<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>marah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/marah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/marah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:45:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>marah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/marah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Keganasan Netizen Barbar</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2021 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[catur]]></category>
		<category><![CDATA[Dayana]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Kipas]]></category>
		<category><![CDATA[Fiki Naki]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, Microsoft mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu yang lalu, <strong>Microsoft </strong>mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau<strong> netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia</strong>.</p>



<p>Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft dengan kata-kata kasar.</p>



<p><strong>Tapi bohong.</strong></p>



<p>Tentu saja netizen kita, yang selama ini kerap dianggap barbar, langsung bereaksi keras dengan hasil survei tersebut. Tidak tahan dengan <em>bully-bully </em>tersebut, Microsoft pun menutup kolom komentar mereka.</p>



<p>Padahal, penilaian tersebut tidak dibuat secara asal-asalan. Ada beberapa variabel yang digunakan, seperti <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">penyebaran hoaks</a> dan penipuan,, ujaran kebencian, hingga masalah diskriminasi. Apa yang netizen lakukan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar, justru membuktikan bahwa netizen Indonesia memang &#8220;tidak sopan&#8221;. </p>



<p>Ada banyak bukti lain keganasan netizen Indonesia di dunia maya dalam beberapa minggu terakhir ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Membela Dewa Kipas</h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>GothamChess vs Dewa Kipas (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Yc1teknlAEQ">YouTube)</a></figcaption></figure>



<p>Akhir-akhir ini, dunia percaturan online sedang heboh karena akun <strong>GothamChess </strong>secara mengejutkan dikalahkan oleh pecatur Indonesia berusia 60 tahun dengan nama akun <strong>Dewa Kipas</strong> melalui <em>platform </em>Chess.com.</p>



<p>Pendukung Gotham menuding kalo Dewa Kipas melakukan <em>cheating </em>karena akurasi gerakannya terlalu tinggi. Kabarnya, mereka melakukan <em>report </em>ramai-ramai hingga akun Dewa Kipas di-<em>banned</em>.</p>



<p>Bagaimana reaksi netizen Indonesia? Mereka melakukan analisa terhadap pola permainan Dewa Kipas di Chess.com untuk mencari apakah ada sesuatu yang abnormal dari game-game yang pernah ia mainkan. </p>



<p>Mereka tidak membela Dewa Kipas hanya karena terbawa suasana dan nasionalisme yang membabi buta. Setelah memiliki data, mereka baru berkomentar kalau tuduhan GothamChess tersebut tidak berdasar dan dilakukan atas dasar sakit hati karena dikalahkan pemain amatir.</p>



<p><strong>Tapi bohong lagi.</strong></p>



<p>Bermodalkan postingan Facebook anak Dewa Kipas, banyak <strong>netizen yang langsung menyerang GothamChess secara kasar </strong>hingga meresahkan yang bersangkutan. Pem-<em>bully-</em>an dalam bentuk verbal terus dilancarkan hingga membuatnya membatasi <em>platform-platform </em>yang ia gunakan.</p>



<p>Kericuhan ini membuat Grand Master Indonesia, <strong>Irene Kharisma</strong>, ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus ini mencoreng nama baik percaturan Indonesia di mata dunia. Apalagi, memang banyak keanehan yang ditemukan dalam akun profil milik Dewa Kipas, seperti <em>rating</em> yang tiba-tiba melonjak dan tingkat akurasi yang mendekati sempurna. </p>



<p>Chess.com sendiri telah menegaskan kalau pemblokiran yang dilakukan bukan karena banyaknya laporan yang dikirim oleh penggemar GothamChess, melainkan karena <strong>tim Fair Play memang menemukan anomali pada akun Dewa Kipas</strong>. Mereka memiliki reputasi yang tinggi, sehingga rasanya tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi tersebut hanya demi satu orang.</p>



<p>Mana yang benar? Entahlah, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya saja, Penulis begitu menyayangkan respon netizen kita yang begitu barbar tanpa mengetahui duduk perkaranya secara lengkap. </p>



<h1 class="wp-block-heading">Dayana Oh Dayana</h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4801" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dayana (<a href="https://voi.id/en/lifestyle/33867/netizens-are-counting-down-dayana-s-followers-decreasing">VOI</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu <em>youtuber </em>yang sedang naik daun adalah <strong>Fiki Naki</strong>. Alasannya apa lagi kalau bukan kemampuan berbahasa asingnya yang begitu luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Rusia. Karena kemampuannya tersebut, ia kerap &#8220;menggoda&#8221; bule-bule melalui aplikasi Ome.tv.</p>



<p>Nah, salah satu yang menarik perhatian netizen adalah seorang gadis asal Kazakhstan bernama <strong>Dayana</strong>.  Memiliki paras yang cantik, ia kerap dijodoh-jodohkan dengan Fiki Naki. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang masuk ke kanal YouTube Fiki lebih dari satu episode. </p>



<p>Hal ini membuat popularitas Dayana, setidaknya di Indonesia, melesat dengan cepat. Ia yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba mendapatkan jutaan <em>follower </em>yang kebanyakan berasal dari negara kita, termasuk Penulis sendiri. Bedanya, Penulis sengaja <em>follow </em>karena merasa kalau kisah mereka berdua akan berakhir kurang baik.</p>



<p>Benar saja. Beberapa minggu kemarin, dunia maya langsung heboh karena Dayana menyatakan <strong>&#8220;tidak butuh <em>follower </em>dari Indonesia.&#8221;</strong> Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik dan membuat netizen melakukan <em>unfollow </em>massal. Jumlah <em>follower </em>Dayana yang telah menyentuh angka 2 juta menurun drastis dalam waktu singkat.</p>



<p>Fiki Naki sudah berusaha maksimal untuk menenangkan amukan netizen Indonesia. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. <strong>Dayana yang awalnya menjadi pujaan banyak orang berbalik menjadi <em>public enemy</em></strong>. Ia dianggap &#8220;kacang lupa kulit&#8221; dan memanfaatkan Fiki untuk pansos. Apalagi, ia mulai merilis lagu yang pada akhirnya mendapatkan banyak sekali <em>dislike</em>.</p>



<p>Terlepas apa makna dari pernyataan Dayana, kejadian ini menjadi bukti lain betapa ganasnya netizen kita. Bisa saja Dayana tidak bermaksud untuk menyepelekan <em>follower </em>Indonesia. Perlu diingat, bahasa Inggris bukan bahasa ibunya, sehingga kemungkinan salah mengutarakan maksud sesungguhnya sangat besar.</p>



<p>Tapi netizen kita mana mengenal kata maklum. Mau berbuat apapun, Dayana sudah dicap sebagai orang buruk, sama seperti ketika mereka melabeli GothamChess tanpa bukti yang kuat.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Dua contoh kasus yang baru terjadi akhir-akhir ini patut mendapatkan perhatian dari kita semua. Kenapa <a href="https://whathefan.com/karakter/berkata-kotor-di-media-sosial/">netizen Indonesia terlihat begitu barbar di dunia maya</a>? Kenapa seolah-olah semua orang bersumbu pendek sehingga mudah terpicu oleh percikan kecil?</p>



<p>Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Rendahnya literasi, tidak adanya kesadaran untuk santun di media sosial, mudah terpengaruhi, berita yang memprovokasi, <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">lingkungan yang <em>judgemental</em></a>, dan lain sebagainya. Seharusnya, kemudahan jaringan internet dapat membuat kita menjadi lebih baik, bukan merugikan orang lain.</p>



<p>Mau apapun alasannya, tidak elok untuk bertindak rusuh seperti itu, apalagi jika sampai mengganggu kehidupan orang lain. Jika orang tersebut tidak kuat mental hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">memutuskan bunuh diri seperti artis-artis Korea</a>, orang-orang yang mem-<em>bully </em>akan segera cuci tangan seolah mereka tak pernah melancarkan serangan.</p>



<p>Mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijak di dunia maya. Jangan mudah terprovokasi sesuatu yang belum tentu benar. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk saling membenci dan mencaci-maki. Semoga ketika nanti Microsoft atau pihak lain melakukan survei sejenis, peringkat kita sudah membaik.</p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 18 Maret 2021, terinspirasi setelah melihat berbagai bentuk keganasan netizen di dunia maya</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://memegenerator.net/Angry-Typing-Guy">Meme Generator</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/27/093100165/menilik-penyebab-microsoft-sebut-warganet-indonesia-tidak-sopan-se-asia?page=all">Menilik Penyebab Microsoft Sebut Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara </a><br><a href="https://bisnis.tempo.co/read/1436977/survei-microsoft-sebut-warganet-ri-paling-tak-sopan-begini-respons-menkominfo"></a><a href="https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210226140821-192-611309/sebut-netizen-ri-paling-tidak-sopan-akun-microsoft-diserang">Sebut Netizen RI Paling Tidak Sopan, Akun Microsoft Diserang </a><br><a href="https://seleb.tempo.co/read/1443536/curhat-gothamchess-pada-deddy-corbuzier-usai-dibully-netizen-indonesia/full&amp;view=ok">Curhat GothamChess pada Deddy Corbuzier Usai Dibully Netizen Indonesia</a><br><a href="https://ggwp.id/media/hiburan/viral/kasus-dewa-kipas-kembali-viral">Kasus Dewa Kipas Berlanjut, Grandmaster Catur Indonesia Angkat Bicara</a><br><a href="https://inet.detik.com/games-news/d-5495455/chesscom-tegaskan-dewa-kipas-berbuat-curang">Chess.com Tegaskan Dewa Kipas Berbuat Curang</a><br><a href="https://www.insertlive.com/hot-gossip/20210225153853-7-194781/3-aksi-dayana-yang-panen-cibiran-netizen/">3 Aksi Dayana yang Panen Cibiran Netizen</a><br><br></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berkata Kotor di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 16:54:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[kotor]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada. Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena berbeda pendapat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada.</p>
<p>Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena <a href="http://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">berbeda pendapat</a>.</p>
<p>Tentu hal ini membuat penulis berpikir, <em>mengapa semudah itu untuk berkata kotor</em>? Sejauh pemahaman penulis, sama sekali tidak ada manfaat berkata kotor, apalagi diumbar di wilayah publik.</p>
<p>Penulis paham, terkadang memang susah untuk menahan emosi. Akan tetapi, jelas bukan perbuatan yang bijak untuk mengumbar <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">kemarahan di media sosial</a> yang bisa dikonsumsi oleh orang lain, terutama keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p>Coba kita renungkan bersama, adakah hal positif yang didapat dengan berkata kotor di media sosial? Ada? Penulis sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Yang penulis herankan, betapa mudahnya orang-orang untuk mengeluarkan kata kotor bahkan hanya karena hal sepele. Hal-hal remeh yang sebenarnya tidak akan membuat kita mendapatkan apa-apa selain debat kusir tanpa makna.</p>
<p>Selain itu, kata-kata kotor juga sering keluar pada status seseorang dengan tujuan menyindir seseorang yang sudah membuat dirinya gusar. Apa tujuannya? Memberitahu orang lain betapa buruknya orang yang sudah membuat kita kecewa? Bisa jadi.</p>
<p>Jika ada masalah dengan orang lain, ada baiknya jika langsung diselesaikan dengan yang bersangkutan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">sindir-menyindir di media sosial</a>. Kalau memang sedang berkonflik dengan orang lain, selesaikan tanpa perlu menyebar aib orang lain.</p>
<p>Media sosial memang menjadi wadah untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>, akan tetapi bukan berarti kita bisa berbuat seenak hati. Tetap ada norma-norma yang berlaku agar sesama pengguna media sosial bisa merasa nyaman.</p>
<p>Cobalah untuk menahan dan menguasai emosi diri kita. Kebanyakan orang akan menyesal setelah meluapkan emosinya. Setidaknya, mereka akan menyesal ketika hal buruk menimpa setelah emosi keluar, seperti laki-laki yang sedang viral karena merusak motornya tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan termasuk kata-kata kotor yang tak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kata-kata kotor yang berseliweran di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@gagewalkerr">Gage Walker</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 13:23:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya. Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat sharing berbagai momen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat <em>sharing </em>berbagai momen dan kejadian, dan mungkin termasuk juga perasaan.</p>
<p>Lantas, mengapa kita curhat di medsos? Karena pernah melakukannya, penulis menjadi tahu jawabannya: <strong>Mencari Perhatian</strong>. Ada yang blak-blakan, ada pula yang melakukannya secara tersirat,</p>
<p>Ketika kita sedang dimabuk asmara, kita ingin agar doi mengetahui apa saja kegiatan kita sehingga ia memiliki &#8220;bahan&#8221; untuk <em>chat</em>. Ada yang tidak ditujukan hanya kepada satu orang, berharap ada yang mau merespon dirinya siapapun dia. Semua tidak masalah selama masih dibatas kewajaran.</p>
<p>Tetapi, ada satu bentuk ekspresi yang dalam pendapat penulis kurang layak untuk dijadikan konsumsi publik. Emosi, kemarahan, yang ujung-ujungnya adalah membicarakan kejelekan orang.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><em>&#8220;Dasar orang, wujudnya aja manusia tapi kelakuan kayak setan!&#8221;</em></p>
<p>Sungguh tidak enak dipandang bukan? Lagipula, siapa sih yang tertarik untuk membaca kemarahan orang lain? Rasanya kok tidak ada.</p>
<p>Pembuat status semacam itu tentu berharap statusnya dibaca yang bersangkutan, atau hanya sekedar menumpahkan kekesalan? Jika hanya sebagai tempat pelampiasan, apa tujuannya dilempar kepada khalayak umum? Mungkin berharap akan ada sosok yang menyabarkan dirinya, atau setuju dengan argumennya.</p>
<p>Jika sedang ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih bijak jika kita mengatakannya langsung kepadanya? Katakan apa yang membuatmu gusar secara terus terang, bagaimana responnya urusan belakang. Itu lebih berfaedah dibandingkan dengan menulis status penuh dengan caci maki.</p>
<p>Kemampuan untuk menahan emosi ini menjadi salah satu parameter kedewasaan seseorang. Orang-orang yang telah matang pola pikirnya akan memikirkan apa akibat dari status yang akan ditulisnya. Banyak bukan orang yang membuat status dengan menggebu-gebu, kemudian menghapus statusnya setelah kepalanya dingin.</p>
<p>Media sosial itu sama seperti taman, ia merupakan ruang publik yang dinikmati oleh orang banyak. Tentu kita akan sebal bukan jika di taman kita bertemu dengan orang yang marah-marah sendiri?</p>
<p>Oleh karena itu, lebih bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Gunakan ia untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar tempat pelampiasan emosi agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah selesai menyelesaikan training pertama Asian Games</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/">https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
