<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perfeksionis Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/perfeksionis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/perfeksionis/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Sep 2025 22:48:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>perfeksionis Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/perfeksionis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p>Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p>Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p>Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p>Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p>Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p>Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p>Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p>Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p>Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p>Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p>Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p>Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p>Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p>Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p>Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p>Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p>Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p>Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p>Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
