<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pekerjaan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pekerjaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pekerjaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jun 2024 15:45:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pekerjaan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pekerjaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca The Art of the Good Life" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Kerja di Mana?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2018 18:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[benang merah]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Tikus]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan hidup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1890</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan ini sering penulis dapatkan sejak tinggal dan bekerja di Jakarta dan, hehe, terkadang penulis merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bukan karena belum pernah bekerja, melainkan karena tak tahu bagaimana harus menjelaskan perjalanan penulis setelah lulus. Melalui tulisan ini, penulis berharap bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi yang penasaran (jika ada). Jadi, siap-siap membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan ini sering penulis dapatkan sejak tinggal dan bekerja di Jakarta dan, hehe, terkadang penulis merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bukan karena belum pernah bekerja, melainkan karena tak tahu bagaimana harus menjelaskan perjalanan penulis setelah lulus.</p>
<p>Melalui tulisan ini, penulis berharap bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi yang penasaran (jika ada). Jadi, siap-siap membaca sebuah dongeng tentang seorang anak lulusan Informatika setelah mendapatkan gelar sarjananya.</p>
<h3>Kerja di NET TV Kayaknya Asyik</h3>
<p>Mungkin sama seperti para lulusan lainnya, hal yang dilakukan oleh penulis setelah lulus adalah mencari beberapa lowongan pekerjaan melalui acara Job Fair. Penulis sempat ikut tes kerja Paragon dan Frissian Flag, walaupun dilakukan dengan setengah hati.</p>
<p>Kenapa setengah hati? Karena penulis sama sekali tidak tertarik kerja di perusahaan industri seperti itu. Penulis ingin kerja di bidang industri kreatif, media, penerbitan, atau menjadi seorang dosen. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk ikut <a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">tes kerja di <strong>NET TV</strong></a>, yang waktu itu sedang ramai.</p>
<p><div id="attachment_1893" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1893" class="size-large wp-image-1893" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-1024x339.jpg" alt="" width="1024" height="339" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-1024x339.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-300x99.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-768x254.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-356x118.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1893" class="wp-caption-text">Suasana Tes NET TV</p></div></p>
<p>Walaupun berhasil sampai tahap terakhir (wawancara), ternyata penulis belum berjodoh dengan perusahaan tersebut. Sempat depresi beberapa hari, penulis memutuskan untuk membantu ayah penulis di tempatnya bekerja.</p>
<h3>Mencoba Meraih Impian Kembali</h3>
<p>Kebetulan, apartemen yang hendak dibangun sedang ingin <em>re-branding </em>hingga perusahaan tersebut meminta bantuan konsultan <em>marketing communication</em>. Di bagian inilah penulis bekerja sebagai Social Media Specialist sekaligus Web Developer sekaligus Content Writer.</p>
<p>Sekitar empat bulan penulis bekerja di sana, mulai bulan April hingga Agustus. Alasan berhentinya, mungkin pembaca akan terkejut, adalah karena ingin fokus menyiapkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/"><strong>rangkaian acara peringatan 17 Agustus</strong></a> di tempat tinggal penulis.</p>
<p><div id="attachment_1895" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1895" class="size-large wp-image-1895" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1895" class="wp-caption-text">BiZ Square Apartment</p></div></p>
<p>Sebagai ketua Karang Taruna, penulis bertanggungjawab memastikan acara akan berlangsung dengan baik, mulai dari lomba-lomba hingga malam tasyakuran. Memang ada ketua panitia, tapi tetap butuh didampingi karena masih SMA.</p>
<p>Selain itu, setelah diskusi panjang dengan pak Teddy (pemilik PT TDS yang menjadi konsultan <em>marcomm </em>di apartemen ayah penulis), penulis ingin mencoba meraih kembali cita-cita penulis untuk bisa kuliah di luar negeri.</p>
<p>Sewaktu awal kuliah, penulis memajang foto kampus-kampus luar negeri di depan meja penulis untuk motivasi belajar. Sayang, setelah berhadapan dengan realita, impian tersebut harus terkubur pelan-pelan. Pertemuan dengan pak Teddy membuat penulis ingin mencoba lagi untuk meraih mimpi tersebut.</p>
