Connect with us

Sosial Budaya

Dilema (Media) Sosial Kita

Published

on

Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa adiktifnya media sosial sekarang. Semua platform seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan.

Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan scrolling tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat.

Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media sosial juga membuat kita bisa terkoneksi dengan teman maupun keluarga kita.

Media sosial menjadi salah jika sudah berubah menjadi candu yang membuat kita tidak tahu harus melakukan apa ketika ponsel tidak sedang berada di jangkauan kita.

Hipnotis Media Sosial

Seolah Menghipnotis (The Verge)

Ketika menulis artikel Untuk Apa Belajar SejarahPenulis jadi memiliki pemikiran kalau salah satu alasan mengapa mayoritas generasi sekarang cenderung apatis dan kurang kritis adalah karena kurang banyak membaca sejarah.

Penulis pun mendiskusikannya dengan seorang kawan (sebut saja Pentol). Ia memiliki pendapat lain. Menurutnya, itu lebih dikarenakan dampak media sosial.

Jika kita perhatikan, sekarang ada banyak sekali hal sepele yang bisa menjadi trending dan viral dengan begitu cepatnya. Kita seolah mudah untuk terbawa apa yang sedang ramai dibicarakan.

Menurutnya lagi, kita ini seolah sedang dihipnotis dan jadi mudah digiring oleh sesuatu. Apa yang dulu tidak kita sukai, bisa jadi kita sukai sekarang.

Contoh mudahnya adalah aplikasi TikTok. Dulu aplikasi ini dihujat dan dianggap sebagai aplikasi goblok. Sekarang? Hampir semua orang mengunduhnya bahkan membuat konten di dalamnya.

Terdengar seperti teori konspirasi? Bisa jadi. Tapi fenomena ini ada dan kita patut waspada.

Algoritma Candu

Algoritma Candu (Evatronix)

Kenapa semua platform seolah tahu apa yang kita sukai berdasarkan apa yang kita like? Karena mereka memiliki algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama di depan layar.

Tidak hanya dari rekomendasi yang muncul dari beranda, algoritma ini bisa memunculkan push notification yang membuat kita akan tertarik untuk mengecek ponsel pintar kita.

Algoritma ini dapat mempelajari behaviour dan kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial untuk memberikan rekomendasi terbaik untuk kita. Hasilnya? Terdapat gudang data yang bisa saja disalahgunakan.

Tidak percaya? Tengok saja skandal Cambridge Analytica yang menyeret Facebook ke ranah hukum. Mereka dianggap terlibat penjualan data demi pemenangan Donald Trump di pemilihan presiden Amerika Serikat.

Teori kami berdua ini terbukti ketika Penulis menonton sebuah film dokumenter yang berjudul The Social DilemmaDi sana, ada banyak kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatan media sosial yang khawatir akan ciptaannya sendiri.

Kita Ini Produk

Kita Ini Dijual! (Priscilla Du Preez)

Ketika menggunakan layanan-layanan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, ataupun YouTube, apakah kita mengeluarkan uang untuk menggunakannya? Tentu tidak.

Jika kita tidak mengeluarkan uang untuk suatu produk, artinya kitalah produknya!

Kenyataan yang cukup mengerikan ini Penulis ketahui setelah menonton The Social Dilemma. Secara tidak sadar, kita telah dijadikan komoditas oleh layanan-layanan yang kita gunakan setiap hari.

Bagaimana caranya? Penulis telah menyinggung bahwa ada penjualan data kita ke pihak ketiga. Dijual ke siapa? Ke pihak pengiklan yang ingin memasarkan produknya.

Kenapa membutuhkan data kita? Yang namanya pengiklan tentu ingin audience yang tepat sasaran. Melalui algoritma yang dimiliki, layanan-layanan tersebut bisa tahu siapa yang cocok untuk melihat iklan tertentu.

Apakah hal tersebut tidak melanggar privasi? Tidak, semua tercantum di Terms & Condition yang biasanya kita abaikan begitu saja. Kita telah menyetujui kalau aktivitas kita akan direkam demi kebutuhan mereka.

Kita sudah masuk ke dalam bagian dari model bisnis raksasa ini. Semakin lama kita menggunakan media sosial, semakin banyak uang yang akan mengalir ke korporat-korporat besar tersebut.

Mungkin kita tidak terlalu peduli jika dijadikan sebagai produk karena merasa tidak dirugikan apa-apa. Hanya saja, ada permasalahan yang jauh lebih berbahaya, di mana generasi muda yang menjadi sasarannya.

Generasi Rapuh

Generasi Rapuh (PNGio.com)

Dari buku Strawberry Generation karya Rhenald Khasali, generasi muda sekarang adalah generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Di film The Social Dilemma, Generasi Z (lahir di atas tahun 1996) dianggap sebagai generasi yang lebih mudah cemas, rapuh, dan tertekan. Bisa dilihat ada persamaan pendapat, generasi sekarang adalah generasi yang rapuh.

Apa penyebabnya? Salah satunya adalah karena kehadiran media sosial. Penulis mungkin baru aktif menggunakan media sosial ketika kuliah. Mereka? Rata-rata mulai SMP, bahkan ada yang SD.

Apa yang mereka lakukan sepulang sekolah? Istirahat sambil cek media sosial. Apa yang mereka lakukan sebelum tidur? Main media sosial. Apa yang mereka cek pertama kali ketika bangun? Media sosial.

Rutinitas ini membuat menjadi bukti kalau media sosial sudah menjadi candu untuk mereka. Algoritma yang dirancang oleh layanan-layanan tersebut ternyata berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Penulis melihat fenomena ini secara langsung karena dekat dengan adik-adik Karang Tarunanya. Jika ditanya apa yang mereka akan lakukan tanpa ponsel pintarnya, mereka akan kebingungan menjawabnya.

Tak jarang media sosial membuat mereka menjadi mager dan melalaikan aktivitas lainnya. Tak jarang yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyatanya.

Jika mau percaya teori konspirasi, ada sebuah grand system yang ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang apatis, egosentris, dan kurang kritis agar mereka mudah dikendalikan sesuai keinginan pihak tertentu.

Jika mereka telah mudah dikendalikan, maka bisa terjadi sesuatu yang tak kalah seram.

Polarisasi Masyarakat

Berpotensi Konflik (AP News)

Penelitian menunjukkan semenjak media sosial menjamur dan diminati oleh hampir semua orang, polarisasi masyarakat meningkat pesat. Contohnya adalah pemilihan presiden 2019 kemarin, bisa dilihat dua kubu saling adu mulut dan jari, bahkan secara kurang sehat.

Dengan menggunakan algortima candu yang dimiliki, kita akan terus melihat apa yang kita sukai. Jika kita menjadi pendukung Semar, maka berita maupun feed yang muncul akan terus berputar di sekitar Semar.

Tak jarang pula kita akan melihat feed yang mengolok-olok lawan dari Semar, sebut saja Togog. Akhirnya, kita akan menjadi fanatik ke Semar dan menjadi haters-nya Togog.

Contoh lain terkait Corona. Ada polarisasi di sini, antara yang percaya dan yang tidak. Mereka saling merasa paling benar dan menertawakan kubu lain.

Di dalam film The Social Dilemma, salah satu narasumber mengatakan bahwa kekhawatirannya terbesar dari adanya algoritma ini adalah civil war. Perang saudara.

Dramatisasi? Bisa jadi, tapi kemungkinan itu ada. Lihat saja bagaimana seringnya netizen yang beda kubu beradu argumen yang kurang bermanfaat. Bukan tidak mungkin pertikaian tersebut berujung kekerasan.

Penutup

Penulis bukan ingin merasa sok suci seolah tak kecanduan media sosial. Penulis pun masih sering seperti itu. Sudah sering Penulis menceritakan bagaimana dirinya merasa kecanduan ponsel hingga akhirnya memutuskan untuk detox media sosial.

Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan ini. Yang ekstrem, hapus aplikasi. Yang lebih ringan, batasi penggunaan, matikan notifikasi dan sistem rekomendasi, jauhkan ponsel pintar ketika hendak tidur maupun akan melakukan aktivitas lain.

Kalau enggak main media sosial, terus kita ngapain? Memang harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian kita, entah baca buku, kumpul dengan teman, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya.

Kita harus menyadari kalau media sosial hanyalah alat yang membantu kita untuk terhubung dengan orang lain, menampilkan karya kita, ataupun mendapatkan informasi.

Jangan sampai terbalik, kita yang digunakan oleh media sosial sebagai sapi perah di dalam sistem bisnis raksasa mereka.

 

 

Lawang, 25 September 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dan menonton The Social Dillema

Foto: camilo jimenez on Unsplash

Sumber Artikel: The Social Dilemma, Mojok 1, Mojok 2

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sosial Budaya

Siapa yang Akhirnya Menang?

Published

on

By

Duel “terpanas” tahun ini baru saja tersaji kemarin secara live di kanal YouTube Deddy Corbuzier. Tentu yang Penulis maksud adalah pertandingan catur antara Pak Dadang Subur a.k.a. Dewa Kipas melawan Grandmaster Irene Kharisma (atau Irene Sukandar).

Pertandingan catur ini berawal dari kasus viral yang melibatkan akun Dewa Kipas yang dianggap curang setelah bertanding melawan GothamChess melalui platform Chess.com. Kasus ini berujung dengan diblokirnya akun Dewa Kipas dari platform tersebut.

Gotham Chess (RCTI+)

Hal ini diketahui pertama kali dari postingan Facebook anak Dewa Kipas, yang menganggap suporter GothamChess melakukan report massal sehingga akun ayahnya diblokir. Tanpa disangka, postingan tersebut menjadi viral dan membuat netizen Indonesia bereaksi keras.

Netizen Indonesia memberikan hate comment ke GothamChess dan Chess.com secara membabi buta. Ketika Penulis mengecek Play Store, rating yang dimiliki oleh aplikasi catur tersebut dihujani bintang satu oleh netizen Indonesia.

Beberapa waktu berselang, Chess.com memberikan klarifikasi kalau mereka tidak akan memblokir akun orang hanya karena laporan banyak orang. Mereka mendeteksi adanya kecurangan pada akun tersebut sehingga mereka menindak tegas akun Dewa Kipas.

Pak Dadang dan Anaknya (Galamedia – Pikiran Rakyat)

Nah, Deddy seperti biasa melihat adanya peluang cuan memberikan ruang dan panggung bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi. Maka diundanglah Pak Dadang Subur beserta anaknya ke podcast-nya yang terkenal.

Podcast ini mendapatkan kritikan dari salah satu grandmaster catur Indonesia, Irene Kharisma. Ia membuat surat terbuka yang salah satunya ditujukan kepada Deddy dan direspon dengan baik. Irene (beserta GothamChess) pun diundang ke podcast Deddy untuk memberikan sudut pandang lain.

Ternyata, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut Irene yang menyakiti perasaan Pak Dadang. Ia pun menantang Irene untuk bertanding catur secara langsung. Sempat ditolak, akhirnya Irene menyanggupi permintaan tersebut dan Deddy akan menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.

Cuan lagi.


Pertandingan digelar pada hari Senin jam 3 sore dan dipandu oleh dua pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto dan Chelsie Monica. Untuk nama terakhir, netizen justru salfok dengan kecantikannya. Akun Instagramnya yang semula memiliki empat ribu followers melonjak jadi 70 ribu lebih. Kekuatan netizen.

Pertandingan dilakukan dalam mode 10 menit empat babak. Penulis tidak perlu menjelaskan bagaimana analisa pertandingan tersebut. Yang jelas, hasil akhirnya adalah 3-0 untuk kemenangan Irene dan Pak Dadang menolak untuk melakukan pertandingan keempat.

Di akhir pertandingan, Pak Dadang menjelaskan betapa kokoh pertahanan Irene. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemain di Chess.com yang kerap melakukan blunder. Irene sendiri juga mengajak kita untuk menutup kasus ini dan jangan sampai ada pem-bully-an setelah ini.

Baik Irene maupun Pak Dadang sama-sama mendapatkan hadiah uang. Sebagai pemenang, Irene mendapatkan 200 juta rupiah, sedangkan Pak Dadang mendapatkan 100 juta rupiah. Pertandingan panas ini pun berakhir dengan damai dan menenangkan.

Irene Menang 3-0 (Kompasiana.com)

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menang dalam pertandingan ini? Menurut Penulis, hampir semua menang dan tidak ada yang dirugikan.

Deddy jelas menang banyak, baik melalui adsense (live viewer-nya mencapai satu juta lebih, setelah diupload videonya telah ditonton lebih dari tujuh juta kali) ataupun sponsor (secara kasat mata, setidaknya ada tiga sponsor yang berbeda, di mana yang paling besar Tokopedia).

Kejeliannya melihat peluang membuat ia bisa mendapatkan keuntungan besar dari viralnya kasus Dewa Kipas. Kalau kata teman, ia sudah bisa membuat podcast-nya bekerja untuk dirinya dan mengalirkan uang secara sendirinya.

Pak Dadang dan Irene pun bisa dianggap sama-sama menang. Kekalahan Pak Dadang dapat dimaklumi karena lawannya adalah pecatur profesional yang menyandang gelar grandmaster. Bahkan, permainannya juga dipuji oleh Irene beserta dua caster yang memandu pertandingan tersebut.

Para Caster (VOI.id)

Para caster juga menang, terutama Chelsie. Berkat pertandingan ini, popularitasnya meningkat secara drastis. Bukan tidak mungkin setelah ini ia akan merangkap profesi menjadi selebgram. Untuk GM Susanto, mungkin setelah ini akan makin banyak murid yang mendaftar ke sekolah privatnya.

Dunia catur juga menang. Kasus ini membuat antusiasme masyarakat terhadap catur meningkat pesat. Tokopedia selaku sponsor resmi pasti kebanjiran orderan papan catur. Dari isu yang Penulis dengar, harga papan catur meroket akibat tingginya permintaan masyarakat.

Masyarakat menang karena disuguhkan sebuah drama pertandingan catur yang seru. Ketika memantau kolom komentar, kebanyakan bernada adem meskipun masih menyisakan beberapa hate comment yang memancing emosi. Media juga pastinya mendapatkan banyak views untuk pemberitaan seputar mereka semua.

GothamChess, meskipun tidak mendapatkan uang, setidaknya mendapatkan subsriber baru dari Indonesia walau tidak banyak. Mungkin yang kalah adalah aplikasi Chess.com karena mendapatkan hujan bintang satu di Play Store, sehingga rating mereka lumayan turun. Namun, jumlah unduhan mereka juga jadi naik berkat drama Dewa Kipas ini.


Lantas, apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Entah, Penulis juga bingung. Mungkin, jangan mudah tersulut emosi jika tidak punya data yang lengkap. Mau apapun masalah yang sedang viral, kita harus kritis dan melakukan recheck. Jangan mudah terpancing berita-berita click-bait.

Pada akhirnya, masalah yang membuat masyarakat sempat terpolarisasi telah mereda. Semoga saja ke depannya kita bisa lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi apapun, mulai dari yang remeh hingga topik berat.

Lawang, 23 Maret 2021, terinspirasi setelah menonton pertandingan catur antara Dewa Kipas melawan Irene Kharisma

Foto: Buka Baca ID

Continue Reading

Sosial Budaya

Keganasan Netizen Barbar

Published

on

By

Beberapa waktu yang lalu, Microsoft mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft dengan kata-kata kasar.

Tapi bohong.

Tentu saja netizen kita, yang selama ini kerap dianggap barbar, langsung bereaksi keras dengan hasil survei tersebut. Tidak tahan dengan bully-bully tersebut, Microsoft pun menutup kolom komentar mereka.

Padahal, penilaian tersebut tidak dibuat secara asal-asalan. Ada beberapa variabel yang digunakan, seperti penyebaran hoaks dan penipuan,, ujaran kebencian, hingga masalah diskriminasi. Apa yang netizen lakukan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar, justru membuktikan bahwa netizen Indonesia memang “tidak sopan”.

Ada banyak bukti lain keganasan netizen Indonesia di dunia maya dalam beberapa minggu terakhir ini.

Membela Dewa Kipas

GothamChess vs Dewa Kipas (YouTube)

Akhir-akhir ini, dunia percaturan online sedang heboh karena akun GothamChess secara mengejutkan dikalahkan oleh pecatur Indonesia berusia 60 tahun dengan nama akun Dewa Kipas melalui platform Chess.com.

Pendukung Gotham menuding kalo Dewa Kipas melakukan cheating karena akurasi gerakannya terlalu tinggi. Kabarnya, mereka melakukan report ramai-ramai hingga akun Dewa Kipas di-banned.

Bagaimana reaksi netizen Indonesia? Mereka melakukan analisa terhadap pola permainan Dewa Kipas di Chess.com untuk mencari apakah ada sesuatu yang abnormal dari game-game yang pernah ia mainkan.

Mereka tidak membela Dewa Kipas hanya karena terbawa suasana dan nasionalisme yang membabi buta. Setelah memiliki data, mereka baru berkomentar kalau tuduhan GothamChess tersebut tidak berdasar dan dilakukan atas dasar sakit hati karena dikalahkan pemain amatir.

Tapi bohong lagi.

Bermodalkan postingan Facebook anak Dewa Kipas, banyak netizen yang langsung menyerang GothamChess secara kasar hingga meresahkan yang bersangkutan. Pem-bully-an dalam bentuk verbal terus dilancarkan hingga membuatnya membatasi platform-platform yang ia gunakan.

Kericuhan ini membuat Grand Master Indonesia, Irene Kharisma, ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus ini mencoreng nama baik percaturan Indonesia di mata dunia. Apalagi, memang banyak keanehan yang ditemukan dalam akun profil milik Dewa Kipas, seperti rating yang tiba-tiba melonjak dan tingkat akurasi yang mendekati sempurna.

Chess.com sendiri telah menegaskan kalau pemblokiran yang dilakukan bukan karena banyaknya laporan yang dikirim oleh penggemar GothamChess, melainkan karena tim Fair Play memang menemukan anomali pada akun Dewa Kipas. Mereka memiliki reputasi yang tinggi, sehingga rasanya tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi tersebut hanya demi satu orang.

Mana yang benar? Entahlah, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya saja, Penulis begitu menyayangkan respon netizen kita yang begitu barbar tanpa mengetahui duduk perkaranya secara lengkap.

Dayana Oh Dayana

Dayana (VOI)

Salah satu youtuber yang sedang naik daun adalah Fiki Naki. Alasannya apa lagi kalau bukan kemampuan berbahasa asingnya yang begitu luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Rusia. Karena kemampuannya tersebut, ia kerap “menggoda” bule-bule melalui aplikasi Ome.tv.

Nah, salah satu yang menarik perhatian netizen adalah seorang gadis asal Kazakhstan bernama Dayana. Memiliki paras yang cantik, ia kerap dijodoh-jodohkan dengan Fiki Naki. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang masuk ke kanal YouTube Fiki lebih dari satu episode.

Hal ini membuat popularitas Dayana, setidaknya di Indonesia, melesat dengan cepat. Ia yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba mendapatkan jutaan follower yang kebanyakan berasal dari negara kita, termasuk Penulis sendiri. Bedanya, Penulis sengaja follow karena merasa kalau kisah mereka berdua akan berakhir kurang baik.

Benar saja. Beberapa minggu kemarin, dunia maya langsung heboh karena Dayana menyatakan “tidak butuh follower dari Indonesia.” Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik dan membuat netizen melakukan unfollow massal. Jumlah follower Dayana yang telah menyentuh angka 2 juta menurun drastis dalam waktu singkat.

Fiki Naki sudah berusaha maksimal untuk menenangkan amukan netizen Indonesia. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Dayana yang awalnya menjadi pujaan banyak orang berbalik menjadi public enemy. Ia dianggap “kacang lupa kulit” dan memanfaatkan Fiki untuk pansos. Apalagi, ia mulai merilis lagu yang pada akhirnya mendapatkan banyak sekali dislike.

Terlepas apa makna dari pernyataan Dayana, kejadian ini menjadi bukti lain betapa ganasnya netizen kita. Bisa saja Dayana tidak bermaksud untuk menyepelekan follower Indonesia. Perlu diingat, bahasa Inggris bukan bahasa ibunya, sehingga kemungkinan salah mengutarakan maksud sesungguhnya sangat besar.

Tapi netizen kita mana mengenal kata maklum. Mau berbuat apapun, Dayana sudah dicap sebagai orang buruk, sama seperti ketika mereka melabeli GothamChess tanpa bukti yang kuat.

Penutup

Dua contoh kasus yang baru terjadi akhir-akhir ini patut mendapatkan perhatian dari kita semua. Kenapa netizen Indonesia terlihat begitu barbar di dunia maya? Kenapa seolah-olah semua orang bersumbu pendek sehingga mudah terpicu oleh percikan kecil?

Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Rendahnya literasi, tidak adanya kesadaran untuk santun di media sosial, mudah terpengaruhi, berita yang memprovokasi, lingkungan yang judgemental, dan lain sebagainya. Seharusnya, kemudahan jaringan internet dapat membuat kita menjadi lebih baik, bukan merugikan orang lain.

Mau apapun alasannya, tidak elok untuk bertindak rusuh seperti itu, apalagi jika sampai mengganggu kehidupan orang lain. Jika orang tersebut tidak kuat mental hingga memutuskan bunuh diri seperti artis-artis Korea, orang-orang yang mem-bully akan segera cuci tangan seolah mereka tak pernah melancarkan serangan.

Mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijak di dunia maya. Jangan mudah terprovokasi sesuatu yang belum tentu benar. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk saling membenci dan mencaci-maki. Semoga ketika nanti Microsoft atau pihak lain melakukan survei sejenis, peringkat kita sudah membaik.

Lawang, 18 Maret 2021, terinspirasi setelah melihat berbagai bentuk keganasan netizen di dunia maya

Foto: Meme Generator

Sumber Artikel:
Menilik Penyebab Microsoft Sebut Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara
Sebut Netizen RI Paling Tidak Sopan, Akun Microsoft Diserang
Curhat GothamChess pada Deddy Corbuzier Usai Dibully Netizen Indonesia
Kasus Dewa Kipas Berlanjut, Grandmaster Catur Indonesia Angkat Bicara
Chess.com Tegaskan Dewa Kipas Berbuat Curang
3 Aksi Dayana yang Panen Cibiran Netizen

Continue Reading

Sosial Budaya

Kemunafikan Berbalut “Demi Lingkungan”

Published

on

By

Waktu iPhone 12 rilis pada bulan Oktober tahun 2020 kemarin, produk tersebut langsung menerima banyak kritik dan hujatan dari banyak pihak.

Bukan karena barangnya jelek (jarang ada iPhone yang mengecewakan), melainkan untuk pertama kalinya Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam kotak penjualannya!

Bayangkan, kotak charger yang menjadi benda esensial sebuah smartphone justru ditiadakan. Iya kalau kita sudah punya seri yang lama, kalau baru pertama kali beli iPhone?

Dulu earphone karena lubang audio jack telah dihilangkan (dan demi mendongkrak penjualan AirPods, tentu saja), sekarang ini.

Penulis tidak akan kaget kalau suatu saat kabel lighthing atau kabel USB-C juga tidak dimasukkan ke dalam kotak penjualan.

Alasannya? Apalagi kalau bukan “demi lingkungan”.

Yakin Demi Lingkungan?

iPhone 12 (Apple)

Alasan klise “demi lingkungan” sudah sering terdengar keluar dari merek-merek teknologi. Logikanya memang masuk karena peralatan elektronik beserta aksesorisnya kerap menjadi sampah yang sulit untuk diurai kembali.

Hanya saja, kita ini kan ya enggak bodoh-bodoh amat. Kita semua tahu kalau “demi lingkungan” hanya digunakan sebagai pemanis.

Kita tahu tujuan asli menghilangkan kotak charger adalah “demi duit” atau “demi profit yang lebih besar lagi”. Enggak usah munafik lah.

Kenapa bisa seperti itu? Pertama, mereka bisa mendapatkan uang lebih dari penjualan kepala charger yang terpisah.

Lah, kalau dijual terpisah berarti kardus yang digunakan nambah, dong? 

Selain itu, dengan kotak iPhone yang tipis, distribusi produk pun bisa lebih banyak sekali muat. Yang biasanya cuma bisa mengirim 100 kotak, sekarang bisa 150 kotak atau lebih.

Jadi lebih irit kan buat mereka?

Kalau memang Apple benar-benar niat memberikan sumbangsih terhadap kelestarian lingkungan, ganti dulu lah itu colokannya dengan USB-C yang digunakan merek HP lain.

Dengan keputusan Apple yang tetap mempertahankan kabel lightning, artinya kita ya harus punya kabel khusus itu, enggak bisa pinjam kabel USB-C punya teman atau saudara.

Dan Akhirnya Diikuti Oleh Merek Lain…

Samsung Galaxy S21 (KLGadgetGuy)

Ketika tahu Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam paket penjualannya, Samsung dan Xiaomi menyindir habis-habisan pesaingnya itu.

Melihat hal tersebut, kita tentu bisa bernapas lega karena kedua merek tersebut akan tetap menyertakan kepala charger di HP-HP terbaru mereka nanti.

Dan ternyata salah.

Kedua merek tersebut mengikuti jejak langkah Apple dengan tidak menyertakan kepala charger di HP flagship terbaru mereka!

Alasan yang digunakan? Sama, “demi lingkungan”!

Xiaomi masih lebih baik karena memberikan pembeli pilihan mau memilih yang ada chargernya atau tidak dengan harga yang sama.

Samsung? Sama seperti Apple persis! Galaxy S21 menjadi seri pertama yang tidak akan memiliki kepala charger.

Kalau ujung-ujungnya ngikutin (sama seperti sebelum-sebelumnya), ngapain nyindir Appple? Bisnis oh bisnis!

Penutup

Seandainya merek-merek teknologi tersebut benar-benar peduli terhadap isu lingkungan, ya jangan banyak-banyak lah mengeluarkan smartphone.

Coba rilis smartphone baru setiap lima tahun sekali, jadi orang-orang hanya akan mengganti gawainya setiap lima tahun.

Apakah ini mungkin terjadi? Enggak lah, kalau enggak ada produk baru dan kita disuruh terus beli, mau dapat cuan dari mana mereka?

Berbisnis dengan cara apapun selama legal silakan saja. Mau cuma ngirim smartphone baru tanpa kotak sama sekali juga silakan saja.

Namanya perusahaan pasti ingin dapat untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Itu hukum ekonomi yang rasanya sudah diketahui oleh semua orang.

Cuma alasan “demi lingkungan” itu loh yang bikin Penulis geli. Mbok ya pakai alasan lain yang enggak munafik tapi masih bisa diterima.

 

 

 

Lawang, 28 Januari 2021, terinspirasi setelah melihat banyaknya merek teknologi yang menggunakan alasan “demi lingkungan” untuk menambah profit mereka

Foto: Apple Insider

Sumber Artikel:

Xiaomi will offer Mi 11 without charger, but you can get one for free (androidauthority.com)

Xiaomi’s Mi 11 won’t come with charger after it mocked Apple for not including a charger – The Verge

 

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan