<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kecanduan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kecanduan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kecanduan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Oct 2021 10:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kecanduan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kecanduan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Feb 2020 04:34:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[candu]]></category>
		<category><![CDATA[HP]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan]]></category>
		<category><![CDATA[ketergantungan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang kita lakukan ketika akan tidur? Apa yang pertama kita lakukan ketika bangun tidur? Apa yang kita lakukan ketika sedang berjalan ke sebuah tempat? Apa yang kita lakukan ketika merasa bosan? Apa yang kita lakukan ketika sedang berkumpul dengan teman? Jawabannya mungkin akan sama: bermain smartphone. Entah mengencek pesan yang masuk, melihat linimasa media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kita lakukan ketika akan tidur? Apa yang pertama kita lakukan ketika bangun tidur? Apa yang kita lakukan ketika sedang berjalan ke sebuah tempat? Apa yang kita lakukan ketika merasa bosan? Apa yang kita lakukan ketika sedang berkumpul dengan teman?</p>
<p>Jawabannya mungkin akan sama: <strong>bermain smartphone</strong>. Entah mengencek pesan yang masuk, melihat linimasa media sosial terbaru, melihat video YouTube yang menarik, bermain game, dan masih banyak aktivitas lainnya.</p>
<p>Smartphone memang hadir dengan tujuan untuk memudahkan kita melakukan berbagai aktivitas. Berbagai aplikasi dan fitur yang ada di dalamnya sangat canggih dan mudah digunakan.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-1/">Konsep iPhone</a> adalah membawa PC mereka (Mac) ke dalam genggaman penggunanya, sehingga pekerjaan yang dulunya hanya bisa dilakukan di komputer bisa dilakukan melalui ponsel. Merek lain pun memiliki konsep serupa.</p>
<p>Efek sampingnya, kita menjadi memiliki semacam ketergantungan kepadanya. Rasanya kita akan takut terlewatkan sesuatu jika sejenak saja tidak memeriksa smartphone.</p>
<h3 style="text-align: left;">Melepaskan Cengkeraman Smartphone</h3>
<p>Penulis sudah menulis topik tentang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">istirahat dari media sosial</a> beberapa kali di blog ini. Alasannya bukan karena prihatin melihat orang lain kecanduan, melainkan karena dirinya sendiri termasuk orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk <em>scrolling </em>medsos tanpa batas.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis banyak mengunduh aplikasi yang membantu <em>detox </em>seperti <strong>Quality Time</strong> ataupun <strong>Forest</strong>. Kedua aplikasi tersebut sangat membantu Penulis mengurangi ketergantungan.</p>
<div id="attachment_3520" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3520" class="size-large wp-image-3520" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3520" class="wp-caption-text">Aplikasi Quality Time (<a href="https://www.qualitytimeapp.com/">QualityTime</a>)</p></div>
<p>Hanya saja, ternyata bukan media sosial saja yang membuat kita betah berlama-lama di depan layar smartphone. Ada saja yang menarik untuk dilirik, mulai dari aplikasi belanja online, <em>chat</em>, hingga <em>browser</em>.</p>
<p>Artinya, tidak cukup untuk sekadar mengurangi waktu bermain media sosial. Ada banyak aktivitas lain yang bisa mengganggu fokus kita dan tanpa disadari beberapa jam telah terlewati.</p>
<p>Kita harus benar-benar berusaha melepaskan diri dari cengkeraman smarpthone yang terlalu menjerat. Jadikan smartphone sebagai alat komplementer, bukan bagian vital dari kehidupan.</p>
<p>Sebenarnya wajar jika kita bermain smartphone sambil rebahan setelah pulang sekolah ataupun kerja. Badan yang lelah karena digunakan seharian tentu membutuhkan istirahat, dan smartphone terlihat sebagai teman yang cocok untuk itu.</p>
<p>Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan juga tidak baik untuk berbagai alasan. Alasan kesehatan, terutama mata, menjadi salah satunya. Bahkan pengaruhnya bisa sampai memengaruhi kemampuan otak, terutama daya fokus.</p>
<p>Belum lagi kalau kita menggunakannya untuk melihat media sosial, lantas membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan kita. Mau tidak mau, hal tersebut akan menumbuhkan perasaan <em>insecure</em>.</p>
<h3>Membiarkan Rasa Bosan Mengalir</h3>
<p>Salah satu alasan terkuat mengapa kita begitu doyan di depan layar smartphone adalah karena tidak memiliki aktivitas lain. Ada juga alasan karena takut merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa.</p>
<div id="attachment_3521" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3521" class="size-large wp-image-3521" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3521" class="wp-caption-text">Rasa Bosan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiDt7O-p-TnAhWQ6nMBHYVICtUQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F164944405090031459%2F&amp;psig=AOvVaw3p0qhcWU1xehFagvQ_aiVP&amp;ust=1582431670407494" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiDt7O-p-TnAhWQ6nMBHYVICtUQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pinterest</span></a>)</p></div>
<p>Jawaban dari alasan yang pertama mungkin jelas, mencari aktivitas lain. Contohnya, Penulis menghabiskan waktu untuk menulis blog, menyelesaikan novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a>, ataupun membaca buku.</p>
<p>Yang lain mungkin akan memilih untuk berolahraga, membersihkan rumah, menghadiri pengajian, belajar hal baru, dan lain sebagainya. Semua orang pasti memiliki caranya masing-masing.</p>
<p>Bagaimana dengan alasan yang kedua? Dari buku Desi Anwar berjudul <em><strong>Going Offline</strong> </em>yang sedang Penulis baca, apa yang harus dilakukan ketika tidak melakukan apa-apa adalah menikmati momen tersebut</p>
<p>Mungkin awalnya kita akan merasa bosan, namun perlahan otak akan menemukan sesuatu untuk kita pikirkan atau renungkan. Di dalam diam, otak akan mengembara untuk mencari topik yang mampu menghindarkan kita dari kebosanan.</p>
<p>Ketika sedang banyak pikiran, Penulis kadang akan berjalan kaki untuk menjernihkan pikiran tersebut. Penulis meninggalkan smartphone di kamar kos begitu saja agar tidak ada distraksi.</p>
<p>Dengan demikian, Penulis bisa fokus ke diri sendiri dan permasalahan yang sedang dihadapi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika kecil, Penulis membaca komik biografi Thomas Alva Edison. Pada salah satu adegan, ada yang bertanya mengapa ia hanya tidur sebentar (rata-rata 4 jam sehari). Jawaban Edison kurang lebih seperti ini:</p>
<blockquote><p>Hidup ini singkat, jadi harus diisi dengan sebanyak mungkin hal yang bermanfaat</p></blockquote>
<p>Kalimat ini mungkin menempel di alam bawah sadar, sehingga Penulis berusaha memiliki waktu produktif sebanyak mungkin (walaupun waktu tidur Penulis dalam sehari masih 8 jam bahkan lebih).</p>
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis berhasil mengurangi penggunaan smartphone di bawah lima jam setiap harinya. Hanya akhir pekan yang biasanya melebihi angka tersebut.</p>
<p>Untuk mencapai hal tersebut, Penulis sampai menghapus YouTube karena merasa aplikasi tersebut sudah menyita banyak sekali waktu Penulis. Beberapa game juga menyusul kemudian.</p>
<p>Nah, di tengah-tengah kebingungan mau ngapain ketika tidak memegang HP, Penulis pun melakukan aktivitas menulis ataupun membaca. Sebagai hadiahnya, akan muncul perasaan senang karena telah memanfaatkan waktu dengan baik.</p>
<p>Kalau sudah menemuan kenikmatan hidup tanpa smartphone, niscaya hidup kita akan menjadi lebih damai dan tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Februari 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri dan buku karya Desi Anwar yang berjudul <em>Going Offline</em></p>
<p>Foto: <a href="https://clickonenglish.blogspot.com/2017/10/addicted-to-mobile.html">English Grammar</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Main Game?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 13:21:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan]]></category>
		<category><![CDATA[main game]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tenang, jangan emosi dulu ketika membaca judul tulisan ini. Penulis sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun yang senang bermain game karena penulis pun masih melakukannya sesekali. Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini adalah jangan sampai karena terlalu terlena dengan bermain game, kita mengabaikan banyak aspek kehidupan yang sebenarnya jauh lebih penting. *** [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tenang, jangan emosi dulu ketika membaca judul tulisan ini. Penulis sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun yang senang bermain game karena penulis pun masih melakukannya sesekali.</p>
<p>Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini adalah jangan sampai karena terlalu terlena dengan bermain game, kita mengabaikan banyak aspek kehidupan yang sebenarnya jauh lebih penting.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita<strong> menjadi lebih buruk</strong>?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>pikiran kita stress</strong> lantas melampiaskannya dengan cara-cara yang buruk?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>kesehatan kita memburuk</strong> dan menyusahkan banyak orang karenanya?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi sosok yang luar biasa pemalas</strong>, menjadi sosok yang <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">apatis dan </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>luar biasa?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya <strong>mengubah kita menjadi sosok yang pemarah dan agresif</strong> yang bisa membahayakan orang lain?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya akan <strong>menguras isi dompet kita</strong> sehingga kebutuhan lain tak dapat dipenuhi?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi seorang pembohong</strong> demi mendapatkan uang tambahan untuk membeli item game?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya akan <strong>menghabiskan waktu kita seharian tanpa mempedulikan hal lain</strong> seperti sekolah dan masa depan?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>mengabaikan kewajiban yang seharusnya kita selesaikan</strong>, sehingga semuanya menumpuk dan membuat kita malas menyelesaikannya?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>tak fokus dalam menjalankan ibadah</strong>, selalu terburu-buru agar bisa segera bermain kembali?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>mengasingkan diri dari pergaulan</strong>, merasa tak butuh menjali relasi dengan orang lain?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>nilai kita di sekolah atau kinerja kita di kantor menjadi anjlok</strong>, sehingga banyak orang yang dibuatnya kesusahan?</p>
<p>Untuk apa bermain game,  jika hanya membuat kita<strong> sering berkata kotor dan menghina orang lain</strong> yang akan berujung kepada pertengkaran tak berarti?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>melupakan orang-orang yang hidup di sekitar kita</strong>, hingga kita membantah semua perkataan orangtua?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi generasi yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya</strong>, yang kepekaan sosialnya benar-benar rendah.</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika membuat <strong>otak hanya berisi game, game, dan game</strong>, seolah tak bisa hidup tanpanya?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari keprihatinan penulis terhadap banyaknya generasi milenial yang kecanduan main game, sehingga mereka abai kepada orang tua mereka, tak peduli dengan lingkungan, dan susah untuk bersosialisasi.</p>
<p>Tulisan ini juga terinspirasi dari pengalaman pribadi. Penulis adalah tipe pemain game yang jika sudah jatuh cinta dengan suatu game, bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk memainkannya.</p>
<p>Contoh yang terbaru adalah game <em>Auto Chess</em>. Game tersebut merupakan tipe game strategi yang sangat penulis gemari. Pernah dalam satu hari, penulis menghabiskan waktu 6 jam untuk memainkannya.</p>
<p>Bahkan, di kantor pun penulis sempat-sempatkan main di sela-sela bekerja, sehingga jam pulang penulis pun menjadi lebih larut. Dampaknya tentu ke kesehatan penulis.</p>
<p>Oleh karena itu, pada suatu titik penulis memutuskan untuk menghapus game tersebut karena merasa tidak bisa mengontrol diri. Harus ada tindakan ekstrem agar pola hidup penulis menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Setelah menghapus game tersebut, penulis merasa lebih produktif. Penulis memanfaatkan waktunya untuk menulis di blog atau membaca buku yang sudah lama hanya tertumpuk tanpa pernah dibaca.</p>
<p>Boleh saja bermain game, toh aktivitas tersebut juga memiliki sisi positif yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Yang tidak boleh, memainkannya secara berlebihan seperti penulis atau anak-anak muda yang ketagihan game secara berlebihan.</p>
<p>Jika game hanya menjadi racun (seperti yang pernah penulis alami sendiri), untuk apa kita tetap memainkannya? Masih banyak aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti menulis blog, membuat vlog, hingga <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">membaca buku</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Juli 2019, terinspirasi dari keprihatinan tentang kecanduan game dan pengalaman pribadi penulis.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@florian_gagnepain">Florian Gagnepain</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
