<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menghakimi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/menghakimi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/menghakimi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:50:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>menghakimi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/menghakimi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 04:26:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[keluh]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih plong, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang. Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita.</p>
<p>Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih <em>plong</em>, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang.</p>
<p>Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa dirinya adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/teman-cerita-yang-buruk/">teman bercerita yang buruk</a> karena beberapa hal.</p>
<p>Tapi Penulis meyakini satu hal. Teman bercerita yang baik adalah yang mau mendengarkan kita tanpa nge-<em>judge, </em>yang tidak pernah membandingkan masalah kita dengan masalahnya sendiri.</p>
<h3>Menghakimi Masalah Orang Lain</h3>
<p>Kita hidup di era di mana orang dengan mudahnya <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi orang lain</a> hanya berdasarkan satu pos di media sosial tanpa benar-benar tahu latar di belakangnya.</p>
<p>Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupan orang lain. Mereka punya sifat yang berbeda-beda, lingkungan yang beda, ketahanan mental yang beda, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_3743" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3743" class="size-large wp-image-3743" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3743" class="wp-caption-text">Mendengar Masalah Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fnews.yahoo.com%2Fnews%2Fchris-matthews-kamala-harris-062616087.html&amp;psig=AOvVaw1ZYQtoJWdMoBQd5gSre3hj&amp;ust=1587269894826191" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Yahoo News</span></a>)</p></div>
<p>Begitupun ketika ada orang lain yang menceritakan masalahnya ke kita. Jangan sampai kita terlihat <strong>menyepelekan atau menggampangkan masalahnya</strong>, sesederhana apapun masalahnya.</p>
<p>Batas kemampuan orang untuk menghadapi masalah berbeda-beda. Ada yang sangat tangguh, ada yang lemah. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut.</p>
<p>Selain itu, jangan diperparah dengan <strong>membandingkan masalah orang lain dengan masalah sendiri</strong> yang kita anggap jauh lebih berat. Contoh:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Halah lebay lu, gitu doang ngeluh. Gue kemarin pulang kantor jam 2 pagi gara-gara disemprot sama si bos. Mana pacar gue lagi ngambek lagi.</em></p>
<p>Jika dihadapkan pada situasi seperti itu, jelas mental A yang sedang terpuruk akan semakin <em>down</em>. Ia pun akan malas untuk bercerita lagi dan memilih untuk memendam bebannya.</p>
<p>Bandingkan dengan contoh yang ada di bawah ini:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Iya, kantor memang emang lagi berat nih. Kalau ada yang bisa gue bantu kabarin aja ya, asal gak pas gue repot pasti gue bantu kok!</em></p>
<p>Beda, bukan? Pada contoh kedua, terasa empati dari si pendengar tanpa perlu membandingkan masalahnya.</p>
<p>Bahkan, si pendengar menawarkan bantuan walau mungkin hanya sekadar basa-basi. Setidaknya, yang bersangkutan akan merasa dihargai.</p>
<p>Ilmu ini Penulis dapatkan melalui buku-buku seputar <em>mental health </em>yang akhir-akhir ini sering dibaca. Di Twitter juga sering muncul <em>tweet </em>yang senada.</p>
<p>Jangan sampai kita jadi orang yang terlalu over kompetitif hingga permasalahan hidup pun ingin lebih unggul.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap orang pasti akan menghadapi masalahnya masing-masing dan terkadang harus mengeluhkan permasalahannya tersebut. Beda <em>privilege</em>, beda level permasalahannya.</p>
<p>Contoh, Jennie Blackpink mengeluh konsernya batal, sedangkan ojek online mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Keduanya disebabkan oleh hal yang sama, virus Corona.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi permasalahan orang lain dan menganggap masalah kita jauh lebih berat karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi yang dialami oleh orang lain.</p>
<p>Kalau kita diminta menjadi pendengar, kita dengarkan ceritanya. Kalau diminta memberi saran, beri sesuai dengan kapasitas kita. Sesederhana itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Mengapa contoh menggunakan <em>gue lo</em>? Karena artikel berikutnya Penulis ingin membahas hal ini. <em>Stay tuned!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi karena merasa dirinya terkadang masih seperti itu</p>
<p>Foto: <a href="https://menwit.com/things-girls-hate-about-guys">Men Wit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teman Cerita yang Buruk</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jan 2020 16:41:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[dengar]]></category>
		<category><![CDATA[justifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[pendengar]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain. Alasannya, Penulis bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain tanpa perlu mengalaminya sendiri. Akan tetapi ketika sedang melakukan perenungan akhir-akhir ini, Penulis merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi teman cerita yang baik karena beberapa alasan. Daripada terus berkutat di dalam pikiran, Penulis memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Harapannya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/">Teman Cerita yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain. Alasannya, Penulis bisa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">belajar banyak dari pengalaman orang lain</a> tanpa perlu mengalaminya sendiri.</p>
<p>Akan tetapi ketika sedang melakukan perenungan akhir-akhir ini, Penulis merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi teman cerita yang baik karena beberapa alasan.</p>
<p>Daripada terus berkutat di dalam pikiran, Penulis memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Harapannya, bisa membuat Penulis menjadi lebih baik ke depannya.</p>
<h3>Membandingkan dengan Kisah Sendiri</h3>
<p>Ketika ada seseorang menceritakan beban hidupnya ataupun masalah-masalah lain, yang biasa kita lakukan adalah memberikan kata-kata penyemangat dengan tujuan memotivasi.</p>
<p>Masalahnya, terkadang Penulis menganggap ringan masalah orang tersebut sehingga membandingkan cerita tersebut dengan kisahnya sendiri.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><strong>Teman</strong>: <em>&#8220;Kemarin aku baru aja dimarahin sama dosen karena enggak ngumpulin tugas.&#8221;</em></p>
<p><strong>Penulis</strong>: <em>&#8220;Itu sih belum seberapa, dulu aku sampai harus ngulang kelas karena lupa bawa KTM waktu ujian.&#8221;</em></p>
<p>Membandingkan permasalahan yang ada hanya akan membuat sang pencerita merasa tidak dihargai karena masalahnya dianggap sepele. Idealnya, kita mendengarkan tersebut tanpa harus menjustifikasi besar kecilnya permasalahan seseorang.</p>
<p>Malah kalau perlu, kita lebih sering merespon cerita mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing mereka untuk lebih banyak bercerita lagi.</p>
<h3>Memberi Saran Tanpa Diminta</h3>
<p>Dalam buku <em>Men Are from Mars, Women Are from Venus</em> yang terkenal, Penulis mengetahui fakta bahwa perempuan sebenarnya hanya butuh didengar. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang biasanya meminta solusi yang logis.</p>
<p>Walaupun Penulis mengetahui fakta ini, tetap saja dalam kesehariannya memberi saran kepada teman yang sedang bercerita tanpa diminta. Yang bercerita pun akan merasa kalau kita terlalu <em>sotoy </em>dan sok menggurui.</p>
<p>Sebenarnya hal ini wajar, mengingat kebanyakan laki-laki memandang segala sesuatu secara rasional. Jika ada yang bercerita, artinya ia meminta solusi dari permasalahan yang dihadapi.</p>
<p>Padahal tidak selalu seperti itu, terutama jika yang bercerita adalah seorang wanita. Mereka hanya ingin bercerita agar beban yang sedanng dipanggul berkurang.</p>
<h3>Menyalahkan Mereka</h3>
<p>Pernah tidak ketika seseorang bercerita, kita justru malah balik menyalahkan mereka dengan kata-kata seperti &#8220;<em>itu sih salahmu sendiri, aku kan dulu udah pernah bilang&#8221;.</em></p>
<p>Mereka sudah pusing dengan permasalahan mereka sendiri, pernyataan menyalahkan yang keluar dari kita hanya akan membuat perasaan mereka semakin memburuk.</p>
<p>Seharusnya, terlepas masalah tersebut berasal dari mana, kita harus bisa memberikan rasa nyaman kepada mereka yang sedang bercerita tentang masalahnya.</p>
<p>Jika memang itu memang kesalahan mereka, tak perlu menyerang mereka dengan kata-kata agresif. Sebaliknya, ajak mereka untuk melakukan interopeksi secara halus agar kesalahan serupa tak terulang di masa depan.</p>
<h3>Melakukan Justifikasi</h3>
<p>Dalam perenungannya, Penulis menganggap melakukan justifikasi seenak <em>udelnya </em>merupakan salah satu bentuk terburuk ketika sedang mendengarkan cerita orang lain.</p>
<p>Hanya berbekal beberapa kalimat, kita bisa langsung menilai sesuatu. Tak jarang penghakiman kita tersebut membuat teman kita merasa tersudutkan sehingga urung untuk bercerita lagi.</p>
<p>Contoh mudah justifikasi adalah mengentengkan permasalahan orang lain seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Kata-kata seperti <em>&#8220;cuma gitu aja?&#8221; </em>adalah sesuatu yang fatal dan bisa melukai perasaan lawan bicara.</p>
<p>Tidak hanya dalam mendengarkan cerita, <em>ngejudge </em>orang memang sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi apapun karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi pada orang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis menyadari bahwa kekurangan-kekurangan yang telah Penulis sebutkan di atas masih melekat pada Penulis, sekalipun Penulis sudah menyadari bahwa hal tersebut salah.</p>
<p>Memang ada beberapa poin positif yang pernah disampaikan oleh teman-teman ketika Penulis menjadi pendengar, seperti mampu bersikap tenang ketika mendengar apapun, sabar, bisa membantu mengurai permasalahan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis harus bisa menghilangkan (atau setidaknya mengurangi) sifat-sifat yang membuat Penulis menjadi teman cerita yang buruk.</p>
<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain, sehingga memiliki ketakutan seandainya tidak lagi dipercaya oleh orang-orang terdekat untuk berbagi kisahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Januari 2020, terinspirasi dari diri sendiri</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@priscilladupreez?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Priscilla Du Preez</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/two-friends?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/">Teman Cerita yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Darah Indonesia dan Nasionalisme</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2019 01:14:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Agnez Mo]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (bahkan mungkin hingga sekarang) netizen sedang meributkan pernyataan Agnes Monica atau Agnez Mo dalam sebuah wawancara. Dari sebuah potongan video, terlihat ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki darah Indonesia. Sontak hal tersebut membuat banyak netizen langsung menghakimi Agnez dengan menyebutnya sudah lupa dengan negaranya sendiri. Benarkah demikian? Klarifikasi Agnez Penulis bukan penggemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/">Darah Indonesia dan Nasionalisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (bahkan mungkin hingga sekarang) netizen sedang meributkan pernyataan <strong>Agnes Monica</strong> atau <strong>Agnez Mo</strong> dalam sebuah wawancara.</p>
<p>Dari sebuah potongan video, terlihat ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki darah Indonesia. Sontak hal tersebut membuat banyak netizen langsung menghakimi Agnez dengan menyebutnya sudah lupa dengan negaranya sendiri.</p>
<p>Benarkah demikian?</p>
<h3>Klarifikasi Agnez</h3>
<div id="attachment_3151" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3151" class="size-large wp-image-3151" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3151" class="wp-caption-text">Wawancara Agnez (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.tagar.id/agnez-mo-kenapa-tidak-potong-dan-edit-bagian-ini" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjV38vG4ZXmAhVOaCsKHe61BUkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Tagar</span></a>)</p></div>
<p>Penulis bukan penggemar ataupun pembenci Agnez. Biasa saja. Penulis juga tidak pernah mendengarkan lagu-lagunya. Paling dulu sempat nonton Agnez main sinetron <em>Pernikahan Dini</em> bareng Sahrul Gunawan.</p>
<p>Seingat penulis, Agnez sudah sejak dulu mencanangkan impian untuk <em>go international</em>. Dulu banyak sekali yang mencibir dan mengatakan itu hal yang mustahil. <em>But she did it</em> dan orang-orang yang meremehkannya pun pura-pura tak melihat.</p>
<p>Kasus darah Indonesia ini menarik perhatian penulis karena menyangkut masalah nasionalisme. Banyak orang yang meyerang Agnez dan mungkin merasa lebih nasionalis, mulai dari <em>public figure,</em> politisi, hingga sesama kalangan artis.</p>
<p>Diksi <strong>darah Indonesia</strong> sendiri bisa menjadi perdebatan tersendiri. Apa yang dimaksud dengan darah Indonesia? Bisa garis keturunan dan DNA, bisa dianggap sebagai kebangsaan, dan lain sebagainya. Tergantung persepsi masing-masing.</p>
<p>Karena tak ingin gegabah mengambil sikap, penulis pun memutuskan untuk menonton video klarifikasinya di kanal YouTube Deddy Corbuzier dan video lengkap wawancaranya.</p>
<p>Penulis paham bahwa mengapa Agnez mengatakan tidak punya darah Indonesia adalah karena pertanyaan yang diajukan kepadanya: mengapa ia terlihat berbeda dari orang Indonesia kebanyakan secara fisik.</p>
<p>Agnez pun lantas menjelaskan bahwa dirinya memiliki darah Jerman, China, dan Jepang secara genetika. Bagian inilah yang dipotong lantas menjadi viral.</p>
<p>Padahal kalau kita melihat wawancaranya secara utuh, kita bisa mendengar kalau Agnez sudah menjelaskan tentang Indonesia panjang lebar, termasuk tentang keberagamannya. Sang penanya juga sudah mengetahui kalau Agnez berasal dari Indonesia.</p>
<p>Ia juga menyebutkan bahwa dirinya adalah minoritas (perempuan, kristen, keturunan), tapi mampu diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Itulah poin yang ingin ia tekankan.</p>
<h3>Nasionalisme?</h3>
<div id="attachment_3150" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3150" class="size-large wp-image-3150" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3150" class="wp-caption-text">Nasionalisme? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.donisetyawan.com/teori-nasionalisme/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiAuOud45XmAhVMWX0KHceOBxsQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Donisaurus</span></a>)</p></div>
<p>Dalam video klarifikasinya, ia juga mengatakan bahwa dirinya sudah sering ditawari untuk mendapatkan <em>green card </em>di Amerika Serikat. Namun Agnez menolaknya dan lebih memilih untuk menggunakan visa kerja.</p>
<p>Agnez tak pernah malu mengakui kepada dunia bahwa dirinya berasal dari Indonesia. Di video-video klipnya, meskipun penulis jarang melihatnya, ia juga menyisipkan kebudayaan Indonesia.</p>
<p>Penulis tidak mempertanyakan nasionalisme Agnez. Ia sudah membawa nama Indonesia ke kancah internasional, dan menurut penulis itu termasuk bentuk nasionalisme yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang.</p>
<p>Pertanyaannya, <em>seberapa besar rasa nasionalisme yang dimiliki oleh penghujat Agnez kemarin? </em>Atau kita sederhanakan pertanyaannya, <em>apa yang sudah kita lakukan demi membanggakan nama Indonesia?</em></p>
<p>Dalam KBBI, nasionalisme memiliki arti <em>paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan. </em>Nah, apakah cinta merupakan sesuatu yang bisa diukur?</p>
<p>Nasionalisme adalah sesuatu yang tidak ada tolak ukur pastinya. Lantas, mengapa kita dengan mudahnya menuduh orang lain tidak nasionalis hanya karena beberapa patah kalimat?</p>
<p>Kita ini terkadang disibukkan dengan mencibir dan <em>nyinyirin </em>orang lain hingga lupa dengan dirinya sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Bahkan setelah segala bentuk klarifikasi dari Agnez keluar, ada saja yang tetap meragukan nasionalisme Agnez. Ya sudah, itu hak mereka untuk terus <em>nyinyirin </em>orang lain.</p>
<p>Bagaimana kalau ternyata Agnez punya darah Indonesia secara genetika dan menutup-nutupinya? Tentu itu menjadi beda cerita. Tapi karena tidak kenal dengan keluarga Agnez, penulis memilih untuk percaya dengan kata-kata Agnez.</p>
<p>Penulis sendiri merasa dirinya belum melakukan sesuatu yang berarti untuk bangsa ini. Penulis juga tidak pernah merasa dirinya nasionalis.</p>
<p>Akan tetapi, penulis berusaha untuk mencintai bangsa ini dari sisi baik dan buruknya. Penulis lahir dan besar di sini, jadi sudah sepatutnya penulis mencintai Indonesia dan menumbuhkan rasa nasionalisme secara bertahap.</p>
<p>Dari kasus Agnez ini penulis belajar bahwa kita tidak boleh menghakimi orang lain dengan mudahnya, apalagi hanya bermodalkan potongan video ataupun kalimat di media sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Desember 2019, terinspirasi dari kehebohan Agnez Mo dan darah Indonesia</p>
<p>Foto: <a href="https://www.tagar.id/denny-siregar-sebut-agnes-mo-kacang-lupa-kulit">Tagar</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/">Darah Indonesia dan Nasionalisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
