<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>harga diri Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/harga-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/harga-diri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Jul 2024 16:28:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>harga diri Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/harga-diri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2024 16:28:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Strava]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7640</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. </p>



<p>Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain seolah mengalahkan kebutuhan hidup lainnya.</p>



<p>Fenomena ini pun berhasil menarik perhatian Penulis. Berhubung banyak momen yang berhubungan dengan hal ini belum pernah Penulis bahas, Penulis ingin merangkum semuanya di sini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara untuk Dapatkan Pengakuan Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7692" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rela Keluar Uang Demi Pengakuan Sosial (<a href="https://era.id/STORI/111685/menilik-jasa-sewa-iphone-kebutuhan-atau-sekadar-adu-gengsi">ERA.ID</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu adalah adanya<strong> joki Strava</strong>. Awalnya, Penulis tidak mengetahui apa itu Strava, hingga akhirnya menemukan fakta kalau itu merupakan sebuah aplikasi yang akan melacak aktivitas olahraga kita seperti lari atau bersepeda.</p>



<p>Tampaknya Strava ini menjadi gaya hidup yang sedang <em>hype</em>, di mana pengguna akan membagikan hasil olahraganya ke media sosial. Masalahnya ada saja orang yang enggan berolahraga, tapi tidak ingin ketinggalan dengan tren ini. </p>



<p>Alhasil, muncullah joki Strava. Mereka akan beraktivitas sesuai permintaan, lantas melakukan <em>screenshot </em>ke aplikasi Strava untuk dikirimkan ke klien. Nanti, klien bisa mengunggahnya ke media sosial seolah ia yang telah melakukannya.</p>



<p>Jika mundur lagi ke belakang, salah satu hal yang ramai dibicarakan ketika bulan puasa adalah adanya<strong> jasa sewa <em>lanyard</em> </strong>untuk digunakan ketika ikut buka puasa bersama (bukber). <em>Lanyard </em>tersebut seolah menjadi semacam medali yang bisa dibanggakan kepada teman-temannya, walau kenyataannya ia berbohong (di bulan puasa lagi).</p>



<p>Bicara tentang sewa, ada juga <strong>jasa sewa <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a></strong>. <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kelihaian-apple-dalam-menutupi-kekurangannya/">Ponsel buatan Apple ini</a> memang seolah telah beralih fungsi menjadi penanda status sosial. Bahkan, katanya kalau tidak menggunakan iPhone, maka kita tidak akan bisa masuk ke <em>circle </em>pertemanan!</p>



<p>Masih ada banyak contoh bagaimana kita seolah haus akan pengakuan sosial, termasuk memaksa orang lain memanggil kita haji. Namun, rasanya contoh-contoh di atas sudah cukup untuk menggambarkan fenomena ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Begitu Haus dengan Pengakuan Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7693" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gak Punya iPhone Gak Boleh Masuk Circle (<a href="https://www.apple.com/mg/newsroom/2020/11/apples-iphone-12-pro-max-and-iphone-12-mini-land-in-stores-and-homes-worldwide/">Apple</a>)</figcaption></figure>



<p>Rasanya manusiawi jika kita merasa <em>insecure </em>dengan orang lain, apalagi jika kita merasa belum bisa sesukses orang lain. Namun, hal tersebut menjadi masalah apabila kita menggunakan jalan pintas untuk menutupi rasa <em>insecure </em>tersebut.</p>



<p>Dari contoh yang sudah Penulis sebutkan, kita rela mengeluarkan uang (yang Penulis yakin tidak sedikit) <strong>untuk membohongi orang lain</strong>. Padahal tidak olahraga, <em>update </em>Strava. Tidak kerja di BUMN, pakai <em>lanyard </em>BUMN. Punyanya ponsel Android murah, malah sewa iPhone.</p>



<p>Tidak hanya membohongi orang lain, hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai <strong>membohongi diri sendiri</strong>. Hanya demi pengakuan sosial dan tidak direndahkan oleh orang lain, kita rela untuk melakukan hal-hal semu tersebut. </p>



<p>Penulis pernah mendapatkan cerita dari adik tentang temannya yang dari luar terlihat hidup glamor. Pakaiannya <em>modish</em>, ponselnya <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a>, dan lain sebagainya. Kenyataannya, ia hidup dengan meminjam uang dari teman-temannya demi memenuhi gaya hidupnya tersebut.</p>



<p>Kita menemukan satu alasan untuk mengapa kita rela membohongi dirinya sendiri: <strong>demi menuruti gengsi dan gaya hidup</strong>. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, utang ke banyak orang hingga tidak punya teman pun akan dilakukan.</p>



<p>Cerita lain adalah bagaimana adik Penulis, yang ponselnya hanya Samsung biasa, seolah mendapatkan diskriminasi dari teman-temannya yang pada menggunakan iPhone. Ribet karena tidak bisa AirDrop, kata mereka.</p>



<p>Cerita-cerita tersebut menjelaskan alasan lain mengapa orang rela membohongi dirinya sendiri: <strong>karena terkadang lingkungan yang menuntut mereka seperti itu</strong>. Kondisi ini diperparah dengan media sosial yang kerap menunjukkan gaya hidup konsuntif.</p>



<p>Padahal, sebenarnya orang lain tidak peduli-peduli amat sama kita. Lantas, mengapa kita menjadi begitu bingung agar dipedulikan oleh mereka? Mengapa harus membohongi diri sendiri dan orang lain untuk itu? Penulis masih tidak habis pikir hingga sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bertahun-tahun yang lalu, ayah Penulis memberikan nasehat kalau kita sebagai manusia tidak membutuhkan pengakuan orang lain. Siapa yang menyangka, nasehat tersebut masih sangat relevan hingga sekarang, bahkan terlalu relevan.</p>



<p>Terkadang kita memang membutuhkan validasi dari orang lain, terutama saat kita sedang <em>down</em>. Namun, <strong>validasi yang paling penting datang dari diri sendiri</strong>. Mau siapa pun memberi validasi, kalau kita tidak mampu memvalidasi diri sendiri, ya percuma.</p>



<p>Jadi, menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan validasi dari orang lain ya percuma, karena di lubuk hati terdalam kita tahu kalau kita sedang membohongi diri kita sendiri. Jalan pintas tersebut cuma menjadi topeng demi menutupi kenyataan hidup yang ada.</p>



<p>Daripada terus membohongi diri sendiri dan orang lain demi pengakuan sosial, <strong>lebih baik kita fokuskan diri untuk berbenah</strong>. Daripada terus mencari pengakukan sosial, lebih baik <strong>kita terus memperbaiki diri</strong> agar kita bisa mendapatkan pengakuan dari diri sendiri.</p>



<p>Tingkatkan <em>skill </em>dan <em>value </em>diri agar bisa beneran kerja di kantor yang prestise dan bisa beli ponsel impian. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Lawan rasa malas</a> dan mulai berolahraga. Itu memang pilihan yang lebih sulit, tapi itu merupakan jalan benar, bukan jalan pintas yang sesat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Juli 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena joki strava dan kejadian-kejadian lainnya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.siroko.com/blog/c/strava-a-basic-guide-for-beginner-cyclists/">SIROKO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca How to Respect Myself</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2022 01:50:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5693</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku bergenre self-improvement masih menjadi salah satu genre favorit Penulis. Meskipun tahu kalau area ini sudah menjadi bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang, Penulis merasa masih ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari buku-buku semacam ini. Salah satu buku yang baru saja Penulis selesaikan adalah How to Respect Myself yang ditulis oleh Yoon Hong Gyun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/">Setelah Membaca How to Respect Myself</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Buku bergenre <em>self-improvement </em>masih menjadi salah satu genre favorit Penulis. Meskipun tahu kalau area ini sudah menjadi bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang, Penulis merasa masih ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari buku-buku semacam ini.</p>



<p>Salah satu buku yang baru saja Penulis selesaikan adalah <em><strong>How to Respect Myself</strong> </em>yang ditulis oleh <strong>Yoon Hong Gyun</strong>, seorang psikiater asal Korea Selatan. Di sampulnya, tertulis kalau buku ini <em>bestseller </em>nomor 1 di Korea Selatan (semua buku jadi <em>bestseller </em>nomor 1?).</p>



