Teman Cerita yang Buruk

Penulis senang mendengarkan cerita orang lain. Alasannya, Penulis bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain tanpa perlu mengalaminya sendiri.

Akan tetapi ketika sedang melakukan perenungan akhir-akhir ini, Penulis merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi teman cerita yang baik karena beberapa alasan.

Daripada terus berkutat di dalam pikiran, Penulis memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Harapannya, bisa membuat Penulis menjadi lebih baik ke depannya.

Membandingkan dengan Kisah Sendiri

Ketika ada seseorang menceritakan beban hidupnya ataupun masalah-masalah lain, yang biasa kita lakukan adalah memberikan kata-kata penyemangat dengan tujuan memotivasi.

Masalahnya, terkadang Penulis menganggap ringan masalah orang tersebut sehingga membandingkan cerita tersebut dengan kisahnya sendiri.

Contohnya seperti ini:

Teman: “Kemarin aku baru aja dimarahin sama dosen karena enggak ngumpulin tugas.”

Penulis“Itu sih belum seberapa, dulu aku sampai harus ngulang kelas karena lupa bawa KTM waktu ujian.”

Membandingkan permasalahan yang ada hanya akan membuat sang pencerita merasa tidak dihargai karena masalahnya dianggap sepele. Idealnya, kita mendengarkan tersebut tanpa harus menjustifikasi besar kecilnya permasalahan seseorang.

Malah kalau perlu, kita lebih sering merespon cerita mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing mereka untuk lebih banyak bercerita lagi.

Memberi Saran Tanpa Diminta

Dalam buku Men Are from Mars, Women Are from Venus yang terkenal, Penulis mengetahui fakta bahwa perempuan sebenarnya hanya butuh didengar. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang biasanya meminta solusi yang logis.

Walaupun Penulis mengetahui fakta ini, tetap saja dalam kesehariannya memberi saran kepada teman yang sedang bercerita tanpa diminta. Yang bercerita pun akan merasa kalau kita terlalu sotoy dan sok menggurui.

Sebenarnya hal ini wajar, mengingat kebanyakan laki-laki memandang segala sesuatu secara rasional. Jika ada yang bercerita, artinya ia meminta solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Padahal tidak selalu seperti itu, terutama jika yang bercerita adalah seorang wanita. Mereka hanya ingin bercerita agar beban yang sedanng dipanggul berkurang.

Menyalahkan Mereka

Pernah tidak ketika seseorang bercerita, kita justru malah balik menyalahkan mereka dengan kata-kata seperti “itu sih salahmu sendiri, aku kan dulu udah pernah bilang”.

Mereka sudah pusing dengan permasalahan mereka sendiri, pernyataan menyalahkan yang keluar dari kita hanya akan membuat perasaan mereka semakin memburuk.

Seharusnya, terlepas masalah tersebut berasal dari mana, kita harus bisa memberikan rasa nyaman kepada mereka yang sedang bercerita tentang masalahnya.

Jika memang itu memang kesalahan mereka, tak perlu menyerang mereka dengan kata-kata agresif. Sebaliknya, ajak mereka untuk melakukan interopeksi secara halus agar kesalahan serupa tak terulang di masa depan.

Melakukan Justifikasi

Dalam perenungannya, Penulis menganggap melakukan justifikasi seenak udelnya merupakan salah satu bentuk terburuk ketika sedang mendengarkan cerita orang lain.

Hanya berbekal beberapa kalimat, kita bisa langsung menilai sesuatu. Tak jarang penghakiman kita tersebut membuat teman kita merasa tersudutkan sehingga urung untuk bercerita lagi.

Contoh mudah justifikasi adalah mengentengkan permasalahan orang lain seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Kata-kata seperti “cuma gitu aja?” adalah sesuatu yang fatal dan bisa melukai perasaan lawan bicara.

Tidak hanya dalam mendengarkan cerita, ngejudge orang memang sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi apapun karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi pada orang lain.

Penutup

Penulis menyadari bahwa kekurangan-kekurangan yang telah Penulis sebutkan di atas masih melekat pada Penulis, sekalipun Penulis sudah menyadari bahwa hal tersebut salah.

Memang ada beberapa poin positif yang pernah disampaikan oleh teman-teman ketika Penulis menjadi pendengar, seperti mampu bersikap tenang ketika mendengar apapun, sabar, bisa membantu mengurai permasalahan, dan lain sebagainya.

Walaupun begitu, Penulis harus bisa menghilangkan (atau setidaknya mengurangi) sifat-sifat yang membuat Penulis menjadi teman cerita yang buruk.

Penulis senang mendengarkan cerita orang lain, sehingga memiliki ketakutan seandainya tidak lagi dipercaya oleh orang-orang terdekat untuk berbagi kisahnya.

 

 

Kebayoran Lama, 24 Januari 2020, terinspirasi dari diri sendiri

Foto: Priscilla Du Preez on Unsplash