Milikmu Bukanlah Milikmu

Bukan, judul di atas bukanlah judul FTV yang disiarkan televisi swasta. Itu adalah judul tulisan penulis kali ini, yang ingin mengajak kita semua merenungi makna kepemilikan, atau dalam bahasa Inggris disebut possession.

Rasa memiliki merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesombongan pada diri seseorang. Ia merasa bahwa dengan memiliki sesuatu tersebut, ia memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang lain.

Sebagai contoh, terdapat orang yang dianugerahi kemampuan otak yang cemerlang. Dengan kemampuannya tersebut, ia cenderung menganggap orang lain bodoh dan hanya menghalangi jalannya untuk mendapatkan ilmunya. Ia merasa bahwa kepandaiannya adalah miliknya seorang dan tercipta karena usahanya seorang.

Itulah yang ada di benak Leon, karakter utama pada novel penulis (https://whathefan.com/category/kenji/) yang dituliskan sebagai karakter yang arogan dan selalu membanggakan kemapuan nalar berpikirnya (sekali-kali numpang iklan novel sendiri enggak masalah kan 🙂

Contoh lain, orang yang memiliki harta melimpah hingga bingung ingin menghabiskannya untuk apa. Ia selalu membeli barang-barang yang branded, gemar berkeliling dunia hanya untuk dipamerkan, serta memandang rendah orang yang ia anggap tidak selevel dengan dirinya. Ia merasa harta yang dimilikinya adalah miliknya seorang dan diraih berkat kerja kerasnya seorang (atau kerja keras orangtuanya?).

Terakhir, seseorang yang memiliki pacar dengan paras yang cantik menawan. Ia pasang foto profil pacarnya seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang beruntung karena dapat merebut hatinya. Ia pamer kemesraan di media sosial, seolah ingin meledek kaum jomblo yang hanya bisa memeluk lutut di sudut ruang ketika malam minggu. Ia merasa pacar yang dimilikinya hanya miliknya seorang, sehingga tidak boleh ada orang lain yang boleh mendekatinya.

Padahal, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semua hanya titipan-Nya, mulai dari tubuh, harta, hingga sanak keluarga. Sebagai orang yang dipinjami, tentu kita tidak boleh merasa memiliki barang yang dipinjamkan tersebut.

Lebih parah lagi apabila kita menjadi angkuh karena pinjaman tersebut. Sebagai analogi, bayangkan ada seseorang yang sedang memamerkan Porsche kepada kawan-kawannya. Sudah berbicara panjang lebar, datanglah pemilik mobil yang sebenarnya. Tentu, ia akan malu bukan kepalang dan kawan-kawannya juga akan kehilangan respect.

Tentu kita tidak ingin kehilangan muka ketika mempertanggungjawabkan apa-apa saja yang dipinjamkan Tuhan kepada kita. Dipinjamkan kepandaian pikiran, digunakan untuk merakit bom. Dipinjamkan paras wajah menawan, digunakan untuk menjual diri. Dipinjamkan istri yang baik hati, malah selingkuh.

Bijaklah dalam menggunakan apa-apa saja yang dipinjamkan oleh Tuhan kepada kita, jangan sampai mengecewakan-Nya. Sesungguhnya, milikmu bukanlah milikmu, ia hanya titipan semata selama kita hidup di dunia yang hanya sejenak ini.

 

 

Batu, 12 Juni 2018, terinspirasi oleh ceramah Aa Gym di salah satu stasiun televisi.

Sumber Foto: https://timeluxuryservices.com/pages/Our+Fleet/26

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.