<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pelajaran Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pelajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pelajaran/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2023 15:37:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pelajaran Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pelajaran/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>1/365</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/1-365/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/1-365/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 15:23:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[2023]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6263</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan.</p>



<p>Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali melakukan refleksi diri atas apa yang telah terjadi di sepanjang tahun 2022.</p>



<p>Pada tulisan pertama di tahun ini, Penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa saja yang telah dipelajari dalam hidupnya selama tahun 2022 kemarin. Selain itu, Penulis juga ingin menyampaikan harapannya di tahun 2023 ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Dipelajari di Tahun 2022</h2>



<p>Penulis merasa di tahun 2022, ada banyak sekali pelajaran kehidupan yang didapatkan. Penulis merasa itu semua menjadi &#8220;modal&#8221; bagi dirinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya, diawali di tahun 2023 ini.</p>



<p>Salah satu yang baru berusaha Penulis pahami adalah tentang bagaimana tentang <strong><a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">berbuat baik dengan ikhlas</a></strong> tanpa berharap timbal balik apapun. Ternyata, tanpa disadari, Penulis beberapa kali masih berharap adanya <em>feedback </em>dari orang yang telah dibantunya.</p>



<p>Sebagai contoh, ketika Penulis ada ketika seseorang membutuhkannya, Penulis juga berharap kalau orang tersebut ada <em>ketika Penulis yang membutuhkannya</em>. Walaupun terdengar manusiawi, Penulis ingin ke depannya tidak mengharapkan hal tersebut lagi.</p>



<p>Penulis juga belajar banyak mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">menjadi dewasa</a></strong>. Ternyata ada beberapa hal kekanakan di diri Penulis yang belum hilang, seperti kontrol emosi yang (terkadang) masih buruk dan egonya yang (terkadang) masih tinggi. </p>



<p>Apalagi, menjelang usianya yang akan segera mencapai kepala tiga, Penulis masih harus terus belajar mengenai bagaimana menjadi orang yang dewasa yang <em>proper</em>. Tidak perlu muluk-muluk menjadi panutan orang lain, cukup menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, Penulis mulai belajar mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">berusaha menerima keadaan</a> </strong>dalam hidupnya tanpa perlu memikirkannya secara berlebihan. Menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kontrol benar-benar membantu Penulis.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis kerap berusaha mengendalikan banyak hal, termasuk bagaimana sikap dan respons orang lain ke kita, bahkan meminta untuk diprioritaskan. Selain hanya menimbulkan pertengkaran, hal tersebut juga membebani orang lain dengan ekspekstasi kita.</p>



<p>Selain poin-poin di atas, tentu masih ada banyak pelajaran kehidupan lain yang Penulsi dapatkan di tahun 2022. Namun, Penulis merasa bahwa ketiga hal tersebut adalah yang paling esensial dan banyak membantu Penulis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Diharapkan di Tahun 2023</h2>



<p>Dengan semangat pergantian tahun, tentu ada beberapa hal yang diharapkan akan bisa dilakukan di tahun 2023 ini. Anggap saja ada <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">beberapa resolusi yang ingin dicapai tahun ini</a>, terlepas dari adanya beberapa resolusi yang gagal dicapai di tahun lalu.</p>



<p>Penulis merasa agak &#8220;berantakan&#8221; di tahun 2022 kemarin karena rutinitas mencatat jurnal harian dan keuangannya tidak teratur dan banyak bolongnya. Penulis berharap di tahun 2023 ini, Penulis bisa lebih <strong>konsisten melakukan rutinitas</strong> yang telah dilakukan sejak kuliah itu.</p>



<p>Berbicara tentang rutinitas, Penulis juga ingin bisa kembali <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin olahraga pagi</a></strong> yang sudah lama ditinggalkannya. Ini jelas butuh niat dan motivasi yang sangat kuat, apalagi jika tidak ada orang lain yang mendorong kita untuk melakukannya.</p>



<p>Penulis juga ingin lebih <strong>rutin menulis blog</strong>, karena tahun 2022 kemarin menjadi rekor penulisan paling sedikit, yaitu <strong>91 artikel</strong>. Ini adalah pertama kalinya sejak blog ini tayang, jumlah artikel yang diproduksi dalam setahun kurang dari 100 artikel.</p>



<p>Besok, tanggal 2 Januari 2023, adalah ulang tahun yang ke-5 dari blog ini. Penulis harapkan ke depannya bisa lebih rutin dalam menulis di <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">blog yang sudah berperan besar dalam kehidupan Penulis</a> ini.</p>



<p>Untuk bisa mencapai hal tersebut, tentu Penulis harus bisa <strong>lebih baik lagi dalam mengatur manajemen waktunya</strong>. Selama 2022 kemarin, Penulis merasa sering membuang-buang waktunya untuk hal yang kurang berfaedah. Semoga saja itu bisa berubah di tahun 2023.</p>



<p>Tentunya di atas itu semua, Penulis berharap bisa menjadi <strong>manusia yang lebih baik lagi</strong>, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penulis akan terus berusaha menebar kebaikan dan menjadi manfaat bagi sekitarnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semoga saja di tahun 2023 ini, Penulis bisa benar-benar memperbaiki kekurangannya berdasarkan apa yang dirinya pelajari di 2022, serta bisa melakukan hal-hal apa yang telah ditargetkan, dimulai dari hari pertama dari 365 hari yang akan dilalui di tahun 2023.</p>



<p></p>



<p>NB: Gambar Jihyo di <em>banner </em>hanya sebagai ilustrasi optimisme dalam menyambut tahun 2023</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Januari 2023, terinspirasi setelah belakangan ini kerap melakukan refleksi diri menjelang pergantian tahun</p>



<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/51158145758127469/">Pinterest</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/1-365/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Pengalaman Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jul 2019 04:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2546</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain. Beberapa kali penulis membaca buku ataupun artikel untuk mengetahui bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Tentu ada alasannya. Penulis selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain, pengalaman yang mungkin tidak akan pernah penulis alami sendiri. Belajar dari Keberhasilan Orang Salah satu genre buku favorit penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">Belajar dari Pengalaman Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain. Beberapa kali penulis membaca buku ataupun artikel untuk mengetahui bagaimana cara menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>.</p>
<p>Tentu ada alasannya. Penulis selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain, pengalaman yang mungkin tidak akan pernah penulis alami sendiri.</p>
<h3>Belajar dari Keberhasilan Orang</h3>
<p><div id="attachment_2548" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2548" class="size-large wp-image-2548" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2548" class="wp-caption-text">Kisah Sukses Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexread">Alex Read</a>)</p></div></p>
<p>Salah satu genre buku favorit penulis adalah biografi. Penulis yang pada dasarnya menyukai sejarah tentu tertarik dengan kisah hidup orang-orang sukses.</p>
<p>Penulis ingin mengetahui apa resep keberhasilan mereka, walaupun terkadang memang yang ditampilkan hanya yang baik-baik saja. Penulis tidak menutup mata terhadap fakta tersebut.</p>
<p>Nah, kisah tentang kesuksesan tidak melulu berasal dari buku biografi yang biasanya tebal-tebal. Kita juga bisa mendengarnya dari orang-orang yang ada di sekeliling kita.</p>
<p>Tentu definisi keberhasilannya pun bervariasi. Ada yang berhasil secara karir, ada yang berhasil membina keluarga, ada yang sukses berhijrah menjadi lebih baik, ada yang mampu berinvestasi sehingga mencapai <em>financial freedom</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Biasanya jika ingin mengulik kunci keberhasilan tersebut, penulis akan secara tiba-tiba melakukan &#8220;sesi wawancara&#8221; dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mulai spesifik.</p>
<p>Contohnya, ketika konsultan sekaligus <em>leader </em>di tempat kerja penulis habis kontrak, penulis menanyakan perjalanan karirnya hingga bisa di titik yang sekarang.</p>
<p>Dengan mengetahui perjalanan karirnya, penulis bisa memproyeksikan bagaimana perjalanan karir penulis ke depannya. Mungkin tidak langsung jadi, tapi setidaknya ada sedikit gambaran ke mana kaki harus melangkah.</p>
<p>Tidak melulu soal hidup, penulis pun terkadang belajar tentang hal-hal lain seperti cinta. Penulis yang tak terlalu pandai bermain cinta senang mendengarkan cerita-cerita dari orang lain, terutama yang sedang melakukan pendekatan.</p>
<p>Walaupun mungkin tidak diterapkan di dalam kehidupan nyata, setidaknya penulis akan mencatat kisah tersebut di benak penulis. Siapa tahu, bisa jadi sumber inspirasi novel di waktu yang akan datang.</p>
<h3>Belajar dari Hal yang (Mungkin) Negatif</h3>
<p><div id="attachment_2547" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2547" class="size-large wp-image-2547" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2547" class="wp-caption-text">Mengalami Apa yang Belum Pernah Dialami (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elevatebeer">Elevate</a>)</p></div></p>
<p>Yang namanya mempelajari kehidupan, tentu tidak akan pas jika kita hanya belajar sisi positifnya saja. Hal negatif (atau hal yang sering dianggap negatif oleh orang lain) juga bisa menjadi pelajaran tersendiri dalam hidup.</p>
<p>Penulis sering bilang, kalau hidup penulis itu cenderung lurus-lurus saja. Pendidikan di rumah dan sikap <em>introvert </em>membuat penulis jarang mencoba hal-hal yang penulis tahu itu kurang baik. Contohnya, merokok, minum-minuman keras, dan hubungan seks bebas.</p>
<p>Nah, meskipun belum pernah mengalaminya sendiri (dan semoga tidak akan pernah selamanya), penulis sedikit tahu pengalaman dengan mencoba hal tersebut dari orang lain yang dengan baik hati mau berbagi kisah hidupnya.</p>
<p>Penulis jadi tahu seperti apa orang yang mabuk itu, apa saja jenis minuman keras, tahu bagaimana rasa penyesalan yang muncul akibat telah melakukan seks bebas, dan lain sebagainya.</p>
<p>Tidak hanya itu, penulis juga pernah mendengar cerita tentang depresi, tentang kasus <em>bullying</em>, tentang bagaimana tidak harmonisnya rumah tangga, dan hal-hal menyedihkan lainnya.</p>
<p>Biasanya, orang-orang yang menceritakan ini ingin didengar oleh orang lain agar bisa merasa sedikit tenang. Jika sudah seperti ini, penulis biasanya memosisikan diri untuk pasif, walau kadang tak sengaja mengeluarkan kata-kata nasihat yang sebenarnya tak diminta.</p>
<p>Yang bisa penulis lakukan adalah berusaha menunjukkan sikap empati dan berusaha meyakinkan bahwa mereka tidak sendirian. Mungkin hanya itu bantuan yang bisa penulis berikan kepada mereka.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Manusia memiliki dua telinga dan satu mulut. Secara filosofi, penulis menganggap kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Penulis sendiri masih berusaha untuk seperti itu.</p>
<p>Apalagi, pada dasarnya penulis adalah orang yang pendiam dan cenderung memendam segala sesuatunya sendiri. Iya, itu tidak baik. Penulis juga sedang berusaha untuk lebih terbuka dengan orang lain.</p>
<p>Mendengarkan cerita tidak harus selalu dari yang lebih tua. Dari yang lebih muda pun terkadang kita akan mendapatkan sesuatu. Penulis sudah sering mendengar cerita-cerita yang bermacam-macam dari mereka yang lebih muda ini.</p>
<p>Dengan mendengarkan cerita dan pengalaman dari orang lain, kita akan mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak akan pernah kita alami sendiri. Oleh karena itu, penulis sangat suka mendengarkan orang lain mengisahkan perjalanan hidupnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Juli 2019, terinspirasi setelah mendengar banyak cerita dari orang lain</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@krewellah87">Andrea Tummons</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">Belajar dari Pengalaman Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2019 04:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sopir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka.</p>
<p>Setelah mencari-cari tiket yang sesuai, penulis membeli tiket bus <strong>Pahala Kencana </strong>kelas eksekutif seharga Rp550 ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Jika dihitung pulang pergi, total uang yang dikeluarkan adalah Rp1.1 juta.</p>
<h3>Ketika Mudik ke Malang</h3>
<p>Ketika waktu untuk mudik telah tiba, tepatnya pada tanggal 30 Mei 2019, penulis akhirnya berangkat dari kos menuju <strong>terminal Kalideres </strong>menggunakan TransJakarta. Penulis memang membeli tiket untuk berangkat dari sana karena lokasinya relatif dekat.</p>
<p>Di bayangan penulis, terminal Kalideres ini sebagus <strong>terminal Bungurasih</strong> yang ada di Surabaya. Minimal, sebagus <strong>terminal Arjosari</strong> di Malang. Sayang, ekspetasi penulis terlalu tinggi.</p>
<p>Terminal tersebut ternyata cukup kecil dan disesaki oleh calon penumpang dari berbagai daerah dengan beragam tujuan. Penulis baru merasakan pengalaman di terminal yang seramai ini.</p>
<p>Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya penulis menemukan loket Pahala Kencana dengan petugasnya sama sekali tidak ramah. Penulis diberitahu bahwa busnya akan datang sore hari.</p>
