Mau Kayak Gini Sampai Kapan?

Penulis pernah mengakui bahwa dirinya termasuk pemalas. Entah berapa kali penulis merasa telah menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang kurang produktif, walaupun memang kita membutuhkannya dengan dosis yang terkontrol.

Sebagai orang yang kerap overthinked, penulis pun melakuan interopeksi diri ketika menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal tersebut.

Biasanya, penulis akan memberikan motivasi kepada diri sendiri dengan berkata dalam hati, mau kayak gini sampai kapan?

Kebiasaan Menunda-Nunda

Salah satu kebiasaan buruk yang sering penulis lakukan adalah menunda-nunda pekerjaan yang semestinya harus segera diselesaikan. Contohnya adalah aktivitas mencatat agenda dan keuangan setiap hari.

Tak jarang karena suka menunda, akhirnya penulis sama sekali tidak mencatat dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling lama pernah satu bulan.

Ketika sadar bahwa dirinya telah berbuat salah, penulis pun melakukan self-punishment. Bagaimana caranya? Dengan memaksa diri untuk mencatat segala kegiatan dan arus keuangan selama satu bulan itu!

Itu merupakan kegiatan sangat melelahkan dan butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya. Bayangkan, bagaimana bisa penulis mengingat apa yang penulis lakukan satu bulan yang lalu pada jam tertentu.

Kalau aktivitas mungkin bisa sedikit dikarang, tapi bagaimana dengan pemasukan dan pengeluaran penulis? Sebagai orang yang perfeksionis, ada beberapa rupiah yang tidak diketahui lari ke mana merupakan siksaan sendiri,

Setelah selesai menjalani “masa hukuman” tersebut, biasanya penulis berjanji ke diri sendiri untuk tidak lagi menunda-nunda. Yah, walaupun pada kenyataannya penulis masih sering mengulangi kesalahan tersebut.

Tidak Ada Kata Nanti

Pernah merasakan munculnya perasaan bahagia karena merasa telah melakukan banyak hal produktif? Itulah yang mendorong penulis rajin menulis agenda mulai awal kuliah hingga sekarang.

Sisi buruknya adalah ketika kebiasaan menunda-nunda dan rasa malas datang menghampiri. Dengan tidak menuliskan agenda harian, penulis bisa terlihat seperti kehilangan motivasi dan banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Mungkin terlihat aneh, bagaimana satu peristiwa kecil bisa memengaruhi kehidupan penulis secara keseluruhan. Tapi ini menjadi bukti bahwa menunda pekerjaan bisa menjadi buruk bagi diri kita.

Oleh karena itu selain bergumam mau sampai kapan kayak gini, penulis juga berkata dalam hati tidak ada kata nanti. Kalau mau melakukan sesuatu, segera lakukan saat ini juga.

Apakah berat? Jika tidak diiringi dengan niat yang kuat, hal ini bisa teramat berat. Semuanya berawal dari diri kita sendiri, mau berubah atau tidak.

Penutup

Dari banyaknya buku-buku biografi dan self-improvement yang sudah penulis baca, salah satu kunci kesuksesan pada hidup adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bersantai, ya. Bersantai adalah kewajiban yang harus kita lakukan agar tidak stres dan melepaskan penat. Cuma kalau terlalu santai juga tidak boleh.

Mau sampai kapan kayak gini? Kata-kata ini penulis jadikan pelecut semangat seusai melakukan interopeksi diri. Penulis yakin perubahan itu dimulai dari diri sendiri.

Kata-kata tersebut juga sering penulis gumamkan dalam hati ketika mengulangi kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya sebagai pengingat diri, karena kita hidup hari ini tanpa tahu apa yang akan terjadi keesokan hari.

Kalau kita merasa ada sesuatu yang salah dengan diri kita, coba mulai lihat ke dalam diri sendiri dan lakukan perubahan dari yang terkecil. Memang sulit, tapi bisa.

 

 

Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah kembali mengulang kebiasaan menunda-nunda pekerjaan

Foto: Tom Morel