<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seno Gumira Ajidarma Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/seno-gumira-ajidarma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/seno-gumira-ajidarma/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Jul 2024 15:28:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Seno Gumira Ajidarma Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/seno-gumira-ajidarma/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jul 2024 15:28:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esai]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[sosbud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7625</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika disuruh menyebutkan salah satu penulis favoritnya, maka Penulis akan menyebutkan nama Seno Gumira Ajidarma. Tidak hanya karya sastranya yang ada banyak, Penulis juga membaca beberapa kumpulan tulisan esainya. Beberapa buku non-fiksi dari Seno yang sudah Penulis baca adalah Jokowi, Sengkuni, Machiaveli, Obrolan Sukab, Tiada Ojek di Paris, dan Affair (yang sebenarnya belum selesai dibaca). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/">[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika disuruh menyebutkan salah satu penulis favoritnya, maka Penulis akan menyebutkan nama<strong> Seno Gumira Ajidarma</strong>. Tidak hanya karya sastranya yang ada banyak, Penulis juga membaca beberapa kumpulan tulisan esainya.</p>



<p>Beberapa buku non-fiksi dari Seno yang sudah Penulis baca adalah <em>Jokowi, Sengkuni, Machiaveli</em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Obrolan Sukab</a></em>, <em>Tiada Ojek di Paris</em>, dan <em>Affair </em>(yang sebenarnya belum selesai dibaca). Nah, buku terbaru dari Seno yang baru Penulis tamatkan adalah<strong> <em>Orang Makan Orang</em></strong>.</p>



<p>Sebagaimana yang tertulis di bagian Catatan Penulis, buku ini bersifat &#8220;sekuel&#8221; dari buku <em>Jokowi, Sengkuni, Machiavelii</em>. Oleh karena itu, buku ini menjadi kumpulan tulisannya dari berbagai media yang tayang dari tahun 2017 hingga 2023.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Orang Makan Orang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Orang Makan Orang</em></li>



<li>Penulis: Seno Gumira Ajidarma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Mizan</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2024</li>



<li>Tebal: 277 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413347</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Orang Makan Orang</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Tiada apa pun yang dengan sendirinya benar—perjuangan makna, dengan segala kibulnyalah, yang meng-ada-kannya.”</em></p>
</blockquote>



<p><em>Karena selalu dimaknai secara sempit sebagai pertarungan antarpartai politik demi memperebutkan kekuasaan, politik sering kali dianggap sebagai dunia kibul-kibul. Bahkan, dianggap sebagai tempat yang buruk untuk hidup.</em></p>



<p><em>Padahal, perebutan untuk menang dan berkuasa, dalam segala arti dan dengan segala cara, juga berlangsung di luar dunia politik. Dari sidang pengadilan sampai bencana pandemi, dari sinema sampai agama, dari wayang sampai sejarah, dari ekonomi sampai susastra, dari dunia militer sampai kriminal, dari humor sampai sepak bola, dari panggung politik itu sendiri sampai di dalam rumah tangga.</em></p>



<p><em>Dalam buku </em>Orang Makan Orang<em> ini, Seno Gumira Ajidarma mencoba menunjukkan siasat, konsep, dan ideologi dari berbagai manuver dalam kehidupan politik sehari-hari—sekadar agar manipulasi itu terbongkar. Manipulasi demi tujuan politik mana pun perlu diketahui, sebab manipulasi itu tentu tersembunyi—sehingga tiada kesetaraan antara yang tahu dan tidak tahu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Orang Makan Orang</h2>



<p>Sebagai kumpulan esai, buku ini terdiri dari 57 tulisan yang tayang dalam rentang tahun 2017 hingga 2023. Sesuai dengan subjudulnya (Kibul-Kibul Budaya Politik), mayoritas isinya membahas tentang isu politik yang sedang hangat ketika esai tersebut dibuat.</p>



