Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab

Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca.

Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat.

Bagaimana jika ia menggabungkan antara fiksi dan esai? Setidaknya itulah yang penulis rasakan setelah membaca buku Obrolan Sukab.

Apa Isi Buku Ini?

Begitu menemukan buku ini di rak buku, tanpa berpikir panjang langsung mengambilnya. Alasannya, ada kata Sukab di sana. Di mana ada Sukab, di situ ada Seno Gumira Ajidarma.

Nama Sukabsudah tidak asing bagi penulis. Nama ini sering muncul-muncul di buku karya Seno. Uniknya, nama tersebut tidak terikat dengan satu karakter. Ia bisa disematkan ke siapa saja dan di mana saja.

Di buku yang satu ini, Sukab merupakan orang Betawi menengah ke bawah yang suka mengamati berbagai peristiwa. Ia bersama teman-temannya selalu berdiskusi di warung Mang Ayat.

Dibalut dengan bahasa Betawi, kita akan melihat berbagai permasalahan didisuksikan oleh masyarakat pinggiran yang kritis. Sambil melalap lauk pauk, mereka dengan semangat membahas berbagai peristiwa yang tengah menjadi isu hangat.

Ketika memperhatikan tanggalnya, tulisan ini dimulai pada tanggal 3 Januari 2016 hingga 1 November 2018. Artinya, isu-isu yang terjadi pada rentang tanggal tersebut dibahas oleh Seno, seperti kasus Ahok dan kasus pembunuhan dengan Sianida.

Ada beberapa karakter lain yang menjadi pendukung buku ini, di mana semua memiliki karakteristiknya masing-masing. Tak perlu susah payah menghafal karena Seno akan menjelaskan siapa mereka di setiap babnya.

Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?

Esai-esai yang ada di buku ini merupakan kumpulan tulisan Seno yang pernah dimuat di koran Kompas dan blognya. Karena penulis tidak pernah berlangganan Kompas, penulis belum pernah membaca satu pun esai-esai di buku ini.

Berbeda dengan buku-buku Sujiwo Tejo yang kadang maknanya begitu implisit, tiap bab yang dibahas oleh Seno sangat jelas mendiskusikan hal apa.

Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, buku ini ditulis dengan banyak menggunakan bahasa Betawi. Karena penulis orang Jawa, penulis mengalami sedikit kesulitan ketika membaca buku ini, walau di bagian belakang buku ada kamus mini.

Menurut penulis, Seno agak condong ke salah satu golongan tertentu. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di bukunya ini. Sebagai orang yang (berusaha) berpikiran terbuka, penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang gemar membaca kumpulan esai dengan topik permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita.

Untuk penulis pribadi, penulis merasa mendapatkan banyak sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang telah terjadi, sehingga ketika kelak ada kasus-kasus baru, penulis akan berusaha untuk melihatnya dengan berbagai sudut pandang.

 

 

Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah membaca buku Obrolan Sukab karya Seno Gumira Ajidarma