Merasa Lebih Baik

Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan yang memilih untuk bertahan di jalannya kerap terjadi di media sosial.

Yang berhijrah sering mengampanyekan diri agar bagi mereka yang ingin berhijrah ikut bersama mereka. Yang belum berhijrah sering menyoroti poin-poin yang dikampanyekan yang sudah berhijrah.

Tentu ada orang-orang dari kedua kelompok tersebut yang tidak memaksakan keyakinan mereka dan menghargai pilihan masing-masing individu. Tapi ada pula yang terlihat ngotot memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.

Ambil contoh, pernikahan di usia dini. Tentu yang berhijrah mengajak para kawula muda untuk menyegerakan pernikahan demi menghindari perzinaan. Yang belum berhijrah, memberikan argumentasi tentang resiko-resiko dari pernikahan muda.

Nah, yang berbahaya adalah jika timbul rasa merasa lebih baik dari orang lain setelah mengambil pilihan tersebut.

Yang telah berhijrah merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada yang belum. Yang belum berhijrah juga merasa dirinya lebih baik sambil tertawa sinis melihat tingkah pola orang-orang yang mengaku telah berhijrah yang dirasa berlebihan.

Seharusnya, kita harus bisa berbuat kebaikan tanpa perlu merasa diri lebih baik dari orang lain. Yang memilih telah berhijrah, alhamdulillah. Jangan sampai merasa lebih hebat dari yang belum, sembari mengajak secara halus kawan-kawannya untuk ikut berhijrah.

Untuk yang belum, ya minimal jangan nyinyirin mereka. Apa yang mereka sampaikan di berbagai wadah merupakan perintah agama, walaupun mungkin ada yang cara penyampiannya kurang elok. Cobalah mulai mendalami agama agar pikiran kita tidak terlalu sekuler.

Dengan mengurangi rasa tinggi hati yang ada di dalam diri dan tidak merasa diri paling benar, niscaya kita bisa lebih saling menghargai sebuah perbedaan, sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih tenang dan nyaman.

 

 

Kebayoran Lama, 25 November 2018, terinspirasi dari berbagai perbincangan antara yang sudah berhijrah dan yang belum

Photo by Alex Mihai on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.