Merealisasikan Doraemon

Meskipun diputar sejak tahun 90an, saya rasa generasi milenial pun masih mengetahui tokoh robot kucing biru yang bernama Doraemon ini. Kondisi yang berbeda dialami oleh kartun lain, semisal Saint Seiya dan Sailor Moon. Salah satu faktor yang membuat Doraemon tak lekang oleh waktu adalah keajaiban dari kantongnya yang dapat mengeluarkan berbagai alat masa depan untuk membantu Nobita. Selain itu, meskipun ia berbentuk robot, ia memiliki perasaan dan emosi layaknya manusia biasa. Singkatnya, Doraemon adalah teman idaman bagi semua orang.

Pertanyaannya, apakah robot yang memiliki emosi seperti Doraemon akan benar-benar hadir di dunia?

Dalam buku The Innovators karya Walter Isaacson, Ada Lovelace, salah satu pelopor dunia komputer bersama Charles Babbage, berpendapat bahwa sebuah mesin tidak akan dapat berpikir sendiri. Mesin hanya dapat membuat keputusan dari data-data yang dimasukkan oleh pengguna, bukannya memiliki inisiatif untuk mengeluarkan keputusannya sendiri.

Lalu antara tahun 1940 hingga 1950 ketika marak komputer-komputer awal seperti ENIAC, pembahasan mengenai apakah komputer dapat berpikir mulai muncul ke permukaan. Dengan ditemukannya transistor dan microchip semakin menambah optimisme para ahli komputer untuk membuat robot yang menyerupai manusia semirip mungkin.

Akhir 90an, Garry Kasparov, seorang Grand Master Catur dunia, berhasil dikalahkan oleh Deep Blue, sebuah komputer buatan raksasa teknologi, IBM. Hanya saja kemenangan ini dikarenakan Deep Blue dapat memprediksi langkah-langkah berdasarkan data yang dimasukkan oleh programmer, bukan karena ia dapat berpikir sendiri.

Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence juga semakin berkembang. Kini mereka dapat mengembangkan diri mereka sendiri dengan proses self-learning. Namun perlu diingat bahwa mereka tetap butuh data awal yang diberikan oleh si pembuat. Karena itu, sejak digadang-gadang pada tahun 50an, mesin yang bisa berpikir sendiri belum benar-benar berhasil ditemukan.

Nah, jika harapan “berpikir sendiri” saja belum bisa ditemukan, bagaimana dengan robot yang memilki emosi seperti Doraemon? Bagaimana caranya memasukkan emosi ke dalam sebuah mesin? Bisa saja menggunakan logika berbasis kondisi, misal jika mesin tersebut diperlakukan jahat, maka mesin tersebut akan merespon dengan marah. Namun tetap saja, itu merupakan mesin yang di setting oleh manusia, bukan mesin yang dapat berpikir sendiri.

Mungkin saja satu abad lagi, masa dimana Doraemon lahir, telah ditemukan teknologi yang akan merealisakan Doraemon.

 

 

Lawang, 30 Januari 2018, setelah mencoba kombinasi beberapa teknik di Pare pada SWI Mengajar

Sumber Foto: evfxonline.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.