<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>positif Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/positif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/positif/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Oct 2021 10:40:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>positif Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/positif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjaga Konsistensi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2021 14:05:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[konsistensi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sir Alex Ferguson melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya. Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai: Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">Menjaga Konsistensi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/merindukan-sentuhan-sir-alex/"><strong>Sir Alex Ferguson</strong></a> melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa <strong>mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya</strong>.</p>
<p>Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai:</p>
<blockquote><p>Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya</p></blockquote>
<p>Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar adanya.</p>
<h3>Susah Memulai Lagi</h3>
<div id="attachment_4261" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4261" class="size-large wp-image-4261" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4261" class="wp-caption-text">Susah Memulai Lagi Jika Berakhir (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@bradencollum">Braden Collum</a>)</p></div>
<blockquote><p><em>The hardest part of ending is starting again</em></p></blockquote>
<p>Kalimat di atas merupakan lirik dari lagu <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Waiting for the End</a> </em>dari band favorit Penulis, Linkin Park. Dalam bahasa Indonesia artinya <strong>bagian tersulit dari akhir adalah memulainya kembali</strong>.</p>
<p>Itulah yang Penulis alami saat ini. Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/"><em>Rutinitas Pagi Harian</em></a>, Penulis menjelaskan bagaimana dirinya memiliki rutinitas yang dilakukan setiap pagi.</p>
<p>Rutinitas tersebut berlangsung kurang lebih dua bulan. Menjelang pergantian tahun, semangat Penulis justru turun. Ketika tulisan ini dibuat, Penulis sudah satu minggu berhenti lari pagi.</p>
<p>Kenapa? <strong>Karena sudah terlalu lama berhenti. </strong></p>
<p>Padahal di tulisan sebelumnya Penulis sudah menuliskan salah satu pantangan membuat rutinitas pagi adalah berhenti lebih dari dua hari. Ironis memang, Penulis melanggar pantangannya sendiri.</p>
<p>Sekarang, rasanya begitu berat untuk mengambil jaket dan menggunakan sepatu, lantas melakukan pemanasan dan lari keliling perumahan. Padahal Shubuh bangun, tapi rasanya begitu malas keluar rumah.</p>
<p>Dengan kata lain,<strong> kurangnya niat</strong> juga menjadi musuh terbesar dalam menjaga konsistensi.</p>
<h3>Buruknya <em>Time Management</em></h3>
<div id="attachment_4262" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4262" class="size-large wp-image-4262" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4262" class="wp-caption-text">Gunakan Waktu dengan Bijak (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_dumlao">Nathan Dumlao</a>)</p></div>
<p>Contoh lain dari susahnya menjaga konsistensi adalah blog ini. Pada awal tahun 2020, Penulis berhasil rutin menulis setiap hari. Akhir tahun? Sedikit sekali tulisan yang Penulis produksi.</p>
<p>Apakah Penulis sibuk hingga tidak punya waktu untuk menulis blog? Apakah Penulis mengalami <em>creative block</em> karena padatnya pekerjaan?</p>
<p>Jika Penulis renungkan kembali, itu semua hanya alasan sebagai pembenaran. Alasan sebenarnya adalah Penulis <strong>terlalu malas</strong> dan <strong><em>time management </em>yang buruk</strong>.</p>
<p>Penulis rutin menulis agenda harian (salah satu rutinitas yang berhasil Penulis pertahankan dari zaman kuliah, walaupun sempat berhenti beberapa bulan di tahun 2020 kemarin).</p>
<p>Dari sana Penulis tahu dalam satu hari apa saja yang Penulis lakukan. Setelah dievaluasi, memang Penulis <strong>terlalu banyak membuang-buang waktunya</strong>.</p>
<p>Dibuang seperti apa? <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Terlalu banyak main media sosial</a> (medsos), terlalu banyak main game, terlalu banyak tidur menjadi contoh yang paling mudah.</p>
