Buku
Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab
Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca.
Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat.
Bagaimana jika ia menggabungkan antara fiksi dan esai? Setidaknya itulah yang penulis rasakan setelah membaca buku Obrolan Sukab.
Apa Isi Buku Ini?
Begitu menemukan buku ini di rak buku, tanpa berpikir panjang langsung mengambilnya. Alasannya, ada kata Sukab di sana. Di mana ada Sukab, di situ ada Seno Gumira Ajidarma.
Nama Sukabsudah tidak asing bagi penulis. Nama ini sering muncul-muncul di buku karya Seno. Uniknya, nama tersebut tidak terikat dengan satu karakter. Ia bisa disematkan ke siapa saja dan di mana saja.
Di buku yang satu ini, Sukab merupakan orang Betawi menengah ke bawah yang suka mengamati berbagai peristiwa. Ia bersama teman-temannya selalu berdiskusi di warung Mang Ayat.
Dibalut dengan bahasa Betawi, kita akan melihat berbagai permasalahan didisuksikan oleh masyarakat pinggiran yang kritis. Sambil melalap lauk pauk, mereka dengan semangat membahas berbagai peristiwa yang tengah menjadi isu hangat.
Ketika memperhatikan tanggalnya, tulisan ini dimulai pada tanggal 3 Januari 2016 hingga 1 November 2018. Artinya, isu-isu yang terjadi pada rentang tanggal tersebut dibahas oleh Seno, seperti kasus Ahok dan kasus pembunuhan dengan Sianida.
Ada beberapa karakter lain yang menjadi pendukung buku ini, di mana semua memiliki karakteristiknya masing-masing. Tak perlu susah payah menghafal karena Seno akan menjelaskan siapa mereka di setiap babnya.
Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?
Esai-esai yang ada di buku ini merupakan kumpulan tulisan Seno yang pernah dimuat di koran Kompas dan blognya. Karena penulis tidak pernah berlangganan Kompas, penulis belum pernah membaca satu pun esai-esai di buku ini.
Berbeda dengan buku-buku Sujiwo Tejo yang kadang maknanya begitu implisit, tiap bab yang dibahas oleh Seno sangat jelas mendiskusikan hal apa.
Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, buku ini ditulis dengan banyak menggunakan bahasa Betawi. Karena penulis orang Jawa, penulis mengalami sedikit kesulitan ketika membaca buku ini, walau di bagian belakang buku ada kamus mini.
Menurut penulis, Seno agak condong ke salah satu golongan tertentu. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di bukunya ini. Sebagai orang yang (berusaha) berpikiran terbuka, penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang gemar membaca kumpulan esai dengan topik permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita.
Untuk penulis pribadi, penulis merasa mendapatkan banyak sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang telah terjadi, sehingga ketika kelak ada kasus-kasus baru, penulis akan berusaha untuk melihatnya dengan berbagai sudut pandang.
Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah membaca buku Obrolan Sukab karya Seno Gumira Ajidarma
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.
Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.
Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:
“Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.“
Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
- Cetakan: Ke-100
- Tanggal Terbit: April 2026
- Tebal: 216 halaman
- ISBN: 9786020531328
- Harga: Rp93.000
Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.
Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.
Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!
Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.
Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.
Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.
Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.
Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.
Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.
Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.
Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.
Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:
“Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.”
Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.
Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.
Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.
“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.
Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.
Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.
Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.
Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.
Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.
Skor: 6/10
Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why
Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.
Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.
Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?
Detail Buku Start with Why
- Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
- Penulis: Simon Sinek
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-23
- Tanggal Terbit: Oktober 2025
- Tebal: 366 halaman
- ISBN: 9786020628837
- Harga: Rp100.000
Apa Isi Buku Start with Why
Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:
- Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
- Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
- Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
- Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
- Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses
Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.
Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.
Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).
Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.
Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.
Setelah Membaca Buku Start with Why
Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!
Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!
Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?
Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.
Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.
Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.
Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.
Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.
Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.
Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.
Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.
Skor: 5/10
Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.
Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.
Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.
Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.
SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh
- Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
- Penulis: Uketsu
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-2
- Tanggal Terbit: Februari 2026
- Tebal: 312 halaman
- ISBN: 9786020687209
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?
Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.
Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.
Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:
- Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
- Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
- Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
- Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik
Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.
Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.
Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.
Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.
Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/
Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?
Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.
Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.
Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.
Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.
Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.
Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.
Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.
Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.
Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.
Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?
Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.
Skor: 9/10
Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara11 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga11 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri11 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri11 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Non-Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana


