<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hikmah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/hikmah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 13:59:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>hikmah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/hikmah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lebaran Tanpa Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 19:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[silahturami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan. Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis. Kondisi yang Penulis alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk <strong>pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga</strong>. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan.</p>
<p>Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis.</p>
<p>Kondisi yang Penulis alami setidaknya lebih ringan dibandingkan teman-teman Penulis yang lain. Ada yang sendirian di kos, ada yang harus lebaran di negara lain, ada yang sudah sering lebaran tidak pulang, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis berusaha mencari hikmah di balik lebaran yang <em>extraordinary </em>pada tahun ini. Tidak mungkin Tuhan membuat skenario kehidupan tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<p>Bulan puasa kemarin Penulis akui kalau kualitas ibadahnya sangat kurang karena beberapa alasan. Semoga setelah lebaran ini, Penulis bisa memperbaiki hal tersebut.</p>
<p>Penulis juga merasakan <strong>betapa berharganya waktu ketika berkumpul dengan keluarga</strong>. Memang kita masih bisa saling sapa melalui <em>video call</em>, namun sensasinya tentu sangat berbeda.</p>
<p>Kita juga tetap bisa menjalin silahturami dengan kerabat atau teman-teman menggunakan berbagai media komunikasi seperti WhatsApp dan lainnya. Saling memaafkan dan memulai semuanya dari nol lagi kalau bisa.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa begitu jengkel (dan mungkin iri) terhadap <a href="https://whathefan.com/politik/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">orang-orang yang bisa pulang hingga memenuhi bandara</a> atau cara-cara lainnya.</p>
<p>Padahal sudah dianjurkan untuk tidak mudik agar tidak menulari keluarga yang ada di kampung. Begini lah jadinya jika memiliki pemimpin yang tidak bisa tegas dalam mengatur rakyatnya.</p>
<p>Daripada terus mengeluh, Penulis memilih untuk berusaha menerimanya dengan ikhlas. Berat? Banget. Tapi pasti bisa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pada tulisan kali ini, Penulis juga ingin mengucapkan <strong><em>minal aidzin wal faizin</em>, mohon maaf lahir dan batin</strong>. Semoga kita semua bisa memetik hikmah di balik lebaran yang luar biasa tahun ini.</p>
<p>Penulis sendiri secara pribadi berharap bisa pulang ketika situasinya memungkinkan. Tidak dalam waktu dekat tidak apa-apa, yang penting bisa pulang.</p>
<p>Selain itu, dengan selesainya bulan puasa Ramadhan, Penulis berharap bisa mengatur ulang pola hidup dan tidurnya yang sangat berantakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Mei 2020, terinspirasi karena dirinya tidak bisa pulang lebaran untuk pertama kalinya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2019 04:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sopir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka.</p>
<p>Setelah mencari-cari tiket yang sesuai, penulis membeli tiket bus <strong>Pahala Kencana </strong>kelas eksekutif seharga Rp550 ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Jika dihitung pulang pergi, total uang yang dikeluarkan adalah Rp1.1 juta.</p>
<h3>Ketika Mudik ke Malang</h3>
<p>Ketika waktu untuk mudik telah tiba, tepatnya pada tanggal 30 Mei 2019, penulis akhirnya berangkat dari kos menuju <strong>terminal Kalideres </strong>menggunakan TransJakarta. Penulis memang membeli tiket untuk berangkat dari sana karena lokasinya relatif dekat.</p>
<p>Di bayangan penulis, terminal Kalideres ini sebagus <strong>terminal Bungurasih</strong> yang ada di Surabaya. Minimal, sebagus <strong>terminal Arjosari</strong> di Malang. Sayang, ekspetasi penulis terlalu tinggi.</p>
<p>Terminal tersebut ternyata cukup kecil dan disesaki oleh calon penumpang dari berbagai daerah dengan beragam tujuan. Penulis baru merasakan pengalaman di terminal yang seramai ini.</p>
<p>Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya penulis menemukan loket Pahala Kencana dengan petugasnya sama sekali tidak ramah. Penulis diberitahu bahwa busnya akan datang sore hari.</p>
<p>Memang penulis datang terlalu cepat. Di tiket, busnya tertulis akan berangkat pada pukul 13:50, di mana penulis sudah tiba pukul 11:30. Artinya, penulis harus menunggu kurang lebih 2 jam di tengah kerumunan orang.</p>
<p>Karena penuh sesak, tidak ada tempat yang bisa penulis gunakan untuk duduk, sehingga kurang lebih 4 jam penulis berdiri dan terkadang jongkok ketika merasa pegal. Busnya sendiri baru datang sekitar pukul 15:30.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, penulis mengisi waktu dengan membaca buku dan bermain game. Sesekali, penulis bahkan menulis ide untuk novel penulis yang berjudul <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji</a>.</p>
<p>Yang menyebalkan, bus sempat mogok selama 2 jam ketika berada di Subang. Untungnya, setelah mogok itu perjalanan relatif lancar. Penulis menyentuh Malang sekitar pukul 13:00 siang keesokan harinya.</p>
<p>Perjalanan mudik pertama ini benar-benar menguji kesabaran penulis. Akan tetapi, perjalanan balik ke Jakarta sungguh lebih menguras kesabaran dan tenaga.</p>
<h3>Ketika Balik ke Jakarta</h3>
<p>Sekitar tiga hari setelah lebaran, penulis harus segera balik ke Jakarta karena Senin sudah kembali bekerja. Sebenarnya masih rindu dengan suasana rumah, tapi ya sudahlah.</p>
<p>Di tiket, tertera keterangan bahwa bus akan berangkat dari <em>poll</em> yang berada di dekat rumah. Keberangkatan sekitar jam dua siang. Meskipun dekat, orang satu rumah pada ikut mengantar.</p>
<p>Penulis datang setengah jam lebih cepat walaupun punya pengalaman buruk ketika berangkat kemarin. Benar saja, pengalaman buruk tersebut terulang kembali dengan durasi yang lebih panjang.</p>
<p>Bayangkan, dari jadwal jam 2, busnya baru datang sekitar jam 7 malam! Alasan kondekturnya adalah macet yang luar biasa. Okelah, tapi terlambat 6 jam itu menurut penulis sudah termasuk keterlaluan.</p>
<p>Apalagi, di <em>poll </em>tersebut tidak ada ruang tunggunya, sehingga penulis dan keluarga harus menunggu di pinggir jalan. Penulis sih tidak masalah, tapi melihat orang tua dan kakek penulis menunggu seperti itu membuat penulis tidak enak hati.</p>
<p>Beberapa kali penulis meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu, tapi selalu ditolak dan berkata tidak apa-apa. Kelak, ketika penulis telah menjadi orang tua, penulis akan memahami sikap mereka ini.</p>
<p>Adakah yang lebih buruk? Ada, bus yang satu ini juga sempat mogok di tengah jalan! Hanya saja, mogoknya terjadi ketika dini hari, sehingga penulis tidak terlalu memusingkan hal tersebut.</p>
<p>Dari jadwal tiba di Jakarta jam 8 pagi, penulis baru sampai di terminal Kalideres sekitar pukul 16:00. Setelah melanjutkan perjalanan dengan menggunakan TransJakarta, penulis bisa beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan.</p>
<h3>Semua Ada Hikmahnya</h3>
<p>Penulis selalu meyakini idiom <em>every cloud has a silver lining</em>. Semua peristiwa selalu memiliki hikmahnya tersendiri, termasuk perjalanan mudik pertama dengan menggunakan bus ini.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa merasakan bagaimana susahnya pemudik yang menggunakan bus. Selama ini, penulis lebih sering berpergian dengan menggunakan kereta api atau pesawat terbang, sehingga pengalaman ini benar-benar berharga.</p>
<p>Mungkin penulis telah bersikap egois karena gusar dengan pelayanan Pahala Kencana. Akan tetapi, ketika melihat pak sopir dan kondekturnya yang sudah berjuang keras, penulis jadi merasa iba dengan mereka.</p>
<p>Di saat yang lain sedang pulang kampung, mereka harus mengantar orang lain pulang kampung. Belum lagi menerima komplain dari penumpang yang terlambat dijemput.</p>
<p>Belum lagi ketika bus harus mogok sehingga mereka harus menguras otak dan otot untuk kembali memperbaikinya. Ini bukan salah mereka, mungkin salah manajemennya.</p>
<p>Pelajaran lain yang penulis dapatkan adalah jangan menumpang bus lagi untuk perjalanan jarak jauh. Penulis merasa pengalaman yang satu ini sudah cukup memberi banyak pelajaran, dan penulis tidak ingin mengulang mata pelajaran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Juli 2019, terinspirasi dari perjalanan mudik pertama kemarin dengan menggunakan bus.</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.traveloka.com/tiket-bus-travel/pahala-kencana" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjAmurJgbHjAhXFpY8KHWphCvUQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Traveloka.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hikmah di Balik Tangis Salah dan Karius</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/hikmah-di-balik-tangis-salah-dan-karius/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/hikmah-di-balik-tangis-salah-dan-karius/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 May 2018 05:28:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[cedera]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champion]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Loris Karius]]></category>
		<category><![CDATA[Mohamed Salah]]></category>
		<category><![CDATA[Real Madrid]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=836</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada final Liga Champion musim ini, penulis memutuskan untuk netral, sama seperti Partai Demokrat pada pemilihan presiden tahun 2014. Alasannya, tidak ada tim yang bisa didukung. Penulis sudah memutuskan ikatan batin dengan Real Madrid karena membuang Iker Casillas secara tidak pantas. Sedangkan Liverpool, merupakan rival abadi Manchester United yang notabene klub favorit penulis. Akan tetapi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/hikmah-di-balik-tangis-salah-dan-karius/">Hikmah di Balik Tangis Salah dan Karius</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada final Liga Champion musim ini, penulis memutuskan untuk netral, sama seperti Partai Demokrat pada pemilihan presiden tahun 2014. Alasannya, tidak ada tim yang bisa didukung. Penulis sudah memutuskan ikatan batin dengan Real Madrid karena membuang Iker Casillas secara tidak pantas. Sedangkan Liverpool, merupakan rival abadi Manchester United yang notabene klub favorit penulis.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti penulis tidak mengikuti beritanya. Penulis melihat <em>live score </em>melalui aplikasi untuk mengikuti perkembangan pertandingan yang dimenangkan oleh Real Madrid 3-1 yang membuat klub asal Spanyol tersebut berhasil menjuarai Liga Champion tiga kali berturut-turut.</p>
<p>Di pertandingan ini, tangis jatuh dari dua pemain Liverpool, Mohamed Salah dan Loris Karius.</p>
<p><strong>Tangis Salah</strong></p>
<p>Mohamed Salah adalah salah satu pemain yang paling menonjol musim ini berkat penampilannya bersama Liverpool. Tentu fans berharap banyak kepadanya ketika menghadapi Real Madrid di Kiev.</p>
<p>Marcelo dibuat kerepotan oleh Salah, membuatnya jarang melakukan penetrasi ke depan. Selama 30 menit bermain, beberapa kali Salah mengancam gawang Keylor Navas.</p>
<p>Sayang, insiden jatuhnya Salah dan Ramos membuat bahunya dislokasi. Banyak pihak mengecam aksi Ramos yang dianggap melanggar sportifitas. Salah akhirnya harus ditarik ke luar lapangan karena tidak mungkin untuk bermain kembali.</p>
<div id="attachment_837" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-837" class="size-full wp-image-837" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/striker-liverpool-mohamed-salah_20180527_042312.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/striker-liverpool-mohamed-salah_20180527_042312.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/striker-liverpool-mohamed-salah_20180527_042312-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/striker-liverpool-mohamed-salah_20180527_042312-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-837" class="wp-caption-text">Salah dan Ramos (http://www.tribunnews.com/superskor/2018/05/27/cedera-mohamed-salah-bukan-hanya-salah-sergio-ramos-ini-buktinya)</p></div>
<p>Cedera yang dialami Salah ketika pertandingan tersebut mungkin bentuk kasih sayang Tuhan kepadanya. Mungkin, cedera yang diberikan Tuhan merupakan peringatan, agar tidak terbuai dengan segala pujian yang ia terima. Mungkin, Tuhan mengingatkan Salah bahwa ia juga manusia biasa yang bisa mengalami cedera.</p>
<p><strong>Tangis Karius</strong></p>
<p>Kekalahan Liverpool bisa dibilang akibat dua blunder yang dilakukan oleh kiper mereka, Loris Karius. Blunder pertama adalah kesalahan yang paling fatal dan tidak seharusnya terjadi di pertandingan sekelas final Liga Champion.</p>
<p>Merasa bersalah, Karius menghampiri penonton seusai pertandingan untuk meminta maaf. Permohonan maaf ini diiringi tangis yang seolah tak berujung. Sedihnya lagi, tak ada rekan satu timnya yang menghampiri dirinya, sama seperti ketika kiper Bayern Muenchen, Sven Ulreich, membuat blunder konyol saat timnya kalah dari Real Madrid juga di semifinal.</p>
<div id="attachment_839" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-839" class="size-large wp-image-839" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league-1024x570.jpg" alt="" width="1024" height="570" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league-1024x570.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league-300x167.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league-768x428.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league-356x198.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/loris_karius-real-madrid-liverpool-champions-league.jpg 1300w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-839" class="wp-caption-text">Karius Minta Maaf (https://www.si.com/soccer/2018/05/26/loris-karius-goalkeeping-liverpool-real-madrid-champions-league-final)</p></div>
<p>Dengan adanya kejadian seperti ini, mungkin Karius sadar bahwa dirinya masih jauh dari bagus, sehingga ia harus berlatih lebih keras lagi di masa depan. Peristiwa ini akan menguatkan mentalnya dan meningkatkan motivasinya untuk menjadi penjaga gawang yang pantas bagi Liverpool.</p>
<p>Seandainya Liverpool memutuskan untuk menjualnya, Karius masih bisa membuktikannya di klub lain. Asal berlatih dengan giat dan berhasil mengatasi trauma pada pertandingan final tersebut, penulis yakin Karius masih memiliki masa depan di dunia sepakbola.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 Mei 2018, terinspirasi setelah kekalahan Liverpool dari Real Madrid pada pertandingan final Liga Champion di Kiev</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/hikmah-di-balik-tangis-salah-dan-karius/">Hikmah di Balik Tangis Salah dan Karius</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/hikmah-di-balik-tangis-salah-dan-karius/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2018 11:01:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Cut Meutia]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Istiqlal]]></category>
		<category><![CDATA[nasi padang]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=527</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada hari Jum&#8217;at kemarin, tanggal 13 Maret 2018, penulis berencana untuk melaksanakan ibadah sholat Jum&#8217;at di masjid Istiqlal. Mumpung lagi di Jakarta, kata batin penulis. Agar mendapatkan tempat, penulis meluncur keluar dari rumah eyang di Jelambar pukul 10.30. Salah Naik Kereta Penulis berencana naik KRL untuk menuju masjid Istiqlal. Dilihat dari rutenya, penumpang yang ingin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/">Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Jum&#8217;at kemarin, tanggal 13 Maret 2018, penulis berencana untuk melaksanakan ibadah sholat Jum&#8217;at di masjid Istiqlal. Mumpung lagi di Jakarta, kata batin penulis. Agar mendapatkan tempat, penulis meluncur keluar dari rumah eyang di Jelambar pukul 10.30.</p>
<p><strong>Salah Naik Kereta</strong></p>
<p>Penulis berencana naik KRL untuk menuju masjid Istiqlal. Dilihat dari rutenya, penumpang yang ingin menuju ke sana harus menjalani dua kali transit. Pertama, dari stasiun Grogol menuju stasiun Duri. Setelah itu dari stasiun Duri menuju stasiun Manggarai. Baru dari stasiun Manggarai kita menuju ke stasiun Gambir yang dekat dengan masjid Istiqlal.</p>
<p>Akan tetapi, ketika penulis tanya kepada petugas loket, ternyata KRL tidak berhenti di stasiun Gambir. Maka penulis menanyakan, stasiun mana yang terdekat dengan stasiun Gambir? Petugas tersebut menjawab stasiun Gondangdia. Akhirnya, penulis pun meluncur menuju stasiun tersebut.</p>
<div id="attachment_529" style="width: 610px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-529" class="size-full wp-image-529" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/MU12tLySjm1425453271.jpg" alt="" width="600" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/MU12tLySjm1425453271.jpg 600w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/MU12tLySjm1425453271-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/MU12tLySjm1425453271-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><p id="caption-attachment-529" class="wp-caption-text">Stasiun Manggarai (https://merahputih.com/post/read/stasiun-manggarai-stasiun-transit-penumpang-commuter-line)</p></div>
<p>Malang tak bisa ditolak, penulis kurang fokus ketika transit di stasiun Manggarai. Bukannya naik KRL jurusan ke Jakartakota, penulis justru naik KRL yang menuju ke Bogor. Alhasil, penulis harus turun di stasiun Tebet dan kembali lagi ke stasiun Manggarai.</p>
<p><strong>Berpindah Tujuan</strong></p>
<p>Karena salah naik kereta ini, penulis telah membuang cukup banyak waktu, sehingga keinginan sholat di masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut harus diurungkan. Penulis mencari-cari masjid yang dekat dengan stasiun Gondangdia, dan alhamdulillah ada Masjid Cut Meutia yang berlokasi dekat dengan stasiun Gondangdia.</p>
<p>Ketika sampai di stasiun dan berjalan menuju masjid, penulis diherankan oleh banyaknya orang yang berjualan koran bekas. Untuk apa koran tersebut?</p>
<p>Pertanyaan tersebut langsung terjawab ketika penulis memasuki area masjid. Saat penulis sampai di masjid, adzan baru saja berkumandang, tapi jamaahnya sudah sampai parkiran dan penuh. Ternyata koran bekas tersebut digunakan sebagai sajadah.</p>
<p>Sewaktu melihat ada rombongan anak kecil membawa koran, penulis memutuskan untuk membeli dari mereka. Harganya? <strong>DUA RIBU RUPIAH </strong>untuk <strong>DUA LEMBAR KORAN</strong>. Padahal, koran Surya yang baru saja harganya hanya seribu. Mungkin itulah yang dinamakan mencari kesempatan dari kesempitan orang lain.</p>
<p>Tidak apa-apa, mumpung hari Jum&#8217;at.</p>
<p><strong>Kejutan Selanjutnya</strong></p>
<p>Penulis merasakan untuk pertama kali bagaimana sholat dibawah terik matahari secara langsung. Untunglah ada sweater yang dapat mereduksi panasnya matahari.</p>
<p>Setelah selesai sholat, penulis masih dikagetkan lagi oleh sesuatu yang belum pernah dialami. Belum selesai jamaah berdoa, tiba-tiba banyak orang membawa karung-karung. Awalnya penulis kira orang tersebut hendak memunguti koran-koran yang banya dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.</p>
<p>Ternyata, mereka berjualan! Karung yang mereka bawa adalah barang dagangan mereka. Tidak peduli masih ada pengunjung masjid yang berdoa, mereka mulai mengeluarkan barang-barang mereka, mulai dari pakaian hingga aksesoris. Karena langka, penulis merekam kejadian ini.</p>
<p><iframe loading="lazy" width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/R0XOAscLeyc?ecver=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>Suasana Setelah Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</p>
<p><strong>Paket Lengkap dengan Harga Terjangkau</strong></p>
<p>Perut penulis kosong ketika berangkat. Setelah Jum&#8217;atan, penulis langsung mengincar rumah makan Padang yang terletak di sebelah masjid. Rendang di siang hari nampak nikmat di benak penulis.</p>
<p>Ketika berjalan menuju tempat makan tersebut, ada sepasang dan bapak ibu yang berjualan nasi kotak di dalam area masjid. Ketika penulis intip, ternyata nasi kotak tersebut berasal dari rumah Padang yang hendak penulis tuju. Penasaran, penulis coba tanya berapa harganya.</p>
<p>&#8220;Berapa pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dua puluh lima ribu aja mas, dapat dua lauk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada rendang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada mas.&#8221;</p>
<p>Wah, kok lebih murah? Langsung saja penulis duduk dan memakan nasi padang kotak tersebut. Isinya lengkap, ada rendang, telur, kerupuk, sayur singkong, sayur nangka, air putih hingga pisang. Mau pinjam sendok pun dipinjamkan.</p>
<div id="attachment_530" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-530" class="size-large wp-image-530" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/photo_2018-03-21_17-59-11.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-530" class="wp-caption-text">Paket Lengkap</p></div>
<p>Penulis bertanya kepada penjual, apa memang biasanya harganya segini? Bapak penjual menjawab bahwa ini harga khusus Jum&#8217;at. Harga normalnya bisa tiga hingga empat puluh ribu.</p>
<p>Alhadulillah, rezeki.</p>
<p>Setelah selesai makan, penulis menuju Cinema XXI di Taman Ismail Marzuki untuk menonton film Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung. Pulangnya, penulis mampir ke masjid Istiqlal untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib, sekaligus sebagai pelipur lara karena gagal sholat di sana.</p>
<p>Bukan lara sih, toh penulis mendapat ganti pengalaman yang luar biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 21 Maret 2018, terinspirasi dari pengalaman sholat di Masjid Cut Meutia</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://tengokberita.com/masjid-cut-meutia-awalnya-kantor-pengembang-perumahan-elit-pertama-di-indonesia/">http://tengokberita.com/masjid-cut-meutia-awalnya-kantor-pengembang-perumahan-elit-pertama-di-indonesia/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/">Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perpecahan Islam dan Hikmah yang Bisa Dipetik</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-perpecahan-islam-dan-hikmah-yang-bisa-dipetik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-perpecahan-islam-dan-hikmah-yang-bisa-dipetik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2018 15:16:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[history]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islamic]]></category>
		<category><![CDATA[lost]]></category>
		<category><![CDATA[perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=150</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam sejarah, sayang sekali banyak terjadi perpecahan antara umat muslim. Mungkin perpecahan pertama yang terjadi setelah Rasulullah wafat adalah ketika khalifah Ali memutuskan untuk tidak menghukum pembunuh khalifah Utsman. Semenjak itu, beberapa kali tertulis peristiwa sejarah dimana umat muslim saling memerangi demi kekuasaan semata. Seharusnya, kita bisa belajar dari sejarah ini jika perpecahan dalam tubuh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-perpecahan-islam-dan-hikmah-yang-bisa-dipetik/">Sejarah Perpecahan Islam dan Hikmah yang Bisa Dipetik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejarah, sayang sekali banyak terjadi perpecahan antara umat muslim. Mungkin perpecahan pertama yang terjadi setelah Rasulullah wafat adalah ketika khalifah Ali memutuskan untuk tidak menghukum pembunuh khalifah Utsman. Semenjak itu, beberapa kali tertulis peristiwa sejarah dimana umat muslim saling memerangi demi kekuasaan semata.</p>
<p>Seharusnya, kita bisa belajar dari sejarah ini jika perpecahan dalam tubuh Islam hanya akan membawa kita kehancuran. Andai kata tidak ada perpecahan, mungkin Spanyol akan menjadi salah satu negara Islam di Eropa. Mungkin kita tidak akan kelabakan ketika barat mulai menyusul dengan berbagai inovasinya (dan invasinya). Mungkin Islam akan menjadi kekuatan adidaya, mengalahkan negara yang sekarang sedang dipimpin oleh pebisnis.</p>
<p>Namun apa yang sudah terjadi tentu tidak perlu disesali karena segala sesuatu pasti memiliki hikmahnya sendiri. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjaga persatuan umat muslim, minimal di lingkungan dan negara kita. Suatu saat, bukan mustahil Islam akan kembali ke era keemasannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Januari 2018, setelah membaca buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-perpecahan-islam-dan-hikmah-yang-bisa-dipetik/">Sejarah Perpecahan Islam dan Hikmah yang Bisa Dipetik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-perpecahan-islam-dan-hikmah-yang-bisa-dipetik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
