<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pengaruh Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pengaruh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pengaruh/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Jun 2024 16:08:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pengaruh Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pengaruh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 15:18:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221; Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan</a>. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya:<strong> &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221;</strong></p>



<p>Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.</p>



<p>Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki <em>point of view </em>(POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadi Patokan dalam Menentukan Standar Pasangan (<a href="https://www.searchenginejournal.com/why-is-tiktok-so-popular/424603/">Search Engine Journal</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.</p>



<p>Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang <em>typing</em> atau mengetik di <em>chat</em>. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan <strong>ciri-ciri <em>typing</em> ganteng</strong>. Masalah <em>typing</em> saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi <em>red flag</em> kalau tidak cocok!</p>



<p>Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/idolaku-adalah-milikku-bukan-milikmu/">fisik seperit <em>idol </em>K-Po</a>p. Mungkin lho, ya.</p>



<p>Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.</p>



<p>Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.</p>



<p>Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri:<strong> apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7344" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Terlalu Banyak Menuntut Ini Itu (<a href="https://create.vista.com/unlimited/stock-photos/230188504/stock-photo-selective-focus-angry-girlfriend-screaming-boyfriend-while-man-putting-hands/">Vista Create</a>)</figcaption></figure>



<p>Terkadang kita ini terlalu <em>demanding </em>dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri <strong>kita sendiri juga butuh terus meningkatkan <em>value </em>diri</strong> agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.</p>



<p>Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga. </p>



<p>Buat apa punya paras yang menarik, kalau <em>value </em>yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang <em>value</em>-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan <em>value </em>diri.</p>



<p>Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan &#8220;kosmetik.&#8221; Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.</p>



<p>Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7342" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat <em>quote </em>terkenal dari Chris Rock:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.&#8221;</p>



<p>“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”</p>
</blockquote>



<p>Berdasarkan pengalaman pribadi dan <em>sharing </em>yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.</p>



<p>Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan <em>nganggur </em>pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. <a href="https://whathefan.com/animekomik/mokondo-ala-rent-a-girlfriend/">Pria <em>mokondo</em></a><em> </em>yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221; memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.</p>



<p>Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan <em>effort </em>lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu &#8220;risiko&#8221; menjadi seorang pria.</p>



<p>Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi <em>red flag </em>untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan <em>value </em>diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.</p>



<p>Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.</p>



<p>Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.wired.com/story/how-to-download-your-tiktok-videos/">WIRED</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Mar 2023 15:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[lato lato]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama lato lato, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali. Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok</p></blockquote>



<p>Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama <strong>lato lato</strong>, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali.</p>



<p>Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua bola tersebut saling beradu dan menghasilkan suara &#8220;tok tok&#8221;. Semakin mahir memainkannya, semakin cepat punya kedua bola tersebut saling beradu.</p>



<p>Setelah ditelusuri, ternyata viralnya permainan lato lato ini berasal dari TikTok, walau Penulis sendiri kurang tahu past siapa atau peristiwa apa yang menjadi inisiatornya. Yang jelas, secara cepat bak ekspansi gerai Mixue, banyak orang terutama anak kecil yang ikut memainkannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Pro dan Kontra Lato Lato</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6381" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lato Lato (<a href="https://katasumbar.com/viral-di-sumbar-benarkah-kata-lato-lato-berarti-aku-yahudi-cek-faktanya-disini/">Kata Sumbar</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari yang Penulis perhatikan, ada dua kubu dalam menyikapi viralnya lato lato yang dimainkan oleh anak-anak. Seperti kebanyakan kasus, ada pihak yang pro dan ada pula pihak yang kontra.</p>



<p>Pihak yang pro mengatakan mereka senang melihat anak-anak kecil yang bermain lato lato karena itu membuat mereka menjauh sesaat dari gawai. Melihat mereka bermain permainan tradisional juga menimbulkan perasaan nostalgia kepada generasi yang lebih tua.</p>



<p>Seperti yang kita tahu, penggunaan gawai di kalangan anak-anak cukup memprihatinkan dengan durasi yang cukup lama. Adanya permainan tradisional yang mau mereka mainkan bisa menjadi jeda yang cukup solutif.</p>



<p>Di pihak yang kontra, mereka merasa terganggu karena suara yang dihasilkan oleh lato lato cukup berisik. Suara &#8220;tok tok&#8221; seolah terdengar dari pagi, siang, sore, bahkan malam. Tentu ini sangat menganggu orang-orang yang sedang istirahat ataupun butuh ketenangan.</p>



<p>Bahkan, ada yang <em>su&#8217;udzon </em>dengan mengatakan kalau anak-anak itu main di luar karena orang tua mereka sendiri merasa terganggu. Entah ini benar atau salah, yang jelas suara keras yang dihasilkan oleh lato lato memang cukup mengganggu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengaruh Besar TikTok yang Cukup Mengkhawatirkan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="575" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg" alt="" class="wp-image-6382" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sering Disebut Ngemis Online (<a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-6513481/viral-tren-mandi-lumpur-di-tiktok-dokter-kulit-sebut-efeknya-bisa-begini">Detik Health</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pribadi tidak merasa terlalu terganggu dengan suara lato-lato yang bahkan masih terdengar setelah beberapa bulan lalu mulai viral. Penulis justru resah sumber dari viralnya permainan tradisional ini: <strong>TikTok</strong>.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">berhenti menggunakan TikTok</a> karena beberapa alasan, sehingga sering <em>out-of-date</em> alias ketinggalan apa yang sedang viral. Kalau sudah heboh seperti lato lato, baru akhirnya Penulis <em>ngeh </em>dan mencari tahu lebih dalam.</p>



<p>Kasus lato lato yang baru saja terjadi seolah menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh TikTok dalam memviralkan sesuatu. Mungkin hanya diawali oleh satu orang, ribuan atau bahkan mungkin jutaan orang akan mengikutinya, kadang hanya karena ikut-ikutan.</p>



<p>Lato lato mungkin hampir tidak memiliki efek yang negatif, selain menghasilkan polusi suara. Namun, bagaimana dengan hal viral lain seperti berlomba-lomba mengemis dengan cara yang menyiksa diri?</p>



<p>Seperti yang kita tahu, selain lato lato, yang sedang ramai berkat TikTok adalah adanya oknum-oknum yang rela melakukan hal konyol/berbahaya demi mendapatkan beberapa rupiah dari penonton. Contohnya adalah aksi mandi lumpur yang sempat ramai.</p>



<p>Tidak hanya itu, bahkan beberapa oknum juga memanfaatkan orang tua yang sudah lansia untuk meningkatkan pendapatan mereka dari TikTok. Bagi Penulis, perbuatan-perbuatan seperti ini sudah kelewat bebas dan sudah seharusnya dihentikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tapi, Itu Kan Mereka Berusaha untuk Mendapatkan Pendapatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6383" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Apakah Perbuatan Ini Dapat Dibenarkan? (<a href="https://www.detik.com/bali/nusra/d-6524270/7-lansia-live-tiktok-mandi-lumpur-warga-lain-antre">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin ada yang kontra dengan pendapat ini karena seolah mematikan rezeki orang. Toh, apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain, dan yang memberi pun merasa terhibur. Mereka tidak keberatan berbagi rezeki atas &#8220;usaha&#8221; yang mereka lakukan.</p>



<p>Itu ada benarnya, tetapi bukannya mendapatkan pendapatan dengan cara yang kurang baik juga sebaiknya tidak dilakukan. Sama seperti Pesulap Merah yang membongkar praktik dukun, itu akan mematikan penghasilan si dukun yang memang didapat dengan cara buruk.</p>



<p>Kalau sekadar melakukan hal konyol yang bisa mengundang tawa penonton, Penulis tidak akan mempermasalahkannya. Namun, contoh-contoh berbahaya seperti mandi lumpur menurut Penulis sudah seharusnya tidak diteruskan.</p>



<p>Mengingat pengaruh TikTok yang luar biasa, bukan tidak mungkin orang-orang yang awalnya cuma menonton jadi ikut-ikutan karena melihat peluang besar untuk mendapatkan uang dengan cepat.</p>



<p>TikTok sudah seharusnya menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan bakat kita agar bisa dilihat oleh publik. Sayangnya, tampaknya hal tersebut tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pasar, yang justru lebih senang dengan hal-hal kurang berfaedah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada dasarnya, TikTok hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan dengan berbagai tujuan. Untuk hiburan, jualan, cari inspirasi, &#8220;jual diri&#8221;, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">jadi viral</a>, hampir semuanya bisa dilakukan di TikTok yang penggunanya sudah miliaran di seluruh dunia.</p>



<p>Dengan besarnya pengaruh yang dimiliki, tidak salah jika negara barat seperti Amerika Serikat seperti &#8220;ketakutan&#8221; dan kerap menggunakan alasan keamanan privasi untuk berusaha memblokir aplikasi ini, walau sampai sekarang belum terealisasi.</p>



<p>Untuk sekarang, mungkin pengaruhnya baru sekadar bermain lato lato atau mandi lumpur. Namun, siapa bisa menjamin kalau di masa yang akan datang, yang menjadi viral adalah sesuatu yang sebenarnya berbahaya namun tidak pernah kita sadari?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 Maret 2023, terinspirasi dari viralnya lato lato gara-gara TikTok</p>



<p>Foto: <a href="https://hot.detik.com/tv-news/d-6478649/lato-lato-viral-mainan-ini-senjata-mematikan-di-anime-jojos-bizarre-adventure">DetikHot</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mempengaruhi Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2018 16:52:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut. Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut.</p>
<p>Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain game adalah laki-laki. Kita ambil contoh lain, musik misalnya. Anak-anak Karang Taruna di kampung saya rata-rata mendengarkan lagu yang sama di <em>playlist </em>mereka, lagu-lagu kekinian yang bergenre <em>Electronic Dance Music </em>(EDM). Hanya ada satu dua anak yang berani keluar jalur alias anti <em>mainstream</em>.</p>
<p>Lalu, memang kenapa kalau generasi milenial ikut apa yang sedang menjadi <em>trend</em>?</p>
<p>Logikanya begini, generasi ini menjadi mudah terpengaruh untuk mengikuti arus. Karena hanya mengikuti arus, mereka akan menjadi kurang kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada. Jika tidak memiliki sifat kritis, maka mereka akan sangat mudah dipengaruhi, sehingga menggiring mereka untuk mempercayai suatu opini akan menjadi hal yang mudah.</p>
<p>Media apa yang paling berpotensi untuk menjadi penggiring opini ini? Jelas, segala bentuk hiburan mulai dari media sosial hingga film. Alasannya sederhana, karena manusia sekarang, tidak hanya generasi milenial, membutuhkan berbagai macam bentuk <em>entertain</em> untuk menghadapi penatnya hidup. Hanya saja, karena generasi milenial adalah generasi yang masih berada di usia yang masih rentan, mereka menjadi sasaran empuk propaganda.</p>
<p>Ambil saja contoh superhero-superhero Amerika. Mereka selalu digambarkan sebagai penyelamat dunia dari berbagai kejahatan yang dilakukan oleh musuh. Kenyataannya? Sudah berapa nyawa manusia tak berdosa yang direnggut oleh tentara-tentara Amerika di kawasan Timur Tengah. Sangat kontradiktif bukan?</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menetralisir kondisi ini, sikap kritis harus ditanamkan sejak dini. Sikap kritis ini dibutuhkan untuk menyaring segala macam informasi yang hadir di hadapan kita. Salah satu caranya adalah ikut organisasi sejak dini. Bisa OSIS di lingkungan sekolah, atau Karang Taruna di lingkungan rumah. Dengan demikian, opini kita tidak akan mudah digiring oleh propaganda-propaganda yang dilakukan pemilik kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Januari 2018, setelah minum STMJ bersama ayah dan adik</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html">https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
