<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>istirahat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/istirahat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/istirahat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Oct 2021 10:42:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>istirahat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/istirahat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 04:29:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata rebahan? Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP. Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai kaum rebahan yang terdiri dari orang-orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata <em><strong>rebahan</strong>? </em>Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial.</p>
<p>Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP.</p>
<p>Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai <strong><em>kaum rebahan</em></strong> yang terdiri dari orang-orang yang malas beraktivitas demi mencicipi nikmatnya bersantai di atas kasur.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rebahan, apalagi dilakukan ketika <em>weekend </em>setelah menjalani hari-hari sekolah atau kerja yang sangat padat.</p>
<p>Akan tetapi, terlalu banyak rebahan juga akan memberikan efek negatif yang akan merugikan diri sendiri.</p>
<h3>Stereotipe Masyarakat Terhadap Rebahan</h3>
<p>Di tengah tuntuntan hidup yang makin membuat kepala pening, rebahan (atau dalam Bahasa Jawa disebut <em>leyeh-leyeh</em>) sebenarnya penting digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.</p>
<div id="attachment_3440" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3440" class="size-large wp-image-3440" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3440" class="wp-caption-text">Rebahan dan Kasur (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elizabethlies">elizabeth lies</a>)</p></div>
<p>Tidak harus dilakukan ketika <em>weekend</em>, rebahan juga dilakukan pulang kantor ataupun beberapa menit sebelum berangkat kerja. Hal yang sama juga berlaku untuk usia anak sekolah.</p>
<p>Hanya saja, muncul stereotipe dari masyarakat kita yang menganggap kaum rebahan adalah sekumpulan orang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya demi hal yang kontraproduktif.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan berbagai label yang melekat pada generasi milenial yang dianggap serba instan, cenderung apatis terhadap sekitarnya, tidak punya tujuan hidup, egosentris, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya, stereotipe ini juga kurang pas jika digunakan untuk mengecap semua generasi milenial. Ada banyak hal yang membuat generasi milenial membutuhkan rebahan, sehingga rebahan tidak selalu identik dengan kemalasan.</p>
<p>Generasi milenial hidup di era kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga apapun bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dilakukan sambil rebahan. Kerja pun bisa dilakukan di atas kasur tanpa perlu berangkat ke kantor setiap pagi.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan zaman dulu, zamannya generasi <em>boomer. </em>Belum ada smartphone dan teknologi lainnya, sehingga rebahan bisa menjadi aktivitas yang sangat membosankan.</p>
<h3>Akan Tetapi&#8230;</h3>
<p>Rebahan dibutuhkan mereka yang sudah menjalani hari-hari padat dengan jumlah istirahat yang relatif sedikit. Tubuh ini memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu diisi ulang.</p>
<div id="attachment_3441" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3441" class="size-large wp-image-3441" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3441" class="wp-caption-text">Padatnya Rutinitas (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@helloquence">Helloquence</a>)</p></div>
<p>Hanya saja untuk orang-orang dengan jumlah aktivitas yang tidak terlalu padat, rebahan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka murni rebahan karena memang pemalas (terkadang, Penulis juga menjadi salah satu bagian dari mereka).</p>
<p>Contoh, seorang karyawan di kantor kerjaannya ghibah dan tidur, pulang kantor rebahan main game sampai ngantuk, besoknya kesiangan sehingga di kantor tidur lagi. Kerjanya enggak seberapa, rebahannya banyak banget.</p>
<p>Terlalu banyak rebahan akan membawa beberapa dampak negatif, seperti rentan terkena penyakit, menurunkan daya konsentrasi, hingga membuat diri kita jauh dari kesuksesan.</p>
<p>Kasarnya, gimana mau dapat gaji besar kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau ketemu jodoh kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau sukses kalau kerjaannya cuma rebahan mulu?</p>
<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis kerap berpikir <em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">mau kayak gini sampai kapan?</a> </em>ketika dirinya lebih sering bermalas-malasan daripada melakukan sesuatu yang produktif.</p>
<p>Jika sudah demikian, Penulis akan merasa bersalah karena telah membuang-buang waktunya. Penulis pun mulai beraktivitas yang lebih produktif, biasanya dimulai dengan membersihkan kamar.</p>
<p>Hidup ini singkat, sayang jika digunakan untuk melakukan sesuatu yang kurang berarti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rebahan di atas kasur sambil <em>scrolling </em>media sosial, main game HP, atau nonton YouTube berjam-jam memang terlihat sangat nikmat. Saking nikmatnya, rebahan bisa berubah menjadi sesuatu yang bersifat candu.</p>
<p>Rebahan memang menggiurkan, tapi kalau dilakukan secara berlebihan hingga melupakan aktivitas yang lain juga kurang baik. Penulis sering seperti itu, membuang waktunya dengan rebahan sambil melakukan aktivitas konsumtif yang minim manfaat.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan kali ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya.</p>
<p>Orang bisa sukses (terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">segala <em>privilege</em> yang dimiliki</a>) karena bangun dari tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang merasa dirinya terlalu banyak rebahan</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiHkprKi8HnAhUIXSsKHdKnAFAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.independent.co.uk%2Flife-style%2Fhealth-and-families%2Fdepression-loneliness-mobile-phone-use-10pm-instagram-twitter-mood-disorder-a8353851.html&amp;psig=AOvVaw3SGsm2FuGtwrrjUayIKnUS&amp;ust=1581221588365101">The Independent</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://news.detik.com/kolom/d-4826065/menepis-stereotip-generasi-milenial-sebagai-kaum-rebahan">Detik</a>, <a href="https://kumparan.com/karjaid/dampak-negatif-menjadi-kaum-rebahan-1scXFdAkBFv">Kumparan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Istirahat dari Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/istirahat-dari-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 16:27:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2733</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka lupa waktu ketika sudah asyik bermain media sosial, entah Twitter ataupun Instagram. Yang niatnya hanya 5 menit, eh bablas jadi 1 jam. Oleh karena itu, beberapa minggu terakhir ini penulis memutuskan untuk istirahat sejenak dari media sosial. Istilah kerennya, detox. Kenapa dan bagaimana caranya? Kenapa Istirahat dari Media Sosial? Ada beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/istirahat-dari-media-sosial/">Istirahat dari Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka lupa waktu ketika sudah asyik bermain media sosial, entah Twitter ataupun Instagram. Yang niatnya hanya 5 menit, eh <em>bablas </em>jadi 1 jam<em>.</em></p>
<p>Oleh karena itu, beberapa minggu terakhir ini penulis memutuskan untuk istirahat sejenak dari media sosial. Istilah kerennya, <em>detox</em>. Kenapa dan bagaimana caranya?</p>
<h3>Kenapa Istirahat dari Media Sosial?</h3>
<p>Ada beberapa alasan yang membuat penulis memutuskan untuk istirahat dari media sosial untuk sementara waktu. Salah satu alasannya sudah penulis sebutkan di atas.</p>
<p>Penulis merasa sudah <strong>membuang banyak waktunya untuk kegiatan yang kurang produktif</strong>. Padahal, waktu yang digunakan untuk menjelajah media sosial bisa digunakan untuk menulis satu artikel Whathefan atau membaca satu bab buku.</p>
<p>Memang benar, banyak sekali informasi bermanfaat yang bisa kita dapatkan dari media sosial. Hanya saja, penulis merasa dirinya terlalu banyak mengonsumsi yang kurang bermanfaat, yang hanya berguna untuk memberikan hiburan semata dan kurang informatif.</p>
<p>Selain itu, ketika melihat teman-teman lain di sana, penulis kerap <strong>membandingkan diri dengan mereka</strong>. Kenapa yang ini sudah ke mana-mana, kenapa yang itu sudah punya anak, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebagai orang yang dasarnya <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/">mudah minder</a>, tentu hal tersebut membawa beban tersendiri. Apalagi, penulis juga rentan terhadap <em>Quarter Life Crisis </em>karena usianya yang sudah seperempat abad. Untuk topik ini akan penulis ulas lebih dalam pada artikel berikutnya.</p>
<h3>Bagaimana Cara Istirahat dari Media Sosial?</h3>
<p>Penulis tidak total berhenti dari media sosial hingga menghapus akun atau membuat pos #sayapamit. Penulis tetap menggunakan media sosial untuk menyebarkan tautan artikel terbaru Whathefan.</p>
<p>Yang penulis lakukan adalah benar-benar mengurangi alokasi waktu yang biasanya habis untuk <em>scroll </em>media sosial hingga jari keriting. Selesai pos, biasanya penulis langsung tutup. Kalau lupa, terkadang lihat pos ataupun <em>story</em> beberapa detik terlebih dahulu.</p>
<p>Agar tidak mudah tergoda, penulis harus benar-benar berkomitmen dengan keputusan penulis. Kalau lupa beberapa detik, ya sudah jangan diteruskan, segera keluar dari media sosial yang sedang dibuka.</p>
<p>Bahkan, penulis sampai beberapa hari tidak melihat <em>story </em>di WhatsApp. Padahal, penulis adalah tipe orang yang tidak tahan melihat ada notifikasi yang belum dibuka. Intinya, <strong>harus pandai-pandai menahan diri</strong> untuk tidak tergoda dengan media sosial.</p>
<p>Ketika awal-awal, tentu ada perasaan bingung mau ngapain ketika sedang tidak ada kegiatan. <strong>Perasaan bingung tersebutlah yang penulis manfaatkan untuk menjadi produktif</strong> dengan menulis blog, novel, ataupun membaca buku.</p>
<p>Enggak selalu produktif juga, kok. Akibat tidak bermain media sosial, penulis jadi banyak bermain game, terutama Pokemon TCG Online yang lumayan membuat penulis ketagihan.</p>
<p>Selain itu, penulis juga jadi terpikir untuk mencari kegiatan-kegiatan lain yang lebih membuat penulis berhubungan dengan manusia. Sebagai orang <em>introvert</em>, hal ini merupakan sesuatu yang amat susah untuk dimulai.</p>
<h3><strong>Akibat Istirahat dari Media Sosial?</strong></h3>
<p>Jelas, penulis merasa dirinya menjadi lebih produktif. Dengan merasa lebih produktif, penulis merasa dirinya menjadi lebih bahagia. Menulis artikel lebih rutin, buku banyak yang ditamatkan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis juga merasa mulai mengurangi membandingkan dirinya dengan orang lain. Jujur saja, tak akan ada habisnya jika kita melihat orang lain terus menerus dan membandingkannya dengan diri kita sendiri.</p>
<p>Kekurangannya, penulis jadi banyak ketinggalan informasi penting yang terjadi di sekitar penulis. Penulis harus bertanya kepada teman kantor untuk mengetahui isu yang sedang hangat.</p>
<p>Akan tetapi, sebuah aksi mahasiswa yang menuntut aspirasinya didengar oleh pemerintah pada hari ini membuat penulis harus kembali dari rehat tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 September 2019, terinspirasi dari pengalaman puasa yang sedang dijalani</p>
<p>Foto : <a href="https://unsplash.com/@robin_rednine">ROBIN WORRALL</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/istirahat-dari-media-sosial/">Istirahat dari Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