<p>Salah satu yang paling Penulis ingat (dan menjadi bahan tulisan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/"><em>Bagaimana Jokowi Mengalahkan Lawan-Lawannya Tanpa Berperang</em></a>) adalah &#8220;<strong>Arogansi (Politik) Jawa</strong>&#8221; di halaman  yang dimuat pada Koran Tempo tahun 2019.</p>



<p>Dalam tulisan tersebu, Seno menyorot bagaimana Jokowi sebagai orang Jawa berusaha menerapkan filsafat Jawa yang ingin merangkul lawan-lawannya demi menjaga kekuasaannya. Hal tersebut bisa kita lihat pada peta politik Indonesia saat ini.</p>



<p>Namun, bisa dibilang kalau buku ini tak sepenuhnya membahas politik. Bahkan, bisa dibilang kalau 2/5 isinya justru menyorot sosial budaya dan tak memiliki keterkaitan dengan dunia politik. </p>



<p>Contohnya adalah beberapa kali Seno membahas mengenai karya-karya sastra klasik, yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Di bagian akhir, Seno bahkan membahas banyak tentang sebuah karya berjudul <em>Domba-Domba Revolusi</em>.</p>



<p>Salah satu topik sosial budaya yang menarik perhatian Penulis adalah &#8220;<strong>Wayang, Agama, dan Paimo</strong>.&#8221; Pada tulisan yang di <em>KumparanPlus</em> tahun 2022 tersebut, Seno menjelaskan kalau goresan yang terdapat pada wayang merupakan  yang kaligrafi Islam. </p>



<p>Hal ini masuk akal, mengingat wayang merupakan salah satu media yang digunakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Namun, Penulis tak menyangka kalau para wali sampai sedetail itu. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Orang Makan Orang</h2>



<p>Jika boleh jujur, sebenarnya tak semua penulisannya Seno bisa Penulis pahami. Terkadang, struktur bahasa atau kalimatnya sulit untuk dimengerti seolah menggunakan bahasa sastra. Anehnya, Penulis tetap menyukai tulisan-tulisannya.</p>



<p>Begitu juga dengan buku <em>Orang Makan Orang </em>yang satu ini. Tidak semua tulisan esainya Penulis paham, terutama yang membahas tentang karya sastra klasik. Sudah tidak mengerti buku apa yang dibahas, poin yang ingin disampaikan pun sulit Penulis cerna.</p>



<p>Namun, Penulis tidak menyalahkan Seno sebagai penulis buku ini. Penulis saja yang kemampuan memahaminya tidak cukup tinggi untuk mencapai levelnya Seno. Apalagi, pengetahuan Penulis tentang sastra klasik juga sangat cetek.</p>



<p>Dari 57 topik yang dibahas di buku ini, mungkin yang bisa Penulis pahami hanya setengahnya. Namun, tetap saja Penulis bisa menikmati buku ini yang dibuktikan dengan tamatnya buku ini dan rilisnya artikel ini.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat tulisan Seno menarik adalah banyaknya fakta menarik yang ia sajikan dalam tulisannya. Jadi, meskipun tidak benar-benar memahami keseluruhan tulisannya, setidaknya ada <em>insight </em>menarik yang berhasil Penulis dapatkan.</p>



<p>Fakta yang disajikan bukan fakta sembarangan yang bisa ditemukan di Google. Kalau masalah riset, Seno memang tak perlu diragukan lagi. Penulis pernah membahas mengenai hal ini pada artikel ulasan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/">Jazz, Parfum, dan Insiden</a></em> yang ditulis oleh Seno.</p>



<p>Namun, sebenarnya Penulis berharap isinya berisi tulisan politik semua, tanpa ada campuran tulisan sosial budaya. Apalagi, di subjudulnya tertulis &#8220;Kibul-Kibul Budaya Politik&#8221; yang membuat Penulis berpikir kalau buku ini benar-benar akan total membahs politik.</p>



<p>Terlepas dari hal tersebut, buku ini Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang gemar membaca tulisan-tulisan esai yang tayang di surat kabar. Buku ini akan terasa berat bagi Pembaca yang tidak terbiasa membaca buku.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Orang Makan Orang </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/">[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya! Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul Drupadi dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul Kitab Omong Kosong. Maka dari itu, Penulis mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya!</p>
<p>Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul <em>Drupadi </em>dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul <strong><em>Kitab Omong Kosong</em></strong>.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis mulai mencari buku tersebut. Sayang, setelah mencari di puluhan toko buku, Penulis tidak pernah menemukannya karena buku tersebut memang termasuk buku lama dan tidak ada tanda-tanda akan dicetak ulang.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk membelinya secara online. Sayang, karena kurang cermat ternyata buku yang penulis beli adalah buku bekas yang sudah berjamur di mana-mana. Kecewa, Penulis meletakkan buku ini begitu saja di rak dan tidak pernah membacanya.</p>
<p>Di saat WFH ini, entah mengapa Penulis merasa terdorong untuk membacanya. Penulis berusaha keras untuk mengabaikan fakta kecatatan fisik yang dimilikinya.</p>
<p>Hasilnya, novel tebal ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu singkat!</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dulu sewaktu masih aktif di organisasi Pers Mahasiswa, ada rekan Penulis yang membawa novel ini ke ruang sekret. Waktu Penulis bertanya apa isinya, kalau tidak salah jawabannya adalah <em>sindiran Ramayana</em>.</p>
<p>Waktu itu, Penulis hanya pernah membaca cerita <em>Mahabarata</em>. Bahkan hingga sekarang, Penulis belum pernah membaca buku <em>Ramayana </em>secara utuh. Hanya sepotong-sepotong dari berbagai buku dan sumber.</p>
<p>Oleh karena itu Penulis sempat khawatir tidak bisa memahami buku ini. Untunglah kekhawatiran tersebut tidak terjadi dan Penulis sangat menikmati novel ini.</p>
<p>Inti dari kisah yang dihadirkan Seno melalui buku ini adalah kisah Satya dan Maneka yang menjadi korban akibat serbuan balatentara Sri Rama yang menghadirkan bencana di mana-mana.</p>
<p>Penyerbuan tersebut dipicu oleh Persembahan Kuda yang dilaksanakan oleh Kerajaan Ayodya yang dipimpin Sri Rama. Daerah manapun yang dilewati oleh seekor kuda putih yang dikeramatkan harus ditakhlukan.</p>
<p>Di sisi lain, Maneka merupakan seorang pelacur yang memiliki tato kuda putih tersebut sejak lahir. Karena itu, ia sering dianggap sebagai pembawa bencana.</p>
<p>Berbagai kejadian buruk yang menimpa Maneka membuatnya ingin bertemu dengan Walmiki sang penulis <em>Ramayana</em>. Ia ingin menuntut mengapa kehidupannya begitu memilukan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Satya yang juga merupakan korban dari pasukan Sri Rama. Mereka pun melakukan petualangan untuk bertemu Walmiki.</p>
<p>Mereka juga mendapatkan tugas maha berat untuk mengumpulkan kelima bagian dari <em>Kitab Omong Kosong</em>. Judul dari kelima bagian tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Dunia Seperti Adanya Dunia</li>
<li>Dunia Seperti Dipandang Manusia</li>
<li>Dunia yang Tidak Ada</li>
<li>Mengadakan Dunia</li>
<li>Kitab Keheningan</li>
</ul>
<p>Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana Hanuman pada akhirnya <em>seda </em>setelah mengalami berbagai kejadian selama hidupnya yang panjang.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Kitab Omong Kosong</em></h3>
<p>Membaca novel ini terasa seperti sedang belajar buku filsafat. <em>Kitab Omong Kosong </em>yang dikumpulkan oleh Satya dan Maneka berisikan berbagai pandangan manusia terhadap dunia.</p>
<p>Penulis bisa menikmati buku ini karena tema wayang yang diangkat, namun merasa kesulitan jika diharuskan untuk menceritakan ulang. Kemampuan otak Penulis belum sampai di tahap tersebut.</p>
<p>Selain itu, Seno menyelipkan banyak kisah <em>Ramayana </em>di tiap-tiap babnya, sehingga Penulis bisa mengetahui secara garis besar apa saja yang terjadi dalam <em>Ramayana</em>, terutama kejadian-kejadian pentingnya.</p>
<p>Gaya penulisannya juga Seno banget, namun tidak terlalu rumit seperti <em>Negeri Senja </em>atau novelnya yang lain. Banyaknya dialog yang ada di dalamnya memudahkan kita untuk memahami buku ini.</p>
<p>Penulis akan dengan senang merekomendasikan buku ini kepada para Pembaca yang menyukai cerita wayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Kitab Omong Kosong </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2019 00:41:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esai]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Sukab]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[Sukab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2614</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca. Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat. Bagaimana jika ia menggabungkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah <strong>Seno Gumira Ajidarma</strong>. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca.</p>
<p>Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat.</p>
<p>Bagaimana jika ia menggabungkan antara fiksi dan esai? Setidaknya itulah yang penulis rasakan setelah membaca buku <strong><em>Obrolan</em></strong><em><strong> Sukab</strong>.</em></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Begitu menemukan buku ini di rak buku, tanpa berpikir panjang langsung mengambilnya. Alasannya, ada kata <strong>Sukab </strong>di sana. Di mana ada Sukab, di situ ada Seno Gumira Ajidarma.</p>
<p>Nama Sukabsudah tidak asing bagi penulis. Nama ini sering muncul-muncul di buku karya Seno. Uniknya, nama tersebut tidak terikat dengan satu karakter. Ia bisa disematkan ke siapa saja dan di mana saja.</p>
<p>Di buku yang satu ini, Sukab merupakan orang Betawi menengah ke bawah yang suka mengamati berbagai peristiwa. Ia bersama teman-temannya selalu berdiskusi di warung Mang Ayat.</p>
<p>Dibalut dengan bahasa Betawi, kita akan melihat berbagai permasalahan didisuksikan oleh masyarakat pinggiran yang kritis. Sambil melalap lauk pauk, mereka dengan semangat membahas berbagai peristiwa yang tengah menjadi isu hangat.</p>
<p>Ketika memperhatikan tanggalnya, tulisan ini dimulai pada tanggal 3 Januari 2016 hingga 1 November 2018. Artinya, isu-isu yang terjadi pada rentang tanggal tersebut dibahas oleh Seno, seperti kasus Ahok dan kasus pembunuhan dengan Sianida.</p>
<p>Ada beberapa karakter lain yang menjadi pendukung buku ini, di mana semua memiliki karakteristiknya masing-masing. Tak perlu susah payah menghafal karena Seno akan menjelaskan siapa mereka di setiap babnya.</p>
<h3>Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</h3>
<p>Esai-esai yang ada di buku ini merupakan kumpulan tulisan Seno yang pernah dimuat di koran Kompas dan blognya. Karena penulis tidak pernah berlangganan Kompas, penulis belum pernah membaca satu pun esai-esai di buku ini.</p>
<p>Berbeda dengan <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">buku-buku Sujiwo Tejo</a> yang kadang maknanya begitu implisit, tiap bab yang dibahas oleh Seno sangat jelas mendiskusikan hal apa.</p>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, buku ini ditulis dengan banyak menggunakan bahasa Betawi. Karena penulis orang Jawa, penulis mengalami sedikit kesulitan ketika membaca buku ini, walau di bagian belakang buku ada kamus mini.</p>
<p>Menurut penulis, Seno agak condong ke salah satu golongan tertentu. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di bukunya ini. Sebagai orang yang (berusaha) berpikiran terbuka, penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.</p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang gemar membaca kumpulan esai dengan topik permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita.</p>
<p>Untuk penulis pribadi, penulis merasa mendapatkan banyak sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang telah terjadi, sehingga ketika kelak ada kasus-kasus baru, penulis akan berusaha untuk melihatnya dengan berbagai sudut pandang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Obrolan Sukab </em>karya <em>Seno Gumira Ajidarma</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
