Kenapa Sih Harus Judgemental?

Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.

Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly.

Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-judge.

Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.

Kenapa Sih Harus Judgemental?

Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat judgemental. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.

Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang open-minded, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.

Padahal Bukan Hakim (The DI Wire)

Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat judgemental dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, manusia kurang bisa menerima perbedaan.

Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.

Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.

Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.

Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan sotoy dengan menghakimi mereka seenak udel.

Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?

Karena menyadari dirinya cukup judgemental, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.

Menyakiti Orang Lain (Highpoint Insurance Group)

Pertama, menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.

Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.

Kedua, menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.

Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.

Ketiga, berusaha mengenal dan mencintai diri sendiri. Bisa jadi, bentuk judgemental yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.

Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.

Keempat, menumbuhkan sikap empati. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.

Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.

Terakhir, diam jika tidak bisa berkata baik. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan nyinyiran yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.

Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.

Penutup

Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap judgemental? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.

Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.

Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.

Apalagi, judgemental biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.

Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!

 

 

 

Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan judgemental

Foto: Voice in the Dark

Sumber Artikel: Kompasiana, Komunita, Sociolla, Mojok