<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mood Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/mood/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/mood/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Apr 2023 14:12:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>mood Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/mood/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Apr 2023 15:11:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5652</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari kalau secara kuantitas, jumlah artikel yang bisa diproduksi untuk blog ini semakin berkurang. Apakah karena Penulis sekarang lebih mengutamakan kualitas? Tidak juga. Hal ini Penulis sadari ketika membuat daftar berapa jumlah artikel yang diproduksi setiap bulannya. Sebagai contoh, di tahun 2022 kemarin Penulis hanya bisa membuat 91 tulisan, di mana ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari kalau secara kuantitas, jumlah artikel yang bisa diproduksi untuk blog ini semakin berkurang. Apakah karena Penulis sekarang lebih mengutamakan kualitas? Tidak juga.</p>



<p>Hal ini Penulis sadari ketika membuat daftar berapa jumlah artikel yang diproduksi setiap bulannya. Sebagai contoh, di tahun 2022 kemarin Penulis hanya bisa membuat <strong>91 tulisan</strong>, di mana ada bulan Penulis hanya menulis dua artikel saja.</p>



<p>Sebagai perbandingan, di tahun 2021 Penulis bisa menghasilkan 131 tulisan. Jika ditarik makin ke belakang, maka jumlahnya akan makin banyak: 2020 &#8211; 141 tulisan, 2019 &#8211; 191 tulisan, 2018 &#8211; 299 tulisan.</p>





<p>Di awal tahun, <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">Penulis bertekad untuk memperbaiki hal ini dan kembali menulis rutin</a>. Hasilnya, semangat tersebut hanya bertahan 5 hari saja, sehingga Penulis hanya bisa menghasilkan 11 tulisan di bulan Januari tahun ini.</p>



<p>Di bulan Februari, hasilnya lebih parah karena Penulis hanya menghasilkan 2 tulisan, di mana &#8220;tren&#8221; ini berlanjut ke bulan Maret dengan hanya 7 tulisan. Artinya, dalam waktu 3 bulan, Penulis hanya bisa menghasilkan 20 tulisan.</p>



<p>Jika dibuat rata-rata, maka Penulis menulis sekitar 4,5 hari sekali. Tentu ini menjadi salah satu hal yang mengganggu pikirannya, mengapa cukup sulit untuk bisa konsisten dalam membuat tulisan, sesuatu yang dulu bisa dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Makin Jarang Menulis Blog?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6443" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Malas Menjadi Musuh Utama (<a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-melankolis-menonton-video-di-laptop-di-rumah-3808012/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah karena kesibukan pekerjaan? Tidak juga, dulu di awal-awal blog ini ada, Penulis juga sudah bekerja dan seolah selalu punya waktu untuk menulis blog. Hal ini pun mendorong Penulis untuk melakukan interopeksi diri.</p>



<p>Penulis pun muncul dengan dua kesimpulan, yaitu <strong>malas</strong> dan <strong>jenuh</strong>. Rasanya kedua hal tersebut yang menjadi faktor utama mengapa Penulis menjadi semakin jarang menulis di blog ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Alasan Nomor 1: Malas</h3>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/"><strong>Malas</strong> adalah musuh besar Penulis</a>, dan tak jarang menjadi penghambat Penulis untuk bisa produktif seharian. Jika melihat <em>pattern </em>tanggal tayang artikel di tahun 2023, sebenarnya Penulis beberapa kali berusaha &#8220;bangkit&#8221; dan menulis secara konsisten.</p>



<p>Namun, memang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">menjaga konsistensi tersebut sangat sulit</a>. Ada saja godaan dan alasan untuk mulai menulis, entah dari <em>game</em>, media sosial, YouTube, dan alasan &#8220;sudah capek&#8221;. Padahal, aktivitas menulis blog bisa dilakukan sambil berbaring dan tidak butuh waktu banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis terkadang juga ingin menulis sesuatu yang membutuhkan riset yang cukup banyak. Jujur saja, membayangkan harus melakukan riset kerap menjadi alasan mengapa Penulis merasa malas untuk mulai menulis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alasan Nomor 2: Jenuh</h3>



<p>Alasan kedua adalah <strong>jenuh</strong>. Sebagai orang yang berkutat di bidang media, menulis dan mengetik adalah rutinitas harian yang wajib dilakukan, bahkan di saat <em>weekend </em>ketika seharusnya digunakan untuk bersantai dan beristirahat.</p>



<p>Menulis blog, yang dulu menjadi hobi, seakan telah berubah menjadi sebuah kewajiban yang pada akhirnya menimbulkan perasaan malas. Penulis menyadari hal ini, apalagi Penulis berambisi untuk bisa menulis setidaknya satu artikel setiap hari.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merupakan orang yang <em>moody</em>. Penulis mudah saja mengikuti <em>mood </em>yang kerap menjadi pembenaran untuk tidak menulis blog. Padahal, Penulis sudah sengaja membeli tablet agar aktivitas menulis blog bisa lebih fleksibel dan bisa di mana saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Bagaimana Caranya agar Bisa Menjadi Lebih Sering Menulis Blog?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6444" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Harus Semangat untuk Rajin Nulis Lagi (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@buro-millennial-636760/">Buro Millennial</a>)</figcaption></figure>



<p>Menyadari permasalahan ini, Penulis tentu berusaha mencari solusinya agar aktivitas menulis blog bisa kembali menjadi kegiatan yang menyenangkan. Beberapa cara sudah berusaha Penulis lakukan, bagaimana hasilnya harus dilihat beberapa waktu ke depan.</p>



<p>Pertama, tentu Penulis harus <strong>mencari topik-topik yang menyenangkan untuk ditulis</strong>. Ketika menulis sesuatu yang membuat bersemangat, tentu kita tidak akan menunda-nundanya. </p>



<p>Untuk itu, Penulis akan mencoba mencari topik-topik ringan untuk ditulis ketika <em>weekday</em>. Kalau yang agak berat dan butuh riset panjang, biar ditulis ketika <em>weekend </em>karena waktunya cukup panjang.</p>



<p>Jika diperhatikan, akhir-akhir ini Penulis memang lebih sering menulis artikel-artikel yang tergolong ke kategori &#8220;Ruang Pinggir&#8221;, kategori yang memang Penulis gunakan untuk mewadahi hal-hal yang bersifat remeh, karena memang lebih mudah membuatnya.</p>



<p>Selanjutnya adalah berusaha untuk <strong>menjaga konsistensi dalam hidup produktif</strong>. Penulis sudah banyak membaca buku dan menonton video tentang produktivitas, tetapi efeknya jarang bisa bertahan lama. </p>



<p>Namun, setidaknya Penulis akan terus berusaha bangkit setiap kali gagal menjaga konsistensinya. Kadang butuh satu minggu, kadang butuh berbulan-bulan. Penulis akan berusaha agar waktu yang dibutuhkan untuk bangkit tidak terlalu lama.</p>



<p>Hobi menulis Penulis telah menjadi sebuah pekerjaan, sehingga logikanya <strong>Penulis memang membutuhkan hobi baru</strong>. Karena membaca juga berdekatan dengan aktivitas ini, makanya Penulis beralih ke <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-saya-bagian-1/">hobi <em>board game</em></a><em> </em>dan mainan agar bisa mengatasi perasaan jenuh.</p>



<p>Tentu saja yang paling utama adalah <strong>niat </strong>untuk konsisten menulis blog. Jika sesekali tidak menulis karena ada kesibukan lain tentu tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika tidak menulis blog karena alasan malas, tidak <em>mood</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Blog ini, <a href="http://whathefan.com">whathefan.com</a>, telah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">memberikan banyak hal kepada Penulis</a>, termasuk kesempatan untuk memiliki karir yang dimilikinya sekarang. Oleh karena itu, Penulis akan terus berusaha menjaga blog ini, dengan terus berusaha menulis di dalamnya secara konsisten.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2023, terinspirasi setelah menyadari beberapa waktu terakhir semakin jarang menulis blog</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/a-tired-man-rubbing-his-eyes-while-sitting-in-front-of-his-laptop-5198264/">Tima Miroshnichenko</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 11:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bad mood]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Walau sudah menghapus banyak aplikasi media sosial di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit. Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan. Selain itu, Penulis juga kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Walau sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">menghapus banyak aplikasi media sosial</a> di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga kerap menemukan ide dari aplikasi ini. Salah satunya adalah kalimat yang Penulis jadikan judul pada tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup <em>moody</em>. Bahkan, <em>mood </em>bisa tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya. Tiba-tiba rasanya jadi murung dan merasa negatif begitu saja.</p>



<p>Masalahnya, <em>bad mood </em>ini bisa menimbulkan efek yang buruk tidak hanya bagi Penulis, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini karena Penulis menjadi orang yang lebih sensitif dari biasanya.</p>



<p>Karena <em>bad mood, </em>mulut Penulis rasanya bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan-ucapannya yang menusuk. Tidak hanya secara verbal, di <em>chat </em>pun Penulis akan menunjukkan hal yang sama.</p>



<p>Secara tidak langsung dan mungkin tidak sadar, Penulis telah <strong>menyakiti perasaan orang lain</strong> karena <em>bad mood </em>yang sedang dialami.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika sedang tenang seperti saat menulis artikel ini, Penulis menyadari sepenuhnya kalau hal tersebut salah. Mau seburuk apapun hari atau kejadian yang menimpa kita, seharusnya orang lain tidak boleh kena getahnya, terlebih orang-orang yang peduli dan perhatian dengan kita.</p>



<p>Hanya saja kalau sedang <em>bad mood</em>, Penulis kadang suka gelap mata dan tidak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Rasanya Penulis ingin melampiaskan buruknya <em>mood </em>ini ke orang lain tanpa memedulikan perasaan orang lain.</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis tentu ingin memperbaikinya. Tentu tidak mudah, tapi harus Penulis lakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti akibat perbuatan Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari yang pernah Penulis baca, salah satu cara mengatasi <em>bad mood </em>adalah dengan <strong>mengubah suasana hati</strong>. Cara yang paling sering Penulis lakukan adalah berjalan-jalan. Ketika di Jakarta, Penulis sering melakukan hal ini sekalian mengeksplorasi ibukota.</p>



<p>Bagaimana kalau kita <em>mager </em>keluar? Sebenarnya menjadi masalah lain, tapi tidak apa-apa. Jika memang malas keluar, coba cari perubahan suasana dengan <strong>menonton sesuatu yang menyebarkan energi positif</strong>.</p>



<p>Penulis sama sekali tidak merekomendasikan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Jika kita melarikan diri ke aplikasi adiktif seperti itu, yang ada kita malah merasa &#8220;bersalah&#8221; karena telah membuang-buang waktu.</p>



<p>Selain itu, cobalah untuk <strong>duduk sejenak dan menjernihkan pikiran</strong>. Coba jujur kepada diri sendiri, apa yang membuat <em>mood </em>kita berantakan. Jika memungkinkan, coba selesaikan akar permasalahan agar <em>mood </em>kita membaik.</p>



<p>Jika kesusahan menghadapinya sendiri, mengapa tidak kita coba untuk meminta bantuan kepada orang lain? Inilah salah satu masalah yang Penulis garis bawahi di tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena sedang <em>bad mood</em>, kita bisa saja justru menyakiti orang lain yang ingin kita mintai bantuan. Bisa karena solusi atau tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan ekspetasi kita, bisa kitanya saja yang memang kelewat sensitif.</p>



<p>Banyak yang mengatakan <strong>perasaan yang terlalu lama disimpan sendiri bisa menjadi racun untuk mental </strong>kita. Diri kita memiliki batasan, jangan sampai kita membuat diri kita menyimpan semuanya sendiri hingga wadah tersebut tidak lagi mampu menampungnya.</p>



<p>Akan tetapi, kita takut untuk menyakiti orang lain karena <em>mood </em>kita. Kok jadi dilema begini? Lalu mana yang harus dilakukan?</p>



<p>Menurut Penulis, coba saja kita minta bantuan orang lain sembari menahan diri untuk tidak bersikap kelewat batas. Mau seburuk apapun perasaan kita, coba untuk terus mengingat <strong>jangan sampai menyakiti perasaan orang lain</strong>.</p>



<p>Dengan adanya <em>mindset </em>seperti itu, kita pun (harusnya) bisa lebih mengontrol <em>mood </em>kita ketika bercerita ke orang lain. Mau tanggapan orang tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi sekalipun, kita tidak akan mudah terpancing untuk melampiaskan <em>bad mood </em>kita ke orang tersebut.</p>



<p>Selain itu, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman (selama bukan mereka yang menjadi sumber penyebab <em>bad mood</em>) juga bisa membantu kita mengubah suasana hati. Oleh karena itu, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Bad mood </em>memang salah satu sifat yang manusiawi. Rasanya semua orang pernah mengalami hal ini, baik dikarenakan masalah yang pelik maupun sepele.</p>



<p>Hanya saja, kalau <em>bad mood </em>tersebut memengaruhi kehidupan kita dan memberikan efek yang negatif kepada orang lain juga kurang baik. </p>



<p>Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki sikap kita menghadapi <em>bad mood </em>dengan beberapa cara yang sudah disebutkan di atas.</p>



<p>Enggak apa-apa <em>bad mood</em>, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Mei 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah <em>post </em>di Pinterest seperti yang tertera di judul</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://deepstash.com/idea/57892/handling-a-bad-mood">Deepstash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
