<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>milik Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/milik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/milik/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:49:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>milik Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/milik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Ini Tukang Sambat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 15:36:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[sambat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif. Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya. Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif.</p>
<p>Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. Contoh:</p>
<p><em>&#8220;Duh kok kangen sama rumah, ya?&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apa </em>resign <em>dari sini terus cari kerja di dekat rumah aja, ya?&#8221; </em>berkembang menjadi <em>&#8220;Tapi nanti pasti gajinya turun, enggak sebesar sekarang!&#8221;</em></p>
<p>Lamunan tersebut masih berlanjut menjadi <em>&#8220;Lagipula di sana industri kreatif masih dikit.&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apalagi skill-ku cuma nulis, dasar aku enggak bodoh dan enggak guna!&#8221; </em>dan terakhir menjadi <em>&#8220;Aku </em>insecure<em> sama masa depanku!!!&#8221;</em></p>
<p>Cuma contoh, kok. Cuma contoh. Contoh bagaimana penulis sering <em>overthinked</em>.</p>
<h3>Manusia dan Sambatnya</h3>
<p>Manusia dan sambat memang susah untuk berpisah. Ada saja kejadian yang akan memicu munculnya sambat dari bibir atau minimal <em>nggerundel </em>di hati.</p>
<p>Sambat itu sangat manusiawi karena keterbatasan yang kita miliki. Mengeluh itu wajar karena kita bukan nabi yang sempurna dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">bisa menerima segala hal dengan positif</a>.</p>
<p>Apalagi, sambat juga bisa dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, kita akan mencari teman yang senasib dan saling menumpahkan sambat satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, terlalu sering sambat juga tidak baik untuk kita. Hidup kita akan tidak pernah tenang dan gelisah selalu menemani hari-hari kita.</p>
<p>Terlalu banyak sambat juga menandakan kita kurang bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seolah kita lupa memiliki Tuhan yang sudah menganugerahkan banyak hal ke kita.</p>
<h3>Hanya Melihat yang Lebih Baik</h3>
<div id="attachment_2949" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2949" class="size-large wp-image-2949" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2949" class="wp-caption-text">Stephen Hawking (<a href="https://www.telegraph.co.uk/science/2018/03/19/wrong-theory-stephen-hawking-may-have-suffering-polio/">Telegraph</a>)</p></div>
<p>Sambat sering kali datang dari sikap kita yang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan diri dengan mereka yang sudah bergaji puluhan juta rupiah, yang sudah momong anak, yang sudah ke luar negeri, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan membandingkan diri seperti itu, kita pun akan merasa kurang, kurang, dan kurang. Apalagi, kita hidup di era materialisme yang semuanya ditakar dengan benda fisik.</p>
<p>Kita melupakan apa yang telah kita miliki karena terlalu berfokus dengan apa yang belum dimiliki. Karena selalu &#8220;mendongak ke atas&#8221;, kita cenderung melupakan orang lain yang tidak seberuntung kita.</p>
<p>Penulis terinspirasi menulis topik ini karena salah satu teman penulis yang (maaf) fisiknya kurang sempurna meninggalkan komentar di Instagram <em>Whathefan</em>.</p>
<p>Inti dari komentarnya adalah membandingkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">depresi yang dialami Sulli</a> sebenarnya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki banyak kekurangan fisik seperti Beethoven, Helen Keller, hingga <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking</a>.</p>
<p>Lanjutnya, seharusnya Sulli dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya bisa lebih bersyukur dan mengingat apa yang ia miliki di dunia ini. Pembaca boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat ini.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis berpikir, apa yang sering penulis keluhkan selama ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan permasalahan teman-teman yang mengalami disabilitas.</p>
<p>Penulis merasa bahwa selama ini sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Penulis sering lupa untuk merasa bersyukur telah diberikan banyak sekali oleh Yang Maha Kuasa. Untunglah, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mengingatkan penulis.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sesekali sambat itu boleh saja. Toh, terkadang setelah sambat kita merasa lebih baik. Yang tidak boleh itu sambat berlebihan hingga melupakan apa saja yang telah kita miliki.</p>
<p>Jika merasa kita mulai sambat berlebihan, coba tutup mata dan bayangkan apa saja yang kita miliki. Keluarga, cinta, persahabatan, tabungan, kerja yang nyaman, apapun yang terlintas di kepala kita.</p>
<p>Hidup dengan penuh syukur itu dijamin lebih enak dibandingkan dengan hidup penuh sambat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi dari sebuah komentar sederhana dari salah satu teman hebat penulis.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@icons8">Icons8 team</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Milikmu Bukanlah Milikmu</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2018 14:47:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[arogan]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[tahta]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=871</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bukan, judul di atas bukanlah judul FTV yang disiarkan televisi swasta. Itu adalah judul tulisan penulis kali ini, yang ingin mengajak kita semua merenungi makna kepemilikan, atau dalam bahasa Inggris disebut possession. Rasa memiliki merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesombongan pada diri seseorang. Ia merasa bahwa dengan memiliki sesuatu tersebut, ia memiliki derajat yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/">Milikmu Bukanlah Milikmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan, judul di atas bukanlah judul FTV yang disiarkan televisi swasta. Itu adalah judul tulisan penulis kali ini, yang ingin mengajak kita semua merenungi makna kepemilikan, atau dalam bahasa Inggris disebut <em>possession</em>.</p>
<p>Rasa memiliki merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesombongan pada diri seseorang. Ia merasa bahwa dengan memiliki sesuatu tersebut, ia memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang lain.</p>
<p>Sebagai contoh, terdapat orang yang dianugerahi kemampuan otak yang cemerlang. Dengan kemampuannya tersebut, ia cenderung menganggap orang lain bodoh dan hanya menghalangi jalannya untuk mendapatkan ilmunya. Ia merasa bahwa kepandaiannya adalah miliknya seorang dan tercipta karena usahanya seorang.</p>
<p>&#8211;<em>Itulah yang ada di benak Leon, karakter utama pada novel penulis (<a href="http://whathefan.com/category/kenji/">http://whathefan.com/category/kenji/</a>) yang dituliskan sebagai karakter yang arogan dan selalu membanggakan kemapuan nalar berpikirnya (sekali-kali numpang iklan novel sendiri enggak masalah kan 🙂</em>&#8211;</p>
<p>Contoh lain, orang yang memiliki harta melimpah hingga bingung ingin menghabiskannya untuk apa. Ia selalu membeli barang-barang yang <em>branded</em>, gemar berkeliling dunia hanya untuk dipamerkan, serta memandang rendah orang yang ia anggap tidak selevel dengan dirinya. Ia merasa harta yang dimilikinya adalah miliknya seorang dan diraih berkat kerja kerasnya seorang (atau kerja keras orangtuanya?).</p>
<p>Terakhir, seseorang yang memiliki pacar dengan paras yang cantik menawan. Ia pasang foto profil pacarnya seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang beruntung karena dapat merebut hatinya. Ia pamer kemesraan di media sosial, seolah ingin meledek kaum jomblo yang hanya bisa memeluk lutut di sudut ruang ketika malam minggu. Ia merasa pacar yang dimilikinya hanya miliknya seorang, sehingga tidak boleh ada orang lain yang boleh mendekatinya.</p>
<p><strong>Padahal, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semua hanya titipan-Nya, mulai dari tubuh, harta, hingga sanak keluarga. Sebagai orang yang dipinjami, tentu kita tidak boleh merasa memiliki barang yang dipinjamkan tersebut.</strong></p>
<p>Lebih parah lagi apabila kita menjadi angkuh karena pinjaman tersebut. Sebagai analogi, bayangkan ada seseorang yang sedang memamerkan Porsche kepada kawan-kawannya. Sudah berbicara panjang lebar, datanglah pemilik mobil yang sebenarnya. Tentu, ia akan malu bukan kepalang dan kawan-kawannya juga akan kehilangan <em>respect</em>.</p>
<p>Tentu kita tidak ingin kehilangan muka ketika mempertanggungjawabkan apa-apa saja yang dipinjamkan Tuhan kepada kita. Dipinjamkan kepandaian pikiran, digunakan untuk merakit bom. Dipinjamkan paras wajah menawan, digunakan untuk menjual diri. Dipinjamkan istri yang baik hati, malah selingkuh.</p>
<p>Bijaklah dalam menggunakan apa-apa saja yang dipinjamkan oleh Tuhan kepada kita, jangan sampai mengecewakan-Nya. Sesungguhnya, milikmu bukanlah milikmu, ia hanya titipan semata selama kita hidup di dunia yang hanya sejenak ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Batu, 12 Juni 2018, terinspirasi oleh ceramah Aa Gym di salah satu stasiun televisi.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://timeluxuryservices.com/pages/Our+Fleet/26">https://timeluxuryservices.com/pages/Our+Fleet/26</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/">Milikmu Bukanlah Milikmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
