke Indonesia untuk menjadi seorang dosen.

Penulis pun sampai harus pergi ke Kampung Inggris untuk persiapan tes IELTS. Nah, saat itu Penulis sedang membaca buku karya Rhenald Khasali yang berjudul Strawberry Generation.

Buku tersebut membuat Penulis tergugah untuk bisa membantu memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tercetuslah cita-cita yang kedengarannya sangat tinggi: Menteri Pendidikan. Cita-cita yang sama dengan Jerome Polin.

Sayangnya, kegagalan mendapatkan beasiswa secara bertubi-tubi menjatuhkan Penulis. Boro-boro jadi menteri, sekadar mendapatkan beasiswa saja tidak berhasil.

Dengan segala kondisinya yang penuh kelimbungan, Penulis memutuskan untuk merantau ke ibukota dan menemukan jenjang karir yang akhirnya cocok dengan dirinya.

Penutup

Sebagai luluan Informatika yang tidak memiliki kemampuan programming, berkesempatan untuk merintis karir sebagai Content Writer adalah kesempatan yang luar biasa.

Tidak hanya itu, Penulis juga sempat mencicipi bidang pekerjaan lain seperti Social Media Specialist hingga Apps & Games Lead. Karir Penulis sekarang sebagai seorang editor juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Memiliki banyak cita-cita yang unik dan kerap berubah justru menjadi kebanggaan bagi Penulis. Setidaknya, cita-cita sebagai seorang penulis pada waktu SMP tersampaikan, walau dalam bentuk yang berbeda dengan bayangannya.

Jika ditanya apa cita-citanya sekarang, Penulis pun akan kebingungan untuk menjawabnya. Setidaknya, Penulis akan berusaha untuk terus mengembangkan diri dan karirnya. Hasilnya seperti apa, kita lihat saja nanti.


Lawang, 3 Agustus 2021, terinspirasi dari pikiran random yang tiba-tiba muncul

Foto: The Macleay Argus

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan