<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nostalgia Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/nostalgia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/nostalgia/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jul 2024 16:15:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>nostalgia Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/nostalgia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yu-Gi-Oh!: Komik, Duel Kartu, dan Nostalgianya</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/yu-gi-oh-komik-duel-kartu-dan-nostalgianya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/yu-gi-oh-komik-duel-kartu-dan-nostalgianya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2024 16:15:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[duel]]></category>
		<category><![CDATA[kartu]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[TCG]]></category>
		<category><![CDATA[Yu-Gi-Oh!]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7656</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, Penulis kerap menonton konten-konten Yu-Gi-Oh! di YouTube. Entah apa alasannya, mungkin karena ingin nostalgia saja karena sewaktu kecil gemar membaca (bahkan mengoleksi) komiknya. Penulis pun jadi membaca ulang komiknya, walau tidak semua. Kebetulan, ada beberapa koleksinya yang masih terselamatkan, walau kebanyakan sudah raib entah ke mana. Untuk volume yang hilang, Penulis membacanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/yu-gi-oh-komik-duel-kartu-dan-nostalgianya/">Yu-Gi-Oh!: Komik, Duel Kartu, dan Nostalgianya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa hari terakhir, Penulis kerap menonton konten-konten Yu-Gi-Oh! di YouTube. Entah apa alasannya, mungkin karena ingin nostalgia saja karena sewaktu kecil gemar membaca <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">(bahkan mengoleksi) komiknya</a>. </p>



<p>Penulis pun jadi membaca ulang komiknya, walau tidak semua. Kebetulan, ada beberapa koleksinya yang masih terselamatkan, walau kebanyakan sudah raib entah ke mana. Untuk volume yang hilang, Penulis membacanya di internet.</p>



<p>Gara-gara hal tersebut, Penulis jadi ingin menulis sesuatu tentang Yu-Gi-Oh!. Awalnya Penulis tidak tahu ingin menulis tentang apa, tapi seperti biasa, Penulis lepaskan saja jari-jarinya di <em>keyboard </em>dan membiarkan mereka ingin menulis apa.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Penulis dan Komik Yu-Gi-Oh!</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-0-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7665" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-0-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-0-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-0-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-0.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Komik Yu-Gi-Oh! (<a href="https://shopee.co.id/Komik-Yu-Gi-Oh-Bekas-i.14433722.2786489266">Shopee</a>)</figcaption></figure>



<p>Seingat Penulis, <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">komik</a> Yu-Gi-Oh! yang pertama kali Penulis baca adalah komik <strong>volume 15 </strong>milik sepupunya, yang waktu itu menceritakan pertandingan final antara Yugi melawan Pegasus sebagai bos terakhir. </p>



<p>Waktu itu, peraturan duel kartunya masih <em>sakarepe </em>mangakanya (RIP Kazuki Takahashi). Bayangkan saja, kartu sekuat Dark Magician bisa dipanggil tanpa perlu pengorbanan. Hanya saja, waktu masih kecil tentu Penulis tak terlalu memedulikan hal tersebut.</p>



<p>Komik Yu-Gi-Oh! pertama yang Penulis beli sendiri adalah <strong>volume 19</strong>. Di volume tersebut, ceritanya Yugi sedang mengikuti turnamen duel di Kota Domino dan melawan seseorang yang ternyata juga pemilik kartu Dark Magician.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7660" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yugi vs Arcana di Komik Volume 19 (<a href="http://Yugi vs Arcana di Komik Volume 19 (Fandom)">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari komik tersebut, Penulis jadi terus melanjutkan membeli komik Yu-Gi-Oh!. Setiap mampir ke toko buku, setiap ada volume baru, pasti akan Penulis beli. Oleh karena itu, koleksi komik Yu-Gi-Oh! Penulis hampir lengkap dari volume 19 hingga 38, yang merupakan volume terakhir.</p>



<p>Penulis tidak tertarik membeli volume-volume awal karena belum ada duel-duel kartu. Di <em>arc </em>Pegasus pun peraturannya masih mentah dan kurang menarik. Apalagi di <em>arc </em>turnamen ini, ada banyak pertarungan antar-<em>duelist </em>yang menarik, meskipun jujur saja kadang sangat tak masuk akal.</p>



