<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pop Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pop/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Oct 2022 03:23:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pop Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pop/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2022 13:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isyana]]></category>
		<category><![CDATA[Isyana Sarasvati]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[opera]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu rock dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis. Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau band lokal favorit seperti Peterpan (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu <em>rock </em>dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau <em>band </em>lokal favorit seperti <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang sampai memberikan poster bergambar dirinya.</p>



<p>Bertahun-tahun kemudian, Penulis baru menemukan lagi sesosok penyanyi perempuan yang diidolakan. Ia adalah <strong>Isyana Sarasvati</strong>, orang yang sering dianggap sebagai komedian berkedok penyanyi.</p>



<p>Melalui tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana Penulis bisa mengidolakan Isyana Sarasvati dan pendapatnya tentang musik-musik yang ia ciptakan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pertemuan dengan Isyana Sarasvati</h2>



<p><em>Fun fact</em>, Isyana Sarasvati adalah satu-satunya idola yang berhasil Penulis ajak untuk foto bareng. Menariknya, kejadian tersebutlah yang membuat Penulis menjadikannya sebagai sesosok idola. Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="84RnN8OyH0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/embed/#?secret=84RnN8OyH0" data-secret="84RnN8OyH0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Kesempatan untuk bisa mendengarkan konsernya secara langsung, berfoto dan bersalaman dengannya (walaupun hanya pucuk tangannya), hingga mendapatkan CD-nya secara gratis membuat Penulis ingin mendalami musikalitas Isyana.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga banyak menonton video-videonya di YouTube, terutama video yang berkaitan dengan &#8220;kekocakan&#8221; yang dimilikinya. Perpaduan antara musik yang ia ciptakan dengan karakter yang dimilikinya jelas meninggalkan kesan tersendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Isyana di Industri Musik Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5732" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Explore!</em> (<a href="https://www.liputan6.com/showbiz/read/2375951/album-explore-wakili-jiwa-isyana-sarasvati">Liputan6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti kebanyakan pendengar Isyana, Penulis mengenal lagu Isyana dari <em>single-single </em>awalnya seperti <em><strong>Keep Being You</strong> </em>dan <em><strong>Tetap Dalam Jiwa</strong> </em>yang masuk ke dalam album pertamanya, <em><strong>Explore!</strong></em> (2015).</p>



<p>Sebagai album perkenalan Isyana, album ini menurut Penulis masih mengikuti pasar Indonesia dan bisa didengarkan oleh banyak orang karena <em>easy listening</em>. Penulis sendiri bukan penggemar genre tersebut, tetapi masih bisa menikmatinya.</p>



<p>Selain dua lagu yang menjadi <em>single </em>utama dari album tersebut, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Kau Adalah</em> </strong>yang merupakan hasil kolaborasinya dengan personil Ran, Rayi Putra. Hingga kini, Penulis masih mendengarkan lagu-lagu tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5733" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Paradox </em>(<a href="https://youtu.be/BaSCPxAEdN8">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Selang dua tahun (2017), Isyana kembali menelurkan album baru yang berjudul <em><strong>Paradox</strong></em>. Penulis berhasil mendapatkan album aslinya ketika beli makan di KFC. Dibandingkan dengan album sebelumnya, lagu-lagu yang terdapat di album ini terasa lebih berwarna.</p>



<p>Jika membaca dari beberapa sumber, album ini banyak mengangkat kisah pribadi Isyana, berbanding terbalik dengan album sebelumnya yang kerap bercerita tentang kisah temannya atau sepenuhnya fiktif.</p>



<p>Salah satu lagu yang menjadi <em>hits </em>di album ini tentu saja lagu <em><strong>Anganku Anganmu </strong></em>yang ia nyanyikan bersama Raisa. Kedua penyanyi ini sama- sama cantik dan bersuara emas. Apalagi, banyak orang yang kerap membandingkan keduanya.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis paling menyukai lagu <em><strong>Lembaran Buku </strong></em>yang walaupun terkesan <em>gloomy</em>, entah mengapa liriknya terasa begitu dalam. Lagu lain yang Penulis sukai di album ini adalah <em><strong>Nada Cinta </strong></em>yang kesannya ceria dan bahagia. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Jujur kepada Diri Sendiri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5734" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Lexicon </em>(<a href="https://m.fimela.com/entertainment/read/4123653/lexicon-luapan-energi-terpendam-isyana-sarasvati">Fimela</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin isi lagu dari album <em>Paradox </em>memang lebih menggambarkan seorang Isyana. Namun, secara musikalitas sebenarnya Isyana masih &#8220;bermain aman&#8221; dan mengikuti pasar Indonesia. Di album ketiganya, <em><strong>Lexicon</strong></em> (2019), barulah Isyana benar-benar berani <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>



<p>Jika dua albumnya lebih bergenre <em>pop </em>dan <em>R&amp;B</em>, maka di album ini terasa bergenre klasik dan <em>rock </em>progresif. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Isyana memang memiliki <em>background </em>pendidikan di genre-genre tersebut. </p>



<p>Ini tentu cukup menimbulkan kekagetan di antara penggemar dan menimbulkan polarisasi. Ada yang menganggap Isyana telah keluar jalur, ada yang menyebut kalau inilah diri Isyana yang sebenarnya. Tak heran, ada beberapa anggapan yang menyebutkan banyak pendengar Isyana berpaling darinya.</p>



<p>Penulis sendiri sebagai penikmat musik <em>rock </em>sebenarnya terima-terima saja dengan keputusan Isyana dan tidak mempermasalahkannya. Jujur kepada diri sendiri merupakan hal penting, termasuk dalam pemilihan musikalitas sang penyanyi.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis memiliki satu judul favorit, yakni <em><strong>Untuk Hati yang Terluka</strong></em>. Untuk lagu-lagu lainnya, Penulis kurang bisa menikmatinya karena tidak sesuai dengan selera saja. Namun, album ini memang benar-benar berbeda.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Menyangka Isyana akan Merilis Lagu Metal?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana di Video Klip <em>Il Sogno </em>(<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/isyana-sarasvati-and-deadsquad-share-music-video-for-il-sogno-3146709">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak perilisan album ketiganya, Penulis tidak terlalu mengikuti lagu-lagu terbaru Isyana. Bahkan, Penulis hampir tidak pernah mendengarkan album mininya yang berkolaborasi dengan Afgan dan Rendy Pandugo.</p>



<p>Namun, Penulis kembali mendengarkan lagu Isyana berkat <em>single</em> <strong><em>Il Sogno </em></strong>(2021) yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em>Teka-Teki Tika</em>. Gila, siapa yang menyangka Isyana akan menciptakan lagu sekeras ini. Perpaduan antara <em>rock</em>, classic, dan suara opera Isyana benar-benar cocok di telinga Penulis.</p>



<p>Bahkan, versi kolaborasinya dengan Deadsquad (rilis 2022) membuat lagu ini semakin enak (dan tentunya makin keras!) saja didengar dan membuat Penulis melakukan <em>headbang </em>ketika sedang mendengarkannya. Lagu ini benar-benar keren!</p>



<p><em>Il Sogno </em>jugalah yang membuat Penulis akhirnya kembali mendengarkan lagu-lagu Isyana dan menemukan beberapa lagu yang ternyata cukup enak. Salah satunya adalah <em><strong>Unlock the Key</strong> </em>(2020)<em> </em>yang juga bergenre <em>rock</em>. Semoga saja Isyana makin sering membuat lagu bergenre <em>rock </em>progresif!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis sebenarnya bukan tipe orang yang menyukai seorang penyanyi karena lebih menyukai <em>band</em>. Penulis bisa menyebutkan banyak nama <em>band </em>favoritnya, tetapi akan kebingungan jika ditanya siapa penyanyi favoritnya.</p>



<p>Kehadiran Isyana di ranah musik Indonesia membuat Penulis tak ragu menjadikannya penyanyi favorit. Mengikuti evolusi musikalitasnya dari debut hingga sekarang benar-benar menarik dan menurut Penulis cukup unik. Tak banyak penyanyi yang berani keluar dari zona nyamannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Isyana Sarasvati akan tetap ada di dalam jiwa Penulis sampai kapan pun. Apalagi, Penulis memiliki kenangan indah ketika bisa berjumpa dengannya dan berfoto bareng.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 Februari 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagu-lagu Isyana Sarasvati</p>



<p>Foto: <a href="https://www.ussfeed.com/lagu-il-sogno-isyana-sarasvati-cerita-tentang-mimpi/">USS Feed</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan One More Light</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 00:29:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Chester Bennington]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One More Light]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3823</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&#160;One More Light. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya. Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&nbsp;<em>One More Light</em>. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya.</p>



<p>Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok gini?&#8221;.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Album Pop Linkin Park?</h1>



<p>Pikiran tersebut muncul sejak Penulis mendengar <em>single&nbsp;</em>pertamanya yang berjudul&nbsp;<em>Heavy</em>. Selain karena genrenya yang cenderung pop, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng penyanyi perempuan sebagai teman duet, <strong>Kiiara</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3826"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3826" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester dan Kiiara (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.justjared.com%2F2017%2F02%2F17%2Flinkin-park-kiiara-premiere-heavy-stream-download-lyrics-listen-now%2F&amp;psig=AOvVaw2VC73YOCVLFRr7rv9ReLBV&amp;ust=1589156923165000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" aria-label="Visit Just Jared"><span class="pM4Snf">Just Jared</span></a>)</figcaption></figure>



<p>Bukannya tidak enak. Penulis bisa menikmati lagunya, apalagi makna liriknya yang cukup dalam. Hanya saja, rasanya ini bukan seperti lagu-lagu Linkin Park seperti biasanya, apalagi setelah tiga tahun lalu mereka merilis album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-the-hunting-party/"><em>The Hunting Party</em></a>.</p>



<p>Setelah albumnya yang berisi sepuluh lagu rilis, Penulis mendengarkan baik-baik lagu demi lagunya. Album ini benar-benar berbeda, sama sekali tidak terasa nuansa&nbsp;<em>rock</em>-nya! Bahkan Chester sama sekali tidak mengeluarkan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>andalannya.</p>



<p>Awalnya Penulis menganggap hal tersebut terjadi karena usianya yang sudah mulai menua, sehingga tidak disarankan untuk berteriak. Tetapi ketika menonton video konsernya, ia tetap melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>seperti biasa.</p>



<p>Artinya, sekali lagi Linkin Park berusaha melakukan eksperimen ekstrem seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, Penulis pribadi merasa eksperimen kali ini sudah terlalu jauh. Mereka meninggalkan genre <em>alternative/rap/electric rock </em>dan memilih untuk membuat album pop.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggunakan salah satu judul lagu sebagai judul album&nbsp;dan tidak ada kesinambungan antar lagunya seperti biasanya.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu&nbsp;<em>One More Light</em></h1>



<p>Album dibuka dengan lagu <em><strong>Nobody Can Save Me</strong>. </em>Bisa dibilang, peletakkan lagu ini di awal album menjadi penanda seperti apa album ini akan terdengar. Enak sih, cuma sedikit membosankan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Good Goodbye [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Pusha T and Stormzy)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/phVQZrb2AdA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya adalah satu-satunya lagu di mana Mike Shinoda melakukan&nbsp;<em>rap, <strong>Good Goodbye</strong></em>. Pada lagu ini, Linkin Park menggandeng&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>Pusha T dan Stormzy. Mike hanya mengisi&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di bagian pertama lagu.</p>



<p>Bisa dibilang, <strong><em>Talking to Myself</em></strong> menjadi lagu terkeras di album ini. Tidak ada teriakan, namun vokal Chester terasa kuat. Perilisan video klipnya bersamaan dengan ditemukannya Chester bunuh diri, di mana isinya merupakan berbagai aktivitas Linkin Park.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Talking To Myself [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/lvs68OKOquM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>Battle Symphony</em></strong> yang kalau tidak salah menjadi&nbsp;<em>single&nbsp;</em>kedua lagu ini. Penulis ingat ketika konser untuk memperingati kematian Chester, Mr. Han melakukan kesalahan hingga ditegur oleh Mike.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Invisible</strong>&nbsp;</em>secara penuh dinyanyikan oleh Mike, mirip dengan lagu&nbsp;<em>In Between&nbsp;</em>di album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/"><em>Minutes to Midnight</em></a>. Hanya saja, lagu ini lebih cocok untuk berada di album Fort Minor atau Mike Shinoda sendiri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama dari album ini,&nbsp;<strong><em>Heavy</em></strong>, menjadi trek keenam. Dibandingkan lagu lainnya, lagu ini masih bisa Penulis nikmati karena dentuman drum yang ada di bagian 1/4 lagu terakhir.</p>



<p><em><strong>Sorry for Now</strong>&nbsp;</em>mungkin terdengar aneh karena Mike menjadi vokalis utama, sedangkan Chester hanya mengisi bagian&nbsp;<em>bridge </em>dan <em>backing voval-</em>nya.&nbsp;<strong><em>Halfway Right </em></strong>juga terdengar seperti lagu-lagu pop Linkin Park lainnya, bahkan dianggap sedikit cengeng.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="One More Light [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Tm8LGxTLtQk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Judul utama album ini diambil dari lagu kesembilan,&nbsp;<strong><em>One More Light</em></strong>. Lagunya sangat terasa sendu dan menyedihkan. Pada akhirnya, lagu ini sering dihubungkan dengan kepergian Chester yang tragis. Album ditutup dengan lagu akustik berjudul <em><strong>Sharp Edges</strong>.</em></p>



<p>Pembaca bisa lihat, Penulis tidak bisa banyak berkomentar mengenai lagu-lagu yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan kalau Penulis tidak bisa terlalu memahami album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Tidak ada teriakan, tidak ada suara gitar yang berat,&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>yang sangat sedikit, tak ada lagi gesekan <em>turntables</em>. Banyak hal yang awalnya membuat Penulis merasa tidak terlalu suka dengan album ini.</p>



<p>Penulis tidak sendirian. Banyak fans yang merasakan hal yang sama. Bahkan, banyak kritikus musik yang habis-habisan memberi respon negatif ke album ini hingga membuat Chester marah.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau ternyata album ini menjadi album terakhir dari Linkin Park. Sang vokalis, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester Bennington</a>, memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menggantung lehernya, menyisakan duka mendalam bagi para penggemarnya termasuk Penulis.</p>



<p>Penulis tidak akan lagi membaca berita Linkin Park akan mengeluarkan album baru. Kalaupun pada akhirnya band merekrut vokalis baru, Penulis tidak bisa menerimanya sebagai Linkin Park.</p>



<p>Meskipun begitu, sampai kapanpun Linkin Park akan tetap menjadi band nomor satu di hati Penulis. Sampai kapanpun.</p>



<p><em>Seri artikel album Linkin Park, selesai.</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/More-Light-Vinyl-Linkin-Park/dp/B06WD3G4ZY">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
