Connect with us

Pengalaman

Dulu Kerja di Mana?

Published

on

Pertanyaan ini sering penulis dapatkan sejak tinggal dan bekerja di Jakarta dan, hehe, terkadang penulis merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bukan karena belum pernah bekerja, melainkan karena tak tahu bagaimana harus menjelaskan perjalanan penulis setelah lulus.

Melalui tulisan ini, penulis berharap bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi yang penasaran (jika ada). Jadi, siap-siap membaca sebuah dongeng tentang seorang anak lulusan Informatika setelah mendapatkan gelar sarjananya.

Kerja di NET TV Kayaknya Asyik

Mungkin sama seperti para lulusan lainnya, hal yang dilakukan oleh penulis setelah lulus adalah mencari beberapa lowongan pekerjaan melalui acara Job Fair. Penulis sempat ikut tes kerja Paragon dan Frissian Flag, walaupun dilakukan dengan setengah hati.

Kenapa setengah hati? Karena penulis sama sekali tidak tertarik kerja di perusahaan industri seperti itu. Penulis ingin kerja di bidang industri kreatif, media, penerbitan, atau menjadi seorang dosen. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk ikut tes kerja di NET TV, yang waktu itu sedang ramai.

Suasana Tes NET TV

Walaupun berhasil sampai tahap terakhir (wawancara), ternyata penulis belum berjodoh dengan perusahaan tersebut. Sempat depresi beberapa hari, penulis memutuskan untuk membantu ayah penulis di tempatnya bekerja.

Mencoba Meraih Impian Kembali

Kebetulan, apartemen yang hendak dibangun sedang ingin re-branding hingga perusahaan tersebut meminta bantuan konsultan marketing communication. Di bagian inilah penulis bekerja sebagai Social Media Specialist sekaligus Web Developer sekaligus Content Writer.

Sekitar empat bulan penulis bekerja di sana, mulai bulan April hingga Agustus. Alasan berhentinya, mungkin pembaca akan terkejut, adalah karena ingin fokus menyiapkan rangkaian acara peringatan 17 Agustus di tempat tinggal penulis.

BiZ Square Apartment

Sebagai ketua Karang Taruna, penulis bertanggungjawab memastikan acara akan berlangsung dengan baik, mulai dari lomba-lomba hingga malam tasyakuran. Memang ada ketua panitia, tapi tetap butuh didampingi karena masih SMA.

Selain itu, setelah diskusi panjang dengan pak Teddy (pemilik PT TDS yang menjadi konsultan marcomm di apartemen ayah penulis), penulis ingin mencoba meraih kembali cita-cita penulis untuk bisa kuliah di luar negeri.

Sewaktu awal kuliah, penulis memajang foto kampus-kampus luar negeri di depan meja penulis untuk motivasi belajar. Sayang, setelah berhadapan dengan realita, impian tersebut harus terkubur pelan-pelan. Pertemuan dengan pak Teddy membuat penulis ingin mencoba lagi untuk meraih mimpi tersebut.

Belajar Bahasa Inggris Hingga ke Pare

Salah satu syarat untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah memiliki sertifikat IELTS. Oleh karena itu, penulis mengambil kursus di Malang. Akan tetapi, karena merasa sangat kurang, penulis bersama satu teman kuliah penulis memutuskan untuk pergi ke kampung Inggris, Pare.

Penulis mengambil kelas khusus persiapan IELTS di TEST English School. Hanya saja, karena penulis sudah berada di Pare dua minggu sebelum kelas dibuka, penulis mengambil kursus di tempat lain dulu, yakni Global English dan Mr. Bob.

Total empat bulan penulis berada di sana, mulai akhir Agustus hingga awal Desember. Selain belajar di tempat kursus, penulis juga belajar sendiri. Penulis mengambil target akan melakukan tes pada bulan Desember 2017.

Teman Seperjuangan Pemburu Beasiswa

Sebelum mengambil tes, penulis sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa Chevening, beasiswa bagi yang ingin melanjutkan studi di Inggris. Pada awal November, penulis ke Yogya untuk menghadiri EHEF European Fair, pameran edukasi kampus-kampus Eropa.