<p>Ambil contoh Penulis menghabiskan waktu di medsos sebanyak 2 jam satu hari. Menulis artikel blog paling lama satu jam, tapi biasanya 30 menit sudah selesai.</p>
<p>Jika Penulis mengambil waktu di medsos 1 jam, mau sesibuk apapun Penulis bisa mengalokasikannya untuk menulis artikel blog. Apalagi, ada aplikasi <em>WordPress </em>di ponsel sehingga aktivitas <em>ngeblog</em> tidak melulu harus di layar laptop.</p>
<h3>Apa yang Harus Dilakukan?</h3>
<div id="attachment_4263" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4263" class="size-large wp-image-4263" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4263" class="wp-caption-text">Memanfaatkan To-Do-List (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@cathrynlavery">Cathryn Lavery</a>)</p></div>
<p>Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga konsistensi? Jawabannya klasik dan klise, <strong>semuanya berawal dari niat!</strong></p>
<p>Setiap orang mungkin akan memiliki metode yang berbeda, tapi ini cara Penulis. Sebagai awal, Penulis harus memaksa dirinya untuk membuat <strong><em>to-do-list </em>harian</strong>.</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang suka menetapkan target-target untuk dicapai karena dengan demikian Penulis jadi memiliki titik fokus dalam menjalani harinya.</p>
<p><strong>Jika Penulis tidak tahu apa yang akan dilakukan hari ini, Penulis akan terdorong untuk menyia-nyiakan waktu yang ada.</strong></p>
<p>Di <em>to-do-list </em>harian tersebut, bisa dibilang isinya hampir sama setiap hari. Jika ada yang beda mungkin hanya satu dua, tapi selebihnya sama.</p>
<p>Walaupun begitu, hal tersebut <strong>melatih konsistensi Penulis</strong>. Dari sisi psikologi, akan muncul perasaan senang apabila berhasil menyelesaikan target-target yang telah dibuat.</p>
<p>Penulis juga memanfaatkan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.isoron.uhabits&amp;hl=en&amp;gl=US#:~:text=Loop%20helps%20you%20create%20and,and%20it%20respects%20your%20privacy."><strong><em>Loop Habit Tracker</em></strong></a><em> </em>yang bisa diunduh gratis di Play Store. Kalau lihat daftar kebiasaan yang kita buat tercentang semua, rasanya puas sekali!</p>
<p>Kadang Penulis juga berusaha memunculkan kembali semangat menjalani rutinitas dengan <strong>mencari motivasi</strong>, entah dari buku ataupun video YouTube.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memulai kebiasaan baik yang baru merupakan hal yang sulit. <strong>Mempertahankannya jauh lebih sulit lagi. </strong></p>
<p>Pembaca mungkin punya kesulitan menjaga konsistensi di bidang lain, mungkin ibadahnya, diet makannya, belajarnya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis tidak memiliki kapabilitas untuk memberikan jawaban untuk permasalahan tersebut. Hanya saja, Penulis berharap tulisan ini dapat menginspirasi Pembaca untuk menemukan solusinya sendiri.</p>
<p>Yang perlu diingat adalah musuh terbesar dari konsistensi adalah <strong>berhenti untuk jangka waktu tertentu</strong>, <strong>kurangnya niat</strong>, <strong>rasa malas</strong>, dan <strong><em>time management </em>yang buruk</strong>.</p>
<p>Kalau kita berhasil mengalahkan empat hal ini, kemungkinan besar kita bisa menjaga konsistensi kita dalam hal apapun.</p>
<p>Yuk, teguhkan niat untuk menjaga konsistensi. Serap sebanyak mungkin motivasi dari mana pun agar kita semangat untuk menjaga konsistensi tersebut!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 Januari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kesulitan menjaga konsistensi diri</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@siora18">Siora Photography</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">Menjaga Konsistensi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suka Duka Seorang Pemikir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Feb 2020 08:14:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3364</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial Aku Ingin Tahu dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal. Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial <em>Aku Ingin Tahu </em>dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal.</p>
<p>Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa tahu, ada yang merasakan hal serupa.</p>
<h3>Sisi Positif Seorang Pemikir</h3>
