Linkin Park dan A Thousand Suns

Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya.

Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album A Thousand Suns pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya.

Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat single pertamanya yang berjudul The Catalyst yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Secara konsep, Penulis sangat menyukai album ini!

Mengambil Pidato Tokoh Terkenal

Apa yang membuat unik dari album ini adalah banyaknya pidato tokoh terkenal yang dikombinasikan dengan berbagai instrumen modern.

Ada tiga tokoh yang pidatonya digunakan, yakni Robert Oppenheimer (The Radiance), Mario Savio (Wretches and Kings), dan Martin Luther King Jr. (Wisdom, Justice, and Love).

Dari Kiri: Oppenheimer, Savio, King

Judul albumnya diambil dari kutipan Oppenheimer yang bersumber dari sastra HinduIa mengatakan bahwa bom atom terlihat sangat terang seperti seribu matahari.

Oppenheimer sendiri merupakan tokoh proyek Manhattan selama Perang Dunia 2 yang bertanggung jawab dalam produksi bom atom pertama. Ketakutan manusia terhadap perang nuklir menjadi konsep album ini.

Tidak hanya itu, album ini juga memiliki beberapa lagu yang berfungsi sebagai bridging atau transisi dari satu lagu ke lagu lainnya. Jika dihitung, hanya ada sembilan lagu utuh (dari 15 lagu) di dalam album ini.

Selain itu, untuk pertama kalinya mereka tidak mencantumkan nama band ataupun judul album pada covernya. Hal ini dipertahankan pada album The Hunting Party dan One More Light.

Lagu-Lagu A Thousand Suns

Lagu ini dibuka dengan intro yang berjudul The Requiem. Liriknya sendiri diambil dari lirik lagu The Catalyst dengan suara vokal Mike yang diubah menggunakan vocoder.

Ketika membaca sumber lain, ternyata lagu ini juga menggabungkan beberapa komponen dari lagu lain. Untuk pertama kali, Penulis menyukai intro album Linkin Park.

Lagu ini terdengar menyatu dengan lagu The Radiance yang berisikan pidato dari Robert Oppenheimer diriingi dengan electronic beat sederhana.

Ketika iTunes Festival di London pada tahun 2011, Mr. Han memainkan pidato ini dengan epic, walaupun bagi kebanyakan fans mungkin akan terdengar aneh.

Baru di lagu ketiga lah, Burning in the Skieskita bisa mendengarkan sebuah lagu utuh. Di sini, Chester hanya bernyanyi di bagian reff di mana Mike menyanyikan sisanya.

Di dalam video klipnya, kita bisa melihat beberapa aktivitas random yang sedang dalam kondisi slow motion sebelum terkena efek ledakan bom nuklir. Genrenya sendiri menurut Penulis masuk ke dalam pop-rock.

Selanjutnya ada lagu Empty Space di mana kita bisa mendengarkan suara jangkrik dan semacam suara pertempuran. Lagu ini berfungsi sebagai interlude untuk lagu selanjutnya, When They Come for Me.

Lagu tersebut diawali dengan distorted synth stabs yang unik. Mike mendominasi lagu ini dengan rap-nya sehingga lagu ini terkesan bergenre hip-hop.

Semua personel menjadi backing vocal, sementara Chester hanya memiliki sedikit bagian di bagian akhir lagu. Ada juga suara yang dihasilkan toa, yang kalau di dalam konser berasal dari suara Brad.

Beat drum juga terdengar sepanjang lagu. Ketika konser, Chester dan Brad menjadi penabuhnya. Yang jelas, lagu ini benar-benar terdengar seperti hasil eksperimen yang ekstrem.

Track nomor enam adalah Robot Boy yang kurang Penulis sukai. Lagu ini diawali dengan dentingan piano dan vokal Chester yang lembut. Ketika lagu berakhir, terdengar sedikit intro dari lagu selanjutnya, Jornada Del Muerto.

Lagu ini menggunakan Bahasa Spanyol sebagai judul, namun liriknya menggunakan Bahasa Jepang. Hal tersebut membuat lagu ini menjadi satu-satunya lagu Linkin Park yang menggunakan judul dan lirik bahasa asing selain Bahasa Inggris.

Jornada Del Muerto merupakan lagu transisi untuk lagu selanjutnya, Waiting for the Endyang menjadi lagu favorit Penulis dari album ini.

Apa yang membuat Penulis suka dari lagu ini adalah banyaknya permainan synth, rap dari Mike, serta vokal tinggi Chester di bagian akhir lagu. Klimaksnya sangat terasa.

Bagi Penulis, lagu ini terdengar seperti versi modern lagu Papercut. Selain itu, Penulis juga sangat menyukai konsep video klipnya yang sangat keren.

Lagu Blackout menjadi satu-satunya lagu di dalam album ini di mana Chester melakukan screaming. Bisa dibilang, ini merupakan salah satu lagu terunik selain lagu When They Come for Me.

Selanjutnya ada lagu Wretches and Kings yang diawali dengan pidato dari Mario Savio mengenai betapa menjijikkannya perkembangan teknologi.

Lagu ini juga memiliki banyak efek yang unik. Mike juga melakukan rap di lagu ini. Yang menyenangkan dari lagu ini, Penulis bisa mendengar gesekan turntables Mr. Han sekali lagi.

Kita juga akan mendengarkan pidato dari Martin Luther King Jr. pada lagu Wisdom, Justice, and Love, di mana suara Martin makin lama makin terdengar seperti suara robot menjelang akhir lagu.

Pesan tersirat dari efek tersebut masyarakat kita yang semakin lama semakin kehilangan empatinya seperti robot. Lagu ini merupakan transisi untuk lagu selanjutnya, Iridescent.

Lagu ini merupakan soundtrack dari film Transformers: Dark of the Moon. Lagu ini terdengar sangat ballad jika dibandingkan dengan lagu Linkin Park yang lain. Selain itu, liriknya juga masih terkait dengan ancaman bom nuklir.

Kemudian ada lagu The Fallout yang liriknya diambil dari lirik lagu Burning in the Skies. Sekali lagi, Mike menyanyikannya dengan menggunakan vocoder sehingga suaranya berubah.

Lagu tersebut merupakan transisi untuk lagu selanjutnya, The Catalyst. Lagu ini diawali dengan gesekan turntable yang sangat asyik untuk didengarkan, lantas disambung dengan suara vokal Mike dan Chester.

Sebagai single pertama dari album, lagu ini dianggap sebagai representasi sempurna untuk menggambarkan perubahan band. Durasinya cukup panjang, lima setengah menit.

Album ditutup dengan album The Messenger yang menjadi satu-satunya lagu akustik di semua album Linkin Park. Penulis kurang menyukai lagu ini.

Penutup

Jika didengarkan, mungkin album ini terasa aneh karena banyaknya perbedaan yang dimiliki dengan album-album sebelumnya. Sekali lagi Linkin Park memutuskan untuk keluar dari zona nyaman.

Lebih banyak eksperimen musik yang dilakukan para personelnya di dalam album ini. Banyak instrumental yang terdengar, membuat album ini tidak bisa disamakan dengan album lain.

Selain itu, album ini memiliki transisi terbanyak dari lagu ke lagu, membuat album ini seolah-olah tersambung dari lagu pertama hingga lagu terakhir. Itu menjadi poin plus lainnya untuk album ini.

Setelah album ini, Penulis mulai mendengarkan musik-musik Korea hingga tak sadar kalau Linkin mengeluarkan album baru lagi dua tahun kemudian.

Album selanjutnya, Living Things. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 22 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon