<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>stoa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/stoa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/stoa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>stoa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/stoa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikotomi Kendali Pada Filosofi Teras</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jun 2019 00:57:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi negatif]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Teras]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoisisme]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2427</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun lebih banyak tidak pahamnya, penulis menyukai buku-buku yang berbau filsafat. Contohnya adalah novel-novel karangan Jostein Gaardner seperti Dunia Sophie dan The Puppeter. Oleh karena itu, ketika menemukan buku berjudul Filosofi Teras tulisan Henry Manampiring di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis memutuskan untuk membelinya. Apalagi, di bagian belakang tertulis bahwa buku ini bisa membantu kita mengatasi rasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali Pada Filosofi Teras</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun lebih banyak tidak pahamnya, penulis menyukai buku-buku yang berbau filsafat. Contohnya adalah <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">novel-novel karangan Jostein Gaardner </a>seperti <em>Dunia Sophie</em> dan <a href="https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/"><em>The Puppeter</em></a>.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika menemukan buku berjudul <strong><em>Filosofi Teras </em></strong>tulisan <strong>Henry Manampiring</strong> di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis memutuskan untuk membelinya.</p>
<p>Apalagi, di bagian belakang tertulis bahwa buku ini bisa membantu kita mengatasi rasa cemas berlebihan dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">mudah </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">baper</a>, </em>sesuatu yang sering penulis derita.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari 12 Bab yang masih dibagi lagi menjadi subbab-subbab yang lebih kecil. Struktur buku yang seperti ini adalah salah satu favorit penulis karena membuat kita memiliki jeda untuk berhenti sejenak.</p>
<p>Secara garis besar, buku ini berusaha menerapkan filsafat <em>Stoisisme </em>atau <em>Stoa </em>ke dalam kehidupan modern yang kita jalani saat ini. Apakah gagasan di era kuno masih sesuai untuk era sekarang? Ternyata, masih sangat sesuai.</p>
<p>Kenapa diberi nama <em>Filosofi Teras</em>? Ceritanya, dulu filsafat Stoa sering didiskusikan di teras oleh para filsuf, sehingga penulis buku ini memutuskan untuk menggunakan nama tersebut.</p>
<p>Dari yang berhasil penulis tangkap, <em>Stoisisme </em>adalah sebuah filsafat yang menekankan terhadap penghilangan emosi negatif pada diri kita. Orang-orang stoik percaya bahwa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">emosi negatif mampu merusak diri kita</a>.</p>
<p>Satu hal yang paling sering disebutkan oleh penulis buku ini adalah <strong>Dikotomi Kendali</strong>. Artinya, dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Kita, sebagai seorang manusia, harusnya befokus pada apa yang bisa kita kendalikan.</p>
<p>Contoh dari apa yang bisa kita kendalikan adalah persepsi tentang sesuatu dan bagaimana kita memberi respon terhadap sebuah peristiwa.</p>
<p>Yang tidak bisa dikendalikan? <em>Nyinyiran </em>netizen adalah salah satu contoh yang paling mudah. Kita tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain.</p>
<p>Selanjutnya, Dikotomi Kendali berkembang menjadi <strong>Trikotomi Kendali</strong>. Ada hal-hal yang sebagian bisa kita kendalikan, tapi sebagiannya lagi tidak bisa kita kendalikan.</p>
<p>Contohnya adalah nilai kita di sekolah. Kita bisa mendapatkan nilai tinggi dengan belajar, namun tetap pihak sekolah yang akan menentukan nilai kita.</p>
<p>Penulis buku ini juga beberapa kali menyebutkan nama tokoh filsafat Stoa seperti <strong>Epictetus</strong> dan <strong>Marcus Aurelius</strong>. Biasanya berupa kutipan ataupun gagasan dari yang bersangkutan.</p>
<p>Selanjutnya, ada beberapa bab yang cukup menarik, seperti bagaimana cara mengendalikan persepsi, memperkuat mental, menghadapi orang-orang yang menyebalkan, <em>parenting</em>, masyarakat dunia, hingga <a href="https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/">menyikapi kematian</a>.</p>
<h3>Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini mengajarkan kepada kita untuk berpikir sejenak sebelum menilai sebuah keadaan. Kita tentu pernah bukan merasa betapa peliknya sebuah permasalahan yang ternyata tidak seberapa.</p>
<p>Buku ini membantu kita untuk tidak gegabah dalam menyikapi masalah. Kuncinya ada di Dikotomi Kendali tadi yang sudah penulis singgung di atas.</p>
<p>Walaupun cukup tebal, penulis merasa buku ini tidak membosankan dan sangat menarik untuk dinikmati. Apalagi, penulis buku ini menulis dengan gaya bahasa anak muda dan menyelipkan sesekali candaan yang ringan.</p>
<p>Bahasanya cukup ringan meskipun mengandung kata &#8220;Filsafat&#8221; pada bagian judul, sehingga pembaca tidak perlu merisaukan hal tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi menarik yang digambar oleh <strong>Levina Lesmana</strong>.</p>
<p>Terdapat pula beberapa hasil wawancara dengan berbagai narasumber dari latar belakang yang berbeda-beda. Mungkin bagian inilah yang sedikit membosankan, setidaknya bagi penulis.</p>
<p>Sebagai bonus, buku ini juga menyantumkan referensi-referensi buku tentang filsafat Stoa lainnya. Jadi, untuk pembaca yang tertarik memperlajari ilmu lebih mendalam bisa membaca buku-buku tersebut.</p>
<p>Nilai: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Juni 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Filosofi Teras </em>karangan Henry Manampiring</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali Pada Filosofi Teras</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
