Dilema (Media) Sosial Kita

Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa adiktifnya media sosial sekarang. Semua platform seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan.

Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan scrolling tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat.

Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media sosial juga membuat kita bisa terkoneksi dengan teman maupun keluarga kita.

Media sosial menjadi salah jika sudah berubah menjadi candu yang membuat kita tidak tahu harus melakukan apa ketika ponsel tidak sedang berada di jangkauan kita.

Hipnotis Media Sosial

Seolah Menghipnotis (The Verge)

Ketika menulis artikel Untuk Apa Belajar SejarahPenulis jadi memiliki pemikiran kalau salah satu alasan mengapa mayoritas generasi sekarang cenderung apatis dan kurang kritis adalah karena kurang banyak membaca sejarah.

Penulis pun mendiskusikannya dengan seorang kawan (sebut saja Pentol). Ia memiliki pendapat lain. Menurutnya, itu lebih dikarenakan dampak media sosial.

Jika kita perhatikan, sekarang ada banyak sekali hal sepele yang bisa menjadi trending dan viral dengan begitu cepatnya. Kita seolah mudah untuk terbawa apa yang sedang ramai dibicarakan.

Menurutnya lagi, kita ini seolah sedang dihipnotis dan jadi mudah digiring oleh sesuatu. Apa yang dulu tidak kita sukai, bisa jadi kita sukai sekarang.

Contoh mudahnya adalah aplikasi TikTok. Dulu aplikasi ini dihujat dan dianggap sebagai aplikasi goblok. Sekarang? Hampir semua orang mengunduhnya bahkan membuat konten di dalamnya.

Terdengar seperti teori konspirasi? Bisa jadi. Tapi fenomena ini ada dan kita patut waspada.

Algoritma Candu

Algoritma Candu (Evatronix)

Kenapa semua platform seolah tahu apa yang kita sukai berdasarkan apa yang kita like? Karena mereka memiliki algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama di depan layar.

Tidak hanya dari rekomendasi yang muncul dari beranda, algoritma ini bisa memunculkan push notification yang membuat kita akan tertarik untuk mengecek ponsel pintar kita.

Algoritma ini dapat mempelajari behaviour dan kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial untuk memberikan rekomendasi terbaik untuk kita. Hasilnya? Terdapat gudang data yang bisa saja disalahgunakan.

Tidak percaya? Tengok saja skandal Cambridge Analytica yang menyeret Facebook ke ranah hukum. Mereka dianggap terlibat penjualan data demi pemenangan Donald Trump di pemilihan presiden Amerika Serikat.

Teori kami berdua ini terbukti ketika Penulis menonton sebuah film dokumenter yang berjudul The Social DilemmaDi sana, ada banyak kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatan media sosial yang khawatir akan ciptaannya sendiri.

Kita Ini Produk

Kita Ini Dijual! (Priscilla Du Preez)

Ketika menggunakan layanan-layanan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, ataupun YouTube, apakah kita mengeluarkan uang untuk menggunakannya? Tentu tidak.

Jika kita tidak mengeluarkan uang untuk suatu produk, artinya kitalah produknya!

Kenyataan yang cukup mengerikan ini Penulis ketahui setelah menonton The Social Dilemma. Secara tidak sadar, kita telah dijadikan komoditas oleh layanan-layanan yang kita gunakan setiap hari.

Bagaimana caranya? Penulis telah menyinggung bahwa ada penjualan data kita ke pihak ketiga. Dijual ke siapa? Ke pihak pengiklan yang ingin memasarkan produknya.

Kenapa membutuhkan data kita? Yang namanya pengiklan tentu ingin audience yang tepat sasaran. Melalui algoritma yang dimiliki, layanan-layanan tersebut bisa tahu siapa yang cocok untuk melihat iklan tertentu.

Apakah hal tersebut tidak melanggar privasi? Tidak, semua tercantum di Terms & Condition yang biasanya kita abaikan begitu saja. Kita telah menyetujui kalau aktivitas kita akan direkam demi kebutuhan mereka.

Kita sudah masuk ke dalam bagian dari model bisnis raksasa ini. Semakin lama kita menggunakan media sosial, semakin banyak uang yang akan mengalir ke korporat-korporat besar tersebut.

Mungkin kita tidak terlalu peduli jika dijadikan sebagai produk karena merasa tidak dirugikan apa-apa. Hanya saja, ada permasalahan yang jauh lebih berbahaya, di mana generasi muda yang menjadi sasarannya.

Generasi Rapuh

Generasi Rapuh (PNGio.com)

Dari buku Strawberry Generation karya Rhenald Khasali, generasi muda sekarang adalah generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Di film The Social Dilemma, Generasi Z (lahir di atas tahun 1996) dianggap sebagai generasi yang lebih mudah cemas, rapuh, dan tertekan. Bisa dilihat ada persamaan pendapat, generasi sekarang adalah generasi yang rapuh.

Apa penyebabnya? Salah satunya adalah karena kehadiran media sosial. Penulis mungkin baru aktif menggunakan media sosial ketika kuliah. Mereka? Rata-rata mulai SMP, bahkan ada yang SD.

Apa yang mereka lakukan sepulang sekolah? Istirahat sambil cek media sosial. Apa yang mereka lakukan sebelum tidur? Main media sosial. Apa yang mereka cek pertama kali ketika bangun? Media sosial.

Rutinitas ini membuat menjadi bukti kalau media sosial sudah menjadi candu untuk mereka. Algoritma yang dirancang oleh layanan-layanan tersebut ternyata berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Penulis melihat fenomena ini secara langsung karena dekat dengan adik-adik Karang Tarunanya. Jika ditanya apa yang mereka akan lakukan tanpa ponsel pintarnya, mereka akan kebingungan menjawabnya.

Tak jarang media sosial membuat mereka menjadi mager dan melalaikan aktivitas lainnya. Tak jarang yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyatanya.

Jika mau percaya teori konspirasi, ada sebuah grand system yang ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang apatis, egosentris, dan kurang kritis agar mereka mudah dikendalikan sesuai keinginan pihak tertentu.

Jika mereka telah mudah dikendalikan, maka bisa terjadi sesuatu yang tak kalah seram.

Polarisasi Masyarakat

Berpotensi Konflik (AP News)

Penelitian menunjukkan semenjak media sosial menjamur dan diminati oleh hampir semua orang, polarisasi masyarakat meningkat pesat. Contohnya adalah pemilihan presiden 2019 kemarin, bisa dilihat dua kubu saling adu mulut dan jari, bahkan secara kurang sehat.

Dengan menggunakan algortima candu yang dimiliki, kita akan terus melihat apa yang kita sukai. Jika kita menjadi pendukung Semar, maka berita maupun feed yang muncul akan terus berputar di sekitar Semar.

Tak jarang pula kita akan melihat feed yang mengolok-olok lawan dari Semar, sebut saja Togog. Akhirnya, kita akan menjadi fanatik ke Semar dan menjadi haters-nya Togog.

Contoh lain terkait Corona. Ada polarisasi di sini, antara yang percaya dan yang tidak. Mereka saling merasa paling benar dan menertawakan kubu lain.

Di dalam film The Social Dilemma, salah satu narasumber mengatakan bahwa kekhawatirannya terbesar dari adanya algoritma ini adalah civil war. Perang saudara.

Dramatisasi? Bisa jadi, tapi kemungkinan itu ada. Lihat saja bagaimana seringnya netizen yang beda kubu beradu argumen yang kurang bermanfaat. Bukan tidak mungkin pertikaian tersebut berujung kekerasan.

Penutup

Penulis bukan ingin merasa sok suci seolah tak kecanduan media sosial. Penulis pun masih sering seperti itu. Sudah sering Penulis menceritakan bagaimana dirinya merasa kecanduan ponsel hingga akhirnya memutuskan untuk detox media sosial.

Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan ini. Yang ekstrem, hapus aplikasi. Yang lebih ringan, batasi penggunaan, matikan notifikasi dan sistem rekomendasi, jauhkan ponsel pintar ketika hendak tidur maupun akan melakukan aktivitas lain.

Kalau enggak main media sosial, terus kita ngapain? Memang harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian kita, entah baca buku, kumpul dengan teman, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya.

Kita harus menyadari kalau media sosial hanyalah alat yang membantu kita untuk terhubung dengan orang lain, menampilkan karya kita, ataupun mendapatkan informasi.

Jangan sampai terbalik, kita yang digunakan oleh media sosial sebagai sapi perah di dalam sistem bisnis raksasa mereka.

 

 

Lawang, 25 September 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dan menonton The Social Dillema

Foto: camilo jimenez on Unsplash

Sumber Artikel: The Social Dilemma, Mojok 1, Mojok 2

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.