<div id="attachment_3372" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3372" class="size-large wp-image-3372" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3372" class="wp-caption-text">Mampu Merancang Strategi (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@campaign_creators">Campaign Creators</a>)</p></div>
<p>Dengan menjadi seorang pemikir, Penulis sering <strong>merencanakan beberapa langkah ke depan</strong> sekaligus sehingga bisa melakukan antisipasi jika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.</p>
<p>Menjadi pemikir juga akan mendorong kita untuk <strong>sering berpikir sebelum bertindak</strong>. Kita akan melihat, konsekuensi seperti apa yang akan dihadapi jika kita melakukan sesuatu.</p>
<p>Hal ini penting jika kita harus merancang strategi di dunia pekerjaan ataupun sedang menghadapi suatu permasalahan. Memang tidak semuanya bisa diantisipasi, namun setidaknya kita lebih siap secara mental.</p>
<p>Sifat pemikir juga bisa <strong>merangsang rasa ingin tahu</strong> yang akan membuat kita banyak membaca literasi ataupun menonton video yang membahas topik yang dicari.</p>
<p>Jika sedang menemukan sesuatu yang tidak diketahui, kita akan langsung mencarinya di Google ataupun bertanya kepada orang yang lebih paham karena dihinggapi rasa penasaran itu tidak enak.</p>
<p>Seorang pemikir juga jadi <strong>banyak merenungi hal-hal yang kerap diabaikan</strong> oleh orang kebanyakan, mulai dari masalah lingkungan yang memburuk hingga <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-terjadi-sebelum-big-bang/">bagaimana alam semesta ini tercipta</a>.</p>
<p>Penulis juga jadi <strong>sering melakukan interopeksi diri</strong>. Apa saja yang harus dibenahi dari diri ini, langkah apa yang harus diambil agar bisa lebih baik, dan lain sebagainya. Sering kali seorang pemikir juga pandai memotivasi dirinya sendiri.</p>
<h3>Sisi Negatif Seorang Pemikir</h3>
<div id="attachment_3373" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3373" class="size-large wp-image-3373" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3373" class="wp-caption-text">Mudah Stres (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@gunaivi">ahmad gunnaivi</a>)</p></div>
<p>Hanya saja, jika sifat pemikir yang dimiliki menjadi berlebihan, efek sampingnya juga tidak kalah banyak. Bahkan, bisa lebih banyak dari sisi positif yang sudah Penulis sebutkan di atas.</p>
<p>Entah ini karena Penulis pemikir atau emang dari <em>sononya</em>, Penulis merasa <strong>menjadi orang yang kaku dan kurang bisa santai</strong> dalam menjalani hidup. Terkadang, Penulis iri ketika melihat ada orang yang hidupnya bisa <em>santuy</em>.</p>
<p>Hal itu bisa terjadi karena kita <strong>mudah kepikiran terhadap sesuatu</strong>, termasuk dari kejadian yang sepele. Jika ada seorang teman yang tidak membalas chat, pikiran kita akan melayang ke mana-mana dan mulai menyalahkan diri sendiri.</p>
<p>Contoh dampak negatif lainnya adalah <strong>sulit membuat keputusan</strong> karena terlalu memikirkan banyak kemungkinan. Kita menjadi bimbang dalam memilih tindakan apa yang harus diambil dalam suatu kondisi.</p>
<p>Pemikir juga kerap memikirkan masa lalunya yang membuat kita <strong>melakukan penyesalan tak berarti</strong>. Biasanya, aktivitas ini dibumbui dengan kata <em>seandainya begini seandainya begitu</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pemikir juga <strong>kerap mengkritisi dirinya sendiri</strong> bahkan hingga membenci dirinya sendiri. Penulis telah menyadari bahwa perilaku tersebut tidak baik dan sudah seharusnya tidak dilakukan.</p>
<p>Menjadi seorang pemikir yang berlebihan juga kerap <strong>membuat kita stres</strong>. Ujung-ujungnya, kesehatan kita (fisik dan mental) pun menjadi terganggu.</p>
<p>Kalau yang sering Penulis alami, Penulis sering merasa <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">khawatir secara berlebihan</a>. Kadang khawatir sama masa depan, khawatir kalau orang lain meninggalkan Penulis, dan lain sebagainya. Hasilnya akan membuat kita gampang merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Banyak hal yang Penulis pikirkan dalam hidupnya sehari-hari, mulai yang sepele seperti <em>nanti siang makan apa </em>sampai yang berat seperti <em>bagaimana kalau aku besok mati dengan dosa yang masih menumpuk</em>.</p>
