Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi

Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya.

Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat sharing berbagai momen dan kejadian, dan mungkin termasuk juga perasaan.

Lantas, mengapa kita curhat di medsos? Karena pernah melakukannya, penulis menjadi tahu jawabannya: Mencari Perhatian. Ada yang blak-blakan, ada pula yang melakukannya secara tersirat,

Ketika kita sedang dimabuk asmara, kita ingin agar doi mengetahui apa saja kegiatan kita sehingga ia memiliki “bahan” untuk chat. Ada yang tidak ditujukan hanya kepada satu orang, berharap ada yang mau merespon dirinya siapapun dia. Semua tidak masalah selama masih dibatas kewajaran.

Tetapi, ada satu bentuk ekspresi yang dalam pendapat penulis kurang layak untuk dijadikan konsumsi publik. Emosi, kemarahan, yang ujung-ujungnya adalah membicarakan kejelekan orang.

Contohnya seperti ini:

“Dasar orang, wujudnya aja manusia tapi kelakuan kayak setan!”

Sungguh tidak enak dipandang bukan? Lagipula, siapa sih yang tertarik untuk membaca kemarahan orang lain? Rasanya kok tidak ada.

Pembuat status semacam itu tentu berharap statusnya dibaca yang bersangkutan, atau hanya sekedar menumpahkan kekesalan? Jika hanya sebagai tempat pelampiasan, apa tujuannya dilempar kepada khalayak umum? Mungkin berharap akan ada sosok yang menyabarkan dirinya, atau setuju dengan argumennya.

Jika sedang ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih bijak jika kita mengatakannya langsung kepadanya? Katakan apa yang membuatmu gusar secara terus terang, bagaimana responnya urusan belakang. Itu lebih berfaedah dibandingkan dengan menulis status penuh dengan caci maki.

Kemampuan untuk menahan emosi ini menjadi salah satu parameter kedewasaan seseorang. Orang-orang yang telah matang pola pikirnya akan memikirkan apa akibat dari status yang akan ditulisnya. Banyak bukan orang yang membuat status dengan menggebu-gebu, kemudian menghapus statusnya setelah kepalanya dingin.

Media sosial itu sama seperti taman, ia merupakan ruang publik yang dinikmati oleh orang banyak. Tentu kita akan sebal bukan jika di taman kita bertemu dengan orang yang marah-marah sendiri?

Oleh karena itu, lebih bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Gunakan ia untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar tempat pelampiasan emosi agar mendapatkan perhatian dari orang lain.

 

 

Jelambar, 11 Mei 2018, setelah selesai menyelesaikan training pertama Asian Games

Sumber Foto: https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.