<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramayana Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ramayana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ramayana/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:02:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Ramayana Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ramayana/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2020 00:31:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sindhunata]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyukai cerita wayang meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah. Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah: Mahabharata karya C. Rajagopalachari Drupadi dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma Rahvayana Buku 1 dan 2 karya Sujiwo Tejo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis menyukai <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">cerita wayang</a> meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah.</p>
<p>Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah:</p>
<ul>
<li><em>Mahabharata</em> karya C. Rajagopalachari</li>
<li><em>Drupadi</em> dan <em>Kitab Omong Kosong</em> karya Seno Gumira Ajidarma</li>
<li><em>Rahvayana</em> <em>Buku 1 dan 2</em> karya <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Sujiwo Tejo</a></li>
<li><em>Togog Tejamantri</em> karya Gesta Bayuadhy</li>
<li><em>Punakawan Menggugat</em> karya Ardian Kresna (belum tamat)</li>
</ul>
<p>Ada cerita yang sedikit unik terkait buku wayang ini. Penulis telah memiliki <em><strong>Mahabharata</strong> </em>karya C. Rajagopalachari. Penulis juga menginginkan novel karya satunya lagi, <strong><em>Ramayana</em></strong>.</p>
<p>Penulis mendapatkan novel <em>Mahabharata </em>dengan harga diskon, Rp30 ribu. Penulis pun berharap ada novel <em>Ramayana </em>dengan harga yang sama, sehingga tidak membeli novelnya ketika harganya masih normal.</p>
<p>Akibatnya, Penulis tidak pernah menemukan novel ini dengan harga murah. Bahkan ketika Penulis memutuskan ingin membeli dengan harga normal, bukunya sudah tidak tersedia lagi di toko buku!</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sempat tidak mengerti bagaimana alur cerita <em>Ramayana</em>. Penulis ingin membeli buku <em><strong>Kitab Omong Kosong</strong> </em>yang katanya juga ada kaitannya dengan <em>Ramayana</em>, namun buku ini juga tidak tersedia di toko buku.</p>
<p>Akhirnya Penulis membeli buku <em>Kitab Omong Kosong</em> secara online. Cerita lengkapnya ada di <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">tulisan Penulis yang lain</a>. Setelah dibaca, Penulis makin penasaran dengan alur cerita <em>Ramayana</em>.</p>
<p>Lantas ketika berada di Gramedia Gandaria City Mall, Penulis menemukan buku berjudul <strong><em>Anak Bajang Menggiring Angin </em></strong>karya Sindhunata. Ini bukan buku baru, Penulis pernah melihatnya ketika kuliah namun urung membelinya karena harganya yang mahal.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga tidak mengetahui apa cerita dari novel ini. Ketika membacanya sekilas, ternyata novel ini bercerita tentang <em>Ramayana</em>! Penulis pun segera membawa buku ini ke kasir dan segera membacanya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Karena cerita <em>Ramayana </em>sudah banyak diketahui oleh orang, Penulis tidak akan banyak bercerita tentang isi buku ini. Buku ini hanya menghadirkan versi penulisan lain yang indah menurut Penulis.</p>
<p>Mulai dari kelahiran Rahwana, kelahiran Hanoman, bertemunya Rama dan Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, peperangan hebat untuk menyelamatkan Sinta, ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta, semua diceritakan di sini.</p>
<p>Total buku ini dibagi menjadi <strong>8 bab</strong>, di mana tiap bagiannya terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Setiap bab biasanya memiliki alur cerita yang spesifik mengenai satu lakon tertentu.</p>
<p>Misal di bab pertama, cerita berfokus tentang bagaimana Rahwana bisa lahir ke muka bumi ini karena kesalahan manusia bernama Wisrawa dan Sukesi. Bab kedua tentang kelahiran Hanuman dan begitu seterusnya.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga menyisipkan <strong>puisi-puisi yang indah</strong> dan <strong>gambar pewayangan yang menarik mata</strong>. Lumayan untuk selingan sehingga mata tidak terlalu lelah ketika membacanya.</p>
<p>Mungkin karena penulis buku ini adalah orang Jawa (lahir di Kota Batu, Jawa Timur), ada banyak <strong>filsafat Jawa</strong> yang kita temukan dari dialog antar tokohnya. Tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan juga cinta.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em></h3>
<p>Buku ini cukup tebal, hampir<strong> 500 halaman</strong>. Penulis menamatkannya di kereta api ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">perjalanan pulang dari Jakarta menuju Malang</a>.</p>
<p>Walaupun tebal, Penulis sangat menikmati kata demi katanya. Sindhunata cukup cermat dalam <strong>merangkai kalimat dengan indah</strong> sehingga membuat pembacanya akan terbuai dalam alam pewayangan.</p>
<p>Membaca buku ini membuat Penulis serasa sedang menikmati karya sastra yang penuh metafora namun mudah dicerna. Tidak ada alur cerita ataupun penulisan yang membuat Penulis kebingungan.</p>
<p>Melalui judulnya, novel ini mungkin<strong> lebih berfokus pada karakter Hanuman</strong>, meskipun kehadiran Rama, Sinta, dan Rahwana juga cukup dominan. Penggambaran karakter-karakternya juga kuat.</p>
<p>Kita akan diajak untuk merenungi kehidupan yang kita jalani berkat nasihat-nasihat yang terselip di dalamnya. Maka dari itu, Penulis menyarankan untuk pelan-pelan menikmati buku ini agar bisa meresapi isinya secara mendalam.</p>
<p>Mungkin kekurangan dari buku ini adalah bagian akhirnya yang dibuat menggantung. Penulis sudah mengetahui akhir dari cerita <em>Ramayana </em>dari buku lain, tapi tetap saja Penulis berharap bisa melihat akhir <em>Ramayana </em>yang tuntas pada buku ini.</p>
<p>Penulis tidak berani banyak memberi kritikan pada novel ini karena pengetahuannya akan dunia wayang sangat terbatas. Walaupun begitu, Penulis tidak ragu untuk merekomendasikan karya sastra ini kepada siapa saja yang ingin mengetahui kisah <em>Ramayana </em>yang legendaris.</p>
<p>Nilai: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Desember 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em> karya Sindhunata</p>
<p>Foto: <a href="https://press-officer.com/digital-composite-of-wooden-table-with-library-background/">Press Officer</a> &amp; <a href="https://www.tokopedia.com/astuti-shop/buku-anak-bajang-menggiring-angin-by-sindhunata">Tokopedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya! Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul Drupadi dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul Kitab Omong Kosong. Maka dari itu, Penulis mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya!</p>
<p>Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul <em>Drupadi </em>dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul <strong><em>Kitab Omong Kosong</em></strong>.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis mulai mencari buku tersebut. Sayang, setelah mencari di puluhan toko buku, Penulis tidak pernah menemukannya karena buku tersebut memang termasuk buku lama dan tidak ada tanda-tanda akan dicetak ulang.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk membelinya secara online. Sayang, karena kurang cermat ternyata buku yang penulis beli adalah buku bekas yang sudah berjamur di mana-mana. Kecewa, Penulis meletakkan buku ini begitu saja di rak dan tidak pernah membacanya.</p>
<p>Di saat WFH ini, entah mengapa Penulis merasa terdorong untuk membacanya. Penulis berusaha keras untuk mengabaikan fakta kecatatan fisik yang dimilikinya.</p>
<p>Hasilnya, novel tebal ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu singkat!</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dulu sewaktu masih aktif di organisasi Pers Mahasiswa, ada rekan Penulis yang membawa novel ini ke ruang sekret. Waktu Penulis bertanya apa isinya, kalau tidak salah jawabannya adalah <em>sindiran Ramayana</em>.</p>
<p>Waktu itu, Penulis hanya pernah membaca cerita <em>Mahabarata</em>. Bahkan hingga sekarang, Penulis belum pernah membaca buku <em>Ramayana </em>secara utuh. Hanya sepotong-sepotong dari berbagai buku dan sumber.</p>
<p>Oleh karena itu Penulis sempat khawatir tidak bisa memahami buku ini. Untunglah kekhawatiran tersebut tidak terjadi dan Penulis sangat menikmati novel ini.</p>
<p>Inti dari kisah yang dihadirkan Seno melalui buku ini adalah kisah Satya dan Maneka yang menjadi korban akibat serbuan balatentara Sri Rama yang menghadirkan bencana di mana-mana.</p>
<p>Penyerbuan tersebut dipicu oleh Persembahan Kuda yang dilaksanakan oleh Kerajaan Ayodya yang dipimpin Sri Rama. Daerah manapun yang dilewati oleh seekor kuda putih yang dikeramatkan harus ditakhlukan.</p>
<p>Di sisi lain, Maneka merupakan seorang pelacur yang memiliki tato kuda putih tersebut sejak lahir. Karena itu, ia sering dianggap sebagai pembawa bencana.</p>
<p>Berbagai kejadian buruk yang menimpa Maneka membuatnya ingin bertemu dengan Walmiki sang penulis <em>Ramayana</em>. Ia ingin menuntut mengapa kehidupannya begitu memilukan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Satya yang juga merupakan korban dari pasukan Sri Rama. Mereka pun melakukan petualangan untuk bertemu Walmiki.</p>
<p>Mereka juga mendapatkan tugas maha berat untuk mengumpulkan kelima bagian dari <em>Kitab Omong Kosong</em>. Judul dari kelima bagian tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Dunia Seperti Adanya Dunia</li>
<li>Dunia Seperti Dipandang Manusia</li>
<li>Dunia yang Tidak Ada</li>
<li>Mengadakan Dunia</li>
<li>Kitab Keheningan</li>
</ul>
<p>Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana Hanuman pada akhirnya <em>seda </em>setelah mengalami berbagai kejadian selama hidupnya yang panjang.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Kitab Omong Kosong</em></h3>
<p>Membaca novel ini terasa seperti sedang belajar buku filsafat. <em>Kitab Omong Kosong </em>yang dikumpulkan oleh Satya dan Maneka berisikan berbagai pandangan manusia terhadap dunia.</p>
<p>Penulis bisa menikmati buku ini karena tema wayang yang diangkat, namun merasa kesulitan jika diharuskan untuk menceritakan ulang. Kemampuan otak Penulis belum sampai di tahap tersebut.</p>
<p>Selain itu, Seno menyelipkan banyak kisah <em>Ramayana </em>di tiap-tiap babnya, sehingga Penulis bisa mengetahui secara garis besar apa saja yang terjadi dalam <em>Ramayana</em>, terutama kejadian-kejadian pentingnya.</p>
<p>Gaya penulisannya juga Seno banget, namun tidak terlalu rumit seperti <em>Negeri Senja </em>atau novelnya yang lain. Banyaknya dialog yang ada di dalamnya memudahkan kita untuk memahami buku ini.</p>
<p>Penulis akan dengan senang merekomendasikan buku ini kepada para Pembaca yang menyukai cerita wayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Kitab Omong Kosong </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