<p>Jika boleh jujur, Penulis ingin menjadi orang yang lebih <em>santuy </em>dalam menikmati hidup. Tetap menjadi pemikir tidak masalah, namun tidak sampai berlebihan yang ujung-ujungnya membuat stres.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kadar pemikirnya dan banyak membaca buku seputar topik tersebut. Dengan demikian, Penulis bisa menjadi seorang pemikir tanpa perlu merasa stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Februari 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang pemikir</p>
<p>Foto: <a href="https://www.visitphilly.com/things-to-do/attractions/the-thinker/">Visit Philadelphia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Itu Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2019 16:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[toxic positivity]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat hidup tak semudah cocote Mario Teguh? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali. Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya. Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat <em>hidup tak semudah cocote Mario Teguh</em>? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali.</p>
<p>Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya.</p>
<p>Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat manisnya seolah tak bisa ia terapkan untuk dirinya dan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Penulis bukan penggemarnya, sehingga tidak merasakan apa-apa. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang sangat percaya dengan kata-katanya?</p>
<p><em>Apakah mereka menjadi kecewa dan mengatakan motivasi itu omong kosong?</em></p>
<h3><em>Toxic Positivity</em></h3>
<div id="attachment_2909" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2909" class="size-large wp-image-2909" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2909" class="wp-caption-text">Toxic Positivity (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@blancotejedor">Aarón Blanco Tejedor</a>)</p></div>
<p>Rekan kantor memperkenalkan istilah <em>toxic positivity,</em> yang secara sederhana kurang lebih berarti motivasi positif bisa menjadi racun untuk kita.</p>
<p>Menurut penulis, istilah tersebut ada benarnya. Alasannya, tidak ada yang baik dengan berlebihan, termasuk memelihara pikiran untuk selalu positif dalam keadaan apapun.</p>
<p>Masalahnya, kita hanya manusia biasa lengkap dengan segala kekurangannya. Di saat lapang mungkin mudah untuk berpikir positif, namun di saat sempit? Susahnya bukan main, dan Mario Teguh telah membuktikan hal tersebut.</p>
<p>Penulis mengambil contoh <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">kepunahan burung Dodo</a> yang legendaris untuk menggambarkan betapa bahayanya memiliki pola pikir yang terlalu positif.</p>
<p>Ketika manusia datang ke pulau tempat mereka tinggal, burung Dodo tidak menaruh curiga apapun. Mereka berpikir positif bahwa manusia adalah makhluk yang baik. Akibatnya? Mereka punah karena habis diburu oleh manusia.</p>
<p>Pikiran-pikiran negatif pasti datang menghampiri kita pada saat-saat tertentu. Terkadang, mengusirnya dengan pikiran positif justru makin memperparah keadaan tersebut.</p>
<p>Ini juga berlaku terhadap orang lain. Jika ada yang mengeluhkan permasalahannya ke kita, jangan asal menyemburkan kalimat penyemangat.</p>
<p>Lihat dulu situasi, kondisi, dan karakteristik orang yang bercerita. Tidak semua orang mampu menangkap energi positif ketika sedang terpuruk. Yang ada, mereka akan menjadi semakin <em>down </em>(<em>dan penulis sering melakukan kesalahan tersebut</em>).</p>
<h3><em>Lantas, apakah motivasi itu omong kosong?</em></h3>
<p>Kembali ke permasalahan utama, apakah motivasi itu omong kosong? Jawabannya adalah iya, jika hanya sekadar berbentuk teori tanpa ada praktek.</p>
<p>Semua kata-kata Mario Teguh terasa sebagai omong kosong karena yang mengucapkannya sendiri tidak mampu mempraktekkannya hingga menghancurkan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Semua tulisan penulis yang berbau motivasi di <em>Whathefan</em> ini juga akan menjadi omong kosong jika tidak penulis terapkan untuk kehidupannya sendiri.</p>
<p>(<em>Salah satu alasan mengapa penulis sering menulis tulisan berbau motivasi adalah agar dirinya terpacu untuk melakukan apa yang ditulis. Itu juga sebagai terapi menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang berlebihan</em>)</p>
<p>Motivasi itu perlu dan dibutuhkan manusia untuk melanjutkan hidup. Orang yang tidak memiliki motivasi hidup biasanya hidupnya terombang-ambing tanpa arah yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi, motivasi yang berlebihan (mungkin dari motivator ataupun buku) juga tidak baik untuk kita. Terlalu banyak motivasi bisa memicu efek <em>toxic positivity </em>kepada diri kita.</p>
<p>Penulis pun masih berusaha menemukan formula bagaimana kita harus menyeimbangkan antara pikiran positif dan negatif dalam diri. Butuh banyak referensi dan diskusi untuk bisa menemukan jawabannya.</p>
<p>Yang jelas, hidup dengan pikiran yang selalu positif juga kurang baik untuk kita. Kita akan menjadi makhluk yang naif dan mudah dikecoh oleh orang-orang yang berniat jahat ke kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merupakan orang yang suka membaca buku-buku motivasi, mulai John C. Maxwell hingga Anthony Robbins. Ada beberapa yang berusaha penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, walau ada juga yang sulit untuk dipraktekkan.</p>
<p>Sekarang, penulis mulai mengurangi membaca buku-buku motivasi. Alasannya, penulis merasa cukup dan memutuskan untuk lebih banyak bertindak daripada memakan teori-teori melulu.</p>
<p>Namun, jika ada buku motivasi yang menarik, mengapa tidak? Penulis masih ingin membaca buku karya Stephen R. Corey yang berjudul <em>The 7 Habits of Highly Effective People. </em>Akan tetapi untuk sekarang, penulis merasa cukup.</p>
<p>Penulis tidak pernah menganggap motivasi itu omong kosong. Sama seperti baterai, kehidupan ini terkadang juga butuh diisi ulang dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan motivasi dari mana pun asalnya.</p>
<p>Akan tetapi, jika diisi berlebihan hingga melebihi kapasitas, yang ada adalah ledakan, <em>BOOM!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Oktober 2019, terinspirasi dari banyak macam hal seputar motivasi</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxv9eY2KvlAhWrgUsFHdKNALAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbforum.com%2Fnbreport%2Fjohn-c-maxwell-great-leaders-never-walk-alone%2F&amp;psig=AOvVaw0F_kZ7b-Z9Spns6LgEA4Gy&amp;ust=1571690143589376">Nordic Business Forum</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2018 08:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[mainstream]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Manson]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[review. motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku self-improvement yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar. Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku <em>self-improvement</em> yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar.</p>
<p>Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kata-kata motivator pada umumnya. Kalo kata teman penulis, mengajak kita berpikir positif dengan cara yang berbeda.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini terdiri dari 9 bab yang berbeda. Perlu diketahui, buku ini merupakan kumpulan tulisan Mark Manson di blognya, sehingga bahasa penulisannya seperti penulisan blog pada umumnya yang terkesan santai. Dan tentu, banyak kalimat-kalimat yang kurang senonoh sebagai bahan candaan atau sarkastik.</p>
<p>Jika dilihat dari judulnya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (atau <em>The Subtle Art of Not Giving F*ck </em>pada versi aslinya), buku ini pada intinya akan mengajak kita untuk memilih mana yang patut diprioritaskan, mana hal-hal tidak penting yang harus disingkirkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">I don&#8217;t like my mind right now<br />
Stacking up problems that are so unnecessary</p>
<p style="text-align: center;">Linkin Park- Heavy</p>
</blockquote>
<p>Pada salah satu bagian awal di buku ini tertulis hukum keterbalikan, yang kurang lebih menyatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.</p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Yang penulis tangkap, terkadang hal-hal positif harus diraih dengan pengorbanan mengalami pengalaman negatif. Jika ingin meraih badan yang bagus, maka kita harus berkorban dengan makan-makanan sehat dan rutin berolahraga. Kegiatan-kegiatan tersebut jelas membutuhkan <em>effort </em>lebih, inilah yang dimaksud pengalaman negatif di sini.</p>
<p>Bagian yang cukup membuat penulis berpikir keras terdapat pada bab 3 yang berjudul Anda Tidak Istimewa. Bukankah motivator selalu meyakinkan kita bahwa kita harus menjadi orang yang luar biasa dan jangan pernah menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Masalahnya, jika semua orang luar biasa, maka <em>tidak </em>ada orang yang luar biasa bukan? Jika semua orang menjadi <em>luar biasa</em>, maka tidak ada lagi orang yang <em>luar biasa </em>karena telah menjadi <em>biasa. </em>Kalimat ini benar-benar membuat penulis butuh beberapa menit untuk menenangkan diri karena penulis selalu tidak ingin menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk menyederhanakan pola pikir kita. Nikmati hal-hal sederhana seperti kebersamaan keluarga, waktu yang dihabiskan dengan teman-teman, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya, bab-bab menimbulkan pergolakan batin hanya ada di bagian awal buku ini. Bab-bab selanjutnya kurang lebih sama dengan buku-buku motivasi lainnya, tentu dengan gaya penulisan Manson sebagai seorang blogger.</p>
<p>Mungkin karena lima bab terakhir mengajak kita untuk mengubah penderitaan, kegagalan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk hidup kita. Terutama pada bab terakhir, buku ini mengajak untuk merenungi kematian dan mengonversinya menjadi sesuatu yang positif.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk penggemar buku <em>self-improvement </em>yang sudah dewasa. Buku ini memotivasi dengan cara yang berbeda dari motivator <em>mainstream</em>. Ketebalan buku ini juga tipis, tidak setebal buku-buku Anthony Robbins maupun Stephen R. Corey, membuatnya nyaman untuk dijadikan teman perjalanan.</p>
<p>Buku ini penting untuk menyeimbangkan pola pikir kita. Menjadi terlalu positif, seperti yang tertulis di buku ini, tidak baik untuk kita. Terkadang, kita memaksakan diri berpikir positif untuk menutup-nutupi kenyataan yang terjadi. Mengapa tidak kita hadapi saja kenyataan tersebut?</p>
<p>Nilainya <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat tulisan Mark Manson</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 13:43:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tidak bisa]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1075</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya. Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya.</p>
<p>Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, saingannya banyak&#8221;.</p>
<p>Untunglah, pola pikir tersebut sudah berubah, sehingga penulis mencoba untuk mengajukan beasiswa ke berbagai negara. Hasilnya? Ya, memang belum ada yang tembus, tapi semangat untuk mendapatkan beasiswa belumlah luntur.</p>
<p>Contoh kecil lainnya, ketika penulis kerja bakti memasang umbul-umbul, terdapat remaja yang berkali-kali mengatakan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan. Pertama, menyimpul benang umbul-umbul agar cukup panjang diikat. Kedua, naik ke atas tangga untuk mengikat umbul-umbul di tempat yang tinggi.</p>
<p>Salah seorang teman penulis sampai kesal dibuatnya hingga berkata &#8220;terus isomu opo? (terus bisamu apa?)&#8221;. Dia pun hanya tersenyum kecut diberi pertanyaan seperti itu.</p>
<p>Kata <strong>tidak bisa</strong> tidak boleh diucapkan sebelum ada <strong>usaha</strong> yang menyertai. Yang penting coba dulu, bisa atau tidak urusan belakang. Jangan pernah kalah sebelum berperang, menyerah sebelum mencoba.</p>
<p>Pada salah satu episode Yakitate! Japan, anime yang menceritakan seputar dunia perotian, diceritakan terdapat satu orang yang berkeyakinan seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Jika kali ini gagal, maka selanjutnya pasti berhasil, jika 1000 kali gagal, maka yang ke 1001 pasti berhasil.&#8221;</em></p>
<p>Kekuatan keyakinan yang luar biasa bukan? Pola pikir seperti itulah yang dimiliki oleh rata-rata orang sukses. Mereka mencoba berbagai cara untuk mengubah <strong>tidak bisa </strong>menjadi <strong>bisa</strong>.</p>
<p>Terkadang memang ada hal yang tidak bisa kita lakukan, contoh kecilnya penulis tidak bisa bersiul hingga sekarang karena faktor genetik. Tidak apa, yang menjadi masalah bukan tidak bisanya, tapi tidak adanya kemauan untuk mencoba.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, jangan sampai kata tidak bisa ke luar sebelum ada usaha untuk mencobanya terlebih dahulu. Semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinpirasi ketika memasang umbul-umbul dalam rangka menyambut dirgahayu Republik Indonesia yang ke 73</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc">https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