Chevening mengharuskan kita memilih tiga kampus ketika mendaftar, dan dua di antaranya hadir pada even tersebut. Mereka adalah University of Reading dan Manchester Metropolitan University.

Penulis banyak bertanya tentang bagaimana mendapatkan Letter of Acceptance dan lain-lain. Mereka sangat ramah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis. Sepulang dari Yogya, penulis mendaftar di kampus-kampus tersebut dan berhasil mendapatkan LoA conditional karena belum memiliki sertifikat IELTS.

Setelah Mendapatkan Sertifikat IELTS

Pertengahan Desember, penulis akhirnya mengambil tes IELTS di Yogyakarta. Pemilihan lokasi tes yang jauh dari rumah adalah karena dua hal: satu, mengikuti saran yang sudah pernah tes; dua, mengikuti perasaan.

Setelah menunggu hasilnya dalam waktu dua minggu (sekitar pertengahan Januari 2018), penulis mendapatkan nilai 6.5, syarat rata-rata minimum bagi pengambil beasiswa. Berkat sertifikat ini, penulis berhasil mendapatkan LoA unconditional dari University of Reading.

Kampus sudah dapat, sertifikat IELTS sudah dapat, hanya tinggal satu yang belum dapat: beasiswanya. Sayang, belum rezeki penulis untuk melanjutkan studinya di Inggris.

Henley Business School, University of Reading

Penulis memutuskan untuk mencari beasiswa lainnya. Target selanjutnya adalah New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS). Sayang, kali ini juga belum lolos. Selanjutnya penulis mencoba beasiswa Ignacy Lukasiewicz dari Polandia, masih belum lolos juga.

Gagal tiga kali secara berturut-turut lumayan membuat penulis merasa down. Apalagi, penulis mencurahkan fokus untuk berburu beasiswa selama berbulan-bulan (selain mempersiapkan kaderisasi dan pergantian kepengengurusan Karang Taruna) hingga sama sekali tidak melirik lowongan pekerjaan yang ada.

Untunglah, penulis melamar menjadi volunteer Asian Games ketika sedang berada di Pare.

Awal Kehidupan di Jakarta

Penulis jadi kerap bolak-balik Malang-Jakarta gara-gara harus mengikuti serangkaian pelatihan sebagai volunteer. Tapi berkat itu, penulis jadi tahu sedikit-sedikit tentang lokasi-lokasi di Jakarta, karena penulis melakukan eksplorasi ketika memiliki waktu luang.

Sebelum berangkat ke Jakarta pada bulan Agustus, penulis menyelesaian beberapa urusan. Salah satunya adalah pergantian pengurus Karang Taruna, sehingga penulis bisa tenang meninggalkan organisasi yang telah dirintis sejak 2016 ini.

Terhitung mulai bulan Agustus hingga September, penulis berkonsentrasi penuh mengabdikan diri menjadi seorang volunteer. Untuk kisahnya sendiri telah penulis tulis sebanyak 7 bagian di blog ini.

Teman-Teman Volunteer

Setelah selesai menunaikan tugas, penulis memutuskan untuk tinggal di Jakarta, menumpang di rumah tante. Penulis memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta, menepikan sementara impian penulis untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

Dengan menerapkan metode brute force, penulis melamar kerja di berbagai tempat. Setelah satu setengah bulan, pada akhirnya penulis mendapatkan pekerjaan di Mainspring Technology sebagai Content Writer jalantikus.com.

Benang Merah Pada Perjalanan Hidup Penulis

Every cloud has a silver lining. Semua yang terjadi pasti memiliki hikmah di baliknya. Penulis percaya apa yang selama ini penulis alami dan jalani memiliki maknanya masing-masing.

Jika ditarik ke belakang, semua perjalanan hidup penulis tersambung oleh benang merah, Secara singkat, bisa dituliskan seperti ini.

Lulus -> Melamar di NET -> Gagal, sempat depresi -> Menawarkan diri untuk membantu ayah -> Bertemu dengan Pak Teddy -> Memutuskan untuk lanjut kuliah di luar negeri -> Ambil persiapan IELTS di Pare -> Diajak teman di Pare menjadi volunteer Asian Games -> Gagal mendapatkan beasiswa tiga kali -> Menjadi volunteer Asian Games di Jakarta -> Memutuskan mencari kerja di Jakarta -> Bekerja di Mainspring Technology

Selain itu, penulis memulai menulis blog juga terinspirasi dari teman di Pare. Dengan adanya blog ini, mungkin jadi bahan pertimbangan perusahaan untuk menerima penulis. Setidaknya, penulis tidak kebingungan ketika diminta untuk menyerahkan contoh portofolio.

Lantas, apakah penulis menyerah dengan impiannya untuk kuliah di luar negeri? Tentu tidak. Penulis hanya menundanya untuk sementara waktu. Mungkin, Tuhan menyuruh penulis untuk bekerja terlebih dahulu sebelum kuliah lagi.

Sekarang, penulis mau fokus melakukan yang terbaik untuk pekerjaan penulis. Penulis akan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari tempat kerja penulis. Penulis tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada penulis, setelah melalui proses panjang tersebut.

Jika ada yang bertanya “dulu kerja di mana?” lagi, mungkin penulis akan menjawab “kawan, bersiaplah mendengarkan sebuah kisah yang cukup panjang”.

 

 

Kebayoran Lama, 29 Desember 2018, terinspirasi dari banyaknya yang mengajukan pertanyaan tersebut ke penulis

Foto: rawpixel

Pengalaman

Ini adalah Tulisan Whathefan yang ke-1000

Published

on

By

Sejak Whathefan dibuat pada tanggal 2 Januari 2018, akhirnya sampai juga pada tulisan ke-1000. Butuh waktu kurang lebih 6,5 tahun untuk bisa mencapai milestone ini, atau jika dirinci setara dengan 2.354 hari.

Ketika awal membuat blog ini, target Penulis adalah memproduksi setidaknya 5 tulisan setiap minggunya, yang lantas Penulis tingkatkan menjadi 1 tulisan per hari. Namun, pada kenyataannya Penulis banyak bolongnya karena berbagai alasan, tapi yang paling utama tentu saja rasa malas.

Melihat jumlah hari yang telah blog ini lewati, artinya rata-rata Penulis membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari sekali untuk membuat artikel baru, atau jika mau dirinci lagi menjadi setiap 56,5 jam sekali. Apakah itu termasuk cukup produktif untuk seorang penulis, Penulis tidak tahu.

Apapun itu, Penulis tetap berusaha bangga dengan dirinya sendiri karena bisa memproduksi hingga 1.000 artikel. Tentu Penulis tidak akan berhenti menulis di sini dan semoga saja tulisan ke-2000 tidak membutuhkan waktu 6,5 tahun.

Jika Penulis bisa konsisten menulis seperti belakangan ini (sampai artikel ini, Penulis sudah streak sepanjang 19 hari), maka artikel ke-2000 akan tercapai pada tanggal 10 Maret 2027. Permasalahan utama Penulis untuk hal tersebut adalah masalah konsistensi.

Berusaha untuk Bisa Menulis Konsisten Setiap Hari

Dalam tabel distribusi per bulan di atas, bisa dilihat kalau jumlahnya naik turun secara signifikan. Bahkan, total dalam tahun pun trennya menurun terus. Membuat 100 artikel dalam satu tahun pun tak sanggup dalam dua tahun terakhir.

Karena hal tersebut, Penulis bisa dibilang sebagai penulis yang kurang konsisten. Ada saat-saat di mana Penulis seolah kehilangan semangat dan gairah untuk menulis terutama beberapa bulan ke belakang ini, yang sejatinya merupakan hobinya.

Bayangkan saja, jumlah artikel yang Penulis produksi dalam 19 hari terakhir lebih banyak dibandingkan periode November 2023 hingga Februari 2024 (empat bulan), di mana di periode tersebut Penulis hanya berhasil membuat 8 tulisan saja.

Pernah ada dalam satu bulan, Penulis hanya bisa menulis 2-3 artikel (seperti di awal tahun ini), bahkan sempat tidak menulis sama sekali (terjadi dua kali pada bulan Oktober 2020 dan Desember 2023).

Ketika direnungkan, tentu ada faktor-faktor lain yang membuat Penulis jadi tidak bersemangat menulis untuk blog ini. Namun, faktor utamanya tetap saja rasa malas dan kalah dari keinginan bermalas-malasan di atas kasur sambil main ponsel.

Menyadari hal ini, Penulis pun berusaha untuk mencari solusi bagaimana agar dirinya bisa tetap konsisten menulis. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan Notion yang telah Penulis bahas secara terpisah sebelumnya, yang terbukti sangat membantu Penulis.

Jika dikatakan terkadang ada buntu saat menulis, memang benar. Namun, ide terkadang memang harus dikejar, bukan ditunggu. Seringnya sepanjang pengalaman Penulis, selama dirinya berada di depan layar dan mulai mengetik, nanti jari-jari ini akan mengalir dengan sendirinya.

Apa Saja yang Telah Ditulis di Whathefan

Sesuai dengan tagline-nya, Penulis benar-benar menulis apapun yang sedang terpikirkan dan diinginkan. Apa yang Penulis suka, akan Penulis tulis. Alhasil, jumlah rubrik dari blog ini pun terus bertambah menyesuaikan dengan apa yang ingin Penulis tulis.

Penulis tak punya catatan pasti tentang “sejarah rubrik” di blog ini, tapi yang jelas dua rubrik terbaru di blog ini adalah Permainan dan Olahraga. Permainan Penulis buat karena sedang menekuni hobi baru di dunia board game, sedangkan olahrga karena Penulis merupakan penggemar sepak bola dan Formula 1.

Beberapa rubrik lain yang bukan rubrik “orisinal” adalah Musik, Produktivitas (yang merupakan sempalan dari Pengembangan Diri), dan Tentang Rasa. Buku pun dulu tidak Penulis pisah antara Fiksi dan Non-Fiksi.

Selama 6,5 tahun, tentu ada rubrik atau kategori yang paling sering Penulis isi. Yang paling banyak adalah kategori Buku (Fiksi dan Non-Fiksi) dengan 94 tulisan, disusul Film & Serial (86), Sosial Budaya (83), dan Pengembangan Diri (82).

Selain itu, Penulis juga berencana untuk menghilangkan kategori Karang Taruna karena sudah tidak pernah diisi lagi, mengingat Penulis sudah pensiun. Kemungkinan, Penulis akan menggabungkannya dengan rubrik Pengalaman saja.

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir Penulis tidak pernah membuat karya sastra satu pun, baik itu novel, cerpen, maupun sajak. Entah mengapa Penulis menjadi seperti miskin imajinasi. Mungkin faktor usia membuat Penulis menjadi pribadi yang semakin realistis.

Apakah ke depannya Penulis akan menambah kategori baru? Bisa saja, jika ada hal baru yang ingin Penulis tulis. Mungkin Penulis akan banyak menulis tentang game, walau rasanya topik tersebut bisa dimasukkan ke dalam kategori Permainan.

Whathefan adalah Blog Gado-Gado yang Belum Profit

Banyak yang bilang blog yang baik adalah yang memiliki niche tertentu. Nah, kalau Whathefan kan beda karena gado-gado. Seninnya bisa membahas tentang politik, Selasanya nulis K-Pop, terus Rabunya nulis sepak bola. Benar-benar semau gue.

Sejak awal Penulis memang tidak menjadikan blog ini sebagai sumber pemasukan. Memang Penulis memasang AdSense, tapi tidak pernah dikelola dengan benar sehingga sampai hari ini pun uang AdSense-nya belum bisa dicairkan karena jumlahnya kecil sekali.

Padahal dalam setahun, biaya yang harus Penulis keluarkan untuk blog (biaya domain dan hosting) ini mencapai sekitar Rp900 ribu. Karena blog ini telah berusia 6 tahun, maka kurang lebih Penulis sudah mengeluarkan sekitar Rp5,4 juta.

Namun, Penulis sama sekali tidak pernah merasa rugi karena bagi Penulis hal tersebut merupakan sebuah investasi. Tanpa berniat sombong, salah satu faktor Penulis diterima di dua tempat kerja adalah karena kehadiran blog ini yang menjadi semacam portofolio Penulis.

Oleh karena itu, sebisa mungkin Penulis akan mempertahankan blog ini selama mungkin, bahkan kalau bisa sampai Penulis tidak mampu lagi menulis. Meskipun sering terhalang masalah inkonsistensi, Penulis akan terus berusaha untuk bisa menghasilkan tulisan di blog ini.


Lawang, 13 Juni 2024, terinspirasi setelah mencapai milestone 1.000 artikel di blog ini

Continue Reading

Pengalaman

Bagaimana Rasanya Berpuasa di Tanah Rantau?

Published

on

By

Tahun 2024 ini menjadi tahun keempat di mana Penulis (alhadulillah) bisa berpuasa di rumah. Sebelumnya pada rentang tahun 2019-2020, Penulis mengalami yang namanya berpuasa di tanah rantau, di mana untuk sahur dan buka puasa harus dilakukan sendirian.

Meskipun tergolong sebentar (karena hanya sekitar dua tahun), Penulis merasa kalau berpuasa di tanah rantau memiliki sensasinya sendiri. Yang biasanya kita dibangunkan dan makanan telah disiapkan oleh ibu, kini harus tergantung dengan diri sendiri.

Oleh karena itu, pada tulisan kali ini Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana rasanya berpuasa di tanah rantau. Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk sesama kaum muslimin yang baru merasakan bagaimana puasa di tanah rantau tahun ini.

Sahur di Tanah Rantau

Warteg Andalan (Google Maps)

Di sekitar kos Penulis di Jakarta, bisa dibilang ada berbagai jenis makanan yang dijual, mulai dari warteg hingga masakan padang. Hal ini memudahkan Penulis untuk mencari makan ketika jam sahur.

Yang menjadi andalan Penulis tentu saja warteg dengan lauk tempe orek ditambah sayur singkong. Menu yang murah meriah ini tentu menjadi berkah untuk anak rantau yang harus serba menghemat.

Namun, yang menjadi permasalahan utama ketika sahur sebenarnya bukan menu makanannya, melainkan rasa malas untuk keluar kos. Bangun dini hari untuk keluar kos terkadang terasa berat, walau tempat membeli makanannya sebenarnya sangat dekat.

Jika sudah mager tingkat maksimal, biasanya mi instan menjadi solusi utama, ditemani dengan secangkir teh panas yang dibuat menggunakan Heater. Solusi lainnya adalah memesan makanan secara online, yang secara biaya jelas lebih mahal.

Penulis bukan tipe orang yang bisa memasak dan kurang minat memelajarinya. Penulis baru mulai memasak kecil-kecilan ketika pandemi, di mana Penulis tidak bisa pulang ke Malang. Berbagai peralatan masak pun dibeli, mulai dari Magic Jar, panci, hingga saringan.

Yang dimasak pun hanya makanan instan yang tinggal digoreng, seperti nugget dan sosis. Kalau makanan organik, paling mentok ya tempe dan telur, yang sama-sama tinggal digoreng. Jangan harap ada sayur karena tidak ada satupun menu yang bisa Penulis masak.

Buka Puasa di Tanah Rantau

Dulu Hampir Buka Puasa Setiap Hari di Sini (Google Maps)

Untuk masalah buka puasa, Penulis merasa bersyukur karena mendapatkan “jatah” dari kantor. Ini terjadi di tahun 2019, karena di tahun 2020 pandemi COVID-19 terjadi sehingga Penulis harus buka puasa di kos.

Jatah menu buka puasa dari kantor bisa dibilang cukup bervariasi, karena setiap harinya akan mendapatkan menu yang berbeda. Biaya makan per karyawan pun bisa dipastikan lebih dari 15 ribu per kepala, karena makanan yang dihidangkan berasal dari walaraba populer.

Barulah ketika akhir pekan Penulis harus mencari menu buka puasa sendiri. Namun, Penulis jarang membeli makan sebelum jam buka. Biasanya, Penulis justru baru mencari makan selepas Isya karena biasanya tempat makan sudah mulai sepi pembeli.

Menu buka puasanya pun berkisar di tempat-tempat makan di sekitar kos. Namun, jika sedang senggang, maka Penulis akan berbuka puasa di mal untuk menikmati menu yang lebih lezat atau memesannya melalui layanan online jika sedang mager.

Ketika memesan makanan online, sesekali Penulis akan memesan dua porsi, di mana satunya diperuntukkan untuk abang yang mengantarkannya. Selain berbagi di bulan puasa, biasanya potongan di aplikasi baru bisa dipakai ketika mencapai nominal tertentu.

Selama merantau, Penulis bisa dibilang jarang mengikuti buka bersama (bukber), lha mong tiap hari memang bukber bareng teman-teman kantor. Ketika akhir pekan, tentu mereka lebih memilih berbuka bersama orang-orang rumah.

Penutup

Jika dibandingkan dengan puasa di tanah rantau, memang berpuasa di rumah terkesan lebih “membosankan” karena cukup monoton. Kalau tidak makan masakan ibu atau beli makanan di sekitar rumah. Kalau mau beda, paling menunggu momen bukber.

Namun, tentu Penulis tetap bersyukur bisa berpuasa di rumah bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai. Ini bukan tentang apa yang dimakan, melainkan momen berharga yang dihabiskan dengan siapa.

Berpuasa di tanah rantau mengajari Penulis untuk bersyukur karena selama ini mendapatkan privilege sehingga bisa berpuasa dengan “mudah.” Semua sudah tersedia, kita tinggal makan saja tanpa perlu keluar rumah.

Suasana sahur dan buka bersama keluarga juga menjadi hal yang membuat kita baru merasa kehilangan ketika merantau sendirian. Meskipun ada teknologi video call, hal tersebut tidak akan bisa menggantikan pertemuan fisik.

Berada di tanah rantau membuat kita menyadari hal tersebut, yang mungkin selama ini terabaikan. Bisa berpuasa di rumah bersama keluarga rasanya jauh lebih menyenangkan, terutama setelah sempat berpuasa sendiri di tanah rantau.

Untuk para Pembaca yang baru berpuasa sendiri di tanah rantau, semangat! Puasa di tanah rantau itu seru kok, walaupun kita harus bisa melawan rasa malas untuk keluar rumah ataupun memasak sendiri.


Lawang, 12 Maret 2024, terinspirasi karena menyadari dirinya sudah empat tahun mendapatkan kesempatan untuk berpuasa di rumah

Foto Featured Image: Chatelaine

Continue Reading

Pengalaman

Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani

Published

on

By

Ketika sedang menulis artikel ini, Penulis sedang dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani. Ini adalah kali pertama Penulis menaiki kereta eksekutif, bukan Ekonomi seperti biasanya. Hitung-hitung buat tambah pengalaman.

Penulis berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, dan akan berhenti di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Berbeda dengan kelas Ekonomi yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam, perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam saja.

Perjalanan ke Jakarta kali ini dalam rangka mengikuti acara staycation dari kantor yang akan berlangsung besok (5/1) sampai Minggu (7/1). Berhubung semua anggota tim bisa mengikuti acara ini, tentu sayang jika Penulis sampai tidak ikut.

Nah, daripada bengong atau main HP, Penulis memutuskan untuk menulis sebuah artikel. Jujur saja, waktu membuka WordPress ini, Penulis belum terpikirkan akan menulis apa. Biar saja mengalir begitu saja, sehingga Penulis minta maaf jika pembahasannya ngalor-ngidul.

Mengapa Naik Kereta Api?

Dalam perjalanan ke Jakarta pada awal tahun 2023 silam, Penulis memutuskan untuk naik pesawat terbaik, baik perjalanan pergi maupun pulangnya. Alasannya sederhana, karena Penulis hanya sebentar di Jakarta, jadi biar lebih efisien waktunya.

Nah, kalau yang edisi kali ini, bisa dibilang Penulis lebih longgar waktunya karena akan menginap di kos adik (yang dulu merupakan kos Penulis juga sewaktu masih berdomisili di Jakarta). Jadi, waktu menumpangnya bisa dibilang tidak terbatas.

Harga tiket pesawat juga masih sangat mahal karena tembus satu juta rupiah lebih. Hal ini dimaklumi, mengingat sekarang masih momen pergantian tahun. Mau naik bus, Penulis malah ada sedikit trauma karena kisah yang dulu pernah Penulis bagikan.

Selain itu, pada dasarnya Penulis memang cenderung memilih kereta jika memiliki waktu yang cukup longgar. Entah mengapa Penulis sangat menikmati perjalanan di atas kereta api meskipun memakan waktu berjam-jam.

Jika dibandingkan dengan bus, “suguhan” pemandangan yang diberikan kereta api memang terkesan monoton karena didominasi oleh area persawahan dan sesekali perkampungan. Hanya beberapa kali ada view yang menarik, seperti pantai dan PLTU Batang.

Hal agak minus lainnya dari naik kereta api adalah tidak adanya makan gratis seperti ketika kita naik bus. Jika lapar, kita harus membeli makanan yang dijual oleh pihak kereta. Sejujurnya, makanan kereta api cukup mahal dan kurang enak!

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Naik Kereta Api?

Berhubung perjalanan menggunakan kereta api cukup memakan waktu, tentu kita harus pandai mencari aktivitas agar tidak merasa bosan. Penulis ingin berbagi sedikit tentang aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan ketika naik kereta.

Pertama, menikmati pemandangan sembari melamun. Entah mengapa rasanya melamun di pinggir jendela kereta api itu feel-nya beda. Rasanya lebih khidmat begitu. Bagi Penulis, aktivitas ini bisa memberikan efek tenang yang lumayan.

Sesekali Penulis juga mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen menarik yang ditemukan di perjalanan. Hanya saja, karena laju kereta cukup kencang, maka terkadang akan terasa sulit untuk bisa menangkap momen tersebut, apalagi jika kamera ponselnya kentang.

Kedua, baca buku. Sudah menjadi kebiasaan Penulis untuk membawa buku ke mana-mana jika sedang menggunakan transportasi umum, termasuk kereta api. Apalagi, di atas kereta api guncangannya relatif kecil sehingga tidak akan membuat pusing kepala.

Pada perjalanan kali ini, Penulis membawa dua buku, yaitu Meditations dari Marcus Aurelius dan Namaku Alam dari Leila S. Chudori. Penulis memutuskan untuk membaca Meditations dulu, tetapi hanya sanggup beberapa halaman karena sedang sulit fokus untuk membaca.

Ketiga, menulis artikel atau mencatan isi pikiran. Ini adalah aktivitas yang sedang Penulis lakukan sekarang. Menulis dengan suasana yang benar-benar baru dari rutinitas memicu otak untuk bisa mengeluarkan ide-ide segar untuk dituangkan.

Tidak hanya itu, Penulis juga pernah memanfaatkan waktu perjalanannya di atas kereta api untuk mencatat apapun yang sedang ada di pikirannya. Jika sedang overthinking atau banyak hal yang sedang dipikirkan, Penulis menuliskannya semua untuk meredakannya.

Keempat, dan yang paling tidak direkomendasikan, adalah main HP. Aktivitas ini sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, sehingga rasanya tidak perlu dilakukan untuk momen-momen yang jarang seperti ketika kita naik transportasi umum.

Penutup

Yup, ternyata artikel ini jadi semacam artikel behind the story mengapa Penulis suka naik kereta api dan rekomendasi aktivitas yang bisa dilakukan. Itu semua benar-benar tidak direncanakan, mengalir begitu saja ketika jari Penulis menari-nari di atas keyboard tabletnya.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa terkadang yang penting mulai aja dulu, tidak perlu menunggu semuanya matang dan sempurna. Terkadang inspirasi dan ide akan datang begitu kita sudah mengambil langkah pertama.

Yang jelas, Penulis merasa senang karena bisa berbagai tentang kereta api, salah satu transportasi umum yang digemari. Semoga saja tulisan ini bisa mendorong Pembaca yang belum pernah naik kereta api untuk mau mencoba menaikinya.


Di Atas Kereta Api Sembrani, 4 Januari 2024, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu dalam perjalanannya menuju Jakarta

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan