Tokoh & Sejarah
Mengenang Eyang Habibie
Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca.
Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton.
Oleh karena itu, penulis merasa berduka ketika mendengar kabar kematiannya kemarin setelah sholat Maghrib. Beliau adalah orang yang banyak menginspirasi penulis dalam menjalani kehidupan.
Habibie di Kala Muda

Habibie Muda (Indonesia Inside)
Eyang Habibie adalah panutan yang tak bisa disangkal oleh siapapun. Sejak muda, ia sudah rajin belajar dan tak malu untuk memiliki mimpi setinggi langit.
Menghabiskan masa kecil di Parepare, Sulawesi Selatan, beliau pindah ke Bandung dan besekolah di ITB. Waktu itu, kampus tersebut masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia.
Setelah itu, beliau pindah ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Presiden Sukarno waktu itu memang sedang gencar-gencarnya mengirimkan pemuda Indonesia ke luar negeri untuk belajar.
Habibie mengambil jurusan yang tidak biasa, teknik penerbangan. Sebagai negara yang baru saja merdeka, tidak banyak orang Indonesia yang mengambil jurusan ini.
Habibie adalah orang yang visioner. Ia mengambil jurusan tersebut karena percaya Indonesia harus bisa memproduksi pesawat sendiri untuk menghubungkan antar pulau di Indonesia.
Di sela-sela kuliahnya di Jerman inilah Habibie bertemu dengan ibu Ainun, sewaktu mengambil waktu liburan untuk pulang ke Bandung. Beliau pun melamar dan membawanya ke Jerman.
Setelah lulus, Habibie sempat bekerja di Jerman untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan panggilan pulang dari presiden Soeharto. Ia diminta untuk turut membantu mengembangkan Indonesia.
Tahun-Tahun Politik Habibie

Habibie dan Soeharto (Era.id)
Mulai tahun 1978 hingga 1998, ia menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Pembangunan untuk empat periode, waktu yang cukup lama untuk jabatan menteri.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk pada awal 1990-an, sebuah organisasi yang dianggap sebagai kendaraan politik Soeharto setelah memburuknya hubungan dengan militer.
Pada tahun 1998, ia berhenti menjadi seorang menteri karena dipilih menjadi wakil presiden Soeharto yang ke-6. Masa jabatan ini hanya berlangsung singkat karena terjadinya gejolak di mana-mana akibat krisis moneter.
Soeharto, setelah 32 tahun menjabat, pada akhirnya harus mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Habibie, selaku wakilnya, naik menjadi presiden meskipun sempat diminta Soeharto untuk ikut mundur bersamanya.
Hal ini menyebabkan hubungan mereka berdua memburuk. Bahkan, Soeharto sampai menolak untuk bertemu dengan Habibie selama bertahun-tahun. Habibie dianggap sebagai pengkhianat. Padahal, selama ini Habibie menjadi salah satu anak emas Soeharto.
Masa jabatan Habibie juga tidak terlalu lama. Pada tahun 1999, DPR menolak laporan pertanggungjawabannya dan beliau pun menolak untuk dicalonkan kembali menjadi calon presiden untuk periode 1999-2004.
Selama menjadi presiden, banyak hal yang terjadi dengan republik ini. Maklum, baru bebas dari pemerintahan yang otoriter selama puluhan tahun.
Habibie dianggap sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari tanah air karena menyelenggarakan referendum. Padahal, banyak faktor yang memicu hal tersebut, bukan karena Habibie semata.
Beliau berhasil menurunkan nilai tukar rupiah dalam waktu singkat, juga membuka kran kebebasan pers selebar-lebarnya dan membebaskan para tahanan politik.
Tidak cukup di situ, beliau juga menelurkan UU Anti Monopoli, UU Otonomi daerah, revisi UU Partai Politik yang dulu hanya dibatasi tiga partai, dan masih banyak lainnya. Intinya, banyak kebijakan penting yang ia keluarkan di masa jabatannya yang singkat.
Kalau kata Dahlan Iskan, Habibie adalah the right man in the wrong time.
Habibie dan Pesawat

N-250 (Pinterest)
Semasa menjabat sebagai menteri, Habibie mengembangkan proyek mobil pesawat nasional yang diberi nama N-250 Gatot Kaca. Pesawat ini termasuk canggih pada masa itu karena telah menerapkan sistem fly by wire.
Pesawat ini pertama kali mengudara dengan sukses pada tahun 1995, disaksikan oleh jutaan pasang mata. Indonesia, negara yang masih dianggap primitif oleh sebagian negara lain, ternyata mampu membuat pesawatnya sendiri.
Sayang, krisis moneter yang dimulai tahun 1996 hingga 1998 menghempaskan impian tersebut. Negara memprioritaskan diri untuk membenahi dirinya terlebih dahulu.
Indonesia meminta bantuan kepada International Moneter Fund (IMF). Mereka bersedia membantu dengan salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pesawat Habibie. Takut Indonesia berdikari, IMF?
Impian tersebut pun harus tertunda. Ketika Habibie menjadi presiden pun ia lebih memprioritaskan diri untuk menyelesaikan permasalahan negara yang urgensinya lebih tinggi.
Akan tetapi, bukan Habibie namanya jika putus asa semudah itu. Ia bersama anaknya membuat perusahaan PT. Regio Aviasi Industri dan sedang mengembangkan pesawat R-80. Sayang, beliau wafat sebelum pesawat tersebut digunakan secara massal.
Penutup
Meskipun telah meninggalkan kita semua, eyang Habibie akan tetap menjadi inspirasi dan panutan bagi kita semua. Karya-karyanya akan tetap abadi dan dikenang oleh para generasi penerus.
Semoga eyang bisa beristirahat dengan tenang, diampuni segala dosanya, diterima di sisi-Nya, dan jika Tuhan mengizinkan, bertemu kembali dengan ibu Ainun.
Kebayoran Lama, 12 Agustus 2019, terinspirasi setelah wafatnya eyang Habibie
Foto: Indonesia Inside
Tokoh & Sejarah
Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain
Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.
Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!
Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes

Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.
Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.
Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:
- Manusia berlagak seperti anjing pemburu
- Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
- Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya
Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.
“Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.
Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.
Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes

“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!
Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.
Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.
Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”
Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.
Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.
Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.
Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.
***
Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!
Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.
Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.
Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes
Tokoh & Sejarah
Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat
Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi Amerika Serikat (AS) sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni Venezuela dan Iran.
Dengan berbagai dalih, Presiden Donald Trump membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang tahu kalau di balik itu ada kepentingan mereka sendiri.
Oh, jangan lupa dengan gebrakannya yang ingin mengambil alih Greenland dari Denmark, meskipun mereka sama-sama sekutu di bawah bendera NATO. Mungkin wacana tersebut batal, tapi kita bisa melihat “serakus” apa AS di bawah Trump.

Terbaru, Trump juga berencana untuk menyerang Kuba yang berada tepat di selatan wilayah negaranya. United Nations (UN) pun tak terlihat batang hidungnya belakangan ini. Sekadar mengecam pun tidak.
Mungkin kita terkejut dengan keputusan Trump yang terkesan arogan tersebut. Namun, jika menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Trump tersebut memang sudah menjadi semacam “kebiasaan” AS.
Kebiasaan AS Mengurusi Urusan Negara Lain

Jangankan wilayah yang berdaulat, bahkan pulau kecil yang dipenuhi kotoran burung pun sempat menjadi target AS di masa lalu. Ini bukan mengada-ada, karena di tahun 1800-an, mereka berusaha memonopoli pulau-pulau kecil yang merupakan milik Peru.
Penulis mengetahui fakta ini dari video-video dari Johnny Harris. Nantinya, banyak contoh yang Penulis sebutkan di sini bersumber dari videonya. Intinya, mereka bahkan sampai mengancam Peru jika menghalangi bisnis kotoran burung untuk pupuk tersebut.
Menariknya, perkara menguasai pulau penuh kotoran burung tersebut adalah langkah awal AS menuju imperialisme. Namun, di artikel ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Fokus kita adalah melihat intervensi AS ke negara lain di masa lalu.
Guatemala dan Pisang

Di Guatemala misalnya, di mana mereka intervensi karena satu alasan: pisang! Yup, demi mengamankan bisnis pisang mereka di sana (karena buah tersebut sangat populer di AS), mereka terlibat dalam penggulingan kekuasaan pemerintah yang ingin AS tidak memonopoli bisnis pisang di sana.
Mengapa AS sampai melangkah sejauh itu? Karena United Fruit Company, salah satu perusahaan buah terbesar, memiliki seperlima lahan pertanian di negara tersebut! Mereka juga punya infrastruktur lengkap seperti negara di dalam negara dan dukungan militer AS.
Pencaplokan Hawaii dan Gula

Tahu Hawaii, bukan? Negara bagian AS berupa kepulauan di Samudra Pasifik tersebut dulunya merupakan sebuah kerajaan berdaulat yang tiba-tiba dianeksasi seenak udel oleh AS. Penyebabnya? Bisnis gula!
Awalnya, orang-orang kulit putih di sana datang sebagai misionaris untuk menyebarkan agama kristen. Lantas, mereka justru berbisnis dan salah satunya adalah dengan mendirikan industri gula.
Agar lancar, mereka pun membuat gerakan sistematis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (waktu itu dipimpin oleh Ratu Liliuokalani) dan digantikan oleh Sanford Dole yang punya bisnis gula.
Terusan Panama dan Kemerdekaan Panama

Tahu Terusan Panama, bukan? Pada saat pembuatannya di awal 1900-an, Panama masih merupakan wilayah dari Kolombia. Nah, Kolombia menolak pembuatan kanal yang awalnya dikerjakan oleh arsitektur Prancis (walau berakhir gagal).
Sudah ketebak bukan apa yang terjadi selanjutnya? AS memberi dukungan kepada orang-orang Panama (Panamian) untuk merdeka dari Kolombia (termasuk senjata dan tentara), dengan syarat mereka boleh meneruskan pengerjaan Terusan Panama.
Singkat cerita, revolusi tersebut berhasil dan Panama pun menjadi negara merdeka. AS secara sigap menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan mereka. Terusan Panama pun jadi milik mereka hingga akhirnya dikembalikan ke Panama pada tahun 1999.
Contoh-Contoh Lainnya
Di Indonesia sendiri, AS disebut menjadi dalang di balik lengsernya Sukarno yang sudah semakin ke kiri. Di Korea, hari ini ada dua negara (Utara dan Selatan) juga karena andil mereka bersama Uni Soviet.
Mungkin kalau yang lebih baru, adalah ketika mereka meluluhlantakkan Irak dan Libya, yang waktu itu dipimpin oleh Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Mereka dicap persis seperti pemimpin Venezuela dan Iran, yakni tiran yang harus disingkirkan demi “kebaikan rakyatnya”.
Percayalah, contoh-contoh di atas baru sebagian kecil saja. Negara yang satu ini memang hobi intervensi urusan negara orang lain, bahkan semakin parah di bawah kepresidenan Trump.
***
Intervensi AS di Iran disebut bisa memicu Perang Dunia III, yang sudah kerap disebut sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu banyak orang berharap hal tersebut tidak pernah terjadi, mayoritas dari kita hanya ingin hidup dengan damai.
Namun, memang ada pihak-pihak yang rasanya membenarkan peperangan dengan alasan “damai”. Secara ironis, hal ini membuat kita teringat dengan Pain dari serial Naruto Shippuden, yang tujuannya akhirnya memang perdamaian dengan cara kekerasan.
Logika yang digunakan Trump juga sesat. Dengan menggunakan logikanya, negara lain juga berhak menyerang AS dengan alasan Trump telah membuat rakyatnya menderita. Lihat saja kelakuan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang beberapa kali membunuh warga sipil.
Mau sampai kapan ia memutuskan untuk menjadi polisi dunia tanpa dilandasi hukum yang jelas? Penulis benar-benar tidak paham lagi jika sampai ada pemimpin dunia yang memutuskan berada di pihaknya.
Lawang, 11 Maret 2026, terinspirasi setelah teringat bagaimana aksi ikut campur Amerika Serikat sudah dilakukan sejak dahulu kala
Sumber Artikel:
Tokoh & Sejarah
Bagaimana Xbox Beradaptasi Melawan PlayStation dan Nintendo
Kalau berbicara tentang konsol, Penulis pernah memiliki beberapa. Waktu kecil, Penulis memiliki konsol-konsol “murah” yang bisa memainkan banyak game jadul seperti Duck Hunt dan Super Mario Bros.
Saat kelas 5 SD, Penulis tiba-tiba dibelikan PlayStation 1 oleh ayah. Lalu saat lulus dari SD, Penulis membeli PlayStation 2 menggunakan uang sunat. Semenjak itu, Penulis tidak pernah lagi membeli konsol hingga saat ini.
Walau begitu, Penulis tetap mengikuti perkembangan konsol karena memang menyukai sejarah teknologi. Kabar terbaru yang cukup hangat dibicarakan adalah bagaimana menyerahnya Xbox dalam perang konsol dan memutuskan untuk fokus di konten.
Xbox yang Tertinggal Jauh dari PlayStation dan Nintendo
Jika berbicara tentang penguasa pasar konsol di era sekarang, pemain besarnya hanya tinggal tiga perusahaan, yakni Sony melalui PlayStation, Nintendo, dan Microsoft melalui Xbox. Dibandingkan para kompetitornya, umur Xbox memang paling muda.
Karena Nintendo seolah punya “dunianya” sendiri, maka di sini Penulis hanya akan membandingkan Xbox dengan PlayStation. Mari kita bahas dari segi penjualan konsolnya dulu, karena ini berpengaruh pada keputusan yang dibuat Xbox sekarang.

Di pertengahan 90-an, Sony mendobrak pasar yang saat itu diisi oleh Nintendo, Sega, dan beberapa merek lainnya. Melalui PlayStation, Sony dianggap merevolusi industri game modern berkat berbagai terobosannya seperti penggunaan CD, bukan cartridge.
Lantas, di awal 2000-an, Sony merilis penerusnya, PlayStation 2, yang hingga saat ini masih memegang rekor sebagai konsol dengan penjualan tertinggi sepanjang masa. Di saat inilah Microsoft masuk ke industri game dengan merilis Xbox perdana.
Tentu, penjualan Xbox tidak ada apa-apanya dibandingkan PlayStation 2. Seumur hidup, Penulis hanya satu kali melihat Xbox punya teman di Tangerang. Beda dengan konsol PlayStation yang bisa ditemukan di banyak tempat rental.
Nasib Xbox membaik ketika merilis Xbox 360, saat PlayStation meluncurkan PlayStation 3. Jumlah penjualannya hanya selisih tipis. Namun, banyak yang menganggap kalau ini terjadi karena harga PS3 yang terlampau mahal, bukan karena Xbox 360 bagus.
Penulis juga hanya sekali melihat ada orang punya Xbox 360, yakni punya tetangga Penulis yang sesekali membawa konsolnya ke rumah untuk dimainkan bersama. Kalau secara fisik, konsol ini memang memiliki bentuk yang menarik.
Di generasi selanjutnya, Sony meluncurkan PlayStation 4 dan Xbox meluncurkan Xbox One. Pola penamaan Xbox memang sedikit membingungkan, berbeda dengan PlayStation yang berurutan. Sekali lagi, Xbox harus menelan pahitnya kekalahan yang cukup telak.
Seumur-umur, Penulis belum pernah melihat konsol Xbox One. Kalau PS4, teman Penulis ada yang memilikinya, apalagi sudah banyak rental yang menyediakan PS4. Mungkin memang sejarang itu orang memutuskan untuk membeli konsol Xbox, setidaknya di Indonesia.
Untuk konsol generasi terbaru, PlayStation 5 dan Xbox Series X|S, mungkin bisa dibilang menjadi endgame bagi Xbox di perang konsol. Meskipun menggunakan strategi “konsol murah untuk teknologi terbaru” melalui Series S, mereka tetap tak mampu mengalahkan Sony.
Penulis sering main di rental untuk menyewa PS5, teman Penulis ada yang punya Xbox Series S, tapi Penulis belum pernah melihat Xbox Series X secara langsung. Bisa jadi, ini adalah seri Xbox terakhir yang pernah dikeluarkan oleh Microsoft.
Strategi Microsoft Bertahan di Industri Game

Berdasarkan ulasan di atas, bisa dilihat kalau Xbox benar-benar bukan lawan yang sepadan untuk PlayStation. Bahkan, jika dibandingkan dengan Nintendo pun mereka masih kalah, mengingat penjualan Wii dan Switch begitu laris manis di pasaran.
Menyadari kekurangan ini, Xbox pun memfokuskan diri pada konten game. Hal ini bisa dilihat dari betapa agresifnya Microsoft mengakuisisi berbagai developer game, di mana yang paling besar tentu saja ketika mereka mengakusisi Activision Blizzard.
Strategi ini masuk akal, mengingat Sony dan Nintendo juga kerap menggunakan konten yang disajikan untuk menarik minat pemain. Seperti yang kita tahu, ada banyak judul game yang hanya tersedia di platform tertentu.
Contohnya di PlayStation, ada beberapa judul seperti seri Final Fantasy, Spider-Man, God of War, Horizon, hingga The Last of Us. Memang biasanya judul-judul dari seri tersebut akan hadir di PC, tapi biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Nintendo malah lebih unik lagi dengan dunianya sendiri. Sebagai pemilik waralaba Mario, Zelda, hingga Pokemon, mereka secara eksklusif menghadirkan judul-judul tersebut hanya di konsol buatan mereka.
Xbox sendiri sebenarnya dari dulu juga memiliki beberapa waralaba khas mereka, seperti seri Halo dan Forza Horizon. Namun, rasanya mereka merasa kalau itu belum cukup sehingga secara masif mengakuisisi developer game lain.
Selain itu, strategi ini juga dilakukan untuk memperluas perpustakaan konten Xbox Game Pass, layanan subscription yang mereka miliki. Strategi ini juga digunakan oleh PlayStation, tapi tidak dilakukan oleh Nintendo.
Lantas, apakah Xbox jadi akan mengeksklusifkan game-game yang dibuat oleh anak-anak perusahaannya? Rasanya tidak. Contohnya dari seri Call of Duty, pihak Xbox telah menegaskan kalau mereka akan tetap merilis game-game tersebut di PlayStation.
Namun, yang jelas tampaknya laju Microsoft untuk mengakuisisi banyak developer game belum akan berakhir, bahkan akan lebih masif lagi. Jangan heran apabila PlayStation pun berupaya untuk meniru strategi yang diambil oleh Microsoft untuk bertahan di industri game.
Untuk ulasan yang lebih mendalam tentang topik ini, Pembaca bisa membaca tulisan Penulis di tautan yang ada di bawah.
Lawang, 20 September 2024, terinspirasi setelah menonton video ulasan yang membahas tentang strategi Xbox ke depannya
Foto Featured Image: WIRED
Sumber Artikel:
- Xbox Lost the Console War. Now It’s Redefining Gaming. | WSJ The Economics Of – YouTube
- Masa Depan Dunia Game: Perang Konten antar Platform – UP Station
- Kalah Perang Konsol, Xbox Bakal Akuisisi Banyak Perusahaan Game – UP Station
- PlayStation and Xbox: A Report Highlights the Lifetime Global Hardware Sales Data for Both Gaming Consoles – IGN
-
Musik12 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara12 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Permainan9 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi9 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara9 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga9 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri9 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri9 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu

![[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy](https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy-banner-300x169.jpg)