<p>Tidak hanya dari efek kartu yang disesuaikan dengan plot cerita, terkadang ada saja bumbu drama seperti &#8220;<em>shadow game</em>&#8221; yang menumbalkan nyawa. Bayangkan, kita bisa kehilangan nyawa karena bermain kartu!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7661" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pertempuran Roh di Ingatan Pharaoh (<a href="https://super-lovely-collection.tumblr.com/post/182541304483/yugioh-thief-king-bakura-vs-pharaoh-atem-and-the">Tumblr</a>)</figcaption></figure>



<p>Jika disuruh memilih duel favoritnya, di antara sekian banyak, mungkin Penulis akan memilih pertarungan antara <strong>Yugi Mutou melawan Yami Bakura</strong> di dalam ingatan Yugi Pharaoh (di komik volume 37). Duel tersebut membuktikan kalau Yugi yang selama ini seolah menjadi bayangan Yugi Pharaoh juga bisa bertarung.</p>



<p>Berbicara tentang Pharaoh, <em>arc </em>terakhir dari seri ini berfokus pada masa lalu Yugi. Ceritanya cukup menarik dan seru bagi Penulis, di mana Yugi berhadapan dengan musuh-musuh tangguh, mulai dari <strong>Bakura dengan Diabound-nya </strong>hingga <strong>Zorc Necrophades</strong>.</p>



<p><em>Arc </em>ini juga bisa menjadi konklusi yang pas untuk serialnya. Setelah mendapatkan ingatan masa lalunya yang berdarah, Yugi Pharaoh (yang bernama Atem) dan Yugi Mutou berduel untuk menentukan nasib mereka. Atem kalah dan pergi meninggalkan Yugi dan kawan-kawan lainnya.</p>



<p>Kalau animenya, Penulis sesekali menonton di televisi pada hari Minggu pagi. Namun, jujur Penulis tidak terlalu ingat karena tidak terlalu <em>memorable</em>. Mungkin yang paling Penulis ingat adalah episode <em>filler </em>di mana Yugi dan Kaiba bersatu melawan The Big 5 yang memiliki kartu Five-Headed Dragon dengan ATK 5000.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penulis dan Permainan Kartu Yu-Gi-Oh!</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="690" height="545" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-3.jpg" alt="" class="wp-image-7662" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-3.jpg 690w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-3-300x237.jpg 300w" sizes="(max-width: 690px) 100vw, 690px" /><figcaption class="wp-element-caption">Peraturannya Makin Ruwet (<a href="https://www.yugioh-card.com/my/howto/master_rule_4.php?lang=en">Yu-Gi-Oh!</a>)</figcaption></figure>



<p>Banyak <em>meme </em>yang bertebaran di internet tentang bagaimana bingungnya pemain Yu-Gi-Oh! yang sudah lama pensiun, lantas melawan pemain yang masih aktif hari ini. Yu-Gi-Oh! hari ini seolah tentang bagaimana menghabisi lawan secepat mungkin, kalau bisa sejak putaran pertama.</p>



<p>Padahal, dulu waktu masih main, Penulis merasa ada banyak &#8220;seni&#8221; dari peraturan aslinya, di mana untuk memanggil monster berbintang besar harus mengorbankan monster berbintang kecil. Ada cara unik lain, seperti <strong>Fusion </strong>ataupun <strong>Ritual</strong>.</p>



<p>Kita bisa mempelajari banyak peraturan Yu-Gi-Oh! dari manganya, meskipun terkadang efeknya dibuat <em>nyeleneh </em>demi kebutuhan plot cerita. Namun, dari sana dasar bermain Yu-Gi-Oh! Penulis dapatkan dan menjadi ingin mencoba bermain <em>game</em>-nya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-4-1024x576.webp" alt="" class="wp-image-7663" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-4-1024x576.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-4-300x169.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-4-768x432.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-4.webp 1366w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gameplay Yu-Gi-Oh! Tag Force (<a href="https://gbatemp.net/threads/ppsspp-settings-how-to-have-the-best-yu-gi-oh-tag-force-performance-while-emulating-it-on-pc.580762/">GBA Temp</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada beberapa <em>game </em>Yu-Gi-Oh! yang pernah Penulis mainkan, seperti <em><strong>Yu-Gi-Oh! Forbidden Memories</strong></em> (PlayStation 1) dan <em><strong>Yu-Gi-Oh! The Duelists of the Roses</strong></em> (PlayStation 2). Namun, baru di <em>game </em><strong><em>Yu-Gi-Oh! Tag Force</em> </strong>(PlayStation 2) Penulis benar-benar paham cara bermain Yu-Gi-Oh!.</p>



<p>Di seri tersebut, masih belum ada peraturan <em>summon </em>monster yang aneh-aneh, masih mengikuti peraturan dasar yang Penulis pahami. Dalam bermain, Penulis sering mengandalkan <em>archetype</em><strong><em> </em>Cyber Dragon</strong>, yang di <em>game-</em>nya menjadi andalan Zane Trusdale.</p>



<p>Selain Cyber Dragon, salah satu <em>archetype </em>favorit Penulis adalah <strong>Blue-Eyes White Dragon</strong>, sedangkan adik Penulis sangat menyukai <strong>Elemental Hero</strong>, sampai-sampai tidak mau mencoba <em>archetype </em>yang lain. Bahkan, ia sampai mencetak sendiri kartu-kartu Elemental Hero dan ditempel ke kartu Yu-Gi-Oh! asli.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7664" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kenapa-suka-yugioh-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Blue-Eyes White Dragon (<a href="https://www.deviantart.com/nhociory/art/Blue-Eyes-White-Dragon-Rush-Duel-Wallpaper-984310369">Devianart</a>)</figcaption></figure>



<p>Selain itu, Penulis juga pernah mencoba platform Yu-Gi-Oh! yang tersedia secara <em>online</em>, walau seringnya cuma melawan adiknya, karena kemampuan Penulis tidak cukup hebat untuk bertanding dengan orang lain. Melalui platform ini, Penulis jadi belajar tentang metode <em>summon </em>yang baru-baru.</p>



<p>Pertama ada <strong>Synchro Summon,</strong> yang intinya membutuhkan monster Tuner untuk memanggilnya. Lalu tak lama ada juga<strong> XYZ Summon</strong>, yang intinya membutuhkan beberapa monster dengan level yang sama untuk digabungkan. Sampai sini masih bisa dipahami.</p>



<p>Nah, begitu masuk<strong> Pendulum Summon</strong>, Penulis memutuskan untuk mengangkat bendera putih. Penulis sudah tak mampu mengikutinya lagi. Apalagi sekarang ada <strong>Link Summon</strong> yang makin membuat Penulis malas untuk mengikuti permainan kartu Yu-Gi-Oh!.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Yu-Gi-Oh! jelas telah mewarnai masa kecil dan remaja Penulis, baik lewat komik maupun permainan kartunya. Oleh karena itu, hingga sekarang pun Penulis sesekali masih menonton konten Yu-Gi-Oh! di internet sebagai obat kangen.</p>



<p>Apalagi, gara-gara Yu-Gi-Oh!-lah Penulis jadi menyukai permainan TCG (<em>Trading Card Game</em>). Ada banyak judul lain yang pernah Penulis mainkan, mulai dari Duel Monster, Magic: The Gathering, Hearthstone, Pokemon TCG, hingga Marvel Snap. Tentu, semuanya tidak ada yang benar-benar Penulis kuasai!</p>



<p>Oleh karena itu, Yu-Gi-Oh! selalu punya tempat spesial dalam hidup Penulis, meskipun sudah tidak pernah bermain atau mengikuti permainannya lagi. Mungkin suatu hari Penulis akan mencetak kartu Yu-Gi-Oh! sendiri untuk melawan <em>deck </em>Elemental Hero milik adiknya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juli 2024, terinspirasi setelah banyak menonton konten Yu-Gi-Oh!</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.yugioh-card.com/eu/news/">Yu-Gi-Oh!</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/yu-gi-oh-komik-duel-kartu-dan-nostalgianya/">Yu-Gi-Oh!: Komik, Duel Kartu, dan Nostalgianya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/yu-gi-oh-komik-duel-kartu-dan-nostalgianya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 May 2018 04:13:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[bekas]]></category>
		<category><![CDATA[Donal Bebek]]></category>
		<category><![CDATA[Hatori]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku bekas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=709</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti biasa, ketika sedang berkunjung ke suatu daerah, penulis akan berusaha untuk menyempatkan waktu untuk berkunjung ke toko buku bekas. Pada hari Rabu kemarin, penulis menyempatkan untuk berkunjung ke Toko Buku Bekas Delawas yang terletak di Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Seperti yang tertulis pada Detail Pada Karya Don Rosa, yang penulis cari adalah Donal Bebek [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/">Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa, ketika sedang berkunjung ke suatu daerah, penulis akan berusaha untuk menyempatkan waktu untuk berkunjung ke toko buku bekas. Pada hari Rabu kemarin, penulis menyempatkan untuk berkunjung ke <strong>Toko Buku Bekas Delawas </strong>yang terletak di Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.</p>
<p>Seperti yang tertulis pada <a href="http://whathefan.com/2018/02/14/detail-pada-karya-don-rosa/">Detail Pada Karya Don Rosa</a>, yang penulis cari adalah Donal Bebek edisi jadul. Ketika penulis menyisir toko buku tersebut, penulis menemukan dua Donal Bebek Edisi Nostalgia yang masih dalam kondisi layak dibaca. Penulis simpan buku tersebut, dan melihat-lihat buku yang lain.</p>
<p><strong>Komik Hatori Volume 3</strong></p>
<p>Tempat tersebut dipenuhi dengan komik-komik, seperti Naruto dan Detective Conan yang masih sangat mulus tanpa cacat. Seandainya saja toko buku tersebut terletak di Malang, pasti sudah penulis borong.</p>
<p>Ketika menjelajah, penulis menemukan komik Hatori yang penulis baca sewaktu masih kecil. Penulis mencari volume 3 yang telah lama raib dari rak buku, entah ke mana. Yang penulis temukan hanya volume 1, 5, 14 dan volume-volume lain yang tidak menarik perhatian.</p>
<p>Karena penasaran, penulis pun membongkar-bongkar tumpukan komik tersebut, dan EUREKA! Penulis menemukan komik Hatori volume 3 dan langsung membuka halamannya untuk memastikan bahwa komik inilah yang penulis cari selama ini.</p>
<p>Apa yang istimewa dengan komik ini? Di dalamnya terdapat cerita bahwa keluarga Hatori pindah ke Tokyo dan bertetangga dengan Kenichi. Rumah tersebut dirombak menjadi ala rumah ninja yang penuh dengan ruang rahasia. Inilah yang membuat penulis ketika kecil berimajinasi memiliki kamar seperti Hatori, seperti menganggap atas lemari sebagai tempat rahasia.</p>
<p><div id="attachment_713" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-713" class="size-large wp-image-713" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-49.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-713" class="wp-caption-text">Rumah Ninja</p></div></p>
<p>Jika dipikir-pikir lagi, hobi penulis mendekorasi kamar mungkin terpengaruh oleh komik ini, sadar maupun tidak sadar.</p>
<p><strong>Donal Bebek Edisi Nostalgia Volume 15.</strong></p>
<p>Setelah menemukan komik bersejarah tersebut, penulis bertanya kepada pemilik toko, apakah ada komik Donal Bebek Edisi Nostalgia lagi selain dua buku yang penulis temukan. Oleh pemilik toko penulis langsung diarahkan ke tempat komik tersebut berada.</p>
<p>Penulis harap-harap cemas, berharap menemukan dua Komik Donal Bebek Edisi Nostalgia volume 15 dan 26, yang nasibnya sama seperti komik Hatori volume 3.</p>
<p>Setelah penulis lihat satu per satu, penulis menemukan volume 15, EUREKA LAGI! Merinding rasanya begitu membuka lembar demi lembar komik tersebut, hingga bibir ini membentuk senyum dengan sendirinya. Kenangan indah memang dengan mudah membuat kita bahagia.</p>
<p>Salah satu alasan penulis menyukai edisi ini adalah adanya karya Don Rosa di sana, yang menceritakan perjuangan Paman Gober menemukan emas pertamanya di Klondike, Alaska. Beruntunglah penulis, dua komik Donal Bebek Edisi Nostalgia yang dimiliki ketika kecil memuat karya-karya Don Rosa, membuat penulis menggemari karya-karya, hingga sekarang.</p>
<p><div id="attachment_712" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-712" class="size-large wp-image-712" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-52.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-712" class="wp-caption-text">Karya Don Rosa</p></div></p>
<p>Akhirnya, penulis membeli komik-komik tersebut. Selain komik yang telah lama hilang, penulis memborong 11 volume komik Donal Bebek Edisi Nostalgia lainnya. Total uang yang penulis keluarkan adalah Rp 55.000.</p>
<p>Harga komik Hatori dan Donal Bebek yang pernah hilang tersebut hanya Rp. 10.000, tapi nilai kenangannya tak akan tergantikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 Mei 2018, terinspirasi setelah menemukan kedua komik tersebut di Toko Buku Bekas Delawas</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/">Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2018 16:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isyana]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[sarasvati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=252</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit bernostalgia tentang salah satu momen yang paling saya ingat seumur hidup. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya berfoto dan bersalaman dengan Isyana Sarasvati, ketika ia diundang oleh salah satu radio lokal dalam rangka ulang tahunnya. *** Sebenarnya tidak ada rencana pada hari itu untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit bernostalgia tentang salah satu momen yang paling saya ingat seumur hidup. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya berfoto dan bersalaman dengan <strong>Isyana Sarasvati</strong>, ketika ia diundang oleh salah satu radio lokal dalam rangka ulang tahunnya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebenarnya tidak ada rencana pada hari itu untuk melihat Isyana di Malang Town Square, apalagi saya bukan tipe orang yang suka menonton konser. Bahkan infonya tanpa sengaja saya ketahui dari <em>wall </em>Instagram. Entah karena insting ataupun kebetulan, saya mengajak teman-teman kuliah saya untuk makan di sana sekaligus melihat Isyana dengan mata kepala sendiri.</p>
<p>Ketika saya sampai di lokasi pukul tiga sore, sudah banyak <em>isyanation</em> yang berkumpul di depan panggung. Padahal, Isyana dijadwalkan tampil pada pukul 17.30. Sambil menunggu datangnya Isyana, saya dan teman-teman memilih untuk cangkruk di kafe yang ada di dekat lift. Pemilihan ini bukan tanpa sebab, karena kami memprediksi Isyana akan datang melalui lift. Mungkin akan datang kesempatan untuk <em>selfie </em>bersama Isyana ketika dia lewat.</p>
<p>Sayangnya ketika Isyana benar-benar datang, saya kurang cepat mengambil gambar sehingga gagal mendapatkan <em>selfie </em>tersebut. Selain itu, Isyana dikelilingi oleh tim keamanan yang melingkari dirinya. Tidak apa-apa, masih ada kesempatan <em>selfie </em>di depan panggung.</p>
<p>Sembari menikmati penampilan Isyana yang sore itu membawakan empat buah lagunya (Mimpi, Kau Adalah, Keep Being You dan Tetap Dalam Jiwa), saya berusaha mengambil <em>selfie </em>dari berbagai sudut, mulai dari sudut kiri, tengah hingga kanan. Namun karena tingginya animo penonton, saya hanya bisa berusaha <em>selfie </em>dari jauh. Bisa ditebak, sangat sulit menangkap wajah Isyana di kamera.</p>