<p>Memang penulis datang terlalu cepat. Di tiket, busnya tertulis akan berangkat pada pukul 13:50, di mana penulis sudah tiba pukul 11:30. Artinya, penulis harus menunggu kurang lebih 2 jam di tengah kerumunan orang.</p>
<p>Karena penuh sesak, tidak ada tempat yang bisa penulis gunakan untuk duduk, sehingga kurang lebih 4 jam penulis berdiri dan terkadang jongkok ketika merasa pegal. Busnya sendiri baru datang sekitar pukul 15:30.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, penulis mengisi waktu dengan membaca buku dan bermain game. Sesekali, penulis bahkan menulis ide untuk novel penulis yang berjudul <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji</a>.</p>
<p>Yang menyebalkan, bus sempat mogok selama 2 jam ketika berada di Subang. Untungnya, setelah mogok itu perjalanan relatif lancar. Penulis menyentuh Malang sekitar pukul 13:00 siang keesokan harinya.</p>
<p>Perjalanan mudik pertama ini benar-benar menguji kesabaran penulis. Akan tetapi, perjalanan balik ke Jakarta sungguh lebih menguras kesabaran dan tenaga.</p>
<h3>Ketika Balik ke Jakarta</h3>
<p>Sekitar tiga hari setelah lebaran, penulis harus segera balik ke Jakarta karena Senin sudah kembali bekerja. Sebenarnya masih rindu dengan suasana rumah, tapi ya sudahlah.</p>
<p>Di tiket, tertera keterangan bahwa bus akan berangkat dari <em>poll</em> yang berada di dekat rumah. Keberangkatan sekitar jam dua siang. Meskipun dekat, orang satu rumah pada ikut mengantar.</p>
<p>Penulis datang setengah jam lebih cepat walaupun punya pengalaman buruk ketika berangkat kemarin. Benar saja, pengalaman buruk tersebut terulang kembali dengan durasi yang lebih panjang.</p>
<p>Bayangkan, dari jadwal jam 2, busnya baru datang sekitar jam 7 malam! Alasan kondekturnya adalah macet yang luar biasa. Okelah, tapi terlambat 6 jam itu menurut penulis sudah termasuk keterlaluan.</p>
<p>Apalagi, di <em>poll </em>tersebut tidak ada ruang tunggunya, sehingga penulis dan keluarga harus menunggu di pinggir jalan. Penulis sih tidak masalah, tapi melihat orang tua dan kakek penulis menunggu seperti itu membuat penulis tidak enak hati.</p>
<p>Beberapa kali penulis meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu, tapi selalu ditolak dan berkata tidak apa-apa. Kelak, ketika penulis telah menjadi orang tua, penulis akan memahami sikap mereka ini.</p>
<p>Adakah yang lebih buruk? Ada, bus yang satu ini juga sempat mogok di tengah jalan! Hanya saja, mogoknya terjadi ketika dini hari, sehingga penulis tidak terlalu memusingkan hal tersebut.</p>
<p>Dari jadwal tiba di Jakarta jam 8 pagi, penulis baru sampai di terminal Kalideres sekitar pukul 16:00. Setelah melanjutkan perjalanan dengan menggunakan TransJakarta, penulis bisa beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan.</p>
<h3>Semua Ada Hikmahnya</h3>
<p>Penulis selalu meyakini idiom <em>every cloud has a silver lining</em>. Semua peristiwa selalu memiliki hikmahnya tersendiri, termasuk perjalanan mudik pertama dengan menggunakan bus ini.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa merasakan bagaimana susahnya pemudik yang menggunakan bus. Selama ini, penulis lebih sering berpergian dengan menggunakan kereta api atau pesawat terbang, sehingga pengalaman ini benar-benar berharga.</p>
<p>Mungkin penulis telah bersikap egois karena gusar dengan pelayanan Pahala Kencana. Akan tetapi, ketika melihat pak sopir dan kondekturnya yang sudah berjuang keras, penulis jadi merasa iba dengan mereka.</p>
<p>Di saat yang lain sedang pulang kampung, mereka harus mengantar orang lain pulang kampung. Belum lagi menerima komplain dari penumpang yang terlambat dijemput.</p>
<p>Belum lagi ketika bus harus mogok sehingga mereka harus menguras otak dan otot untuk kembali memperbaikinya. Ini bukan salah mereka, mungkin salah manajemennya.</p>
<p>Pelajaran lain yang penulis dapatkan adalah jangan menumpang bus lagi untuk perjalanan jarak jauh. Penulis merasa pengalaman yang satu ini sudah cukup memberi banyak pelajaran, dan penulis tidak ingin mengulang mata pelajaran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Juli 2019, terinspirasi dari perjalanan mudik pertama kemarin dengan menggunakan bus.</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.traveloka.com/tiket-bus-travel/pahala-kencana" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjAmurJgbHjAhXFpY8KHWphCvUQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Traveloka.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
