Connect with us

Sosial Budaya

Diagnosis Psikologi Diri Sendiri

Published

on

Kehadiran Google sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul.

Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu.

Diagnosis ke Diri Sendiri

Bermodalkan Google (Better Help)

Penulis pernah mencari di internet apakah ada fobia ketika merasa sendirian (bukan sendirian secara fisik). Akhirnya, penulis menemukan suatu istilah bernama Emotional Dependency Disorder.

Ciri-cirinya antara lain:

  • Memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
  • Terobsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
  • Memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain dan berharap orang lain melakukan hal yang sama
  • Tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemas, susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.

Penulis menyadari bahwa dirinya memenuhi semua kriteria tersebut sehingga menggangap dirinya memang mengidap disorder tersebut. Akibatnya, penulis jadi semakin mudah merasa down. Padahal, hal tersebut juga harus dikonsultasikan ke psikiater.

Contoh lainnya adalah istilah Hyper Sensitive Person yang penulis temukan pada buku Loving the Wounded Soul. Secara sederhana, istilah tersebut merujuk kepada kondisi diri kita yang terlalu sensitif, baik indera ataupun perasaannya.

Ketika melakukan tes online, dikatakan bahwa orang yang memiliki kondisi ini akan mendapatkan nilai 14. Berapa nilai yang penulis dapatkan setelah mengerjakan tes? 24!

Penulis juga sering disebut oleh teman-teman mengidap Obsessive-Compilsive Disorder alias OCD hanya karena tidak bisa melihat benda miring dan berantakan!

Melakukan diagnosis mandiri seperti ini sebenarnya juga kurang baik karena bisa memicu depresi dan rasa insecure.

Hanya Agar Terlihat Keren?

Lebih Baik Cek ke Psikiater (South China Morning Post)

Penulis berpendapat diagonis psikologi secara mandiri lebih membawa dampak buruk kepada kita. Kalau kita jadi bersemangat agar bisa mengendalikan hal tersebut tidak masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Hanya karena sesuatu yang belum tentu benar, kita bisa merasa depresi dan meningkatkan rasa insecure. Padahal, bisa jadi permasalahan yang memicu pikiran tersebut sebenarnya sepele saja. Kita saja yang terlalu membesar-besarkannya.

Yang lebih bahaya adalah jika hasil diagnosis tersebut hanya digunakan agar kita ingin terlihat keren di mata orang dan mendapatkan perhatiannya. (Mungkin, penulis juga termasuk salah satunya)

Terkadang, kita juga terpengaruh dengan perkataan orang lain. Menurut mereka, kita memiliki disorder A atau kelainan B. Kecuali teman kita lulusan psikologi, sebaiknya jangan langsung percaya begitu saja karena belum tentu benar.

Penulis sendiri sedang berusaha menata diri agar tidak mudah merasa depresi dan insecure. Salah satunya adalah mulai mengurangi pikiran-pikiran berlebihan dan berusaha menikmati hari ini.

Mengurangi kekhawatiran juga menjadi salah satu metode yang bisa dilakukan. Penulis sudah menulis berkali-kali kalau kekhawatiran lebih sering berakhir di pikiran saja, namun kenyataannya masih sering penulis lakukan.

Penulis juga berusaha mengusir rasa memiliki kondisi ini dan itu. Selama belum memeriksakannya ke psikiater, penulis akan berusaha tidak memikirnya terlalu dalam dan menghalaunya dari pikiran.

Apalagi, bisa jadi segala pikiran-pikiran tersebut hanya muncul ketika kita sedang ada masalah atau mood-nya sedang buruk. Kita jadi lebay dengan segala sesuatu. Kalau sudah normal, ya sebenarnya biasa saja.

Selain itu, kita juga harus mulai berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Iri dengan Orang Lain (YouTube)

Hidup di era sekarang memang membuat kita sering merasa tertekan karena tak henti-hentinya membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Generasi baby boomer mungkin tak merasakan hal ini.

Kemunculan media sosial dan teknologi-teknologi lainnya membuat kita bisa mengintip kehidupan orang lain dengan mudah. Sering kali, hanya momen bahagia lah yang dibagi kepada publik.

Jika sudah pada tingkat merasa insecure yang ekstrem, penulis akan berhenti sejenak dari media sosial, termasuk tidak melihat story orang lain yang biasanya ada saja yang membuat kita merasa tertekan.

Tidak takut kehilangan momen penting teman atau keluarga kita? Jika memang benar-benar penting dan kita juga dianggap penting, mereka pasti akan membaginya secara langsung kepada kita.

Daripada berfokus dengan kehidupan orang lain, nikmati saja hidup yang kita miliki. Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing, sehingga perbandingan yang kita lakukan tidak akan pernah apple to apple.

Membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita sampai melakukan diagnosis psikologi kita dengan bantuan Google.

Penutup

Dari yang penulis amati, memang banyak orang di Indonesia yang melakukan diagnosis masalah mentalnya secara mandiri. Penulis sering menemukan contohnya baik dari diri sendiri, lingkungan, ataupun Twitter.

Jika diagnosis mandiri hanya akan membuat kita merasa stress dan tertekan, lebih baik jangan pernah dilakukan. Apalagi jika enggan pergi ke psikiater untuk memeriksakan kesehatan mental kita.

Apa yang muncul dari penelusuran Google memang lumayan terpercaya, akan tetapi jangan mengandalkannya. Kalau memang merasa kesehatan mental terganggu, lebih baik segera diperiksakan secara benar.

Kita tidak boleh membandingkan hasil pencarian di internet dengan psikiater yang sudah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun.

Hal ini juga berlaku untuk penyakit fisik yang kita derita. Daripada menduga-duga hal yang belum pasti, lebih baik periksakan ke dokter terdekat.

Penulis memang pernah melakukannya, dan rasanya tidak akan pernah penulis lakukan lagi. Alasannya, hal tersebut dapat memicu depresi dan rasa insecure yang ujung-ujungnya hanya merugikan diri sendiri.

Jika ada pembaca yang merasa mengalami permasalahan serupa, semoga tulisan ini dapat membantu.

 

 

Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi dari minggu-minggu kelamnya

Foto:

Sosial Budaya

Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia

Published

on

By

Seperti yang pernah Penulis bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, belakangan ini Penulis kembali mengikuti dunia per-K-Pop-an sejak berkenalan dengan Twice. Bahkan, yang kali ini bisa dibilang lebih intens berkat algoritma yang dimiliki oleh YouTube Music.

Meskipun menikmati musiknya, sebenarnya Penulis tidak terlalu suka menonton video performance atau konser mereka. Penulis justru lebih tertarik menonton berbagai acara reality show maupun talkshow yang melibatkan mereka.

Oleh karena itu, Penulis juga jadi sering menonton acara yang melibatkan para idol girlband yang musiknya Penulis dengarkan, terutama Runningman dan Weekly Idol. Apalagi, banyak dari mereka yang memiliki acaranya sendiri, seperti Time to Twice dan 1, 2, 3 IVE.

Saat menonton acara-acara tersebut, Penulis pun jadi sadar akan sesuatu. Hampir di semua episode reality show tersebut, terselip berbagai hal yang terkesan “mempromosikan” Korea Selatan kepada dunia. Reality show digunakan untuk mempromosikan negaranya.

Bagaimana Reality Show Korea Selatan Menjadi Sarana Promosi

Acara Runningman Memperkenalkan Banyak Wisata dan Makanan Korea Selatan (Life Adventure of Gegina)

Sebelum bersentuhan dengan dunia K-Pop, yang Penulis ketahui tentang Korea Selatan hanya mereka pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Selain itu, yang Penulis tahu lagi tentu Park Ji-sung, pemain sepak bola top yang pernah berseragam Manchester United.

Setelah berkenalan dengan K-Pop, Penulis jadi mulai mengenal Korea Selatan lebih luas. Selain dari segi musik dan persaingan industri yang keras, Penulis juga jadi banyak mengenal banyak hal mulai dari bahasa, budaya, hingga makanan.

Salah satu yang “berjasa” untuk hal tersebut bagi Penulis adalah Runningman. Acara yang sudah berjalan ratusan episode tersebut kerap diadakan di berbagai tempat di Korea Selatan, yang secara tak langsung menjadi sarana promosi wisata untuk menarik wisatawan.

Meskipun acaranya “kejar-kejaran” (setidaknya di episode-episode awal), selalu ada saja B-roll yang memperlihatkan keindahan lokasi yang digunakan untuk syuting, entah itu di pusat kota Seoul hingga tempat yang jauh seperti Jeju Islands.

Tidak hanya tempat wisata yang ditonjolkan, banyak episode Runningman yang juga menonjolkan kuliner asli Korea Selatan. Selalu ada shot di mana para member dan bintang tamu terlihat sangat menikmati hidangan yang ada.

Pola ini juga Penulis temukan di reality show lainnya yang Penulis tonton seperti Time to Twice dan 1, 2, 3 IVE. Bahkan salah satu member dari IVE, Rei, memiliki kanal YouTube sendiri bernama 따라해볼레이 by섭씨쉽도 (Follow Rei) dan memiliki pola yang serupa.

Contoh di episode 27 ketika acara tersebut mengundang member IVE lainnya, Leeseo. Pada episode tersebut, Rei dan Leeseo melakukan piknik di pinggir sungai Han yang terkenal sembari menikmati berbagai makanan Korea Selatan.

Selain itu, bahasa yang digunakan sudah pasti menggunakan bahasa Korea. Sama seperti penonton anime, penonton reality show Korea Selatan pun jadi termotivasi untuk bisa memahami bahasa Korea Selatan agar tidak perlu menggunakan subtitle lagi untuk menonton.

Bagaimana Indonesia (Harusnya) Bisa Mengadopsi Strategi Reality Show Korea Selatan

Konsep Reality Show Korea Selatan Bisa Kita Adopsi (X)

Tentu Korea Selatan tidak hanya memanfaatkan K-Pop dan reality show untuk menyebarkan berbagai budaya dan mempromosikan pariwisata serta makanannya. Drama dan film Korea Selatan pun sudah sangat mendunia.

Namun, menurut Penulis memanfaatkan reality show sebagai sarana promosi negara adalah ide yang cerdik. Berbeda dengan K-Pop dan drama yang mungkin cukup segmented, reality show cenderung bisa lebih dinikmati oleh orang banyak.

Contoh, Penulis biasanya mengajak ibunya untuk menonton acara-acara reality show Korea Selatan, tentu yang sekiranya bisa masuk dan dipahami oleh beliau. Walau kadang lebih banyak berkomentar mengenai “operasi plastik,” ibu Penulis ternyata bisa menikmati reality show tersebut.

Salah satu alasannya adalah reality show dikemas dalam bentuk hiburan, sehingga terkesan ringan dan mudah untuk dinikmati. Kita tidak perlu mengikuti alur cerita atau memiliki selera musik tertentu, karena reality show memang dibuat agar mudah dipahami.

Karena perannya untuk menghibur, tentu penonton akan sering tertawa ketika menontonnya. Oleh karena itu, penonton pun tak keberatan (dan mungkin tidak sadar) jika di dalam acara tersebut terselip promo-promo terselubung, entah dari segi pariwisata, budaya, maupun makanan.

Konsep inilah yang menurut Penulis perlu Indonesia tiru, bagaimana cara mempromosikan negara kita tercinta ini melalui acara reality show yang bisa diterima oleh banyak orang secara global. Menurut Penulis, peluang ini masih belum sering kita eksplorasi.

Mungkin permasalahan utamanya adalah belum terlalu mendunianya para public figure kita jika dibandingkan dengan public figure Korea Selatan. Penulis sendiri menonton reality show Twice dan IVE karena itu acara mereka. Jika yang melakukan orang lain, mungkin Penulis tidak akan menontonnya, tak peduli mau semenarik apapun acaranya.

Memang sudah banyak sekali public figure kita yang mendunia, entah dari dunia musik, film, dan lainnya. Namun, Penulis cukup ragu kalau nama mereka sampai digila-gilai oleh orang dari negara lain seperti mereka menggilai idol K-Pop.

Kalaupun belum bisa mengglobal karena alasan tersebut, menyasar pasar lokal dulu pun tidak masalah. Kalau menargetkan masyarakat kita sendiri, tentu tujuannya adalah meningkatkan pariwisata domestik sekaligus memberikan edukasi.

Contoh yang baru saja Penulis temukan adalah seri Kisarasa di YouTube. Dipandu oleh Chef Renata dan Chef Juna, acara ini mampu membalut acara kuliner secara unik, di mana sinematografi dan narasinya berbeda dengan kebanyakan kanal kuliner lainnya.

