<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>insecure Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/insecure/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/insecure/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:54:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>insecure Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/insecure/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dikit-Dikit Insecure</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2020 06:07:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4121</guid>

					<description><![CDATA[<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya insecure. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya. Ada temen yang pintar, insecure. Ada artis yang pamer mobil baru, insecure. Ada orang yang jago banyak bahasa, insecure. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, insecure. Hal ini semakin diperparah dengan adanya media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya <strong><em>insecure</em></strong>. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya.</p>



<p>Ada temen yang pintar, <em>insecure</em>. Ada artis yang pamer mobil baru, <em>insecure</em>. Ada orang yang jago banyak bahasa, <em>insecure</em>. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, <em>insecure</em>.</p>



<p>Hal ini semakin diperparah dengan adanya media sosial. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pengguna hanya memperlihatkan sisi senangnya saja di berbagai platform.</p>



<p>Merasa <em>insecure</em> itu wajar. Tapi jika berlebihan, akan merugikan diri kita sendiri.</p>
<h3>Mengabaikan Rasa Syukur</h3>
<p><em>Insecure</em> dalam Oxford Dictionary memiliki makna:</p>
<blockquote>
<p><em>not confident about yourself or your relationships with other people</em></p>
</blockquote>
<p>Perasaan tidak nyaman atau percaya diri sendiri ini kerap terjadi ketika kita <strong>membandingkan diri kita dengan orang lain</strong> yang dianggap lebih berhasil atau sukses.</p>
<p>Kita jadi berpikir, <em>kok aku enggak bisa kayak dia ya. </em>Padahal, masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Rasanya hampir mustahil ada orang yang isinya hanya kekurangan saja.</p>
<p>Perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan juga akan membuat kita <strong>mengabaikan rasa syukur</strong>. Kita terlalu berfokus dengan apa yang tidak kita punyai dan melupakan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Dari buku-buku seputar <em>self-care</em> yang telah dibaca, Penulis menemukan banyak sekali kisah orang-orang yang hidupnya jauh lebih sengsara.</p>
<p>Hal ini semakin diperkuat ketika Penulis membaca sejarah-sejarah dunia yang kisahnya kerap memilukan hati.</p>
<p>Penulis harusnya bersyukur tidak perlu menjadi tawanan perang, tidak tahu siapa orangtua kandungnya, mengalami trauma yang begitu berat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Itu saja sudah cukup untuk dijadikan bahan syukur kita agar tidak mudah merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Memanfaatkan Rasa <em>Insecure</em></h3>
<p>Seharusnya, rasa insecure bisa dijadikan bahan untuk <strong>memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi</strong>. <em>Insecure </em>akan menjadi percuma jika kita hanya mendiamkannya saja.</p>
<p>Melihat teman yang lebih pintar, kita jadi semangat belajar. Percuma merasa <em>insecure</em> tapi kitanya malah memilih rebahan sambil main HP.</p>
<p>Melihat rekan kerja membeli smartphone baru, kita jadi semangat untuk mengatur keuangan lebih baik lagi atau mencari penghasilan sampingan. Jangan cuma dijadikan sebagai bahan rasan-rasan.</p>
<p>Seperti yang pernah Penulis singgung di beberapa tulisan sebelumnya, <strong>semua kejadian yang ada di dunia ini adalah netral</strong>. Persepsi kita yang menentukan hal tersebut baik atau buruk.</p>
<p>Melihat kesuksesan atau kemampuan orang lain yang di atas kita bisa dilihat sebagai hal yang baik dengan menjadikannya motivasi. Menjadi buruk apabila membuat kita terpuruk.</p>
<h3>Menghilangkan (atau Minimal Mengurangi) <em>Insecure</em></h3>
<p>Jika perasaan <em>insecure</em> susah dihilangkan, coba untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/"><strong>puasa media sosial</strong></a> semampunya. Selama itu, coba untuk lebih banyak melihat ke diri sendiri.</p>
<p>Latih <em>self-awareness</em> melalui berbagai sumber. Ada banyak video di YouTube ataupun aplikasi yang akan membantu kita mengenali diri sendiri.</p>
<p><strong>Perbanyak rasa syukur</strong> juga sangat membantu. Coba ingat apa saja yang selama ini kita lupakan untuk disyukuri, entah itu anggota tubuh yang lengkap, masih diberi hidup, memiliki keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lingkungan juga sangat memengaruhi. <em>Circle</em> yang selalu menjatuhkan kita akan membuat kita menjadi susah untuk percaya bahwa diri ini bisa lebih baik lagi.</p>
<p>Kalau lingkungan teman yang seperti itu, kita bisa meninggalkannya. Bagaimana dengan lingkungan keluarga? Cobalah untuk mencari orang-orang yang akan selalu mendukungmu dan memberimu kekuatan. Pasti ada orang seperti itu, Penulis yakin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sekali lagi, merasa <em>insecure</em> itu sangat manusiawi. Penulis pun sampai sekarang masih sering merasakannya. Akan tetapi, kita bisa menggunakan perasaan tersebut untuk tumbuh atau justru menjatuhkan kita.</p>
<p>Pilihan ada di tangan kita sepenuhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 November 2020, terinspirasi dari mudahnya generasi sekarang untuk merasa <em>insecure</em></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_nessman">Nate Neelson</a></p>


<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 15:44:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2981</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kehadiran Google sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul. Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu. Diagnosis ke Diri Sendiri Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kehadiran <strong>Google</strong> sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul.</p>
<p>Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu.</p>
<h3>Diagnosis ke Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2983" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2983" class="size-large wp-image-2983" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2983" class="wp-caption-text">Bermodalkan Google (<a href="https://www.betterhelp.com/advice/psychologists/reasons-to-choose-an-online-psychiatrist/">Better Help</a>)</p></div></p>
<p>Penulis pernah mencari di internet apakah ada fobia ketika merasa sendirian (bukan sendirian secara fisik). Akhirnya, penulis menemukan suatu istilah bernama <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Emotional Dependency Disorder</em></a></strong>.</p>
<p>Ciri-cirinya antara lain:</p>
<ul>
<li>Memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</li>
<li>Terobsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</li>
<li>Memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain dan berharap orang lain melakukan hal yang sama</li>
<li>Tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemas, susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.</li>
</ul>
<p>Penulis menyadari bahwa dirinya memenuhi semua kriteria tersebut sehingga menggangap dirinya memang mengidap disorder tersebut. Akibatnya, penulis jadi semakin mudah merasa <em>down</em>. Padahal, hal tersebut juga harus dikonsultasikan ke psikiater.</p>
<p>Contoh lainnya adalah istilah <em><strong>Hyper Sensitive Person</strong> </em>yang penulis temukan pada buku <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/"><em>Loving the Wounded Soul</em></a>. Secara sederhana, istilah tersebut merujuk kepada kondisi diri kita yang terlalu sensitif, baik indera ataupun perasaannya.</p>
<p>Ketika melakukan tes online, dikatakan bahwa orang yang memiliki kondisi ini akan mendapatkan nilai 14. Berapa nilai yang penulis dapatkan setelah mengerjakan tes? <strong>24!</strong></p>
<p>Penulis juga sering disebut oleh teman-teman mengidap <em>Obsessive-Compilsive Disorder </em>alias OCD hanya karena tidak bisa melihat benda miring dan berantakan!</p>
<p>Melakukan diagnosis mandiri seperti ini sebenarnya juga kurang baik karena bisa memicu depresi dan rasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Hanya Agar Terlihat Keren?</h3>
<p><div id="attachment_2984" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2984" class="size-large wp-image-2984" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2984" class="wp-caption-text">Lebih Baik Cek ke Psikiater (South China Morning Post)</p></div></p>
<p>Penulis berpendapat diagonis psikologi secara mandiri lebih membawa dampak buruk kepada kita. Kalau kita jadi bersemangat agar bisa mengendalikan hal tersebut tidak masalah. Bagaimana jika sebaliknya?</p>
<p>Hanya karena sesuatu yang belum tentu benar, kita bisa merasa depresi dan meningkatkan rasa <em>insecure</em>. Padahal, bisa jadi permasalahan yang memicu pikiran tersebut sebenarnya sepele saja. Kita saja yang terlalu membesar-besarkannya.</p>
<p>Yang lebih bahaya adalah jika hasil diagnosis tersebut hanya digunakan agar kita ingin terlihat keren di mata orang dan mendapatkan perhatiannya. (<em>Mungkin, penulis juga termasuk salah satunya</em>)</p>
<p>Terkadang, kita juga terpengaruh dengan perkataan orang lain. Menurut mereka, kita memiliki disorder A atau kelainan B. Kecuali teman kita lulusan psikologi, sebaiknya jangan langsung percaya begitu saja karena belum tentu benar.</p>
<p>Penulis sendiri sedang berusaha menata diri agar tidak mudah merasa depresi dan <em>insecure</em>. Salah satunya adalah mulai mengurangi pikiran-pikiran berlebihan dan berusaha menikmati hari ini.</p>
<p>Mengurangi kekhawatiran juga menjadi salah satu metode yang bisa dilakukan. Penulis sudah menulis berkali-kali kalau <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">kekhawatiran lebih sering berakhir di pikiran saja</a>, namun kenyataannya masih sering penulis lakukan.</p>
<p>Penulis juga berusaha mengusir rasa memiliki kondisi ini dan itu. Selama belum memeriksakannya ke psikiater, penulis akan berusaha tidak memikirnya terlalu dalam dan menghalaunya dari pikiran.</p>
<p>Apalagi, bisa jadi segala pikiran-pikiran tersebut hanya muncul ketika kita sedang ada masalah atau <em>mood-</em>nya sedang buruk. Kita jadi <em>lebay </em>dengan segala sesuatu. Kalau sudah normal, ya sebenarnya biasa saja.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus mulai berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.</p>
<h3>Membandingkan Diri dengan Orang Lain</h3>
<p><div id="attachment_2985" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2985" class="size-large wp-image-2985" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2985" class="wp-caption-text">Iri dengan Orang Lain (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DufVBDWuiSBA&amp;psig=AOvVaw39aJSuaWHxFJU55mCeVwOf&amp;ust=1572881153424000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjky5StzuUCFQAAAAAdAAAAABAJ">YouTube</a>)</p></div></p>
<p>Hidup di era sekarang memang membuat kita sering merasa tertekan karena tak henti-hentinya membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Generasi <em>baby boomer </em>mungkin tak merasakan hal ini.</p>
<p>Kemunculan media sosial dan teknologi-teknologi lainnya membuat kita bisa mengintip kehidupan orang lain dengan mudah. Sering kali, hanya momen bahagia lah yang dibagi kepada publik.</p>
<p>Jika sudah pada tingkat merasa <em>insecure</em> yang ekstrem, penulis akan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">berhenti sejenak dari media sosial</a>, termasuk tidak melihat <em>story </em>orang lain yang biasanya ada saja yang membuat kita merasa tertekan.</p>
<p>Tidak takut kehilangan momen penting teman atau keluarga kita? Jika memang benar-benar penting dan kita <em>juga dianggap penting</em>, mereka pasti akan membaginya secara langsung kepada kita.</p>
<p>Daripada berfokus dengan kehidupan orang lain, nikmati saja hidup yang kita miliki. Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing, sehingga perbandingan yang kita lakukan tidak akan pernah <em>apple to apple</em>.</p>
<p>Membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita sampai melakukan diagnosis psikologi kita dengan bantuan Google.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dari yang penulis amati, memang banyak orang di Indonesia yang melakukan diagnosis masalah mentalnya secara mandiri. Penulis sering menemukan contohnya baik dari diri sendiri, lingkungan, ataupun Twitter.</p>
<p>Jika diagnosis mandiri hanya akan membuat kita merasa stress dan tertekan, lebih baik jangan pernah dilakukan. Apalagi jika enggan pergi ke psikiater untuk memeriksakan kesehatan mental kita.</p>
<p>Apa yang muncul dari penelusuran Google memang lumayan terpercaya, akan tetapi jangan mengandalkannya. Kalau memang merasa kesehatan mental terganggu, lebih baik segera diperiksakan secara benar.</p>
<p>Kita tidak boleh membandingkan hasil pencarian di internet dengan psikiater yang sudah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun.</p>
<p>Hal ini juga berlaku untuk penyakit fisik yang kita derita. Daripada menduga-duga hal yang belum pasti, lebih baik periksakan ke dokter terdekat.</p>
<p>Penulis memang pernah melakukannya, dan rasanya tidak akan pernah penulis lakukan lagi. Alasannya, hal tersebut dapat memicu depresi dan rasa <em>insecure</em> yang ujung-ujungnya hanya merugikan diri sendiri.</p>
<p>Jika ada pembaca yang merasa mengalami permasalahan serupa, semoga tulisan ini dapat membantu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi dari minggu-minggu kelamnya</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