<p>Penulis membeli buku ini karena memiliki pengalaman yang menyenangkan dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Hidup Apa Adanya</a></em>, sehingga memiliki ekspektasi akan merasakan sensasi yang sama. Lantas, seperti apa isi buku yang satu ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: How to Respect Myself &#8211; Seni Menghargai Diri Sendiri</li><li>Penulis: Yoon Hong Gyun</li><li>Penerbit: Transmedia</li><li>Cetakan: Cetakan ke-9</li><li>Tanggal Terbit: 2021</li><li>Tebal: 342 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Secara umum, buku ini sebenarnya lebih mengangkat tema tentang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">harga diri</a>. Ada tujuh bagian utama dari buku ini yang semuanya membahas tentang harga diri, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Kenapa Harga Diri Itu Penting?</li><li>Harga Diri dalam Pola Percintaan</li><li>Harga Diri dalam Hubungan Manusia</li><li>Perasaan yang Menghambat Harga Diri</li><li>Kebiasaan yang Harus Dibuang untuk Memulihkan Harga Diri</li><li>Hal-hal yang Harus Ditaklukkan untuk Memulihkan Harga Diri</li><li>Lima Praktik untuk Mengungkit Harga Diri</li></ol>



<p>Setiap bagian akan memiliki beberapa subbagian lagi. Misalnya dalam bagian Kebiasaan yang Harus Dibuang, ada beberapa poin seperti Mudah Putus Asa, Tidak Bergairah, Rendah Diri, Menunda dan Menghindar, serta Sensitif.</p>



<p>Buku ini tidak harus dibaca secara berurutan dari awal. Misal kita merasa susah untuk menghargai diri sendiri karena mudah putus asa, kita bisa langsung lompat ke subbagian tersebut. Hanya saja, Penulis tetap menyarankan untuk membacanya dari awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca How to Respect Myself</h2>



<p>Salah satu alasan Penulis membeli buku ini adalah seringnya Penulis merasa inferior dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/">kurang percaya diri</a>. Apalagi, buku ini menawarkan &#8220;metode pelatihan mandiri untuk harga diri ala dokter kejiwaan &#8216;dr. Yoon si Penjawab'&#8221;. </p>



<p>Lantas, apakah buku ini berhasil memberikan jawaban? Iya dan tidak.</p>



<p>Buku ini memiliki bagian yang cukup banyak. Hanya saja, isinya terasa cukup membosankan dan agak susah dicerna, entah karena dari sananya yang kurang enak dibaca atau terjemahannya yang kurang bagus. </p>



<p>Buku ini memang dibuat terasa dekat dan <em>related </em>dengan kehidupan kita sehari-hari, sama seperti buku <em>Hidup Apa Adanya</em>. Namun, Penulis merasa buku ini agak kurang, seolah tips yang ada di dalamnya cukup susah untuk diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Mungkin buku ini akan cocok untuk Pembaca yang sedang berada di <em>life-quarter crisis </em>dan penuh dengan perasaan rendah diri karena merasa &#8220;kalah&#8221; dari teman atau orang-orang di sekelilingnya. </p>



<p>Buku ini mengajak kita untuk lebih menghargai diri sendiri dan percaya bahwa kita tidak seburuk yang kita pikirkan.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 26 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>How to Respect Myself </em>karya Yoon Hong Gyun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/">Setelah Membaca How to Respect Myself</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Bibit Unggul</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bibit unggul]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya netizen yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari thread Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan. Apa Itu Bibit Unggul? Untuk yang belum tahu, thread tentang bibit unggul sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika negara api menyerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya <em>netizen </em>yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari <em>thread </em>Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan.</p>
<p><strong>Apa Itu Bibit Unggul?</strong></p>
<p>Untuk yang belum tahu, <em>thread </em>tentang <strong>bibit unggul </strong>sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika <s>negara api menyerang</s> seorang pengguna Twitter (mari kita sebut dengan <strong>A</strong>) memberikan sebuah komentar terhadap <em>tweet</em> seorang animator (mari kita sebut dengan <strong>B</strong>).</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-1347 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg" alt="" width="727" height="302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg 727w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-300x125.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-356x148.jpg 356w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /></p>
<p>Mungkin komentar tersebut bernada candaan, yang dibuktikan dengan adanya <em>emoticon &#8220;</em>:p&#8221; di sana. Lantas berkembanglah debat seputar <em>attitude </em><strong>A</strong> yang dianggap <strong>B </strong>kurang sopan, hingga mengatakan bahwa ia sudah sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong> (mungkin untuk menunjukkan bahwa <strong>B </strong>lebih senior dari <strong>A</strong>?).</p>
<p>Nah, inilah yang memicu munculnya <em>tweet </em>kontroversial tersebut.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1349 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg" alt="" width="717" height="243" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg 717w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-300x102.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-356x121.jpg 356w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p><em>Sombong banget sih!</em></p>
<p>Sabar sabar, kita urai satu persatu meskipun penulis bukan orang komunikasi. Penulis hanya mengamati dari kacamata awam tanpa bermaksud sok pandai menganalisa kalimat. Harapannya, tentu dengan tulisan ini kita mendapatkan pelajaran-pelajaran demi menjadi insan yang lebih baik lagi.</p>
<p><strong>Ikut Campur Netizen</strong></p>
<p>Kalimat tersebut muncul, mungkin sebagai bentuk pembelaan diri dari <strong>A</strong> yang seolah tak terima ditegur oleh <strong>B</strong>. Sedangkan <strong>B </strong>mungkin merasa jengkel karena <em>tweet</em> seriusnya ditanggapi dengan kurang baik, sesuatu yang kita sendiri pun sering dibuat gusar olehnya.</p>
<p>Karena sama-sama merasa benar inilah (walaupun <strong>A</strong> yang lebih dominan sikap merasa benarnya) perdebatan ini melebar ke mana-mana, apalagi setelah <em>netizen </em>mulai ikut campur dengan ikut berkomentar. Bahkan situasi tetap memanas meskipun mereka telah mengonfirmasi untuk saling memaafkan.</p>
<p>Ikut campur <em>netizen </em>pun bermacam-macam. Ada yang mengutuk tindakan sombong <strong>A<em>, </em></strong>ada yang kagum dengan ketangguhan <strong>A </strong>dalam menghadapi <em>nyinyiran, </em>ada yang sempat-sempatnya membuat meme, hingga ada yang membuat <em>tweet </em>agar orang-orang seperti <strong>A</strong> tidak diterima dalam perusahaan (hingga papanya tidak terima dan akan membawanya ke ranah hukum).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang patut diapresiasi, tidak ada di antara mereka berdua yang menghapus <em>tweet-tweet</em> yang membuat bumi gonjang-ganjing tersebut.</p>
</blockquote>
<p><strong>B </strong>mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai pelajaran untuk dirinya dan istrinya (yang sempat ikut <em>nimbrung</em> dalam perdebatan). Bagaimana dengan <strong>A</strong>?</p>
<p>Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, <strong>A </strong>terkesan bebal dengan mengutarakan kalimat-kalimat yang defensif (dan terkadang ditambah <em>counter attack </em>yang menyakitkan) ketika mendapatkan serangan-serangan dari <em>netizen</em>. Hal itulah yang semakin memancing emosi <em>netizen </em>untuk ikut berkomentar, walaupun banyak yang hanya membaca satu <em>tweet</em>, bukan secara keseluruhan.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>juga mengatakan bahwa si <strong>A </strong>memang sedikit &#8220;berbeda&#8221; , tidak memiliki banyak teman, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat <strong>A </strong>tersudut dan mungkin karena itulah ia semakin bulat untuk mempertahankan diri.</p>
<p><strong>A</strong> tidak sendirian. Banyak yang mendukungnya untuk melawan <em>selebtweet</em> yang mereka anggap sok berkuasa di Twitter. Hal ini bisa dimaklumi karena memang banyak <em>selebtweet </em>yang ikut berkomentar tentang permasalahan ini, dan mayoritas dari mereka mencela perbuatan dan sikap <strong>A</strong>.</p>
<p>Bahkan jika dilihat jumlah <em>follower </em>Twitternya yang meningkat secara drastis (terakhir hampir mencapai 5.000 dari jumlah awal yang ratusan), jelas <strong>A</strong> mendapatkan banyak simpati dari orang. Bisa jadi, mendapatkan simpati ini membuat <strong>A </strong>semakin yakin untuk bersikukuh dengan sikapnya.</p>
<p>Apakah <strong>A</strong> mempertahankan <em>tweet</em>-nya sebagai bahan pelajaran untuk dirinya atau sekedar menjaga harga dirinya? Penulis serahkan ke pembaca.</p>
<p><strong>Memetik Pelajaran dari Bibit Unggul</strong></p>
<p>Manusia berbuat salah itu wajar, karena kita memang tempatnya salah. Tapi lebih salah lagi jika kita merasa tidak berbuat salah ketika berbuat salah. Lebih salah lagi jika kesalahan kita dianggap sebagai sesuatu yang benar.</p>
<p>Bingung?</p>
<p>Dilihat dari bahasa-bahasa yang ia gunakan pada Twitternya, <strong>A </strong>memang orang yang pandai. Hanya saja, seperti kata <em>netizen</em>, kepandaian tanpa sikap yang baik akan menjadi hal yang percuma.</p>
<p>Kita semua tentu sepakat bahwa kesombongan merupakan salah satu sifat yang tidak baik, meskipun konteksnya untuk membela diri. Ingat ketika kita masih kecil, jika ada teman yang memamerkan sesuatu, maka kita akan memamerkan apa yang kita punya. Semua demi menjaga harga diri, walaupun kita belum mengenal itu sewaktu kecil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Harga diri jelas butuh kita jaga. Akan tetapi, terlalu menjaga harga diri sehingga berat untuk mengucapkan maaf tentu juga kurang elok. Terlalu menjaga harga diri sehingga kita berlaku sombong lebih tidak baik lagi.</p>
</blockquote>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>B </strong>mengatakan ia sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong>, lalu <strong>A </strong>meresponnya tanpa perlu menyebutkan prestasinya, mungkin kericuhan ini tidak perlu terjadi.</p>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>A </strong>berkomentar seperti itu disikapi dengan santai oleh <strong>B<em>, </em></strong>mungkin drama ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Seandainya <em>netizen </em>yang maha benar tidak terlalu ikut campur dengan berkomentar yang tidak perlu, nah ini yang agak susah diandaikan (kabuuuuuur).</p>
<p>Berlaku sombong itu salah, maka ada baiknya ketika ada yang mengingatkan kita berterimakasih. Kita patut bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan kita. Rasanya lebih menyakitkan bukan jika tidak ada orang yang peduli dengan kita?</p>
<p><em>Ngeyel </em>terus sambil menutup telinga itu salah, maka ada baiknya jika kita sedikit menurunkan ego agar tidak <em>ngeyel </em>terus.</p>
<p>Merasa diri selalu benar itu salah, karena kita tempatnya salah. Jaya Suprana mengatakan bahwa manusia bisa berkembang karena terus mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran, yang disebutnya dengan Kelirumologi.</p>
<p>Semoga dengan adanya peristiwa ini, kita bisa memetik pelajarannya agar bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 September 2018, terinspirasi setelah berjam-jam mempelajari <em>thread </em>bibit unggul di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/">https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Jadi Pengemis Cinta</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2018 13:53:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bedah lagu]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[Jhonny Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1020</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku bukan pengemis cinta  Yang slalu harus mengalah  Bila diputuskan cinta  Dari sang kekasih  Jika pembaca membaca tulisan tersebut sembari bernyanyi, maka selamat, Anda sama tuanya dengan saya. Lagu dangdut legendaris dari Jhonny Iskandar yang melengking di bagian cintanya tersebut memang sangat familier di telinga kita. Kita dapat merasakan bahwa pada lagu ini, sang penyanyi menolak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/">Jangan Jadi Pengemis Cinta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><span id="line_1" class="lirik_line">Aku bukan pengemis cinta </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_2" class="lirik_line">Yang slalu harus mengalah </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_3" class="lirik_line">Bila diputuskan cinta </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_4" class="lirik_line">Dari sang kekasih </span></em></p>
<p>Jika pembaca membaca tulisan tersebut sembari bernyanyi, maka selamat, Anda sama tuanya dengan saya. Lagu dangdut legendaris dari Jhonny Iskandar yang melengking di bagian <em>cinta</em>nya tersebut memang sangat familier di telinga kita.</p>
<p><div id="attachment_1023" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1023" class="size-large wp-image-1023" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1023" class="wp-caption-text">Bukan Pengemis Cinta (youtube.com)</p></div></p>
<p>Kita dapat merasakan bahwa pada lagu ini, sang penyanyi menolak untuk meminta-minta cinta kepada sang kekasih. Teori &#8220;wanita selalu benar&#8221; tidak berlaku di sini, ia tidak ingin mengalah terus menerus kepada sang kekasih, sebuah sikap yang patut untuk ditiru.</p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_5" class="lirik_line hover">Wanita bukan engkau saja </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_6" class="lirik_line hover">Yang ada dalam dunia </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_7" class="lirik_line hover">Cantik bukanlah utama </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_8" class="lirik_line hover">Menghiasi jiwa</span></em></p>
<p>Wanita ada banyak di dunia, buat apa sedih hanya karena ditinggal satu orang. Bahkan perbandingan antara pria dan wanita adalah 1:4. Mengapa dirimu galau hanya karena satu perempuan?</p>
<p>Selain itu, paras yang menawan jangan dijadikan sebagai patokan utama dalam mencari pasangan. Kecantikan bisa luntur dimakan usia. Carilah pasangan yang cantik di dalam, tapi kalau bisa ya cantik dalam dan luar :).</p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_19" class="lirik_line">Patah hati bukan sifatnya lelaki </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_20" class="lirik_line">Apalagi sampai nekat bunuh diri </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_21" class="lirik_line">Putus cinta itu soal yang biasa </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_22" class="lirik_line hover">Aku tak putus asa</span></em></p>
<p>Bolehlah kita bersedih satu dua hari, namun berlarut dalam kesedihan juga bukan sifat lelaki sejati. Apalagi jika sampai menimbulkan pikiran untuk bunuh diri, wah mentalnya perlu dicek ke psikolog.</p>
<p>Putus cinta adalah hal yang biasa, jangan sampai membuatmu putus asa mengarungi hidup. Sisa nyawamu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu. Optimislah seperti lagu Jhonny Iskandar ini!</p>
<p><div id="attachment_1021" style="width: 610px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1021" class="size-full wp-image-1021" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup.jpg" alt="" width="600" height="428" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup.jpg 600w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup-300x214.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup-356x255.jpg 356w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><p id="caption-attachment-1021" class="wp-caption-text">Semangat Bro! (https://www.meetmindful.com/mindful-men-why-sex-wont-heal-a-broken-heart/#)</p></div></p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Dia berbeda, dia cinta sejati saya</em></strong></p>
<p>Dari pengajian Habib Muhammad Anies Shihab, penulis mendapatkan satu rumusan, bahwa tidak ada cinta sejadi sebelum melalui jenjang pernikahan. Hanya pasangan yang bersedia mendamping kita lah yang layak untuk kita jadikan cinta sejati.</p>
<p>Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kita. Apa yang kita rasa baik untuk kita belum tentu baik karena kekurangan kita sebagai manusia.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Dia istimewa, saya rela menangis berlutut di hadapannya demi mendapatkan cintanya</em></strong></p>
<p>Cinta kok diminta. Cinta itu datang karena rasa, tidak boleh dipaksa. Selain itu, di mana harga diri sehingga kita menangis hanya untuk berharap cinta kita berbalas. Apalagi untuk kaum lelaki, pantang menangis karena cinta.</p>
<p>Coba pikir ulang, seandainya pun karena tangisan tersebut ia mau menerimamu, apa kita yakin bahwa ia menerima karena cinta? Bagaimana jika cinta tersebut hanya berdasarkan rasa kasihan karena tidak tega melihat kita menangis? Bukankah itu lebih sakit?</p>
<p><strong><em>Tapi, tapi&#8230;</em></strong></p>
<p>Sssst! Cukup. Jika terus dibantah, tidak ada satu huruf pun di tulisan ini yang bisa mengetuk hatimu. Tenangkan diri, renungkanlah baik-baik. Semoga tulisan ini bisa membawa kebaikan untuk kita semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nb: Ini merupakan pertama kali penulis membedah sebuah lagu untuk whathefan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 Juli 2018, terinspirasi ketika pagi hari mendengarkan lagu <em>Bukan Pengemis Cinta</em> yang dinyanyikan oleh Jhonny Iskandar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://english.stackexchange.com/questions/310345/words-or-phrases-to-describe-how-street-beggars-typically-look">https://english.stackexchange.com/questions/310345/words-or-phrases-to-describe-how-street-beggars-typically-look</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/">Jangan Jadi Pengemis Cinta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
