Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati

Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit bernostalgia tentang salah satu momen yang paling saya ingat seumur hidup. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya berfoto dan bersalaman dengan Isyana Sarasvati, ketika ia diundang oleh salah satu radio lokal dalam rangka ulang tahunnya.

***

Sebenarnya tidak ada rencana pada hari itu untuk melihat Isyana di Malang Town Square, apalagi saya bukan tipe orang yang suka menonton konser. Bahkan infonya tanpa sengaja saya ketahui dari wall Instagram. Entah karena insting ataupun kebetulan, saya mengajak teman-teman kuliah saya untuk makan di sana sekaligus melihat Isyana dengan mata kepala sendiri.

Ketika saya sampai di lokasi pukul tiga sore, sudah banyak isyanation yang berkumpul di depan panggung. Padahal, Isyana dijadwalkan tampil pada pukul 17.30. Sambil menunggu datangnya Isyana, saya dan teman-teman memilih untuk cangkruk di kafe yang ada di dekat lift. Pemilihan ini bukan tanpa sebab, karena kami memprediksi Isyana akan datang melalui lift. Mungkin akan datang kesempatan untuk selfie bersama Isyana ketika dia lewat.

Sayangnya ketika Isyana benar-benar datang, saya kurang cepat mengambil gambar sehingga gagal mendapatkan selfie tersebut. Selain itu, Isyana dikelilingi oleh tim keamanan yang melingkari dirinya. Tidak apa-apa, masih ada kesempatan selfie di depan panggung.

Sembari menikmati penampilan Isyana yang sore itu membawakan empat buah lagunya (Mimpi, Kau Adalah, Keep Being You dan Tetap Dalam Jiwa), saya berusaha mengambil selfie dari berbagai sudut, mulai dari sudut kiri, tengah hingga kanan. Namun karena tingginya animo penonton, saya hanya bisa berusaha selfie dari jauh. Bisa ditebak, sangat sulit menangkap wajah Isyana di kamera.

Isyana dari Kejauhan (Foto Istimewa)

Kami memutuskan untuk pindah ke sisi panggung dekat eskalator. Lebih jelas, namun tetap saja wajah Isyana belum tertangkap. Oleh karena itu, kami akhirnya mencoba untuk pindah ke belakang panggung. Karena hanya berjarak sekitar 5 meter, disinilah wajah Isyana mulai terlihat jelas meskipun lebih sering memunggungi kami.

Sosok Isyana dari Belakang Panggung (Foto Istimewa)

Setelah lagu terakhir, MC mengatakan bahwa ada sesi meet and greet di lantai paling bawah. Tentu para isyanation yang berada di depan panggung langsung berteriak histeris mendengar kabar tersebut. Sontak saja begitu Isyana turun panggung, semua penonton langsung berhamburan ke eskalator.

Dengan alasan keamanan, kami memilih untuk turun ketika suasana sudah agak tenang. Selain itu, waktu itu sudah waktunya untuk Sholat Maghrib. Maka dari itu, daripada rebutan di bawah, lebih baik menunaikan ibadah sholat terlebih dahulu.

Setelah sholat, kami menuju supermarket yang juga terletak di lantai terbawah. Sudah banyak yang menunggu di depan supermarket, karena belum tahu dimana lokasi meet and greet. Melalui temannya teman saya, diketahui bahwa sesi meet and greet akan diadakan di dalam supermarket ini. Artinya, pilihan kami untuk menuju supermarket ini sudah tepat.

Tidak lama kemudian, datanglah Isyana Sarasvati lengkap dengan fansnya yang membuntuti di belakang. Karena itu kami, yang pada saat itu berada di depan mereka, memilih untuk mundur agak ke belakang agar mereka dapat lewat. Setelah lewat, barulah kami mengikuti mereka dan sekali lagi kami harus melihat Isyana dari kejauhan. Namun setidaknya, jumlah Isyanation disini tidak sebanyak di panggung tadi, sehingga wajah Isyana dapat terlihat dengan jelas.

Suasana Meet and Greet (Foto Istimewa)

Setelah bercakap-cakap dengan beberapa orang, diketahui bahwa syarat bisa berfoto dengan Isyana adalah dengan membeli produk sponsor seharga 50 ribu rupiah. Nantinya, nota pembelian dapat ditukar dengan kupon antrian untuk berfoto dengan Isyana. Tentu bukan jumlah yang kecil, namun karena penasaran saya mencoba untuk menghampiri gerai produk sponsor tersebut.

Apesnya, mbak-mbak yang menjaga stand mengatakan bahwa pembelian produk sudah closed, sudah tidak bisa dibeli lagi. Dengan sedikit kecewa, saya kembali ke spot semula, di belakang para isyanation. Selang beberapa waktu kemudian, saya mencoba lagi dan ternyata kali ini bisa. Langsung saja saya mengambil sembarang produk, membayarnya ke kasir dan sedikit berlari karena takut kehabisan kupon. Benar saja, waktu ingin menukarkan nota pembelian, mbak-mbak tersebut berkata kuponnya sudah habis.

Tentu ada perasaan jengkel. Bahkan ada orang di belakang saya yang berbisik-bisik bahwa ini sudah merupakan tidakan penipuan. Saya berusaha tetap santai sambil menikmati Isyana bercakap-cakap dengan MC. Tak lama kemudian ada lagi orang yang ingin menukarkan notanya. Akhirnya mbak-mbak tersebut memberi kompensasi dengan memberikan album Isyana yang berjudul Explore!. Ada keinginan saya untuk ikut menukarkannya, namun ada sesuatu di dalam hati, seperti bisikan yang berkata “jangan”. Maka, saya urungkan niat tersebut.

Akhirnya, para pemegang kupon pun dipanggil satu persatu. Nomer satu dipanggil, nomer dua dipanggil dan seterusnya. Saya tetap berdiri di gerai produk sponsor tersebut sambil melihat rona-rona bahagia yang terpancarkan dari wajah-wajah mereka.

Lantas datanglah keajaiban tersebut. Dari jauh datanglah seorang mbak-mbak produk sponsor membawa segenggam kupon. Lalu dengan gerakan secepat kilat mbak-mbak lain yang berdiri di samping saya mengambil nota milik saya dan langsung memberikan kupon untuk berfoto dengan Isyana.

Nomer 46, nomernya Valentino Rossi. Padahal, sebelumnya saya telah melihat kupon nomer 99 dibagikan. Mungkin ini kupon yang tertinggal, sehingga tidak terbagikan. Mungkin ini rejeki karena kesabaran saya.

MC sudah menyebutkan nomer 40, maka saya pun maju ke belakang panggung untuk ikut antri. Dan begitu nomer 46 disebutkan, TARAA! Saya pun berhasil foto bareng Isyana Sarasvati. Ditambah dapat albumnya pula, album yang oleh beberapa pengunjung diperoleh dengan menukarkan nota belanjanya. Dengan perasaan puas karena berhasil foto ditambah bersalaman -walaupun hanya mendapat ujung tangannya Isyana-, saya mengajak teman-teman untuk pulang ke rumah.

***

Sebelum saya melihat Isyana dan menyentuhnya secara langung, saya tidak terlalu suka mendengarkan lagu-lagunya. Setelah mendapatkan CD aslinya, lama kelamaan saya menemukan kecocokan pada musik yang Isyana gubah. Saya yang pada dasarnya kurang menyukai lagu lokal, bisa menikmati lagu-lagunya. Mungkin pertemuan tersebut memiliki andil dalam hal ini.

Saya masih sering mengingat momen ini ketika mendengarkan lagu-lagu Isyana. Hal yang membuat peristiwa ini sangat berkesan adalah banyaknya pelajaran yang saya petik. Misalnya saja, kejadian tersebut membuktikan bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis. Selain itu, dengan keyakinan, usaha, doa, dan tawakal, kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan. Mengambil kesempatan yang terlihat juga menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Terakhir dan yang paling penting adalah, jangan pernah tinggalkan sholatmu meskipun ada sesuatu yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jika kita ditakdirkan untuk meraih tersebut, yakinlah kita akan mendapatkannya.

 

 

Lawang, 25 Januari 2018, setelah mengantar Ibu tahlilan di Malang

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.