Kisarasa seolah dibuat untuk melestarikan makanan-makanan khas nusantara, dengan menayangkannya kepada penonton. Dengan melihat episode-episodenya, pengetahuan kita akan kuliner menjadi meningkat, sekaligus menimbulkan keinginan untuk membeli makanan tersebut.

Namun, Kisarasa lebih cocok disebut sebagai dokumenter daripada reality show karena tidak memiliki unsur hiburan. Penulis merasa konten-konten berkualitas seperti acara ini kurang bisa diterima oleh mayoritas penonton Indonesia, apalagi jika melihat jumlah view video-videonya yang kebanyakan hanya berkisar di angka ratusan ribu hingga satu jutaan.

Penulis membayangkan ada sebuah konsep acara hiburan dengan kualitas seperti Kisarasa, tapi dibuat lebih ringan, penuh candaan, dan diselipi oleh berbagai promosi budaya, wisata, makanan, hingga bahasa daerah. Bahkan, kalau bisa acara tersebut dinikmati hingga penonton di luar Indonesia.

Semoga saja sebenarnya sudah ada, Penulis saja yang belum mengetahuinya.


Lawang, 19 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Korea Selatan memanfaatkan variety show sebagai media promosi wisata, budaya, hingga makanannya

Foto Feature Image: YouTube

Continue Reading

Sosial Budaya

Layakkah Pemain Judi Online Dianggap Korban dan Mendapatkan Bansos?

Published

on

By

Belakangan ini masyrakat heboh dengan pernyataan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy. Pasalnya, ia menyebutkan kalau korban judi online (judol) akan mendapatkan bantuan sosial (bansos)!

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyetujui wacana tersebut. Di sisi lain, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartanto, mengatakan bahwa para korban judol tidak akan mendapatkan fasilitas bantuan dari pemerintah.

Yang jelas, hal ini memicu emosi dari sebagian masyarakat yang menganggap kalau korban judol tidak layak untuk mendapatkan bansos. Muhadjir sendiri akhirnya merevisi ucapannya dengan mengatakan bansos yang dimaksud diperuntukkan untuk keluarga korban judol.

Pertanyaannya, apakah pantas pemain judol (yang kalah, tentu saja) pantas dianggap sebagai korban?

Pemain Judol yang Tak Sadar sedang Diakali Sistem

Bisa Dimanipulasi dengan Teknik Tertentu (Napoleons Casinos)

Sewaktu kecil, Penulis pernah membaca komik (lupa judulnya) yang bercerita tentang seorang pebisnis besar yang ingin mewariskan perusahaannya secara terbuka. Siapapun yang merasa layak, boleh mencoba mendaftar dan nanti akan mengikuti beberapa ujian.

Menariknya, salah satu ujiannya adalah bermain judi berbagai jenis, mulai poker sampai roulette. Dari komik tersebut, Penulis baru tahu kalau hasil dari judi tersebut sudah diatur sedemikian rupa untuk menguntungkan bandar.

Awalnya logika Penulis menganggap kalau hal tersebut hanya terjadi di komik untuk memberikan kesan dramatis. Ternyata, setelah melihat beberapa konten di media sosial, di dunia asli pun ada banyak manipulasi seperti yang diceritakan di komik tersebut.

Nah, kalau yang offline dan dilihat banyak orang saja manipulasi banyak dilakukan, apalagi judi online yang menggunakan sistem komputer yang tak terlihat? Ada banyak sekali celah untuk memanipulasi pemain agar terus bermain.

Di game Borderlands 3 yang sedang Penulis mainkan, ada fitur permainan slot yang menggunakan uang in-game (bukan uang asli) untuk mendapatkan item-item tertentu seperti senjata. Itu saja lebih sering zonk-nya, sangat jarang ada item bagus yang bisa didapatkan.

Mirip dengan judi di Casino, tentu pemain baru akan dikasih menang dulu agar memberikan efek dopamin dan membuat mereka terus melakukan deposit. Setelah itu, kekalahan demi kekalahan akan mereka terima. Kalaupun menang, tentu hasilnya sedikit.

Karena merasa yakin permainan berikutnya akan menang, maka mereka akan terus melakukan deposit. Tak jarang jika mereka menggunakan uang dari berbagai sumber, termasuk memanfaatkan jasa pinjam online (pinjol) yang tentu akan menimbulkan masalah baru.

Pemain Judol Dikasih Bansos, Layak atau Tidak?

Dapat Bansos, Pemain Judol Full Senyum (Vecteezy)

Mungkin akan ada yang berargumen kalau mereka bermain judol untuk sekadar have fun, bukan untuk meraih kekayaan instan. Nah, dari sini pola pikirnya sudah salah karena judinya sendiri adalah perbuatan yang dilarang oleh agama mana pun.

Mau sedikit, mau banyak, kalau salah ya tetap salah. Apapun alasannya, kalau hal buruk ya jangan dilakukan. Begal yang melakukan pencurian motor (hal buruk) demi menghidupi keluarganya (niat baik) juga tidak akan kita benarkan, bukan?

Apalagi, banyak pemain judol yang sampai habis miliaran. Bayangkan dari Perwira TNI hingga anggota DPR pun ada yang terseret judol. Ini menunjukkan kalau pemainnya bukan dari kalangan miskin saja. Masa iya main judol miliaran layak dapat bansos?

Penulis kerap mendapatkan cerita dari teman-temannya bagaimana para pemain judol ini sudah begitu kecanduan sehingga sama sekali tidak bisa dinasehati, entah itu untuk have fun atapun mau dapat uang instan.

Mereka tidak sadar kalau dirinya sedang diakali dan dibodohi oleh sistem. Logikanya, mana ada bandar judi yang mau rugi? Pasti mereka mau meraup keuntungan sebesar-besarnya dari hasil deposit para pemain. Apalagi, manipulasi di judol lebih mudah dan tak terlihat.

Oleh karena itu, Penulis sama sekali tidak setuju jika para pemain judol dianggap sebagai “korban” dan butuh mendapatkan bansos. Mereka adalah korban dari kelakukan buruk mereka sendiri dan harus menanggung konsekuensinya. Mereka tidak layak mendapatkan bansos.

Penulis justru khawatir kalau bansos yang diberikan, jika berupa uang, akan digunakan untuk deposit. Meskipun diberi ke keluarganya sekalipun, potensi untuk salah digunakan sangat besar mengingat tabiat mayoritas dari pemain judol.

Pemberian bansos juga membuat mereka tidak akan merasa jera bermain judol. Pikir mereka, “Tenang aja, walau boncos tetap dapet bansos.” Tentu hal ini terasa tidak adil bagi masyarakat yang mungkin pas-pasan tapi tidak kebagian jatah bansos karena dianggap kurang miskin.

Jika pemerintah memang mau memberikan bantuan kepada pemain judol, lakukan saja rehabilitasi untuk menghilangkan kecanduan judol. Walau belum tentu berhasil, setidaknya itu lebih baik dibandingkan memberi mereka “insentif.”

Penutup

Judol adalah salah satu permasalahan terbesar yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Bayangkan saja, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat trasaksi judol mencapai Rp600 triliun.

Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya tidak diam saja melihat hal ini. Presiden Joko Widodo telah membentuk satuan tugas (satgas) untuk memberantas judol yang dipimpin oleh Menko Polhukam Hadi Tjahjanto.

Selain itu, pemerintah juga mengklaim telah menutup jutaan situs judol, walaupun situs judol ini mati satu tumbuh seribu. Menkominfo juga melakukan SMS Blast yang efeknya sebenarnya sama dengan peringatan kematian di bungkus rokok, alias ga ngefek.

Masyarakat jelas menuntut pemerintah untuk menghadirkan solusi-solusi lain yang lebih konkrit untuk memberantas judol yang kian meresahkan ini, bukan justru memberi bansos kepada para pemainnya. Penulis rasa semua yang masih waras akan menentang ide ini.


Lawang, 17 Juni 2024, setelah muncul wacana mengenai pemain judol yang akan mendapatkan bansos

Foto Featured Image: LinkedIn

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Kok Bisa, ya, Masih Ada Orang yang Berusaha Membela Israel?

Published

on

By

Israel kembali memancing amarah banyak warga dunia setelah serangannya ke Rafah, Palestina. Bagaimana tidak, Rafah adalah tempat berlindung para warga Palestina yang harus menyingkir karena agresi yang dilancarkan oleh Israel selama tujuh bulan terakhir.

Melansir dari Tirto, jumlah korban dari serangan tersebut mencapai 66 orang, di mana mayoritas merupakan anak-anak dan perempuan. Serangan ini seolah menegaskan kalau tidak ada lagi tempat aman untuk warga Palestina di wilayahnya sendiri.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan sejak agresi militer dilancarkan oleh Israel di bulan Oktober tahun lalu, total korban jiwa yang sudah diderita Palestina sudah mencapai 36 ribu orang. Kalau ini tidak bisa dianggap sebagai kejahatan perang, entah istilah apa yang patut disematkan.

Israel yang Kebal Hukum

Neraka Menantimu, Benjamin! (CNN)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan entengnya mengatakan bahwa serangan tersebut “sesuatu yang tidak disengaja terjadi secara tragis.” Bagaimana ia dan Israel masih bisa lolos sanksi dari hukum internasional merupakan sesuatu yang mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan.

Mengapa mengejutkan? Coba bandingkan dengan kasus invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, semua negara dengan gercep langsung memberikan berbagai sanksi berat ke Rusia. Bahkan, pemilik Chelsea Roman Abramovic sampai harus menjual klubnya tersebut.

Mengapa tidak mengejutkan? Karena sudah bertahun-tahun Israel melakukan kejahatan dan tidak pernah satu kali pun mendapatkan sanksi. Selama “kakak” mereka yang bernama Amerika Serikat pasang badan untuk mereka, maka Israel akan selalu lolos dari sanksi.

Hal ini tentu terasa tidak adil, bagaimana sebuah negara yang dari awal prosesnya sudah tidak benar bisa begitu semena-mena terhadap bangsa lain. Sebuah negara, yang terus berbuat kejahatan mengerikan, bisa dibiarkan begitu saja.

Bahkan, secara menjijikkan ketika pos “All Eyes on Rafah” menjadi viral di seluruh dunia, tanpa merasa malu Israel membuat pos tandingan dengan tajuk “Where Were Your Eyes on October 7?” yang mengungkit serangan Hamas pada waktu itu.

Sikap yang kekanakan tersebut tentu menggelikan karena membuat Israel terlihat seperti anak kecil yang terus mengungkit satu kejadian. Padahal, serangan Hamas tersebut tidak akan terjadi seandainya Israel tidak pernah menjajah Palestina dari awal.

Serangan tersebut adalah konsekuensi dari apa yang Israel perbuat dari berpuluh-puluh tahun lalu. Kini, Israel justru merengek-rengek seolah mereka adalah korban yang paling tersakiti. Playing victim dari Israel benar-benar membuat Penulis merasa ingin muntah.

Namun, ada satu hal yang juga membuat Penulis merasa ingin muntah: masih adanya orang-orang yang berusaha membela Israel.

Kok Bisa Masih Membela Israel?

Bermasalah Sejak Awal Pendiriannya (Mosaic Magazine)

Di sini, Penulis tidak akan membahas Amerika Serikat dan negara-negara lain yang berada di belakang Israel. Yang Penulis maksudnya di sini adalah netizen, terutama netizen Indonesia, yang masih membela Israel dengan berbagai alasan tidak masuk akalnya.

Argumen yang dikeluarkan pun kurang lebih sama dengan apa yang dikeluarkan Israel: seandainya Hamas tidak melakukan serangan pada 7 Oktober, perang ini tidak akan terjadi. Orang yang berargumen seperti itu artinya tidak pernah belajar sejarah dengan benar.

Penulis sudah pernah membahas pada satu tulisan khusus mengenai sejarah konflik antara Israel dari Palestina. Intinya, sejak didirikan Israel itu sudah bermasalah dan salah. Palestina hanya berusaha mempertahankan tanah airnya yang telah ditempati sejak lama.

Israel selalu berargumen kalau mereka adalah manusia yang telah dijanjikan untuk menempati tanah tersebut. Hal ini tentu konyol, karena bayangkan saja jika suku Indian asli meminta semua orang Amerika Serikat pergi dari tanah mereka. Mana mungkin mereka mau?

Mereka yang masih membela Israel ini merasa kalau konflik ini terjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal, konflik ini sudah berlangsung sejak tahun 1948, sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya di tanah orang seenaknya sendiri.

Yang Dukung Palestina Malah Ribut Sendiri Gara-gara Boikot

Foto M. Shadow, Vokalis Avenged Sevenfold, Mengibarkan Bendera Israel

Selain masih ada yang membela Israel, netizen-netizen yang membela Palestina sendiri pun kadang malah ribut sendiri. Salah satu penyebab utamanya adalah pro-kontra produk yang berafiliasi dengan Israel.

Banyak netizen yang pro boikot terus menyuarakan boikot di berbagai platform. Contoh paling segar adalah ketika Avenged Sevenfold menggelar konser di Jakarta. Ada netizen yang bertanya, “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel?”

Tuduhan tersebut bukannya tanpa dasar. Pada salah satu konsernya, Avenged Sevenfold memang sempat mengibarkan bendera Israel, mungkin ketika mereka menggelar konser di sana. Penulis tidak menemukan info yang cukup untuk hal ini.

Nah, ketika ada yang berkomentar seperti itu, banyak netizen yang membalasnya dengan mengatakan “ngapain pakai Instagram, ini juga buatannya Yahudi” dan semacamnya. Mereka selalu melakukan counter dengan pola seperti itu, seolah menuduh yang boikot itu hipokrit.

Penulis berusaha berpikiran positif dengan menganggap kedua kubu sebenarnya sama-sama mendukung Palestina. Mereka hanya tidak sepakat dengan masalah boikot produk yang berafiliasi dengan Israel karena pertimbangannya masing-masing.

Hanya saja, Penulis merasa sedikit geram dengan cara mereka melakukan counter. Padahal, inti dari gerakan boikot tersebut adalah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggunakan produk yang pro Israel. Kalau ada yang belum bisa ditinggalkan, ya tidak apa-apa.

Analoginya, kalau ada orang Islam terus ditanya “katanya Islam, kok minum alkohol?” atau “katanya Islam, kok enggak pakai hijab?”, tentu akan ada perasaan jengkel, bukan? Ya, sama, boikot juga seperti itu, bertahap dan semampunya dulu, bukan masalah pilih-pilih.

Lantas, kalau belum bisa boikot 100%, apakah dilarang menyuarakan boikot karena dirinya sendiri belum sempurna? Ya, tidak juga, karena di Islam pun ada kewajiban untuk saling mengingatkan. Kalau mau diingatkan ya syukur, kalau enggak ya enggak masalah.

Pertanyaan seperti “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel” mungkin bentuk menyuarakan boikot versi netizen. Hanya saja, memang menurut Penulis kalimat seperti itu bernada nyinyir, sehingga pesan yang ingin disampaikan justru jadi memancing keributan.

Penulis hanya menyayangkan energi yang seharusnya bisa difokuskan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina malah dipakai untuk ribut karena perbedaan pandangan. Yang mau boikot silakan, yang enggak mau juga silakan. Mari kita maksimalkan dukungan untuk saudara-saudara kita di Palestina dengan apapun caranya.

Penutup

Ketika tulisan ini dibuat, ada kabar yang menyebutkan kalau International Criminal Court (ICC) telah mengeluarkan surat penangkapan ke Netanyahu dan beberapa petinggi Israel lainnya. Beberapa orang Hamas pun juga diberi surat penangkapan.

Netanyahu tentu tidak tinggal diam. Seperti biasa, ia mengadu ke “big bro” Amerika Serikat dan memintanya untuk menghukum ICC. Namun, untuk masalah yang satu itu tampaknya enggan dilakukan oleh Amerika Serikat.

Penulis sendiri merasa pesimis kalau Netanyahu dan Israel bisa diberi sanksi oleh siapapun. Apalagi kalau sampai Donald Trump berhasil menjadi presiden Amerika Serikat lagi, Penulis yakin Israel akan semakin semena-mena karena punya backup yang sangat kuat.

Mungkin tidak akan ada hukuman di dunia yang akan diterima oleh Israel. Namun, Penulis yakin kalau hukuman akhirat yang berat telah menanti mereka semua. Dunia memang bukan tempat untuk keadilan.


Lawang, 30 Mei 2024, terinspirasi setelah melihat betapa kejinya serangan Israel ke Rafah dan merasa heran dengan orang-orang yang masih mendukung Israel

Foto Featured Image: TIME

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan