<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perhatian Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/perhatian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/perhatian/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Jun 2022 01:15:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>perhatian Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/perhatian/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2022 23:28:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude Anonymous Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<hr class="wp-block-separator alignfull is-style-wide"/>



<p>Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini.</p>



<p>Setelah itu, coba renungkan kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga, pasangan, teman, kolega kerja, tetangga. Di antara mereka semua, siapa saja yang sudah memberikan perhatian dan kepedulian ke kita?</p>



<p>Jika sudah mendapatkan daftar namanya, coba tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">menghargai mereka dengan baik</a>? Sudahkah kita bersyukur atas kehadiran mereka? Atau ternyata selama ini kita cenderung acuh terhadap mereka dan kurang menghargai mereka?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari sebuah <em>quote </em>yang Penulis temukan di Pinterest, ada sebuah kiasan yang menarik di mana orang yang telah mati biasanya mendapatkan bunga lebih banyak dari mereka yang masih hidup. Alasannya, penyesalan selalu lebih besar dari rasa syukur.</p>



<p>Ketika merenungkan <em>quote </em>tersebut, Penulis pun jadi merasa kalau dirinya selama ini belum bisa menghargai secara pantas orang-orang yang sudah peduli kepadanya. Jangankan membalas kepedulian tersebut, menghargai saja belum.</p>



<p>Itu bisa ke orang tua, ke teman, ke nenek Penulis, <em>and the list goes on</em>. Padahal sudah banyak cerita, di mana orang merasa menyesal karena belum bisa membalas kebaikan dan kepedulian orang lain karena yang bersangkutan sudah meninggalkan dunia ini mendahului kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Salah satu bentuk penyesalan Penulis yang terkadang masih terngiang-ngiang sampai sekarang adalah ketika salah satu sahabat, kakak, mentor Penulis di Jakarta meninggal dunia pada awal tahun ini karena sakit yang sudah lama dideritanya.</p>



<p>Sewaktu masih di <a href="https://whathefan.com/sajak/jakarta/">Jakarta</a>, Penulis kerap bertukar pikiran dengannya dan mendapatkan banyak sekali ilmu darinya. Sayangnya sewaktu sakitnya semakin parah, Penulis merasa kurang peduli, kurang memberikan perhatian dan bantuan. </p>



<p>Sampai akhirnya, tiba-tiba Penulis mendapatkan kabar duka tersebut dari teman Penulis dan merasa cukup terpukul. Perasaan menyesal pun datang karena belum bisa membalas kepeduliannya ke Penulis. Al-Fatihah untuk beliau&#8230;</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Belajar dari pengalaman tersebut, Penulis lebih berusaha untuk menghargai orang-orang yang telah mengalokasikan waktunya untuk peduli kepada Penulis. Keberadaan mereka harus benar-benar Penulis syukuri agar tidak merasa menyesal ketika mereka sudah pergi.</p>



<p>Terkadang, kita terlalu sibuk dengan keseharian dan pikiran sendiri, sehingga mengabaikan hal-hal semacam ini. Kesibukan ini kita jadikan dalih untuk menunda-nunda apa yang seharusnya bisa kita lakukan untuk mereka yang sudah peduli dengan kita.</p>



<p>Oleh karena itu, coba <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a> dari segala aktivitas kita. Tidak perlu lama-lama, cukup beberapa menit. Lalu, coba ekpresikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka yang sudah peduli dengan kita, sebelum terlambat.</p>



<p></p>



<p>NB: <em>Quote </em>di awal tulisan kerap ditulis sebagai perkataan dari seorang penulis buku harian dan korban <em>holocaust</em>, Anne Frank. Namun setelah ditelusuri, tidak ada bukti kalau<em> quote </em>tersebut berasal darinya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 28 Juni 2022, terinspirasi setelah merasa dirinya belum bisa menghargai orang-orang yang peduli dengannya</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@minan1398/">Min An on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2022 10:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna. Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perasaan ditinggalkan</a> pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.</p>



<p><em>People come and go</em>. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?</h2>



<p>Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?</p>



<p>Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">ada yang punya prioritas lain</a>, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-<em>counter </em>penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.</p>



<p>Hanya saja, perlu diingat kalau <strong>orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita</strong>. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.</p>



<p>Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli</h2>



<p>Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita</a>. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.</p>



<p>Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, <strong>fokus pada respon yang akan kita berikan</strong> terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.</p>



<p>Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.</p>



<p>Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.</p>



<p>Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki <em>inferior complex</em>, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.</p>



<p>Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin. </p>



<p>Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.</p>



<p>Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.</p>



<p>Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@entersge">Vladislav Muslakov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teralihkan Isu Bombastis</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 09:37:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bombastis]]></category>
		<category><![CDATA[isu]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Empire]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3328</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah. Mungkin yang paling populer adalah Sunda Empire yang sampai dibahas di acara sebesar Indonesia Lawyers Club. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya. Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah.</p>
<p>Mungkin yang paling populer adalah <em>Sunda Empire</em> yang sampai dibahas di acara sebesar <em>Indonesia Lawyers Club</em>. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya.</p>
<p>Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat <em>halu </em>karena banyak fakta dan sejarah <em>ngawur </em>yang akan membuat sebagian besar orang heran atau menertawakannya.</p>
<p>Pertanyaannya, perlukah hal-hal semacam ini diberi <em>spotlight </em>berlebih?</p>
<h3>Isu-Isu Besar yang Tenggelam</h3>
<p><div id="attachment_3330" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3330" class="size-large wp-image-3330" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3330" class="wp-caption-text">Isu Besar yang Tenggelam (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01326196/hampir-dilupakan-kasus-korupsi-di-jiwasraya-kembali-mencuat-usai-dpr-tuntut-pengusutan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjJqe3t4JznAhVXeysKHV04Bw0QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pikiran-Rakyat.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis ingat, di awal tahun 2020 ini banyak sekali kejadian yang membuat kita mengelus dada. Selain <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">banyaknya bencana</a>, ada banyak kasus-kasus hukum yang sedang disorot.</p>
<p>Ada kasus Jiwasraya, <em>Omnibus Law</em>, klaim China atas Natuna, kasus yang menjerat petinggi partai pemerintah, KPK yang terlihat lemah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya sejak kerajaan-kerajaan ini naik ke permukaan, berita-berita tersebut seolah tenggelam begitu saja. Media memberitakannya dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Ada dua kemungkinan kenapa hal ini bisa terjadi. Pertama, media mengikuti kemauan pasar yang lebih tertarik dengan isu-isu bombastis yang sebenarnya tak terlalu penting.</p>
<p>Kedua, ada &#8220;konspirasi&#8221; yang disengaja agar isu-isu besar tertutup oleh munculnya kerajaan-kerajaan ini. Perhatian masyarakat yang mudah teralihkan pun mengikutinya dengan patuh.</p>
<p>Entah yang mana yang benar di antara kedua kemungkinan tersebut. Bisa saja Penulis yang salah.</p>
<h3>Memilih untuk Tidak Peduli</h3>
<p><div id="attachment_3331" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3331" class="size-large wp-image-3331" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3331" class="wp-caption-text">Perlukah Ditonton? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D0ezJ1b5Pf-E&amp;psig=AOvVaw3CywDSwmTztwHqFPU9jj6u&amp;ust=1579973147370428" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">YouTube</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika muncul hal-hal yang berbau bombastis namun kurang penting, Penulis biasanya memilih untuk mengabaikannya. Hingga hari ini, Penulis juga kurang tertarik untuk menonton video sang petinggi <em>Sunda Empire</em> yang sedang menjadi <em>trending</em>.</p>
<p>(<em>Penulis sudah mencoba menontonnya sebelum menulis artikel ini, namun Penulis memutuskan untuk tidak melanjutkan karena banyaknya fakta aneh di awal video</em>)</p>
<p>Apa enggak takut ketinggalan berita? Tanpa menonton ataupun membaca berita seputar hal tersebut, Penulis sudah mendengarkannya dari orang-orang terdekat. Inti beritanya sudah dapat, sehingga rasanya tidak perlu didalami.</p>
<p>Mungkin ada yang menontonnya sebagai bentuk hiburan, karena setahu Penulis banyak yang tertawa ketika sang petinggi menuturkan fakta-fakta yang mencengangkan. Penulis tidak bisa terlalu terhibur dengan hal-hal seperti itu.</p>
<p>Selain itu, apa yang bisa kita lakukan ketika mendengarkan ada orang yang mengaku sebagai raja atau lain sebagainya? Paling hanya sebatas mengingatkan orang-orang terdekat agar tidak sampai terpengaruh.</p>
<p>Kita tidak punya hak untuk membubarkan kerajaan tersebut. Pemerintah dan aparat yang bisa melakukannya, seandainya memang ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh mereka.</p>
<p>Masih ada banyak sekali topik yang lebih layak dijadikan sebagai perhatian. Bahkan, banyak di antaranya yang telah berlangsung sejak lama namun tak mendekati penyelesaian sedikit pun.</p>
<p>Kecuali, jika pendirian kerajaan ini sampai menganggu stabilitas negara bahkan sampai melakukan serangan secara fisik. Jika hal tersebut sampai terjadi, barulah kita harus menaruh perhatian.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memilih untuk tidak peduli terhadap berita bombastis yang kurang penting berusaha Penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis ingin hidup sederhana tanpa perlu terbebani dengan hal-hal remeh.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis juga tak pernah tertarik dengan berita artis A yang membuat kontroversi agar namanya naik atau pertengaaran B dan C yang sama-sama ingin <em>pansos</em>. Hal-hal tersebut tidak akan memengaruhi kehidupan Penulis.</p>
<p>Begitupun dengan kasus munculnya kerajaan-kerajaan ini. Meskipun diberitakan secara masif, pasti ada saatnya mereka akan dilupakan seperti kebanyakan berita heboh yang terjadi sebelumnya.</p>
<p>Jika pun ingin mengambil hikmahnya, mungkin kita bisa melihatnya seperti Sujiwo Tejo. Ia melihat kemunculan kerajaan ini sebagai bentuk protes atas demokrasi kita yang sering terlihat konyol. Mungkin ada hikmah lain walaupun Penulis tidak bisa menemukannya.</p>
<p>Jangan sampai perhatian kita teralihkan oleh hal-hal bombastis seperti ini sehingga melupakan isu-isu besar yang jauh lebih penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Januari 2020, terinspirasi dari munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiOqoHi4JznAhXCZCsKHfrmC5YQjB16BAgBEAM&amp;url=http%3A%2F%2Fbisnisbandung.com%2F2020%2F01%2F22%2Fmenyoal-sunda-empire-kekaisaran-matahari%2F&amp;psig=AOvVaw3lGmqbnd2_igX77hgvBnyn&amp;ust=1579973144939312">Bisnis Bandung</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cari Perhatian di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 15:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cari perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2583</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media sosial merupakan sebuah wadah yang bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan. Ada yang untuk mengekspresikan diri, ada yang untuk jualan, ada pula yang digunakan untuk mencari perhatian dari orang lain. Nah, poin terakhir inilah yang ingin penulis ulas kali ini. Mencari perhatian di media sosial adalah suatu hal yang kerap dilakukan oleh kita, termasuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/">Cari Perhatian di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Media sosial merupakan sebuah wadah yang bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan. Ada yang untuk mengekspresikan diri, ada yang untuk jualan, ada pula yang digunakan untuk mencari perhatian dari orang lain.</p>
<p>Nah, poin terakhir inilah yang ingin penulis ulas kali ini. Mencari perhatian di media sosial adalah suatu hal yang kerap dilakukan oleh kita, termasuk diri penulis sendiri.</p>
<h3>Mengapa Mencari Perhatian?</h3>
<p>Menurut penulis, suka mencari perhatian merupakan salah satu karakter paling umum yang pernah ada, meskipun ada beberapa orang yang justru menghindari perhatian.</p>
<p>Kita ingin diperhatikan karena akan menimbulkan beberapa sensasi tersendiri untuk diri. Ada yang merasa keberadaannya jadi dianggap, ada yang merasa itu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, ada yang karena sedang memasuki masa puber.</p>
<p>Media sosial bisa menjadi wadah yang tepat untuk hal tersebut. Dengan membuat <em>feed </em>maupun <em>story</em>, kita bisa memancing perhatian seseorang secara mudah dan cepat.</p>
<p><em>Kalau ada yang peduli dengan kita</em>.</p>
<p>Tak jarang ada yang merasa kecewa karena pancingannya tidak berhasil. Sama sekali tidak ada orang yang memberikan respon terhadap pos yang ia unggah di media sosial.</p>
<p>Perhatian tidak didapat, (mungkin) malah dosa yang didapat.</p>
<h3>Mencari Perhatian dengan Cara yang Kurang Elok</h3>
<p>Sebenarnya, tidak ada salahnya mencari perhatian dengan memanfaatkan media sosial. Mungkin, penulis membuat blog ini pun dalam upaya mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>Hanya saja, terkadang ada cara-cara kurang baik yang dilakukan demi mendapatkan perhatian. Contohnya, memfoto tangan yang baru saja disilet, <a href="https://whathefan.com/karakter/berkata-kotor-di-media-sosial/">berkata-kata kotor di media sosial</a>, mengumbar aurat, pamer kekayaan, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/">mengeluarkan sindiran-sindiran maut</a>.</p>
<p>Penulis paham manusia itu diciptakan berbeda-beda. Cara mengekspresikan dirinya pun pasti beragam pula. Akan tetapi, mencari perhatian dengan cara-cara yang kurang elok tentu juga akan berdampak kurang baik untuk diri kita sendiri.</p>
<p>Belum tentu perhatian dari orang lain akan muncul dengan caci maki yang kita sebarkan melalui sosial media. Bisa jadi, mereka justru gusar dengan tindakan kita dan pada akhirnya justru akan melakukan <em>blocking </em>kepada akun kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sah-sah saja memanfaatkan media sosial untuk mencari perhatian orang lain. Mungkin, kita bisa mengetahui siapa yang peduli dengan kita dan siapa yang hanya menghampiri kita hanya ketika butuh.</p>
<p><em>(Yah, enggak selalu seperti itu 100% sih, penulis mengakuinya. Tapi bisa dijadikan sebagai salah satu parameter)</em></p>
<p>Hanya saja, menurut penulis cara-cara yang dilakukan untuk itu juga harus diperhatikan. Jangan sampai pos-pos kita justru mengganggu orang lain atau lebih parahnya membuat emosi.</p>
<p>Mungkin terdengar klise, tapi bukankah lebih baik kita mencari perhatian dengan berbagai prestasi maupun <em>achievement</em> yang berhasil kita raih? Bisa jadi ada orang lain yang menjadi termotivasi setelah melihat keberhasilan kita.</p>
<p>Media sosial memang bagaikan pisau bermata banyak, tergantung kita mau memanfaatkannya untuk kebaikan, keburukan, atau yang netral-netral saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Juli 2019, terinspirasi setelah melihat status-status yang bernada mencari perhatian.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@yapics">Leon Seibert</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/">Cari Perhatian di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 13:23:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya. Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat sharing berbagai momen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat <em>sharing </em>berbagai momen dan kejadian, dan mungkin termasuk juga perasaan.</p>
<p>Lantas, mengapa kita curhat di medsos? Karena pernah melakukannya, penulis menjadi tahu jawabannya: <strong>Mencari Perhatian</strong>. Ada yang blak-blakan, ada pula yang melakukannya secara tersirat,</p>
<p>Ketika kita sedang dimabuk asmara, kita ingin agar doi mengetahui apa saja kegiatan kita sehingga ia memiliki &#8220;bahan&#8221; untuk <em>chat</em>. Ada yang tidak ditujukan hanya kepada satu orang, berharap ada yang mau merespon dirinya siapapun dia. Semua tidak masalah selama masih dibatas kewajaran.</p>
<p>Tetapi, ada satu bentuk ekspresi yang dalam pendapat penulis kurang layak untuk dijadikan konsumsi publik. Emosi, kemarahan, yang ujung-ujungnya adalah membicarakan kejelekan orang.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><em>&#8220;Dasar orang, wujudnya aja manusia tapi kelakuan kayak setan!&#8221;</em></p>
<p>Sungguh tidak enak dipandang bukan? Lagipula, siapa sih yang tertarik untuk membaca kemarahan orang lain? Rasanya kok tidak ada.</p>
<p>Pembuat status semacam itu tentu berharap statusnya dibaca yang bersangkutan, atau hanya sekedar menumpahkan kekesalan? Jika hanya sebagai tempat pelampiasan, apa tujuannya dilempar kepada khalayak umum? Mungkin berharap akan ada sosok yang menyabarkan dirinya, atau setuju dengan argumennya.</p>
<p>Jika sedang ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih bijak jika kita mengatakannya langsung kepadanya? Katakan apa yang membuatmu gusar secara terus terang, bagaimana responnya urusan belakang. Itu lebih berfaedah dibandingkan dengan menulis status penuh dengan caci maki.</p>
<p>Kemampuan untuk menahan emosi ini menjadi salah satu parameter kedewasaan seseorang. Orang-orang yang telah matang pola pikirnya akan memikirkan apa akibat dari status yang akan ditulisnya. Banyak bukan orang yang membuat status dengan menggebu-gebu, kemudian menghapus statusnya setelah kepalanya dingin.</p>
<p>Media sosial itu sama seperti taman, ia merupakan ruang publik yang dinikmati oleh orang banyak. Tentu kita akan sebal bukan jika di taman kita bertemu dengan orang yang marah-marah sendiri?</p>
<p>Oleh karena itu, lebih bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Gunakan ia untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar tempat pelampiasan emosi agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah selesai menyelesaikan training pertama Asian Games</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/">https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