<p><div id="attachment_253" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-253" class="size-full wp-image-253" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Isyana-dari-Kejauhan-Foto-Istimewa.jpg" alt="" width="900" height="675" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Isyana-dari-Kejauhan-Foto-Istimewa.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Isyana-dari-Kejauhan-Foto-Istimewa-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Isyana-dari-Kejauhan-Foto-Istimewa-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Isyana-dari-Kejauhan-Foto-Istimewa-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-253" class="wp-caption-text">Isyana dari Kejauhan (Foto Istimewa)</p></div></p>
<p>Kami memutuskan untuk pindah ke sisi panggung dekat eskalator. Lebih jelas, namun tetap saja wajah Isyana belum tertangkap. Oleh karena itu, kami akhirnya mencoba untuk pindah ke belakang panggung. Karena hanya berjarak sekitar 5 meter, disinilah wajah Isyana mulai terlihat jelas meskipun lebih sering memunggungi kami.</p>
<p><div id="attachment_254" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-254" class="size-full wp-image-254" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Sosok-Isyana-dari-Belakang-Panggung-Foto-Istimewa.jpg" alt="" width="900" height="506" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Sosok-Isyana-dari-Belakang-Panggung-Foto-Istimewa.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Sosok-Isyana-dari-Belakang-Panggung-Foto-Istimewa-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Sosok-Isyana-dari-Belakang-Panggung-Foto-Istimewa-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Sosok-Isyana-dari-Belakang-Panggung-Foto-Istimewa-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-254" class="wp-caption-text">Sosok Isyana dari Belakang Panggung (Foto Istimewa)</p></div></p>
<p>Setelah lagu terakhir, MC mengatakan bahwa ada sesi <em>meet and greet </em>di lantai paling bawah. Tentu para i<em>syanation </em>yang berada di depan panggung langsung berteriak histeris mendengar kabar tersebut. Sontak saja begitu Isyana turun panggung, semua penonton langsung berhamburan ke eskalator.</p>
<p>Dengan alasan keamanan, kami memilih untuk turun ketika suasana sudah agak tenang. Selain itu, waktu itu sudah waktunya untuk Sholat Maghrib. Maka dari itu, daripada <em>rebutan </em>di bawah, lebih baik menunaikan ibadah sholat terlebih dahulu.</p>
<p>Setelah sholat, kami menuju supermarket yang juga terletak di lantai terbawah. Sudah banyak yang menunggu di depan supermarket, karena belum tahu dimana lokasi <em>meet and greet</em>. Melalui temannya teman saya, diketahui bahwa sesi <em>meet and greet </em>akan diadakan di dalam supermarket ini. Artinya, pilihan kami untuk menuju supermarket ini sudah tepat.</p>
<p>Tidak lama kemudian, datanglah Isyana Sarasvati lengkap dengan fansnya yang membuntuti di belakang. Karena itu kami, yang pada saat itu berada di depan mereka, memilih untuk mundur agak ke belakang agar mereka dapat lewat. Setelah lewat, barulah kami mengikuti mereka dan sekali lagi kami harus melihat Isyana dari kejauhan. Namun setidaknya, jumlah <em>Isyanation </em>disini tidak sebanyak di panggung tadi, sehingga wajah Isyana dapat terlihat dengan jelas.</p>
<p><div id="attachment_255" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-255" class="size-full wp-image-255" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Suasana-Meet-and-Greet-Foto-Istimewa.jpg" alt="" width="900" height="550" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Suasana-Meet-and-Greet-Foto-Istimewa.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Suasana-Meet-and-Greet-Foto-Istimewa-300x183.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Suasana-Meet-and-Greet-Foto-Istimewa-768x469.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Suasana-Meet-and-Greet-Foto-Istimewa-356x218.jpg 356w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-255" class="wp-caption-text">Suasana Meet and Greet (Foto Istimewa)</p></div></p>
<p>Setelah bercakap-cakap dengan beberapa orang, diketahui bahwa syarat bisa berfoto dengan Isyana adalah dengan membeli produk sponsor seharga 50 ribu rupiah. Nantinya, nota pembelian dapat ditukar dengan kupon antrian untuk berfoto dengan Isyana. Tentu bukan jumlah yang kecil, namun karena penasaran saya mencoba untuk menghampiri gerai produk sponsor tersebut.</p>
<p>Apesnya, mbak-mbak yang menjaga <em>stand </em>mengatakan bahwa pembelian produk sudah <em>closed</em>, sudah tidak bisa dibeli lagi. Dengan sedikit kecewa, saya kembali ke spot semula, di belakang para i<em>syanation</em>. Selang beberapa waktu kemudian, saya mencoba lagi dan ternyata kali ini bisa. Langsung saja saya mengambil sembarang produk, membayarnya ke kasir dan sedikit berlari karena takut kehabisan kupon. Benar saja, waktu ingin menukarkan nota pembelian, mbak-mbak tersebut berkata kuponnya sudah habis.</p>
<p>Tentu ada perasaan jengkel. Bahkan ada orang di belakang saya yang berbisik-bisik bahwa ini sudah merupakan tidakan penipuan. Saya berusaha tetap santai sambil menikmati Isyana bercakap-cakap dengan MC. Tak lama kemudian ada lagi orang yang ingin menukarkan notanya. Akhirnya mbak-mbak tersebut memberi kompensasi dengan memberikan album Isyana yang berjudul <em>Explore!</em>. Ada keinginan saya untuk ikut menukarkannya, namun ada sesuatu di dalam hati, seperti bisikan yang berkata &#8220;jangan&#8221;. Maka, saya urungkan niat tersebut.</p>
<p>Akhirnya, para pemegang kupon pun dipanggil satu persatu. Nomer satu dipanggil, nomer dua dipanggil dan seterusnya. Saya tetap berdiri di gerai produk sponsor tersebut sambil melihat rona-rona bahagia yang terpancarkan dari wajah-wajah mereka.</p>
<p>Lantas datanglah keajaiban tersebut. Dari jauh datanglah seorang mbak-mbak produk sponsor membawa segenggam kupon. Lalu dengan gerakan secepat kilat mbak-mbak lain yang berdiri di samping saya mengambil nota milik saya dan langsung memberikan kupon untuk berfoto dengan Isyana.</p>
<p>Nomer 46, nomernya Valentino Rossi. Padahal, sebelumnya saya telah melihat kupon nomer 99 dibagikan. Mungkin ini kupon yang tertinggal, sehingga tidak terbagikan. Mungkin ini rejeki karena kesabaran saya.</p>
<p>MC sudah menyebutkan nomer 40, maka saya pun maju ke belakang panggung untuk ikut antri. Dan begitu nomer 46 disebutkan, TARAA! Saya pun berhasil foto bareng Isyana Sarasvati. Ditambah dapat albumnya pula, album yang oleh beberapa pengunjung diperoleh dengan menukarkan nota belanjanya. Dengan perasaan puas karena berhasil foto ditambah bersalaman -walaupun hanya mendapat ujung tangannya Isyana-, saya mengajak teman-teman untuk pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebelum saya melihat Isyana dan menyentuhnya secara langung, saya tidak terlalu suka mendengarkan lagu-lagunya. Setelah mendapatkan CD aslinya, lama kelamaan saya menemukan kecocokan pada musik yang Isyana gubah. Saya yang pada dasarnya kurang menyukai lagu lokal, bisa menikmati lagu-lagunya. Mungkin pertemuan tersebut memiliki andil dalam hal ini.</p>
<p>Saya masih sering mengingat momen ini ketika mendengarkan lagu-lagu Isyana. Hal yang membuat peristiwa ini sangat berkesan adalah banyaknya pelajaran yang saya petik. Misalnya saja, kejadian tersebut membuktikan bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis. Selain itu, dengan keyakinan, usaha, doa, dan tawakal, kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan. Mengambil kesempatan yang terlihat juga menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Terakhir dan yang paling penting adalah, jangan pernah tinggalkan sholatmu meskipun ada sesuatu yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jika kita ditakdirkan untuk meraih tersebut, yakinlah kita akan mendapatkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 Januari 2018, setelah mengantar Ibu tahlilan di Malang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