<h3>Belajar Bahasa Inggris Hingga ke Pare</h3>
<p>Salah satu syarat untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah memiliki sertifikat <strong>IELTS</strong>. Oleh karena itu, penulis mengambil kursus di Malang. Akan tetapi, karena merasa sangat kurang, penulis bersama satu teman kuliah penulis memutuskan untuk pergi ke kampung Inggris, Pare.</p>
<p>Penulis mengambil kelas khusus persiapan IELTS di <strong>TEST English School</strong>. Hanya saja, karena penulis sudah berada di Pare dua minggu sebelum kelas dibuka, penulis mengambil kursus di tempat lain dulu, yakni <strong>Global English</strong> dan <strong>Mr. Bob</strong>.</p>
<p>Total empat bulan penulis berada di sana, mulai akhir Agustus hingga awal Desember. Selain belajar di tempat kursus, penulis juga belajar sendiri. Penulis mengambil target akan melakukan tes pada bulan Desember 2017.</p>
<p><div id="attachment_1896" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1896" class="size-large wp-image-1896" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1896" class="wp-caption-text">Teman Seperjuangan Pemburu Beasiswa</p></div></p>
<p>Sebelum mengambil tes, penulis sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa <strong>Chevening</strong>, beasiswa bagi yang ingin melanjutkan studi di Inggris. Pada awal November, penulis ke Yogya untuk menghadiri EHEF European Fair, pameran edukasi kampus-kampus Eropa.</p>
<p>Chevening mengharuskan kita memilih tiga kampus ketika mendaftar, dan dua di antaranya hadir pada even tersebut. Mereka adalah <strong>University of Reading </strong>dan <strong>Manchester Metropolitan University</strong>.</p>
<p>Penulis banyak bertanya tentang bagaimana mendapatkan <em>Letter of Acceptance</em> dan lain-lain. Mereka sangat ramah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis. Sepulang dari Yogya, penulis mendaftar di kampus-kampus tersebut dan berhasil mendapatkan <em>LoA conditional </em>karena belum memiliki sertifikat IELTS.</p>
<h3>Setelah Mendapatkan Sertifikat IELTS</h3>
<p>Pertengahan Desember, penulis akhirnya mengambil tes IELTS di Yogyakarta. Pemilihan lokasi tes yang jauh dari rumah adalah karena dua hal: satu, mengikuti saran yang sudah pernah tes; dua, mengikuti perasaan.</p>
<p>Setelah menunggu hasilnya dalam waktu dua minggu (sekitar pertengahan Januari 2018), penulis mendapatkan nilai <strong>6.5</strong>, syarat rata-rata minimum bagi pengambil beasiswa. Berkat sertifikat ini, penulis berhasil mendapatkan <em>LoA unconditional </em>dari University of Reading.</p>
<p>Kampus sudah dapat, sertifikat IELTS sudah dapat, hanya tinggal satu yang belum dapat: beasiswanya. Sayang, belum rezeki penulis untuk melanjutkan studinya di <a href="http://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">Inggris</a>.</p>
<p><div id="attachment_1892" style="width: 630px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1892" class="size-full wp-image-1892" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330.jpg" alt="" width="620" height="330" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330.jpg 620w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330-300x160.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330-356x189.jpg 356w" sizes="auto, (max-width: 620px) 100vw, 620px" /><p id="caption-attachment-1892" class="wp-caption-text">Henley Business School, University of Reading</p></div></p>
<p>Penulis memutuskan untuk mencari beasiswa lainnya. Target selanjutnya adalah <strong>New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS)</strong>. Sayang, kali ini juga belum lolos. Selanjutnya penulis mencoba beasiswa <strong>Ignacy Lukasiewicz </strong>dari Polandia, masih belum lolos juga.</p>
<p>Gagal tiga kali secara berturut-turut lumayan membuat penulis merasa <em>down</em>. Apalagi, penulis mencurahkan fokus untuk berburu beasiswa selama berbulan-bulan (selain mempersiapkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">kaderisasi dan pergantian kepengengurusan Karang Taruna</a>) hingga sama sekali tidak melirik lowongan pekerjaan yang ada.</p>
<p>Untunglah, penulis melamar menjadi <em>volunteer </em>Asian Games ketika sedang berada di Pare.</p>
<h3>Awal Kehidupan di Jakarta</h3>
<p>Penulis jadi kerap bolak-balik Malang-Jakarta gara-gara harus mengikuti serangkaian pelatihan sebagai <em>volunteer</em>. Tapi berkat itu, penulis jadi tahu sedikit-sedikit tentang lokasi-lokasi di Jakarta, karena penulis melakukan eksplorasi ketika memiliki waktu luang.</p>
<p>Sebelum berangkat ke Jakarta pada bulan Agustus, penulis menyelesaian beberapa urusan. Salah satunya adalah pergantian pengurus Karang Taruna, sehingga penulis bisa tenang meninggalkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">organisasi yang telah dirintis sejak 2016</a> ini.</p>
<p>Terhitung mulai bulan Agustus hingga September, penulis berkonsentrasi penuh mengabdikan diri menjadi seorang <em>volunteer</em>. Untuk kisahnya sendiri telah penulis tulis sebanyak <a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">7 bagian di blog ini</a>.</p>
<p><div id="attachment_1894" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1894" class="size-large wp-image-1894" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-356x200.jpg 356w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1894" class="wp-caption-text">Teman-Teman Volunteer</p></div></p>
<p>Setelah selesai menunaikan tugas, penulis memutuskan untuk tinggal di Jakarta, menumpang di rumah tante. Penulis memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta, menepikan sementara impian penulis untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.</p>
<p>Dengan menerapkan metode <em>brute force</em>, penulis melamar kerja di berbagai tempat. Setelah satu setengah bulan, pada akhirnya penulis mendapatkan pekerjaan di <strong>Mainspring Technology </strong>sebagai <strong>Content Writer</strong> <a href="http://jalantikus.com">jalantikus.com</a>.</p>
<h3>Benang Merah Pada Perjalanan Hidup Penulis</h3>
<p><em>Every cloud has a silver lining</em>. Semua yang terjadi pasti memiliki hikmah di baliknya. Penulis percaya apa yang selama ini penulis alami dan jalani memiliki maknanya masing-masing.</p>
<p>Jika ditarik ke belakang, semua perjalanan hidup penulis tersambung oleh benang merah, Secara singkat, bisa dituliskan seperti ini.</p>
<blockquote><p>Lulus -&gt; Melamar di NET -&gt; Gagal, sempat depresi -&gt; Menawarkan diri untuk membantu ayah -&gt; Bertemu dengan Pak Teddy -&gt; Memutuskan untuk lanjut kuliah di luar negeri -&gt; Ambil persiapan IELTS di Pare -&gt; Diajak teman di Pare menjadi <em>volunteer</em> Asian Games -&gt; Gagal mendapatkan beasiswa tiga kali -&gt; Menjadi <em>volunteer </em>Asian Games di Jakarta -&gt; Memutuskan mencari kerja di Jakarta -&gt; Bekerja di Mainspring Technology</p></blockquote>
<p>Selain itu, penulis memulai menulis blog juga terinspirasi dari teman di Pare. Dengan adanya blog ini, mungkin jadi bahan pertimbangan perusahaan untuk menerima penulis. Setidaknya, penulis tidak kebingungan ketika diminta untuk menyerahkan contoh portofolio.</p>
<p>Lantas, apakah penulis menyerah dengan impiannya untuk kuliah di luar negeri? Tentu tidak. Penulis hanya menundanya untuk sementara waktu. Mungkin, Tuhan menyuruh penulis untuk bekerja terlebih dahulu sebelum kuliah lagi.</p>
<p>Sekarang, penulis mau fokus melakukan yang terbaik untuk pekerjaan penulis. Penulis akan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari tempat kerja penulis. Penulis tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada penulis, setelah melalui proses panjang tersebut.</p>
<p>Jika ada yang bertanya &#8220;dulu kerja di mana?&#8221; lagi, mungkin penulis akan menjawab &#8220;kawan, bersiaplah mendengarkan sebuah kisah yang cukup panjang&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 Desember 2018, terinspirasi dari banyaknya yang mengajukan pertanyaan tersebut ke penulis</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@rawpixel">rawpixel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Apa yang Saya Lakukan)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2018 08:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[help desk]]></category>
		<category><![CDATA[jobdesk]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Son Heung-min]]></category>
		<category><![CDATA[tugas]]></category>
		<category><![CDATA[volunteer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1270</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sesuai dengan pembagian tugas, penulis bertugas di help desk dan memang di ranah inilah penulis paling banyak bekerja, terlebih di hari pertama (10/8). Berdasarkan apa yang tertera pada jurnal, penulis melakukan beberapa hal seperti: Membantu pengoperasian mesin printer dan fotokopi Membuat berbagai tanda (dilarang merokok, jagalah kebersihan, akses ke tribun media) dalam bahasa Inggris Membuat table name untuk konferensi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/">Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Apa yang Saya Lakukan)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sesuai dengan pembagian tugas, penulis bertugas di <em>help desk </em>dan memang di ranah inilah penulis paling banyak bekerja, terlebih di hari pertama (10/8). Berdasarkan apa yang tertera pada jurnal, penulis melakukan beberapa hal seperti:</p>
<ul>
<li>Membantu pengoperasian mesin printer dan fotokopi</li>
<li>Membuat berbagai tanda (dilarang merokok, jagalah kebersihan, akses ke tribun media) dalam bahasa Inggris</li>
<li>Membuat <em>table name </em>untuk konferensi pers</li>
<li>Membantu kebutuhan informasi yang dibutuhkan wartawan</li>
<li>Menyiapkan berkas yang dibutuhkan oleh bagian registrasi</li>
<li>Merekap semua <em>start list </em>dan <em>match list </em>(di mana pada hari terakhir tiba-tiba rekapan tersebut HILANG begitu saja)</li>
</ul>
<p>Di hari pertama penulis juga membuat semacam tulisan untuk dikirimkan ke PSSI (atau AFC?) tentang pertandingan yang baru saja berlangsung. Tapi entah mengapa, setelah itu tidak pernah lagi ada permintaan untuk menuliskan artikel.</p>
<p>Setelah beberapa hari berada di <em>help desk </em>dan mengulangi terus rutinitas yang sama, penulis mencoba untuk mengerjakan <em>job desk </em>lain. Yang menggantikan posisi penulis di <em>h</em><em>elp desk </em>adalah Rhien.</p>
<p>Yang paling mengesankan tentu ketika menjadi <em>translator</em>. Seperti yang sudah dibahas pada <a href="http://whathefan.com/2018/08/21/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a>, penulis merasa betapa susahnya menjadi seorang <em>translator </em>ketika pembicaranya melafalkan kalimat dalam bahasa Inggris menggunakan aksen yang susah dicerna.</p>
<p>Menjadi seorang <em>flash quotes </em>juga lumayan menguras pikiran karena kita harus memahami apa yang dikatakan oleh narasumber. Penulis sampai melihat catatan <em>translator </em>agar dapat mengetahui apa yang narasumber ucapkan.</p>
<p><div id="attachment_1271" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1271" class="size-large wp-image-1271" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-02-30.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1271" class="wp-caption-text">Lapangan dari Tribun Media</p></div></p>
<p>Bertugas di media tribune lumayan menyenangkan karena kita dapat melihat pertandingan secara langsung. Namun pernah ada sedikit masalah ketika ada <em>official </em>dari Arab Saudi memasang bendera di tribun media. Mereka menolak untuk melepas bendera tersebut sebelum bendera China, yang menjadi lawan mereka, juga melepas benedera mereka di tribun lain.</p>
<p>Penulis tidak pernah duduk di meja registrasi seharian, namun penulis cukup mengetahui apa-apa yang dilaksanakan pada meja tersebut, seperti alur pemilihan kursi fotografer. Terkadang orang yang duduk di meja registrasi merangkap peran sebagai <em>help desk </em>karena saking banyaknya wartawan yang bertanya kepada mereka.</p>
<p>Ketika bertugas di Marshall Photo pada hari terakhir, penulis melihat Son Heung-min lewat di depan penulis dengan jarak yang benar-benar dekat. Andai berani nekat, mungkin penulis sudah mencoba untuk mengajaknya bersalaman.</p>
<p><div id="attachment_1272" style="width: 508px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1272" class="size-large wp-image-1272" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-04-17-498x1024.jpg" alt="" width="498" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-04-17-498x1024.jpg 498w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-04-17-146x300.jpg 146w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-04-17-124x255.jpg 124w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-04-17.jpg 622w" sizes="auto, (max-width: 498px) 100vw, 498px" /><p id="caption-attachment-1272" class="wp-caption-text">Son di Mix Zone</p></div></p>
<p>Tugas yang pasti dilakukan setiap harinya walaupun tak tertera adalah mengangkat berbagai barang, mulai dari kursi fotografer hingga dus aqua. Pekerjaan ini lumayan membutuhkan tenaga, dan semoga memiliki efek yang baik untuk otot-otot penulis.</p>
<p>Selain itu, ketika kami tidak memiliki jadwal, kami akan bertugas mengawasi latihan timnas, baik di Lapangan ABC Senayan maupun lapagnan LFA Bekasi. Kami diharuskan untuk mengawasi media tergantung bagaimana keinginan timnas yang berlatih. Jika bersedia diliput ya wartawan meliput, jika tidak ya kami harus menghalau mereka.</p>
<p><div id="attachment_1277" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1277" class="size-large wp-image-1277" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-16-20-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-16-20.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-16-20-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-16-20-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_22-16-20-340x255.jpg 340w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1277" class="wp-caption-text">Di Lapangan ABC Senayan</p></div></p>
<p>Setelah hari terakhir tanggal 27 Agustus 2018, kami dipindahkan ke Media Press Center yang berlokasi di JCC Senayan. Pada hari pertama, penulis bertugas menjaga <em>gate </em>media untuk membantu pihak keamanan melakukan pengecekan kepada orang-orang yang masuk melalui <em>gate </em>tersebut.</p>
<p>Di hari kedua kami pindah lagi ke cabor rugbi, yang sayangnya karena kesalahpahaman (mungkin karena kurangnya koordinasi) membuat kami tidak bisa berada di sana lagi keesokan harinya, sehingga kami kembali ke MPC pada hari ketiga alias hari terakhir kami bertugas sebagai <em>volunteer</em>.</p>
<p>Dibandingkan dengan pekerjaannya, yang lebih menarik dari menjadi seorang <em>volunteer </em>adalah interaksinya dengan wartawan dari berbagai negara, yang akan penulis bahas pada tulisan berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Agustus 2018, terinspirasi dari pengalaman menjadi <em>volunteer</em> Asian Games 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/">Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Apa yang Saya Lakukan)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
