<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>judgemental Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/judgemental/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/judgemental/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:50:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>judgemental Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/judgemental/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 04:26:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[keluh]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih plong, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang. Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita.</p>
<p>Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih <em>plong</em>, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang.</p>
<p>Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa dirinya adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/teman-cerita-yang-buruk/">teman bercerita yang buruk</a> karena beberapa hal.</p>
<p>Tapi Penulis meyakini satu hal. Teman bercerita yang baik adalah yang mau mendengarkan kita tanpa nge-<em>judge, </em>yang tidak pernah membandingkan masalah kita dengan masalahnya sendiri.</p>
<h3>Menghakimi Masalah Orang Lain</h3>
<p>Kita hidup di era di mana orang dengan mudahnya <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi orang lain</a> hanya berdasarkan satu pos di media sosial tanpa benar-benar tahu latar di belakangnya.</p>
<p>Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupan orang lain. Mereka punya sifat yang berbeda-beda, lingkungan yang beda, ketahanan mental yang beda, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_3743" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3743" class="size-large wp-image-3743" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3743" class="wp-caption-text">Mendengar Masalah Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fnews.yahoo.com%2Fnews%2Fchris-matthews-kamala-harris-062616087.html&amp;psig=AOvVaw1ZYQtoJWdMoBQd5gSre3hj&amp;ust=1587269894826191" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Yahoo News</span></a>)</p></div>
<p>Begitupun ketika ada orang lain yang menceritakan masalahnya ke kita. Jangan sampai kita terlihat <strong>menyepelekan atau menggampangkan masalahnya</strong>, sesederhana apapun masalahnya.</p>
<p>Batas kemampuan orang untuk menghadapi masalah berbeda-beda. Ada yang sangat tangguh, ada yang lemah. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut.</p>
<p>Selain itu, jangan diperparah dengan <strong>membandingkan masalah orang lain dengan masalah sendiri</strong> yang kita anggap jauh lebih berat. Contoh:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Halah lebay lu, gitu doang ngeluh. Gue kemarin pulang kantor jam 2 pagi gara-gara disemprot sama si bos. Mana pacar gue lagi ngambek lagi.</em></p>
<p>Jika dihadapkan pada situasi seperti itu, jelas mental A yang sedang terpuruk akan semakin <em>down</em>. Ia pun akan malas untuk bercerita lagi dan memilih untuk memendam bebannya.</p>
<p>Bandingkan dengan contoh yang ada di bawah ini:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Iya, kantor memang emang lagi berat nih. Kalau ada yang bisa gue bantu kabarin aja ya, asal gak pas gue repot pasti gue bantu kok!</em></p>
<p>Beda, bukan? Pada contoh kedua, terasa empati dari si pendengar tanpa perlu membandingkan masalahnya.</p>
<p>Bahkan, si pendengar menawarkan bantuan walau mungkin hanya sekadar basa-basi. Setidaknya, yang bersangkutan akan merasa dihargai.</p>
<p>Ilmu ini Penulis dapatkan melalui buku-buku seputar <em>mental health </em>yang akhir-akhir ini sering dibaca. Di Twitter juga sering muncul <em>tweet </em>yang senada.</p>
<p>Jangan sampai kita jadi orang yang terlalu over kompetitif hingga permasalahan hidup pun ingin lebih unggul.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap orang pasti akan menghadapi masalahnya masing-masing dan terkadang harus mengeluhkan permasalahannya tersebut. Beda <em>privilege</em>, beda level permasalahannya.</p>
<p>Contoh, Jennie Blackpink mengeluh konsernya batal, sedangkan ojek online mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Keduanya disebabkan oleh hal yang sama, virus Corona.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi permasalahan orang lain dan menganggap masalah kita jauh lebih berat karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi yang dialami oleh orang lain.</p>
<p>Kalau kita diminta menjadi pendengar, kita dengarkan ceritanya. Kalau diminta memberi saran, beri sesuai dengan kapasitas kita. Sesederhana itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Mengapa contoh menggunakan <em>gue lo</em>? Karena artikel berikutnya Penulis ingin membahas hal ini. <em>Stay tuned!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi karena merasa dirinya terkadang masih seperti itu</p>
<p>Foto: <a href="https://menwit.com/things-girls-hate-about-guys">Men Wit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
