Connect with us

Tokoh & Sejarah

Sejarah Perpecahan Islam dan Hikmah yang Bisa Dipetik

Published

on

Dalam sejarah, sayang sekali banyak terjadi perpecahan antara umat muslim. Mungkin perpecahan pertama yang terjadi setelah Rasulullah wafat adalah ketika khalifah Ali memutuskan untuk tidak menghukum pembunuh khalifah Utsman. Semenjak itu, beberapa kali tertulis peristiwa sejarah dimana umat muslim saling memerangi demi kekuasaan semata.

Seharusnya, kita bisa belajar dari sejarah ini jika perpecahan dalam tubuh Islam hanya akan membawa kita kehancuran. Andai kata tidak ada perpecahan, mungkin Spanyol akan menjadi salah satu negara Islam di Eropa. Mungkin kita tidak akan kelabakan ketika barat mulai menyusul dengan berbagai inovasinya (dan invasinya). Mungkin Islam akan menjadi kekuatan adidaya, mengalahkan negara yang sekarang sedang dipimpin oleh pebisnis.

Namun apa yang sudah terjadi tentu tidak perlu disesali karena segala sesuatu pasti memiliki hikmahnya sendiri. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjaga persatuan umat muslim, minimal di lingkungan dan negara kita. Suatu saat, bukan mustahil Islam akan kembali ke era keemasannya.

 

Lawang, 5 Januari 2018, setelah membaca buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb

Sumber Foto:

Tokoh & Sejarah

Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?

Published

on

By

Melihat semakin maraknya kasus judi online di masyarakat yang sangat memprihatinkan hingga melibatkan banyak streamer game, Penulis jadi teringat oleh salah satu kisah pewayangan yang terkenal.

Yudhistira yang merupakan sulung para Pandawa pun pernah terlilit masalah karena masalah judi. Padahal, ia dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana. Namun, ternyata seorang yang bijaksana pun harus terkena getah karena bermain judi.

Lantas, mengapa Yudhistira bermain judi dalam bentuk dadu? Apa konsekuensi yang harus diterima olehnya (dan keluarganya) karena kalah dalam perjudian tersebut? Semuanya akan berusaha Penulis ringkas melalui tulisan ini.

Latar Belakang Yudhistira

Yudhistira, atau kerap disebut Puntadewa dalam pewayangan Jawa, merupakan anak sulung dari pasangan Pandu dan Kunti dari Dinasti Kuru. Menariknya, ia lahir berkat bantuan Dewa Yama (Dharma) karena Pandu terkena kutukan akan meninggal jika berhubungan badan.

Dalam Dinasti Kuru, Pandu diangkat menjadi raja karena kakaknya, Dretarastra, mengalami kebutaan sejak lahir. Namun, setelah Pandu terkena kutukan, ia memilih untuk menepi dan membuat kakaknya memimpin kerajaan Hastinapura untuk sementara.

Lantas, setelah Pandu meninggal karena melanggar kutukan Resi, Yudhistira bersama keempat saudaranya (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dan Kunti pun kembali ke kerajaan dan mendapatkan bimbingan dari beberapa tokoh seperti Bisma dan Resi Drona.

Sebagai anak dari Pandu, para Pandawa kerap berselisih dengan sepupu mereka yang merupakan anak-anak Drestarastra, yakni para keseratus Kurawa yang disulungi oleh Duryodhana. Bumbu-bumbu perebutan takhta pun telah tercium.

Saat Yudhistira beranjak dewasa, artinya status Drestarastra sebagai raja sementara pun akan segera dikembalikan ke keturunan Pandu. Hal ini tidak diinginkan Duryodhana. Maka berbagai rencana jahat pun mulai dilakukan.

Salah satu kisah yang paling terkenal adalah insiden pembakaran Laksagraha, sebuah istana yang terbuat dari lilin. Yudhistira bersama saudara dan ibunya selamat dari kejadian tersebut, lalu memutuskan untuk pergi dari Hastinapura.

Terbaginya Hastinapura Menjadi Dua

Setelah pergi dari Hastinapura dan mengasingkan diri, Arjuna berhasil memenangkan sayembara untuk menikahi Drupadi. Namun, karena kesalapahaman Kunti, pada akhirnya Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa.

(Catatan: Di versi pewayangan Jawa, Drupadi hanya menikah dengan Yudhistira)

Para Pandawa pun kembali ke Hastinapura setelah menikahi Drupadi, menuntut hak mereka atas kerajaan. Karena pihak Kurawa enggan mengembalikan kerajaan tersebut dan demi menghindari perselisihan, akhirnya Hastinapura pun dibagi menjadi dua.

Yudhistira pun menjadi raja di kerajaan yang diberi nama Indraprastha (atau lebih terkenal dengan nama Amarta dalam pewayangan Jawa). Dibangun dari hutan “angker” yang ditinggalkan, kerajaan Indraprastha memiliki sebuah istana yang begitu megah.

Ketika mengadakan upacara Rajasuya, Yudhistira mengundang raja-raja dari kerajaan lain, termasuk Duryodhana. Saat memasuki istana Indraprastha, Duryodhana merasa kagum dengan kemegahan istana tersebut.

Ada satu kejadian memalukan di mana Duryodhana mengira lantai sebagai air, dan mengira air sebagai lantai. Hal ini membuat Bima tertawa terbahak-bahak, sekaligus menimbulkan perasaan dendam yang teramat besar pada diri Duryodhana.

Undangan Bermain Dadu

Kemegahan istana Indraprastha membuat Duryodhana ingin menguasainya. Ia pun berkonsultasi dengan paman sekaligus penasehatnya, Sengkuni. Akhirnya mereka pun mengundang Yudhistira untuk bermain dadu (baca: judi) melalui Drestarastra.

Meskipun terkenal sebagai raja yang bijaksana, ada versi yang menyebutkan kalau Yudhistira sebenarnya menyukai permainan dadu. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebenarnya Yudhistira sangat menentang judi karena tidak membawa kebaikan.

Di sisi lain, karena yang mengundang pamannya sendiri, ia merasa perlu menghargai undangan tersebut dengan cara menghadirinya. Apalagi, Yudhistira pada dasarnya adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada orang lain, bahkan kepada Duryodana.

Oleh karena itu, undangan tersebut ia anggap sebagai ajakan bermain dari keluarga tanpa ada prasangka negatif. Apalagi, pasti ada konsekuensi jika ia sampai menolak undangan bermain dadu dari kerajaan lain, seperti dianggap pengecut atau bahkan hingga memicu perang.

Permainan dadu pun diadakan di Hastinapura. Sama seperti kasus judi online kebanyakan, awalnya Yudhistira diberi kemenangan oleh pihak Duryodana dan Sengkuni. Taruhan yang semula kecil-kecilan, pada akhirnya semakin menjadi tidak masuk akal.

Yudhistira pada satu titik akhirnya mempertaruhkan seluruh kerajaan Indraprastha, yang menjadi target sebenarnya permainan judi tersebut diadakan. Tentu saja hal tersebut berakhir dengan kekalahan karena permainan tersebut memang sudah di-setting oleh Sengkuni.

Meskipun telah kehilangan kerajaannya, Yudhistira seolah menjadi gelap mata seperti para pemain judi online yang terus berharap kemenangan di ronde berikutnya. Bayangkan, ia mempertaruhkan para saudaranya, dirinya sendiri, bahkan istrinya Drupadi.

Drestarastra yang merasa tidak tega melihat keponakannya begitu terhina akhirnya memerintahkan Duryodana untk mengembalikan semuanya, yang berat hati ia lakukan. Akhirnya judi dilakukan ulang, dengan taruhan yang kalah harus mengasingkan diri.

Seolah tidak belajar dari kesalahan, Yudhistira pun kembali bermain dan tentu saja kalah lagi. Alhasil, ia bersama saudara, istri, dan ibunya pun harus mengasingkan diri selama 12 tahun ditambah 1 tahun menyamar tanpa boleh ketahuan pihak Kurawa.

Kelak, setelah mengasingkan diri dan menyamar tanpa ketahuan, Yudhistira datang ke Duryodana untuk meminta kembali Indraprastha. Namun, Duryodana menolak untuk menyerahkannya. Yudhistira melunak dengan meminta lima desa saja, tapi tetap ditolak.

Hal inilah yang akhirnya memicu Perang Mahabharata yang amat dahsyat di kemudian hari, sebuah perang dengan jumlah korban yang tidak main-main. Sebuah pertempuran antara satu dinasti yang memperebutkan takhta, yang bisa terjadi karena diawali oleh judi.

Penutup

Bayangkan, dari sebuah karya kuno yang ditulis ribuan tahun lalu, sebenarnya kita bisa belajar mengenai betapa destruktifnya permainan dadu bagi para pemainnya. Yudhistira yang bijak pun harus merasakan pahitnya kekalahan bermain judi.

Sengkuni pun masih hadir di dunia perjudian saat ini dalam bentuk bandar-bandar judi yang sudah mengatur permainan agar bisa mengeruk keuntungan sebanyak-banyak dari para pemain yang telah gelap mata dan terus berharap di game selanjutnya akan menang.

Meskipun tidak bisa dijustifikasi, alasan Yudhistira menerima ajakan bemain dadu adalah demi menghormati pamannya, yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Ia terlalu berprasangka baik, dengan bepikir tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.

Nah, kalau “Yudhistira-Yudhistira” di era modern, apa alasan mereka untuk bermain judi? Kemungkinan besar adalah karena menyimpan harapan bisa meraup uang banyak dengan cara mudah, tanpa menyadari ada “Sengkuni” di balik permainan tersebut.


Lawang, 16 Oktober 2023, terinspirasi dari adanya kasus judi online yang semakin meresahkan

Foto Featured Image: Apartment Therapy

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Bagaimana Oppenheimer (Secara Tidak Langsung) Membantu Indonesia Merdeka

Published

on

By

Oppenheimer benar-benar membekas bagi Penulis. Melalui film yang digarap oleh Christopher Nolan tersebut, Penulis jadi bisa mengetahui sosok J. Robert Oppenheimer secara lebih mendalam lagi. Selama ini, Penulis hanya tahu secara sekilas saja.

Kisah hidupnya memang menarik dan penuh gejolak, sehingga sah-sah saja jika ia menjadi biopik pertama yang dibuat oleh Nolan. Oppenheimer bukan manusia sempurna yang layak jadi teladan, tapi harus diakui kalau drama kehidupannya layak untuk disimak.

Setelah menonton Oppenheimer, ada banyak hal yang Penulis renungkan, mulai dari bagaimana Linkin Park telah menggunakan pidatonya di tahun 2010 hingga bagaimana bahaya perang nuklir selalu mengintai kita.

Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik Penulis hingga membuat Penulis ingin membuat artikel khusus tentangnya, yaitu tentang bagaimana Oppenheimer, secara tidak langsung, membantu Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya.

Hegemoni Jepang di Kawasan Asia Pasifik

Kekuasaan Jepang di Era Perang Dunia 2 (Classroom)

Indonesia mulai dijajah oleh Jepang sejak tahun 1942. Dalam waktu yang relatif singkat, banyak yang menyebutkan kalau penderitaan yang diakibatkan oleh mereka jauh lebih parah dibandingkan dengan waktu penjajahan Belanda.

Para pahlawan tentu berusaha mengusir Jepang dengan berbagai cara, baik dengan cara diplomasi maupun kekerasan melalui perang. Namun, Jepang ketika Perang Dunia 2 menjadi yang tertangguh di kawasan Asia Pasifik.

Bukan hanya Indonesia, wilayah jajahan Jepang sangat luas karena mencakup Korea, China (wilayah Manchuria), pulau-pulau kecil di Samudera Pasifik, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Mereka butuh sumber daya sebanyak-banyaknya untuk memperkuat supremasinya.

Berhubung Eropa sedang fokus menghadapi Jerman (dan Italia) yang membabi buta, waktu itu seolah tidak ada yang bisa menghentikan Jepang. Negara yang paling dekat saat itu adalah Amerika Serikat, yang di masa awal Perang Dunia 2 mengambil sikap netral.

Namun, semuanya berubah ketika pasukan Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Amerika Serikat pun memutuskan masuk ke medan perang di kawasan Pasifik, berupaya dengan pasukan yang tersisa untuk memukul mundur pasukan Jepang.

Oppenheimer dan Proyek Manhattan yang Dipimpinnya

Trinity Test (YouTube)

Di tengah masa perang, tersiar kabar kalau Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler dan NAZI sedang mengembangkan sebuah bom nuklir yang memiliki daya hancur luar biasa. Tentu ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa bagi dunia.

Hal ini akhirnya mendorong Oppenheimer, yang terkenal apatis dengan politik dan ekonomi, mau menerima tawaran untuk menjadi pemimpin Manhattan Project. Secara sederhana, ini adalah sebuah proyek pembuatan bom atom untuk menyaingi bom milik Jerman

Oppenheimer pun memilih lokasi di tengah gurun, tepatnya di Los Alamos, New Mexico. Dengan bantuan dari berbagai ilmuwan di Amerika Serikat, proyek tersebut akhirnya rampung dalam waktu kurang lebih tiga tahun.

Namun, sebelum bom atom itu selesai, Jerman sudah lebih dulu menyerah setelah Hitler bunuh diri pada bulan April 1945. Walaupun begitu, proyek tersebut tetap berjalan, hingga akhirnya tes pertama yang dinamai Trinity Test dilaksanakan pada bulan Juli 1945.

Pada akhirnya, bom atom yang diberi nama Fat Man dan Little Boy tersebut dijatuhkan masing-masing di kota Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (8 Agustus). Beberapa hari kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah.

Jepang Menyerah, Indonesia Gercep

Merdeka karena Gercep (VOI)

Kerusakan yang diakibatkan oleh bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki sangat masif. Menurut pembelaan pihak Amerika Serikat, tindakan tersebut harus diambil untuk menghindari lebih banyak nyawa yang harus hilang jika perang terus berlangsung tanpa berkesudahan.

Memang, banyak yang menganggap itu adalah keputusan yang tepat dan terbukti karena Jepang akhirnya menyerah. Kehilangan ratusan ribu penduduk dalam sekejap jelas sebuah pengingat yang sangat keras, dan Jepang tidak ingin bom atom dijatuhkan lagi ke wilayahnya.

Siapa yang mendapatkan “berkah” dari peristiwa ini? Salah satunya adalah Indonesia, yang langsung gercep memproklamirkan kemerdekaannya. Mengapa gercep, karena negara-negara lain baru beberapa tahun kemudian bisa merdeka. Korea saja baru merdeka tahun 1947.

Awalnya, para pemuda Indonesia mendesak para tokoh senior untuk melakukannya pada tanggal 16 Agustus, sehari setelah tersiar kabar Jepang telah menyerah. Namun, para tokoh senior sempat menolaknya karena ingin berunding dulu dengan Jepang.

Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, mengingat Jepang sudah berulang kali berjanji akan menghadiahkan kemerdekaan untuk Indonesia. Namun, tampaknya para pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia menjadi pemberian bangsa lain, harus dari upaya sendiri.

Pada akhirnya, disepakati kalau pembacaan naskah proklamasi akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Sukarno. Selanjutnya, seperti yang sudah banyak di buku teks sejarah, Indonesia terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya secara heroik.

Peran Oppenheimer dalam Membantu Indonesia Merdeka

Meskipun Jerman telah kalah, Jepang belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur dan mengibarkan bendera putih. Apa yang membuat Jepang akhirnya menyerah di Perang Dunia 2 adalah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Dengan begitu, harus diakui kalau Oppenheimer (dan AS) memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Jika Manhattan Project yang dipimpin oleh Oppenheimer tidak berhasil, mungkin Jepang tidak akan menyerah dan Indonesia tidak akan merdeka pada tahun 1945.

Walaupun begitu, tentu bukan berarti kemerdekaan kita hanya sekadar “pemberian” dari bangsa lain. Ingat, sudah banyak perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan, baik ketika merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya mati-matian.


Lawang, 24 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton Oppenheimer

Foto Featured Image: Vanity Fair

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Ke Huy Quan dan Kisah Luar Biasa yang Dimilikinya

Published

on

By

Pada pertengahan Maret lalu, Oscar 2023 mengumumkan para pemenangnya. Film Everything Everywhere All At Once berhasil mendapatkan tujuh penghargaan dalam ajang tersebut, termasuk Best Picture dan Best Actrees yang diraih oleh Michelle Yeoh.

Namun, menurut Penulis yang berhasil mencuri perhatian adalah peraih penghargaan Best Actor in a Supporting Role yang diraih oleh Ke Huy Quan. Setelah namanya disebut oleh Ariana DeBose, standing ovation untuknya terjadi cukup lama.

Kemenangannya ini benar-benar terasa spesial karena film Everything Everywhere All At Once adalah film pertamanya setelah 20 tahun hiatus dari industri perfilman. Bukan karena pilihan, melainkan karena terbatasnya kesempatan yang ada.

Penulis benar-benar merasa tersentuh dengan kisahnya, sehingga memutuskan untuk menuliskan secara singkat tentangnya.

Aktor Cilik yang Telah Lama Menghilang

Dari namanya saja, kita tahu kalau Ke Huy Quan bukan asli Amerika Serikat. Ia merupakan imigran yang berasal dari Vietnam, lantas sempat berada di camp pengungsian di Hong Kong selama satu tahun, sebelum akhirnya bisa berlabuh di Amerika Serikat.

Keluarga Quan tinggal di sebuah “kampung Cina” di Los Angeles, di mana tempat tersebut ternyata membawa berkah. Pasalnya, ternyata film Indiana Jones: Temple of the Doom sedang mencari seorang bocah Asia di tempat tersebut untuk bermain di film.

Seperti kisah pada umumnya, awalnya Quan tidak berniat untuk mendaftar. Ia hanya mengantar saudaranya casting. Namun, karena ia terlihat terus mengarahkan saudaranya, tim casting pun mengajaknya dan akhirnya ia mendapatkan peran tersebut.

Bayangkan, awal karir aktingnya, ia langsung bermain bersama aktor sekaliber Harrison Ford dan disutradrai oleh Steven Spielberg (dan jangan lupakan George Lucas!). Tentu hal tersebut bagi Quan.

Tidak cukup di situ, ia kembali diajak oleh Spielberg bermain di film The Goonies yang cukup populer. Setelah itu, ia bermain di beberapa film seperti The Encino Man, sebelum akhirnya menghilang selama kurang lebih 20 tahun.

Epic Comeback Melalui Everything Everywhere All At Once

Quan menjelaskan bahwa hilangnya dirinya dari dunia akting bukan karena keinginannya, melainkan karena minimnya kesempatan yang ada. Ia tak pernah mendapatkan panggilan, ponselnya berhenti berdering.

Ia pun sempat banting setir, termasuk menjadi stuntman coordinator di sejumlah film termasuk X-Men (2000). Namun, secara keseluruhan namanya terlupakan saja oleh Hollywood, hingga kemunculannya di film Everything Everywhere All At Once.

Di film tersebut, ia berperan sebagai suami dari Evelyn yang diperankan oleh Michelle Yeoh bernama Waymond. Ia digambarkan sebagai laki-laki yang “lembek”, tetapi baik hati. Tentu, ia memerankan beberapa varian Waymond juga, termasuk versi kaya dan versi Alpha.

Berperan sebagai “Beta Male”, karakter Waymond mampu membantu Evelyn memenangkan pertempuran melawan Jobu Tupaki, dengan mengingatkan kalau kita harus “menjadi baik, terutama ketika kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi”.

Siapa yang menyangka jika comeback-nya di film tersebut langsung membawanya berhasil mendapatkan piala Oscar. Bayangkan, 20 tahun lebih tidak berakting, sekalinya comeback langsung menang penghargaan paling bergengsi di Hollywood.

Ke Huy Quan dan Jangan Menyerah pada Impian

Suara Ariana DeBose terdengar menahan tangis ketika ia menyebutkan nama pemenang dari kategori Best Actor in Supporting Role, Ke Huy Quan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Quan pun mendapat standing ovation yang cukup lama.

Quan tak bisa menyembunyikan rasa harunya di atas panggung. Sambil menahan tangis, ia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang selama ini telah mendukungnya terus. Ia juga bercerita sedikit tentang masa lalunya yang telah Penulis rangkum di atas.

Tidak lupa ia juga memberikan motivasi tentang mengejar mimpi. Quan mengakui kalau dirinya sempat berpikir untuk menyerah mengejar mimpinya di dunia akting. Piala Oscar yang ia raih menjadi bukti kalau mimpi adalah sesuatu yang layak untuk dikejar.

Penutup

Biasanya, ketika para pemenang Oscar diumumkan, akan selalu ada nada sumbang yang tidak menyetujui hasilnya. Tahun ini pun ada, tetapi rasanya tertutupi dengan kemenangan yang berhasil diraih oleh Ke Huy Quan dan Everything Everywhere All At Once.

Hampir mayoritas netizen merasa kalau ia memang layak untuk mendapatkan Oscar. Penampilannya di film bertema multiverse tersebut memang cukup luar biasa, ditambah latar belakangnya yang menimbulkan simpati bagi orang lain.

Netizen juga menyanjung bagaimana Ke Huy Quan begitu humble dan lovable. Dalam setiap kesempatan maupun wawancara, ia selalu rendah hati dan tidak membanggakan diri. Benar-benar sosok yang patut untuk diteladani.

Setelah kemenangan ini, tentu Penulis (dan netizen) berharap kalau karir Ke Huy Quan akan berlanjut dan tidak berhenti sampai di sini saja. Jarang ada tokoh di Hollywood yang memiliki kisah dan kepribadian yang luar biasa seperti dirinya.


Lawang, 23 Maret 2023, terinspirasi setelah melihat kemenangan yang berhasil diraih oleh Ke Huy Quan

Foto: YouTube

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan