Connect with us

Pengembangan Diri

Cara Menghargai Diri Sendiri

Published

on

Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.

Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.

Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya @petualanganmenujusatu ini sangat related dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui embed link berikut ini:

Karena merasa related, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.

1. Negative Self-Labeling

Negative Self-Labeling (@petualanganmenujusatu)

Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya negative self-labeling alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.

Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.

Mungkin kita merasa diri ini emosian, mudah baper, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, toxic, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.

Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.

Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.

2. Disqualifying the Positives

Disqualifying the Positives (@petualanganmenujusatu)

Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan disqualifying the positive atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.

Entah mengapa ketika kita meraih achievement atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan denial kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.

Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.

Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan nyinyiran orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.

Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak related dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.

3. Personalisation & Blaming

Personalisation & Blaming ( @petualanganmenujusatu)

Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang personalisation & blaming adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.

Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Teman balas singkat, merasa kita merusak mood-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus merasa bersalah sudah membuat dia marah.

Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.

Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.

Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

4. Jumping to Conclusions

Jumping to Conclusion (@petualanganmenujusatu)

Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: overthinking. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.

Jumping to conclusion atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari overthinking. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.

Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.

Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti mood teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.

Cobalah untuk berhenti berpikir. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.

Penutup

Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti Filosofi Teras yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti overthinking itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.

Sifat overthinking tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang toxic, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.

Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?

Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa related bisa lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.


Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari @petualanganmenujusatu

Foto: Giulia Bertelli

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengembangan Diri

Yang Penting Jadilah Orang Baik

Published

on

By

Beberapa hari yang lalu, Penulis memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan untuk seseorang. Ternyata, kebaikan tersebut diabaikan olehnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada.

Mau berusaha ikhlas seperti apapun, tentu ada perasaan jengkel pada diri Penulis. Apakah memang mengucapkan terima kasih seberat itu? Penulis merasa kebaikan yang dilakukan tidak dihargai sama sekali.

Lantas, Penulis membaca sebuah buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba karya Fahruddin Faiz, yang mungkin lebih terkenal melalui kanal YouTube-nya, Ngaji Filsafat. Ada satu kalimat yang rasanya begitu menampar Penulis:

Yang penting jadilah orang baik, tidak perlu berpikir apakah orang akan melihat Anda baik.

Ingin terlihat baik di mata orang lain rasanya manusiawi saja. Siapa juga ingin dicap buruk? Hanya saja, kalau sampai ingin terlihat baik menjadi tujuan utama hingga melakukan berbagai pencitraan dan melupakan esensi berbuat baik, tentu salah.

Esensinya adalah perbuatan baik yang kita lakukan harus diiringi dengan rasa ikhlas. Jika kita ingin menolong seseorang, ya sudah niatkan saja untuk menolongnya. Bagaimana responnya ke kita bukan urusan kita.

Kalau kita merasa kesal karena responnya, ya sudah jangan ditolong lagi. Namun, itu menunjukkan kurangnya kadar keikhlasan kita dalam menolong. Sebisa mungkin abaikan saja respon orang tersebut dan tetap menolongnya ketika ia membutuhkan kita.

Ketika menyingkirkan sampah di jalan atau menumpuk piring kotor setelah makan di restoran, lakukan karena ingin berbuat baik saja. Jangan melakukan kebaikan-kebaikan tersebut hanya ketika ada orang lain yang melihat agar kita dicap baik.

Di era media sosial seperti sekarang, ada saja yang memamerkan kebaikan yang mereka lakukan. Ada yang berargumen bahwa itu dilakukan untuk memotivasi orang lain agar berbuat hal yang sama.

Misal, menyumbang ke korban bencana alam dengan jumlah fantastis agar orang lain termotivasi untuk menyumbang dengan jumlah besar. Kalau seperti itu ya tidak apa-apa, yang tahu niat aslinya hanya yang bersangkutan.

***

Yang lebih berbahaya adalah ketika aslinya berbuat jelek, tapi melakukan pencitraan agar terlihat baik. Misal, koruptor, biar terlihat baik ia membuat yayasan dan naik haji. Padahal, uang yang digunakan adalah uang hasil korupsi. Ini harus benar-benar dihindari.

Biasanya para politisi yang butuh suara rakyat melakukan kesalahan ini. Mereka berbuat baik karena dua alasan utama, yakni agar terlihat baik dan mendapatkan suara rakyat, tanpa benar-benar ingin berbuat baik.

Ketika sudah terpilih, biasanya mereka baru menunjukkan topeng asli mereka, melupakan janji manisnya, dan memuaskan libido kekuasaannya. Bahkan, ada yang terus melakukan pencitraan agar terpilih lagi di periode berikutnya, tapi biasanya baru dilakukan menjelang masa jabatannya akan berakhir.

***

Cukuplah jadi orang baik saja, tanpa perlu berusaha terlihat baik di mata orang lain. Hidup ini singkat dan terbatas, jadi sebisa mungkin kita harus bisa hidup yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat untuk orang lain.

Penulis menyadari bahwa dirinya terkadang (atau sering?) masih belum bisa ikhlas berbuat baik. Minimal, Penulis masih berharap kebaikannya tersebut dihargai oleh orang lain, walau menghargai kebaikan orang memang sudah seharusnya dilakukan. Hanya saja dari sisi yang melakukan kebaikan, ya sudah tidak perlu berharap apa-apa.

Sebar manfaat sebanyak mungkin selama masih ada waktu. Berat? Iya. Akan tetapi, kita bisa melatih keikhlasan ini tersebut. Kalau cara Penulis, Penulis akan terus nge-push dirinya sendiri untuk berbuat baik sebanyak mungkin, asal tidak sampai membuat orang lain merasa risih.

Mampu berbuat baik tanpa ingin terlihat baik juga menjadi salah satu ciri kedewasaan seseorang menurut Penulis. Ketika melihat orang-orang yang mampu melakukan hal ini, Penulis begitu mengagumi mereka dan berharap bisa seperti mereka.

Hanya diri kita sendiri yang tahu apakah perbuatan baik yang dilakukan murni karena ingin berbuat baik atau memiliki pamrih agar dilihat oleh orang lain. Maka dari itu, coba tanyakan ke dalam diri, apakah perbuatan baik yang kita lakukan sudah ikhlas?


Lawang, 13 Januari 2022, terinspirasi dari cerita yang sudah Penulis bagikan di awal tulisan

Foto: Kelli McClintock

Continue Reading

Pengembangan Diri

Menghargai Prioritas Orang Lain

Published

on

By

pri.o.ri.tas

  • yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:

Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.

Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.

Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.

Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh refreshing dari penatnya pekerjaan.

Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: Kita ingin diprioritaskan.

Ketika Kita Ingin Diprioritaskan

Merasa Tidak Diprioritaskan (Budgeron Bach)

Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.

Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.

Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah hubungan yang toxic. Harusnya, kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang, walau kepada orang terdekat sekalipun.

Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk menghargai prioritas orang lain. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.

We’re not the center of the universe. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.

Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan

Wajib Diprioritaskan (afiq fatah)

Memang ada kasus-kasus di mana kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.

Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.

Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah game. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.

Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.

Penutup

Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.

Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.

Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita.

Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.


Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas

Foto: Polina Zimmerman

Continue Reading

Produktivitas

Healing dengan Menjadi Produktif

Published

on

By

Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa healing dengan cara yang unik: Menghancurkan barang. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang safety.

Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada nyinyir. Banyak yang menawarkan alternatif healing yang lebih rasional, mulai beli makan, jalan-jalan, beribadah, menulis jurnal, pergi ke psikolog, dan lain sebagainya.

Beberapa netizen menyebutkan betapa berbahayanya healing dengan melampiaskan kemarahan seperti itu. Lucunya, ada yang bilang kalau marah harus pergi ke sebuah tempat, pilih barang yang ingin dihancurkan, terus pakai pakaian tertentu, marahnya keburu hilang.

Penulis sendiri merasa tidak perlu memberikan justifikasi apakah healing dengan melampiaskan kemarahan pada barang menjadi cara yang benar. Toh, masing-masing orang memiliki cara healing masing-masing.

Pada tulisan ini, Penulis hanya ingin sekadar menawarkan alternatif pilihan yang murah, tapi butuh effort yang tidak sedikit: Menjadi produktif.

Melampiaskan Emosi Menjadi Produktif

Semua Butuh Healing (arash payam)

Sebagai makhluk yang punya perasaan, wajar jika manusia kerap mengalami berbagai bentuk emosi yang tidak menyenangkan. Sedih, marah, kecewa, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama jika sedang diterpa masalah.

Seringnya, termasuk pada Penulis, bentuk emosi negatif akan memengaruhi keseharian kita. Rasanya jadi malas untuk melakukan sesuatu, susah untuk fokus, mudah melamun, hingga mood yang naik turun secara drastis.

Nah, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan self-healing. Mengobati diri sendiri dengan beragam cara. Bagi Penulis, salah satu cara healing yang paling efektif dan bermanfaat adalah dengan menjadi produktif.

Ibaratnya, kita menyalurkan dan memfokuskan energi kita untuk melakukan sesuatu yang positif. Segala perasaan negatif yang sedang kita rasakan, kita salurkan dengan berbagai aktivitas yang membawa manfaat untuk diri kita sendiri.

Menulis To-do List (Glenn Carstens-Peters)

Kalau Penulis biasanya akan “memaksa” dirinya untuk menjadi produktif dengan membuat to-do list harian. Ketika menuliskannya, seperti ada dorongan dari dalam untuk menyelesaikan apa yang sudah ditulis.

Hal produktif lain yang bisa dilakukan adalah melakukan rutinitas. Di pagi hari misalnya, kita bisa berolahraga, membaca buku, membersihkan rumah, mandi pagi, mempersiapkan sarapan, dan lain sebagainya. Di malam hari kita bisa menulis jurnal ataupun meditasi.

Kalau Penulis, di samping rutinitas kerjanya, biasanya akan mengisi waktu dengan menulis blog. Intinya, kita harus menyibukkan diri dengan beraktivitas (secara positif) agar perasaan-perasaan negatif tersebut menjadi terabaikan.

Selain itu, menjadi produktif juga menciptakan perasaan bahagia bagi diri. Rasanya hidup jadi lebih menyenangkan begitu mengetahui kalau hari ini kita sudah banyak melakukan hal yang berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.

Boleh Kok Sesekali Nonton Film (freestocks)

Tentu kita boleh melakukan aktivitas santai seperti menonton film, menonton YouTube, scrolling media sosial, bermain game, dan lain sebagainya. Anggap saja sebagai selingan agar kita tidak merasa jenuh

Hanya saja, aktivitas konsumtif tersebut justru bisa membuat kita memiliki perasaan bersalah jika dilakukan secara berlebihan. Menurut Penulis, sebaiknya aktivitas konsumtif seperti itu tidak dijadikan sebagai cara healing utama.

Mungkin memang cara ini (menjadi produktif) tidak cocok untuk semua orang. Hanya saja, Penulis merasa beraktivitas secara produktif dapat meningkatkan mood dan mengusir perasaan-perasaan negatif di pikiran, terutama untuk kaum overthinker seperti Penulis.

Lawan utama dari cara healing yang satu ini adalah rasa malas. Kalau kita memang benar-benar ingin healing, maka kita harus memiliki tekad yang kuat untuk mengusir rasa malas tersebut.

Jadi, cara healing mana yang paling sesuai dengan Pembaca? Coba tuliskan di kolom komentar!


Lawang, 23 November 2021, terinspirasi dari viralnya postingan di Twitter tentang tempat healing berbayar

Foto: William Farlow

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan