<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>merasa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/merasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/merasa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2021 14:39:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>merasa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/merasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Padahal Sudah Berjuang</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2021 14:43:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4401</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padahal aku sudah banyak berjuang demi dirimu. Tapi kenapa seolah kau tak bisa (atau tak mau?) menghargai perjuangan tersebut? Kau seolah menutup mata atas apa banyak hal yang sudah kupersembahkan untukmu. Kau seolah menutup telinga dari suara nuranimu sendiri. Kau seolah menutup mulut untuk menahan diri agar tidak mengumpat. Setiap pagi kukirim pesan penyemangat, semoga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/">Padahal Sudah Berjuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Padahal aku <strong>sudah banyak berjuang</strong> demi dirimu. Tapi kenapa seolah kau tak bisa (atau tak mau?) <strong>menghargai perjuangan</strong> tersebut?</p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup mata</strong> atas apa banyak hal yang sudah kupersembahkan untukmu.</p></p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup telinga</strong> dari suara nuranimu sendiri.</p></p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup mulut</strong> untuk menahan diri agar tidak mengumpat.</p></p>



<p><p>Setiap pagi kukirim pesan penyemangat, <strong>semoga harimu berjalan dengan baik</strong> dan menyenangkan.</p></p>



<p><p>Setiap malam <strong>kudoakan agar mimpimu indah </strong>karena tubuhmu berhak istirahat setelah berpeluh seharian.</p></p>



<p><p>Tapi, perjuanganku jauh <strong>lebih dari sekadar ucapan manis </strong>seperti itu. </p></p>



<p><p>Bagiku, itu hanya sekadar bumbu dengan harapan bisa membuatmu merasa lebih baik. Walau kutahu, kau tak pernah membutuhkannya.</p></p>



<p><p>Selalu kuulurkan tangan ketika <strong>kau membutuhkan bantuan</strong>. Namamu selalu ada di <strong>posisi teratas dalam daftar prioritasku</strong>.</p></p>



<p><p>Namun mengapa <strong>kau selalu hilang</strong> ketika aku membutuhkan hadirmu? Ke mana perginya kau saat aku sedang kesusahan?</p></p>



<p><p>Ribuan kilo rela kutempuh. Kudaki gunung, kuturuni lembang, kuseberangi sungai, kurenangi lautan.</p></p>



<p><p>Semua akan rela kulakukan <strong>hanya demi melihat senyum manis</strong> yang menghiasi wajahmu.</p></p>



<p><p>Namun mengapa kau justru <strong>memanglingkan wajahmu</strong> seolah sedang melihat wabah yang menular?</p></p>



<p><p>Mengapa kau <strong>enggan melihat wajahku</strong> seolah aku memiliki paras yang begitu buruknya hingga membuat perutmu mual?</p></p>



<p><p>Kutuliskan puisi terindah, kunyanyikan lagu termerdu, kulukiskan keindahanmu yang paripurna.</p></p>



<p><p>Apapun kulakukan demi membuatmu merasa <strong>kau lah yang paling sempurna</strong> di muka bumi ini.</p></p>



<p>Tapi apa balasannya? Kau <strong>injak-injak harga diriku</strong> sampai tak bersisa. Sambil mengumpat <strong>kau ludahi aku</strong> tepat di wajah. <strong>Sumpah serapah begitu bising</strong> di telingaku hingga rasanya tak tahan.</p>



<p><strong>Semua perhatian kucurahkan kepadamu</strong>. Bahkan ke orangtuaku sendiri tak pernah aku sepeduli itu. Tak ada satu detik pun terlewat tanpa berhenti memikirkanmu.</p>



<p><p>Sayangnya, kau sudah muak dengan <strong>banyaknya perhatian yang kau dapatkan</strong>, perhatian dari orang-orang yang sama sekali tak menarik minatmu.</p></p>



<p><p>Kau tidak pernah memintanya, sehingga <strong>tidak pernah merasa bersalah</strong> jika tidak membalasnya.</p></p>



<p><strong>Aku sudah banyak berjuang demi dirimu, namun kau sama sekali tidak peduli.</strong></p>



<p><h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p><p>Beberapa kalimat di atas merupakan gambaran tentang perasaan seseorang yang sudah <strong>merasa banyak berjuang</strong> banyak demi orang yang ia cintai.</p></p>



<p><p>Jelas ada dramatisasi agar pesannya bisa lebih sampai, tapi kurang lebih seperti itulah perasaan orang yang merasa sudah berkorban.</p></p>



<p>Penulis selalu mengingat tulisan Sujiwo Tejo di bukunya yang berjudul Talijiwo:</p>



<p><blockquote><p><em>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”</em></p></blockquote></p>



<p><p>Perasaan cinta yang sejati <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/"><strong>tidak akan pernah merasa dirinya pernah berkorban</strong></a>, seperti cinta orangtua kepada anaknya.</p></p>



<p><span style="font-size: 1.1rem;">Pada umumnya, orangtua akan tulus memberikan yang terbaik untuk anaknya tanpa berharap imbalan apa-apa. Asal anaknya bahagia, itu sudah cukup.</span> <h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p>Merasa berkorban banyak demi orang yang dicintai mungkin telah dianggap hal yang manusiawi. Hanya saja, menurut Penulis, hal tersebut kurang baik bagi kedua belah pihak.</p>



<p><p>Bagi yang merasa berkorban, hal ini menunjukkan bahwa tingkat cintanya masih, maaf, <strong>ecek-ecek</strong>.</p></p>



<p><p>Tingkat cintanya masih rendah karena <strong>berharap balasan dan merasa sudah melakukan banyak hal</strong>.</p><span style="font-size: 1.1rem;">Bahkan cintanya patut untuk dipertanyakan, jangan-jangan </span><strong style="font-size: 1.1rem;">hanya nafsu atau obsesi</strong><span style="font-size: 1.1rem;"> belaka.</span></p>



<p><p>Bagi yang pihak satunya, bisa saja <strong>menimbulkan perasaan tidak enak atau bersalah</strong>.</p></p>



<p><p>Kalau mereka bisa cuek sih enak, tak peduli dengan perasaan orang lain walau akan membuat mereka dilabeli sebagai orang yang tidak berperasaan.</p></p>



<p><p>Kalau yang enggak enakan? Pasti jadi beban pikiran.</p> <h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p>Cinta t<strong>ak akan pernah bisa dipaksakan</strong>. Mau ada orang yang berjuang sambil salto dan kayang, kalau tidak ada perasaan dan keinginan untuk membalas perasaan itu, ya tidak bisa walau ada yang bilang cinta datang karena terbiasa.</p>



<p><p>Bagi Penulis, <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-itu-cinta/">tingkat cinta yang paling tinggi</a> adalah ketika <strong>kita bisa mencintai tanpa berharap apa-apa</strong>.</p></p>



<p><p>Hanya memberi, tak harap kembali, karena cinta memang tidak harus memiliki (walaupun alhamdulillah kalau sampai bisa memiliki).</p></p>



<p><p>Melihat ia bahagia, kita ikut bahagia. Melihat ia tersenyum, kita ikut tersenyum. Meskipun ia begitu karena orang lain, tidak apa-apa, tidak masalah.</p></p>



<p><p>Kita bisa menguasai diri karena tingkat cinta kita sudah level dewa. Memang utopis dan nampaknya sudah dilakukan karena kita semua hanya manusia biasa.</p></p>



<p><p>Jika pun memang tidak bisa mencapai tingkat tersebut, setidaknya <strong>janganlah merasa diri ini yang sudah paling berkorban demi dirinya</strong>.</p></p>



<p><p>Merasa seperti itu hanya akan menambah luka di dalam hati. Cukup lakukan yang terbaik dan lupakan, tak perlu diungkit-ungkit lagi di masa depan.</p></p>



<p>Kalau memang sudah memutuskan untuk jatuh cinta, <strong>bersiaplah untuk jatuhnya saja</strong> jika cintanya tak berbalas. Seperti kata Cut Pat Kai:</p>



<p><blockquote><p>Begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir&#8230;<span style="font-size: 17.6px;"> </span></p></blockquote></p>



<p>&nbsp;</p>



<p>NB: Sumpah ini bukan curhatan, cuma random saja kepikiran topik ini</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 15 Februari 2020, tidak terinspirasi apa-apa, karena ingin mengisi kategori ini saja</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Priscilla Du Preez</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/">Padahal Sudah Berjuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2018 11:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[perdebatan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1741</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain.</p>
<p>Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan yang memilih untuk bertahan di jalannya kerap terjadi di media sosial.</p>
<p>Yang berhijrah sering mengampanyekan diri agar bagi mereka yang ingin berhijrah ikut bersama mereka. Yang belum berhijrah sering menyoroti poin-poin yang dikampanyekan yang sudah berhijrah.</p>
<p>Tentu ada orang-orang dari kedua kelompok tersebut yang tidak memaksakan keyakinan mereka dan menghargai pilihan masing-masing individu. Tapi ada pula yang terlihat <em>ngotot </em>memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.</p>
<p>Ambil contoh, pernikahan di usia dini. Tentu yang berhijrah mengajak para kawula muda untuk menyegerakan pernikahan demi menghindari perzinaan. Yang belum berhijrah, memberikan argumentasi tentang resiko-resiko dari pernikahan muda.</p>
<p>Nah, yang berbahaya adalah jika timbul rasa <strong>merasa lebih baik </strong>dari orang lain setelah mengambil pilihan tersebut.</p>
<p>Yang telah berhijrah merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada yang belum. Yang belum berhijrah juga merasa dirinya lebih baik sambil tertawa sinis melihat tingkah pola orang-orang yang mengaku telah berhijrah yang dirasa berlebihan.</p>
<p>Seharusnya, kita harus bisa berbuat kebaikan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">merasa diri lebih baik dari orang lain</a>. Yang memilih telah berhijrah, <em>alhamdulillah</em>. Jangan sampai merasa lebih hebat dari yang belum, sembari mengajak secara halus kawan-kawannya untuk ikut berhijrah.</p>
<p>Untuk yang belum, ya minimal jangan <em>nyinyirin </em>mereka. Apa yang mereka sampaikan di berbagai wadah merupakan perintah agama, walaupun mungkin ada yang cara penyampiannya kurang elok. Cobalah mulai mendalami agama agar pikiran kita tidak terlalu sekuler.</p>
<p>Dengan mengurangi rasa tinggi hati yang ada di dalam diri dan tidak merasa diri paling benar, niscaya kita bisa lebih saling menghargai sebuah perbedaan, sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih tenang dan nyaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 November 2018, terinspirasi dari berbagai perbincangan antara yang sudah berhijrah dan yang belum</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/RMMWgYdtaEc?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Alex Mihai</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
