<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>psikologi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/psikologi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:05:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>psikologi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/psikologi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jan 2020 03:37:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Adolf Adler]]></category>
		<category><![CDATA[Berani Tidak Disukai]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3274</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hidup dengan ekspetasi orang lain itu tidak menyenangkan. Kita akan merasa tidak bisa melangkahkan kaki sesuai dengan keinginan kita sendiri. Salah satu contoh kita terkekang dengan keinginan orang lain adalah berusaha menyenangkan semua orang, baik dari pihak keluarga, lingkaran pertemanan, hingga kolega kantor. Hal ini sering Penulis lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika direnungi, rasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/">Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup dengan ekspetasi orang lain itu tidak menyenangkan. Kita akan merasa tidak bisa melangkahkan kaki sesuai dengan keinginan kita sendiri.</p>
<p>Salah satu contoh kita terkekang dengan keinginan orang lain adalah berusaha menyenangkan semua orang, baik dari pihak keluarga, lingkaran pertemanan, hingga kolega kantor.</p>
<p>Hal ini sering Penulis lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika direnungi, rasanya hampir mustahil untuk bisa memuaskan semua pihak.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku berjudul <strong><em>Berani Tidak Disukai </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Ichiro Kishimi </strong>dan<strong> Fumitake Koga</strong>. Buku ini juga menjadi bagian dari buku-buku bertemakan <em>self-caring </em>yang sedang Penulis dalami.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini ditulis berdasarkan pemikiran salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-19 bernama <strong>Alfred Adler</strong>, terutama yang berkaitan dengan kebahagiaan dan pola pikir yang mendukungnya.</p>
<p>Berbeda dengan Freud, Adler mengatakan bahwa kita cenderung hidup dan bertindak oleh harapan-harapan di masa depan dibandingkan pengaruh pengalaman masa lalu, termasuk yang menimbulkan trauma.</p>
<p>Pemikiran tersebut dikemas dalam bentuk dialog antara seorang pemuda yang merasa tak puas dengan hidupnya dengan seorang filsuf tua yang hidup soliter di sebuah tempat terpencil.</p>
<p>Pertemuan tersebut dibagi menjadi lima malam, di mana tiap malam terbagi menjadi beberapa subbab yang saling terhubung satu sama lain. Artinya, kita harus membaca secara runtut untuk bisa memahami buku ini.</p>
<p>Karena bukunya sudah berada di Malang, Penulis hanya bisa menjabarkan isinya berdasarkan ingatan semata.</p>
<h4>Malam Pertama</h4>
<p>Yang jelas, pada malam pertama kita akan diajak untuk menyangkal yang namanya trauma. Menurut Adler, sebenarnya tidak ada yang namanya trauma.</p>
<p>Kita sering kali menggunakan alasan trauma untuk tetap berada di zona di mana kita berada sekarang. Mungkin ini cukup kontroversial, bahkan sang pemuda di dalam buku ini juga menyangkal habis-habisan,</p>
<p>Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah kita memiliki pilihan antara terjebak ke dalam trauma atau justru menjadikannya sebagai batu loncatan menuju masa depan.</p>
<h3>Malam Kedua</h3>
<p>Kalau tidak salah, malam kedua akan berusaha menjelaskan bahwa hidup ini bukan sekadar kompetisi. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, kita akan mudah merasa inferior (termasuk Penulis).</p>
<p>Sama seperti trauma, inferior juga bisa dijadikan pembenaran bagi sebagian orang. Contohnya:</p>
<p><em>&#8220;Ah, mana bisa aku seperti dia, aku kan hitam dan jelek.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Dia mah enak anak orang kaya, bisa dapat apa aja enggak kayak aku yang miskin.&#8221;</em></p>
<p>Kalau kata mantan atasan Penulis di Surabaya, pemikiran-pemikiran seperti ini akan memunculkan <em>mental block </em>yang hanya akan menjadi penghambat kita.</p>
<p>Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, kenapa kita tidak membandingkan kita dengan diri sendiri? Apakah diri kita hari ini telah lebih baik dari diri kita kemarin?</p>
<h4>Malam Ketiga</h4>
<p>Pernah berusaha mencampuri urusan orang lain? Penulis merasa sering melakukannya. Isi dari diskusi dari malam ketiga adalah mengenai pembagian tugas.</p>
<p>Intinya, sebagian besar orang tidak akan suka jika &#8220;tugasnya&#8221; harus dicampuri oleh orang lain. Contohnya adalah masalah sekolah. Mungkin ada orangtua yang terlalu memaksa anaknya untuk bisa jadi juara satu.</p>
<p>Padahal, belajar bukanlah tugas orangtua, melainkan sang anak. Dorongan yang terlalu keras seperti itu justru akan membuat sang anak akan merasa kalau &#8220;tugasnya&#8221; diambil alih oleh orang lain.</p>
<p>Penulis tidak terlalu ingat malam keempat ataupun kelima. Intinya, kalau tidak salah, adalah mengajak kita untuk bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu berusaha disukai oleh semua orang.</p>
<p>Tidak apa-apa menjadi orang biasa, kita tidak harus selalu menjadi yang nomor satu. Poin-poin inilah yang menjadi inti dari buku yang satu ini.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Berani Tidak Disukai</em></h3>
<p>Awalnya, Penulis akan mengira buku ini akan terasa berat dan membosankan. Ternyata, buku ini cukup menarik, mampu memberikan sudut pandang yang berbeda, dan terasa sangat dinamis meskipun penuh istilah teknis dan terkesan filosofis.</p>
<p>Buku ini akan mengajak kita untuk menyederhanakan kehidupan kita. Jika terlihat rumit dan memusingkan, mungkin kitalah yang membuatnya seperti itu. Terdengar utopis memang.</p>
<p>Banyak kalimat-kalimat dari sang filsuf yang akan membuat kita ingin mengajukan protes, namun hal tersebut langsung diwakili oleh sang pemuda yang digambarkan sangat keras kepala. Jadi, kita tidak perlu capek-capek mengirim email ke penulis buku ini.</p>
<p>Buku ini Penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sedang mencari makna kehidupan ataupun kebahagiaan. Penulis menyarankan untuk membacanya secara perlahan dan meresapi maknanya.</p>
<p><strong>Nilainya: 4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Berani Tidak Disukai </em>karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/">Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 15:44:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2981</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kehadiran Google sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul. Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu. Diagnosis ke Diri Sendiri Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kehadiran <strong>Google</strong> sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul.</p>
<p>Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu.</p>
<h3>Diagnosis ke Diri Sendiri</h3>
<div id="attachment_2983" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2983" class="size-large wp-image-2983" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2983" class="wp-caption-text">Bermodalkan Google (<a href="https://www.betterhelp.com/advice/psychologists/reasons-to-choose-an-online-psychiatrist/">Better Help</a>)</p></div>
<p>Penulis pernah mencari di internet apakah ada fobia ketika merasa sendirian (bukan sendirian secara fisik). Akhirnya, penulis menemukan suatu istilah bernama <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Emotional Dependency Disorder</em></a></strong>.</p>
<p>Ciri-cirinya antara lain:</p>
<ul>
<li>Memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</li>
<li>Terobsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</li>
<li>Memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain dan berharap orang lain melakukan hal yang sama</li>
<li>Tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemas, susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.</li>
</ul>
<p>Penulis menyadari bahwa dirinya memenuhi semua kriteria tersebut sehingga menggangap dirinya memang mengidap disorder tersebut. Akibatnya, penulis jadi semakin mudah merasa <em>down</em>. Padahal, hal tersebut juga harus dikonsultasikan ke psikiater.</p>
<p>Contoh lainnya adalah istilah <em><strong>Hyper Sensitive Person</strong> </em>yang penulis temukan pada buku <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/"><em>Loving the Wounded Soul</em></a>. Secara sederhana, istilah tersebut merujuk kepada kondisi diri kita yang terlalu sensitif, baik indera ataupun perasaannya.</p>
<p>Ketika melakukan tes online, dikatakan bahwa orang yang memiliki kondisi ini akan mendapatkan nilai 14. Berapa nilai yang penulis dapatkan setelah mengerjakan tes? <strong>24!</strong></p>
<p>Penulis juga sering disebut oleh teman-teman mengidap <em>Obsessive-Compilsive Disorder </em>alias OCD hanya karena tidak bisa melihat benda miring dan berantakan!</p>
<p>Melakukan diagnosis mandiri seperti ini sebenarnya juga kurang baik karena bisa memicu depresi dan rasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Hanya Agar Terlihat Keren?</h3>
<div id="attachment_2984" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2984" class="size-large wp-image-2984" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2984" class="wp-caption-text">Lebih Baik Cek ke Psikiater (South China Morning Post)</p></div>
<p>Penulis berpendapat diagonis psikologi secara mandiri lebih membawa dampak buruk kepada kita. Kalau kita jadi bersemangat agar bisa mengendalikan hal tersebut tidak masalah. Bagaimana jika sebaliknya?</p>
<p>Hanya karena sesuatu yang belum tentu benar, kita bisa merasa depresi dan meningkatkan rasa <em>insecure</em>. Padahal, bisa jadi permasalahan yang memicu pikiran tersebut sebenarnya sepele saja. Kita saja yang terlalu membesar-besarkannya.</p>
<p>Yang lebih bahaya adalah jika hasil diagnosis tersebut hanya digunakan agar kita ingin terlihat keren di mata orang dan mendapatkan perhatiannya. (<em>Mungkin, penulis juga termasuk salah satunya</em>)</p>
<p>Terkadang, kita juga terpengaruh dengan perkataan orang lain. Menurut mereka, kita memiliki disorder A atau kelainan B. Kecuali teman kita lulusan psikologi, sebaiknya jangan langsung percaya begitu saja karena belum tentu benar.</p>
<p>Penulis sendiri sedang berusaha menata diri agar tidak mudah merasa depresi dan <em>insecure</em>. Salah satunya adalah mulai mengurangi pikiran-pikiran berlebihan dan berusaha menikmati hari ini.</p>
<p>Mengurangi kekhawatiran juga menjadi salah satu metode yang bisa dilakukan. Penulis sudah menulis berkali-kali kalau <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">kekhawatiran lebih sering berakhir di pikiran saja</a>, namun kenyataannya masih sering penulis lakukan.</p>
<p>Penulis juga berusaha mengusir rasa memiliki kondisi ini dan itu. Selama belum memeriksakannya ke psikiater, penulis akan berusaha tidak memikirnya terlalu dalam dan menghalaunya dari pikiran.</p>
<p>Apalagi, bisa jadi segala pikiran-pikiran tersebut hanya muncul ketika kita sedang ada masalah atau <em>mood-</em>nya sedang buruk. Kita jadi <em>lebay </em>dengan segala sesuatu. Kalau sudah normal, ya sebenarnya biasa saja.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus mulai berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.</p>
<h3>Membandingkan Diri dengan Orang Lain</h3>
<div id="attachment_2985" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2985" class="size-large wp-image-2985" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2985" class="wp-caption-text">Iri dengan Orang Lain (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DufVBDWuiSBA&amp;psig=AOvVaw39aJSuaWHxFJU55mCeVwOf&amp;ust=1572881153424000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjky5StzuUCFQAAAAAdAAAAABAJ">YouTube</a>)</p></div>
<p>Hidup di era sekarang memang membuat kita sering merasa tertekan karena tak henti-hentinya membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Generasi <em>baby boomer </em>mungkin tak merasakan hal ini.</p>
<p>Kemunculan media sosial dan teknologi-teknologi lainnya membuat kita bisa mengintip kehidupan orang lain dengan mudah. Sering kali, hanya momen bahagia lah yang dibagi kepada publik.</p>
<p>Jika sudah pada tingkat merasa <em>insecure</em> yang ekstrem, penulis akan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">berhenti sejenak dari media sosial</a>, termasuk tidak melihat <em>story </em>orang lain yang biasanya ada saja yang membuat kita merasa tertekan.</p>
<p>Tidak takut kehilangan momen penting teman atau keluarga kita? Jika memang benar-benar penting dan kita <em>juga dianggap penting</em>, mereka pasti akan membaginya secara langsung kepada kita.</p>
<p>Daripada berfokus dengan kehidupan orang lain, nikmati saja hidup yang kita miliki. Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing, sehingga perbandingan yang kita lakukan tidak akan pernah <em>apple to apple</em>.</p>
<p>Membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita sampai melakukan diagnosis psikologi kita dengan bantuan Google.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dari yang penulis amati, memang banyak orang di Indonesia yang melakukan diagnosis masalah mentalnya secara mandiri. Penulis sering menemukan contohnya baik dari diri sendiri, lingkungan, ataupun Twitter.</p>
<p>Jika diagnosis mandiri hanya akan membuat kita merasa stress dan tertekan, lebih baik jangan pernah dilakukan. Apalagi jika enggan pergi ke psikiater untuk memeriksakan kesehatan mental kita.</p>
<p>Apa yang muncul dari penelusuran Google memang lumayan terpercaya, akan tetapi jangan mengandalkannya. Kalau memang merasa kesehatan mental terganggu, lebih baik segera diperiksakan secara benar.</p>
<p>Kita tidak boleh membandingkan hasil pencarian di internet dengan psikiater yang sudah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun.</p>
<p>Hal ini juga berlaku untuk penyakit fisik yang kita derita. Daripada menduga-duga hal yang belum pasti, lebih baik periksakan ke dokter terdekat.</p>
<p>Penulis memang pernah melakukannya, dan rasanya tidak akan pernah penulis lakukan lagi. Alasannya, hal tersebut dapat memicu depresi dan rasa <em>insecure</em> yang ujung-ujungnya hanya merugikan diri sendiri.</p>
<p>Jika ada pembaca yang merasa mengalami permasalahan serupa, semoga tulisan ini dapat membantu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi dari minggu-minggu kelamnya</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
