<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pesawat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pesawat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pesawat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2021 03:09:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pesawat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pesawat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2021 03:57:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kode etik]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ-182. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka. Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh. Membayangkan berada di posisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat <strong>Sriwijaya Air</strong> dengan kode penerbangan <strong>SJ-182</strong>. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka.</p>
<p>Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh.</p>
<p>Membayangkan berada di posisi keluarga korban, terasa begitu pedih rasanya kehilangan orang-orang tersayang secara tragis. Al Fatihah untuk para korban.</p>
<p>Sayangnya, ada saja hal-hal yang membuat kita mengelus dada. Salah satunya adalah judul-judul berita <em>click-bait </em>yang tidak berempati dan melanggar privasi.</p>
<h3>Memudarnya Etika Jurnalistik</h3>
<div id="attachment_4252" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4252" class="size-large wp-image-4252" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4252" class="wp-caption-text">Memudarnya Etik Jurnalistik (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@climatereality">The Climate Reality Project</a>)</p></div>
<p>Penulis tidak hafal dengan yang namanya <strong>kode etik jurnalistik</strong>. Penulis hanya pernah membaca rangkuman singkatnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tanpa mengetahui pasal per pasal yang ada di dalam kode etik jurnalistik, Penulis bisa berpendapat kalau media-media sekarang kerap melakukan hal yang tidak etis dalam memberitakan suatu kejadian, termasuk tragedi sekali pun.</p>
<p>Penulis ambil contoh dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini. Sangat wajar dan memang dibutuhkan informasi terkait pesawat tersebut, terutama di mana lokasi pesawat jatuh dan bagaimana kondisi korban.</p>
<p>Yang membuat banyak geram, ada saja media yang membuat judul seperti:</p>
<p><em>&#8220;Ini firasat keluarga korban sebelum jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini gaji pilot pesawat yang menerbangkan pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini ramalan yang menyatakan tahun 2021 akan ada pesawat jatuh&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini tanggapan keluarga korban atas jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p>Belum lagi ada yang berusaha mencari <em>instastory </em>dari korban, seolah-olah itu adalah pesan terakhir dari mereka. Ada juga yang mengaitkan dengan peristiwa lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya.</p>
<p>Cerita tentang bagaimana para pencari berita mewawancarai keluarga korban yang tengah bercucuran air mata, jelas bukan merupakan hal yang etis.</p>
<h3>Masyarakat yang Doyan Berita <em>Click-Bait</em></h3>
<div id="attachment_4253" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4253" class="size-large wp-image-4253" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4253" class="wp-caption-text">Masyarakat Doyan Click-Bait (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@danicanibano">Daniel Cañibano</a>)</p></div>
<p>Sebagai orang yang bekerja di media, Penulis paham kenapa media daring sekarang begitu sering membuat berita <em>click-bait </em>walaupun dihujat dari kanan dan kiri.</p>
<p><strong>Demi klik, demi jumlah <em>views</em>, demi meningkatnya <em>traffic</em>, dan ujung-ujungnya demi uang.</strong></p>
<p>Kenapa berita dengan judul <em>click-bait </em>bisa mendapatkan <em>traffic </em>yang tinggi? Karena ada pasarnya, karena ada pembacanya, <strong>karena masyarakat menyukai berita-berita semacam itu</strong>.</p>
<p>Artinya, sebenarnya kita punya kuasa untuk menghentikan judul-judul berita seperti contoh di atas <strong>dengan tidak membaca beritanya</strong>.</p>
<p>Jika tidak ada yang membaca berita seperti itu, lama kelamaan media juga akan menghentikan produksi artikel yang kurang berfaedah seperti itu.</p>
<p>Selama masyarakat masih gemar menyumbang <em>traffic </em>untuk berita-berita seperti itu, media pun tidak akan pernah menghentikannya.</p>
<p><strong><em>Lha mong </em></strong><strong>cuannya mengalir terus, ngapain berhenti.</strong></p>
<p>Belum lagi kebiasaan buruk masyarakat kita yang gemar menyebarkan foto ataupun video terkait tragedi yang terjadi. <em>Ngapain </em>sih mereka melakukan itu? Demi mendapatkan perhatian dan<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"> jadi viral?</a></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukannya mau sok suci, toh Penulis juga berkecimpung di dunia tersebut meskipun beda lingkup wilayah. Hanya saja, hati nurani Penulis mengatakan kalau hal tersebut sangat tidak etis.</p>
<p>Kita butuh banyak informasi terkait kecelakaan pesawat yang terjadi, tapi kita tidak butuh tahu bagaimana perasaan korban yang ditinggalkan atau firasat yang dirasakan mereka.</p>
<p><b>Tanpa diberitakan pun, kita sudah tahu bagaimana perasaan keluarga korban. Mau firasat mau ramalan, kita tidak butuh bumbu-bumbu yang tidak penting.</b></p>
<p>Semoga saja iklim pemberitaan di Indonesia ke depannya bisa menjadi lebih baik. Tidak hanya mengutamakan cuan, tapi juga mengedepankan etika-etika yang berlaku di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Desember 2020, terinspirasi karena geramnya Penulis dengan beberapa judul berita terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@markuswinkler">Markus Winkler</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenang Eyang Habibie</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2019 00:23:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2673</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca. Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton. Oleh karena itu, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca.</p>
<p>Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa berduka ketika mendengar kabar kematiannya kemarin setelah sholat Maghrib. Beliau adalah orang yang banyak menginspirasi penulis dalam menjalani kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: left;">Habibie di Kala Muda</h3>
<div id="attachment_2675" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2675" class="size-large wp-image-2675" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2675" class="wp-caption-text">Habibie Muda (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiJ-u6ZgMrkAhXEILcAHWu2CvMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2Fnasional%2F2019%2F09%2F12%2Fdi-usia-14-tahun-habibie-sudah-kehilangan-sosok-ayah%2F&amp;psig=AOvVaw3_UmK9ayI1Bpb4FeVGP5o9&amp;ust=1568333622452256">Indonesia Inside</a>)</p></div>
<p>Eyang Habibie adalah panutan yang tak bisa disangkal oleh siapapun. Sejak muda, ia sudah rajin belajar dan tak malu untuk memiliki mimpi setinggi langit.</p>
<p>Menghabiskan masa kecil di <strong>Parepare</strong>, Sulawesi Selatan, beliau pindah ke Bandung dan besekolah di ITB. Waktu itu, kampus tersebut masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Setelah itu, beliau pindah ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Presiden Sukarno waktu itu memang sedang gencar-gencarnya mengirimkan pemuda Indonesia ke luar negeri untuk belajar.</p>
<p>Habibie mengambil jurusan yang tidak biasa, <strong>teknik penerbangan</strong>. Sebagai negara yang baru saja merdeka, tidak banyak orang Indonesia yang mengambil jurusan ini.</p>
<p>Habibie adalah orang yang visioner. Ia mengambil jurusan tersebut karena percaya Indonesia harus bisa memproduksi pesawat sendiri untuk menghubungkan antar pulau di Indonesia.</p>
<p>Di sela-sela kuliahnya di Jerman inilah Habibie bertemu dengan <strong>ibu Ainun</strong>, sewaktu mengambil waktu liburan untuk pulang ke Bandung. Beliau pun melamar dan membawanya ke Jerman.</p>
<p>Setelah lulus, Habibie sempat bekerja di Jerman untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan <strong>panggilan pulang dari presiden Soeharto</strong>. Ia diminta untuk turut membantu mengembangkan Indonesia.</p>
<h3>Tahun-Tahun Politik Habibie</h3>
<div id="attachment_2678" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2678" class="size-large wp-image-2678" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2678" class="wp-caption-text">Habibie dan Soeharto (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiGz6q3gMrkAhUgmI8KHXQCASAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.era.id%2Fread%2FwnUnpO-peringatan-20-tahun-reformasi-habibie-dan-transisi-orde-baru&amp;psig=AOvVaw0ISGg3YO6cB21mrcSW7o8x&amp;ust=1568333691481207">Era.id</a>)</p></div>
<p>Mulai tahun 1978 hingga 1998, ia menjabat sebagai <strong>Menteri Negara Riset dan Pembangunan</strong> untuk empat periode, waktu yang cukup lama untuk jabatan menteri.</p>
<p>Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua <strong>Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)</strong> yang dibentuk pada awal 1990-an, sebuah organisasi yang dianggap sebagai <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">kendaraan politik Soeharto setelah memburuknya hubungan dengan militer</a>.</p>
<p>Pada tahun 1998, ia berhenti menjadi seorang menteri karena dipilih menjadi wakil presiden Soeharto yang ke-6. Masa jabatan ini hanya berlangsung singkat karena terjadinya gejolak di mana-mana akibat krisis moneter.</p>
<p>Soeharto, setelah 32 tahun menjabat, pada akhirnya harus mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Habibie, selaku wakilnya, naik menjadi presiden meskipun sempat diminta Soeharto untuk ikut mundur bersamanya.</p>
<p>Hal ini menyebabkan hubungan mereka berdua memburuk. Bahkan, Soeharto sampai menolak untuk bertemu dengan Habibie selama bertahun-tahun. Habibie dianggap sebagai pengkhianat. Padahal, selama ini Habibie menjadi salah satu anak emas Soeharto.</p>
<p>Masa jabatan Habibie juga tidak terlalu lama. Pada tahun 1999, DPR menolak laporan pertanggungjawabannya dan beliau pun menolak untuk dicalonkan kembali menjadi calon presiden untuk periode 1999-2004.</p>
<p>Selama menjadi presiden, banyak hal yang terjadi dengan republik ini. Maklum, baru bebas dari pemerintahan yang otoriter selama puluhan tahun.</p>
<p>Habibie dianggap sebagai penyebab <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">lepasnya Timor Leste dari tanah air</a> karena menyelenggarakan referendum. Padahal, banyak faktor yang memicu hal tersebut, bukan karena Habibie semata.</p>
<p>Beliau berhasil menurunkan nilai tukar rupiah dalam waktu singkat, juga membuka kran kebebasan pers selebar-lebarnya dan membebaskan para tahanan politik.</p>
<p>Tidak cukup di situ, beliau juga menelurkan UU Anti Monopoli, UU Otonomi daerah, revisi UU Partai Politik yang dulu hanya dibatasi tiga partai, dan masih banyak lainnya. Intinya, banyak kebijakan penting yang ia keluarkan di masa jabatannya yang singkat.</p>
<p>Kalau kata Dahlan Iskan, Habibie adalah <em>the right man in the wrong time</em>.</p>
<h3>Habibie dan Pesawat</h3>
<div id="attachment_2677" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2677" class="size-large wp-image-2677" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2677" class="wp-caption-text">N-250 (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwj59Lrz_8nkAhUx7nMBHabODt4QjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F336503403380446461%2F&amp;psig=AOvVaw3t4kQX03QkItKhFTujUQ9e&amp;ust=1568333543153704">Pinterest</a>)</p></div>
<p>Semasa menjabat sebagai menteri, Habibie mengembangkan proyek <del>mobil</del> pesawat nasional yang diberi nama <strong>N-250 Gatot Kaca</strong>. Pesawat ini termasuk canggih pada masa itu karena telah menerapkan sistem <em>fly by wire</em>.</p>
<p>Pesawat ini pertama kali mengudara dengan sukses pada tahun 1995, disaksikan oleh jutaan pasang mata. Indonesia, negara yang masih dianggap primitif oleh sebagian negara lain, ternyata mampu membuat pesawatnya sendiri.</p>
<p>Sayang, krisis moneter yang dimulai tahun 1996 hingga 1998 menghempaskan impian tersebut. Negara memprioritaskan diri untuk membenahi dirinya terlebih dahulu.</p>
<p>Indonesia meminta bantuan kepada <em>International Moneter Fund </em>(IMF). Mereka bersedia membantu dengan salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pesawat Habibie. <i>Takut Indonesia berdikari, IMF?</i></p>
<p>Impian tersebut pun harus tertunda. Ketika Habibie menjadi presiden pun ia lebih memprioritaskan diri untuk menyelesaikan permasalahan negara yang urgensinya lebih tinggi.</p>
<p>Akan tetapi, bukan Habibie namanya jika putus asa semudah itu. Ia bersama anaknya membuat perusahaan PT. Regio Aviasi Industri dan sedang mengembangkan pesawat <strong>R-80</strong>. Sayang, beliau wafat sebelum pesawat tersebut digunakan secara massal.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Meskipun telah meninggalkan kita semua, eyang Habibie akan tetap menjadi inspirasi dan panutan bagi kita semua. Karya-karyanya akan tetap abadi dan dikenang oleh para generasi penerus.</p>
<p>Semoga eyang bisa beristirahat dengan tenang, diampuni segala dosanya, diterima di sisi-Nya, dan jika Tuhan mengizinkan, bertemu kembali dengan ibu Ainun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Agustus 2019, terinspirasi setelah wafatnya eyang Habibie</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiMnMrR_8nkAhWbinAKHTuJDKMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2F2019%2F09%2F11%2Fprabowo-jokowi-ucapkan-duka-mendalam-atas-kepergian-habibie%2F&amp;psig=AOvVaw2CAv7xSVuwfGPhKIpx2J3K&amp;ust=1568333470345056">Indonesia Inside</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
