<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>robot Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/robot/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/robot/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Nov 2024 14:39:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>robot Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/robot/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Nov 2024 14:38:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku Filsafat Moral karya Fahruddin Faiz, setelah sebelumnya menyelesaikan buku Filsafat Kebahagiaan (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik. Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan &#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral </em>karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Fahruddin Faiz</a>, setelah sebelumnya menyelesaikan buku <em>Filsafat Kebahagiaan</em> (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik.</p>



<p>Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan <strong>&#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; </strong>yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban manusia.</p>



<p>Menurut Jonas, <strong>semakin manusia mengembangkan teknologi, mereka semakin tidak mampu menguasai teknologi yang mereka ciptakan</strong> (hal. 79). Tanda-tandanya makin ke sini makin terlihat, di mana manusia semakin diperbudak oleh teknologi buatannya sendiri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan-banner.jpg 1280w " alt="Piala Dunia Memang Sering Menghadirkan Kejutan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/piala-dunia-memang-sering-menghadirkan-kejutan/">Piala Dunia Memang Sering Menghadirkan Kejutan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8111" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Diperbudak oleh Ciptaan Sendiri (<a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-people-engaged-on-their-phones-8088489/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Ketika menuliskan <em>opening </em>di atas, teknologi apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin mayoritas jawabannya adalah <em><strong>smartphone</strong></em>, <strong>internet</strong>, hingga <strong>media sosial</strong>. Jawaban itu benar, tapi yang memperbudak kita jauh lebih banyak dari itu.</p>



<p>Ketiga hal yang Penulis sebut di atas jelas telah menjadi keseharian kita. Pernah terbayang satu hari tanpa ketiganya? Rasanya kita sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">begitu tergantung kepadanya</a> sehingga rasanya tak mungkin hidup tanpa ketiganya.</p>



<p>Sekarang bayangkan seandainya dunia tiba-tiba mengalami <strong>Internet Apocalypse</strong>, di mana tiba-tiba tidak ada lagi internet di dunia. Selain <em>smarpthone</em> kita menjadi<em> nottoosmartphone</em>, media sosial pun tak bakal bisa akses.</p>



<p>Lebih gawatnya lagi, kalau yang bekerja <em>remote </em>seperti Penulis, jelas kehilangan pekerjaan akan terjadi. Semua harus kembali manual seperti puluhan tahun yang lalu, dunia di mana belum ada internet.</p>



<p>Namun, sebenarnya ciptaan kita yang memperbudak tak hanya sebatas itu. Internet hanyalah sebagian kecil saja. Contoh lain yang tak kalah menyusahkan seandainya tiba-tiba lenyap adalah <strong>listrik</strong>. Seandainya internet tak hilang pun, akan percuma jika tidak ada listrik.</p>



<p>Bayangkan, tak ada tempat untuk menyimpan makan seperti kulkas, tak ada lampu untuk penerangan di malam hari, tak ada mesin cuci untuk membersihkan pakaian, tak ada komputer untuk bekerja, dan masih banyak lagi hal yang tak akan bisa kita lakukan.</p>



<p>Contoh lain, bayangkan dunia tanpa <strong>bensin</strong>. Kendaraan semewah Ferrari atau Lamborghini pun akan menjadi mesin yang tidak bisa melakukan apa-apa. Manusia diberi pilihan mau mengendarai kuda atau sepeda untuk bisa mencapai tujuan dengan cepat.</p>



<p>Jangan lupa, <strong>uang</strong> yang merupakan alat ciptaan manusia untuk mempermudah transaksi pun juga telah memperbudak kita sejak lama. Tentu Pembaca sudah bosan mendengar berita tentang bagaimana serakahnya manusia demi mendapatkan uang.</p>



<p>Manusia rela melakukan banyak hal tercela untuk bisa mendapatkan uang, yang ia gunakan untuk memenuhi hawa nafsunya yang tak berbatas. Kalau perlu menyengsarakan manusia satu negara, mereka akan melakukannya tanpa peduli sama sekali.</p>



<p>Contoh-contoh di atas rasanya sudah cukup memberikan gambaran bagaimana kita manusia sudah diperbudak dan dibuat ketergantungan dengan ciptaan kita sendiri. Apalagi, kita baru akan memasuki era AI yang tampaknya akan dengan mudah membuat kita ketergantungan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apa yang Harus Kita Lakukan?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8112" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Apa Kita Siap Hidup Tanpa Internet? (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Inpbk2Ge6sQ">YouTube</a>)</p>
</div></div>



<p>Kita sekarang mengetahui bahwa manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia agar tidak diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Apakah kita harus kembali hidup ala zaman batu ketika kita belum menemukan apa-apa?</p>



<p>Kalau Penulis, rasanya sekarang <strong>kita berada di situasi yang hampir tidak memungkinkan untuk lepas seutuhnya segala hal yang telah kita ciptakan</strong>. Tak mungkin juga kita mengambil langkah ekstrem dan meninggalkan semua teknologi yang ada.</p>



<p>Menurut Penulis, apa yang dimaksud dari peringatan Hans adalah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu ingat kalau <strong>teknologi yang kita buat adalah alat yang harus kita kendalikan</strong>, bukan kita yang justru oleh dikendalikan.</p>



<p>Sesederhana contoh media sosial, jangan mau kita terus diperbudak dengan terus melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas dan membuat diri kita menjadi komoditas platform untuk dijual ke pengiklan. Kita harus bisa mengontrol durasi penggunaan media sosial kita.</p>



<p>Penggunaan listrik pun ada baiknya kita kontrol dengan bijaksana. Jangan di siang hari kita menyalakan semua lampu padahal ruangan cukup terang. Jangan mentang-mentang kita bisa bayar, lantas membuang-buang energi seperti itu.</p>



<p>Para ilmuwan atau siapapun itu yang telah menciptakan berbagai hal memang membuatnya untuk mempermudah kehidupan kita sebagai manusia. Kita harus berterima kasih kepada mereka karena hidup kita menjadi lebih mudah karena ciptaan-ciptaan mereka.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai <strong>kita sebagai manusia justru akan dimusnahkan oleh ciptaan kita sendiri</strong>. Kepandaian manusia justru digunakan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">membuat senjata pemusnah massal</a>. Namun, itulah realita yang sedang terjadi saat ini.</p>



<p>Kutipan yang diucapkan oleh Jonas juga bisa diartikan bahwa ada masanya manusia akan membuat senjata yang ternyata tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Contoh mudahnya, lihat saja <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-2/">Ultron yang dihadapi oleh para Avengers</a>.</p>



<p>Semoga saja hal tersebut tidak pernah terjadi, baik di masa kini maupun di masa depan. Semoga manusia cukup bijak untuk memanfaatkan ciptaan-ciptaannya. Jangan sampai kehidupan di bumi ini rusak hanya karena kita tidak mampu mengendalikan apa yang kita ciptakan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lawang, 29 November 2024, terinspirasi ketika membaca buku <em>Filsafat Moral</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merealisasikan Doraemon</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/merealisasikan-doraemon/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/merealisasikan-doraemon/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2018 15:46:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Doraemon]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[The Innovators]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=302</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun diputar sejak tahun 90an, saya rasa generasi milenial pun masih mengetahui tokoh robot kucing biru yang bernama Doraemon ini. Kondisi yang berbeda dialami oleh kartun lain, semisal Saint Seiya dan Sailor Moon. Salah satu faktor yang membuat Doraemon tak lekang oleh waktu adalah keajaiban dari kantongnya yang dapat mengeluarkan berbagai alat masa depan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/merealisasikan-doraemon/">Merealisasikan Doraemon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun diputar sejak tahun 90an, saya rasa generasi milenial pun masih mengetahui tokoh robot kucing biru yang bernama Doraemon ini. Kondisi yang berbeda dialami oleh kartun lain, semisal Saint Seiya dan Sailor Moon. Salah satu faktor yang membuat Doraemon tak lekang oleh waktu adalah keajaiban dari kantongnya yang dapat mengeluarkan berbagai alat masa depan untuk membantu Nobita. Selain itu, meskipun ia berbentuk robot, ia memiliki perasaan dan emosi layaknya manusia biasa. Singkatnya, Doraemon adalah teman idaman bagi semua orang.</p>
<p><em><strong>Pertanyaannya, apakah robot yang memiliki emosi seperti Doraemon akan benar-benar hadir di dunia?</strong></em></p>
<p>Dalam buku <strong><em>The Innovators</em></strong> karya Walter Isaacson, Ada Lovelace, salah satu pelopor dunia komputer bersama Charles Babbage, berpendapat bahwa sebuah mesin tidak akan dapat berpikir sendiri. Mesin hanya dapat membuat keputusan dari data-data yang dimasukkan oleh pengguna, bukannya memiliki inisiatif untuk mengeluarkan keputusannya sendiri.</p>
<p>Lalu antara tahun 1940 hingga 1950 ketika marak komputer-komputer awal seperti ENIAC, pembahasan mengenai apakah komputer dapat berpikir mulai muncul ke permukaan. Dengan ditemukannya transistor dan microchip semakin menambah optimisme para ahli komputer untuk membuat robot yang menyerupai manusia semirip mungkin.</p>
<p>Akhir 90an, Garry Kasparov, seorang Grand Master Catur dunia, berhasil dikalahkan oleh <em>Deep Blue</em>, sebuah komputer buatan raksasa teknologi, IBM. Hanya saja kemenangan ini dikarenakan <em>Deep Blue</em> dapat memprediksi langkah-langkah berdasarkan data yang dimasukkan oleh <em>programmer</em>, bukan karena ia dapat berpikir sendiri.</p>
<p><em><strong>Kecerdasan Buatan</strong></em></p>
<p>Kecerdasan buatan atau <em>Artificial Intelligence </em>juga semakin berkembang. Kini mereka dapat mengembangkan diri mereka sendiri dengan proses <em>self-</em><em>learning</em>. Namun perlu diingat bahwa mereka tetap butuh data awal yang diberikan oleh si pembuat. Karena itu, sejak digadang-gadang pada tahun 50an, mesin yang bisa berpikir sendiri belum benar-benar berhasil ditemukan.</p>
<p>Nah, jika harapan “berpikir sendiri” saja belum bisa ditemukan, bagaimana dengan robot yang memilki emosi seperti Doraemon? Bagaimana caranya memasukkan emosi ke dalam sebuah mesin? Bisa saja menggunakan logika berbasis kondisi, misal jika mesin tersebut diperlakukan jahat, maka mesin tersebut akan merespon dengan marah. Namun tetap saja, itu merupakan mesin yang di <em>setting</em> oleh manusia, bukan mesin yang dapat berpikir sendiri.</p>
<p>Mungkin saja satu abad lagi, masa dimana Doraemon lahir, telah ditemukan teknologi yang akan merealisakan Doraemon.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 Januari 2018, setelah mencoba kombinasi beberapa teknik di Pare pada SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://evfxonline.com">evfxonline.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/merealisasikan-doraemon/">Merealisasikan Doraemon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/merealisasikan-doraemon/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
