<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>stoik Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/stoik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/stoik/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>stoik Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/stoik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Seneca]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani Kuno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah Stoik: Apa dan Bagaimana dan Filosofi Teras. Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah <em><a href="Stoik: Apa dan Bagaimana">Stoik: Apa dan Bagaimana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>.</p>



<p>Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin kita tahu, semakin sadar kalau yang tidak kita diketahui selalu lebih banyak.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>yang merupakan karya Seneca, salah satu toko Stoik yang dari Yunani. Berikut adalah ulasan Penulis setelah menyelesaikan buku yang satu ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan</em></li>



<li>Penulis: Seneca</li>



<li>Penerbit: Noura Books</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 308 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232423831</li>



<li>Harga: Rp84.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p><em>Kebahagiaan—paling sering dibicarakan, sekaligus paling sukar dipahami. Dalam keadaan buta dan tergesa-gesa, semua orang mengejar kebahagiaan tanpa arah, yang akhirnya hanya mendapatkan lelah. </em></p>



<p><em>A Happy Life, yang dirangkum dari kumpulan catatan dan surat-surat Lucius Annaeus Seneca, mengajak kita merenungi “apa tujuan kita”, kemudian “mana jalan terbaik untuk mencapainya”. Salah satu pemikir Romawi yang disebut sebagai paling cerdas di antara semua filsuf Stoa ini, mencoba menjawab dua pertanyaan tentang apa itu bahagia dan apa saja yang mendasarinya.</em></p>



<p><em>Pembaca era modern saat ini akan merasakan, betapa buah pikir Seneca tak pernah usang dan tetap relevan meski sudah dua milenium berselang sejak dituliskan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Sebagai salah satu tokoh stoik yang paling terkenal, Seneca membagikan pemikirannya melalui tulisan-tulisan, yang lantas terangkum dalam buku ini. Sesuai dengan judulnya, tema yang diusung adalah mengenai &#8220;kebahagiaan.&#8221;</p>



<p>Bagi manusia, tema kebahagiaan adalah salah satu topik yang paling sering didiskusikan. Apa itu bahagia? Mengapa kita sulit untuk bahagia? Mengapa manusia mengejar kebahagiaan? Mengapa rasa bahagia hanya bertahan sebentar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.</p>



<p>Buku ini tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang. Sesuai dengan sub-judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk merenungkan sendiri tentang kebahagiaan, lantas menemukan jawabannya sendiri.</p>



<p>Dalam membahas mengenai kebahagiaan, buku ini dibagi dengan beberapa bab yang cukup pendek, hanya sekitar 10 halaman saja. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok menjadi teman perjalanan atau mengisi waktu luang yang sedikit.</p>



<p>Total ada 25 bab pada buku ini, mulai dari &#8220;Tentang Hidup Bahagia dan Apakah Kebahagiaan Itu&#8221; hingga &#8220;Kemiskinan adalah Keberkahan dan Bukan Kemalangan.&#8221; Dalam penyusunannya, buku ini dibuat sesuai dengan sub-topiknya.</p>



<p>Misalnya, bab I hingga VIII berusaha menjelaskan mengenai definisi kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Bab IX hingga XIV menjelaskan tentang penyebab ketidakbahagiaan. Bab sisanya lebih ke praktik untuk bagaimana cara agar kita bisa bahagia.</p>



<p>Ketika membaca buku ini, tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Baca saja setiap babnya secara perlahan, lalu renungkan isinya. Dengan begitu, isi buku ini pun bisa lebih masuk ke dalam diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Penulis memiliki &#8220;ketakutan&#8221; akan karya-karya klasik karena merasa tidak percaya diri bisa memahami tata bahasanya, yang kadang bisa terasa sangat sulit untuk dicerna. Untungnya, buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>ini tidak seperti itu.</p>



<p>Entah karena skrip aslinya memang menggunakan bahasa yang mudah atau kemampuan penerjemahnya, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai literatur klasik yang dibuat di awal-awal tahun masehi. Isinya sederhana, tapi bermakna.</p>



<p>Dalam menulis, di sini Seneca menggunakan gaya bahasa seolah sedang berdialog dengan kita pembacanya. Jangan heran kalau Pembaca akan menemukan banyak kata &#8220;Aku&#8221; dalam buku ini, karena memang gaya penulisannya seperti itu.</p>



<p>Jadi, ketika kita membaca buku ini, rasanya kita sedang mengikuti kuliah di zaman Yunani kuno. Tentu ini pengalaman membaca yang menyenangkan bagi sebagian orang yang memiliki obsesi terhadap kebudayaan Yunani kuno.</p>



<p>Selain itu, Seneca juga menyelipkan beberapa tokoh Yunani kuno di dalam tulisannya agar kita sebagai Pembaca bisa lebih membayangkan apa yang ia sampaikan. Jadi, meskipun ini buku filsafat/pengembangan diri, kita bisa sedikit-sedikit belajar sejarah Yunani kuno juga.</p>



<p>Namun, beberapa bagian mungkin akan terasa cukup membingungkan dan agak terlalu bertele-tele. Meskipun di awal Penulis bilang buku ini relatif mudah dipahami, tetap saja ada bagian yang &#8220;khas&#8221; karya klasik.</p>



<p>Penulis akan menyarankan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan filsafat stoik, tapi sudah pernah membaca buku-buku lain sebelumnya. Bisa dibilang, buku ini lebih bersifat komplementer untuk yang tertarik dengan stoik, bukannya elementer.</p>



<p>Namun, jika memutuskan untuk membaca buku ini sebagai perkenalan stoik, ya sebenarnya sah-sah saja. Bahasanya tidak terlalu <em>njelimet </em>sehingga bisa dipahami dengan mudah. Akan ada banyak bagian yang akan membuat kita merenungkan tentang kebahagiaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca <em>A Happy Life:</em> <em>Sebuah Perenungan </em>karya Seneca</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2023 15:19:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Massimo Pigliucci]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoikisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6959</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak. Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi antidote untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.</p>



<p>Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi <em>antidote</em> untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, Penulis jadi lebih banyak membaca buku-buku seputar filosofi tersebut.</p>



<p>Suatu hari ketika sedang jalan-jalan di toko buku, Penulis menemukan sebuah buku berjudul <em><strong>Stoik: Apa dan Bagaimana</strong></em> karya <strong>Massimo Pigliucci</strong>. Merasa buku ini akan menjabarkan stoik lebih dalam dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>, Penulis pun memutuskan untuk membelinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em></li>



<li>Penulis: Massimo Pigiucci</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2023</li>



<li>Tebal: 277 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-06-5868-1</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p><em>Bagaimana</em> <em>ajaran kuno Stoik bisa membantu kita bertumbuh pada masa modern?</em> </p>



<p><em>Setiap kali merasa khawatir tentang apa yang akan kita makan, bagaimana kita bisa mencintai seseorang, atau bagaimana cara mencapai kebahagiaan, sebenarnya kita sedang memikirkan cara menjalani hidup yang baik. </em></p>



<p><em>Stoikisme bisa jadi adalah jawabannya, karena membuat kita memusatkan perhatian pada apa yang mungkin dan memberikan perspektif tentang apa yang tidak penting. </em></p>



<p><em>Dengan memahami Stoikisme, kita bisa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Perlukah kita tetap mempertahankan hubungan atau berpisah? Bagaimana sebaiknya kita mengelola uang di dunia yang nyaris hancur karena krisis keuangan? Bagaimana kita bisa bertahan setelah mengalami tragedi pribadi? </em></p>



<p><em>Stoikisme mengajari kita pentingnya karakter, integritas, dan belas kasih dalam diri seseorang. Buku ini, yang merupakan panduan penting untuk memahaminya, dilengkapi dengan tips praktis dan latihan serta meditasi dan kesadaran akan saat ini dan di sini, memberi gambaran tentang betapa relevannya Stoikisme dalam setiap segi kehidupan kita saat ini.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>diawali dengan dua bagian pembukaan yang menjabarkan secara umum mengenai apa itu stoik. Setelah itu, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>&#8220;Disiplin dalam Hal Hasrat: Apa yang Patut Diinginkan atau Tidak Patut Diinginkan&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Tindakan: Bagaimana Berperilaku di Dunia&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Niat: Bagaimana Menanggapi Situasi&#8221;</li>
</ol>



<p>Sebagai informasi, ketiga bagian tersebut merupakan prinsip &#8220;Tiga Disiplin Stoa&#8221;, mengenai <em><strong>desire </strong></em>(<em>keinginan</em>), <em><strong>action </strong></em>(tindakan), dan <em><strong>assent </strong></em>(persetujuan). Masing-masing bagian tersebut akan dipecah lagi menjadi beberapa bab. </p>



<p>Buku ini juga mengeksplorasi &#8220;Empat Kebajikan Stoa&#8221;, yakni <strong><em>wisdom</em> </strong>(kebijaksanaan), <strong><em>courage</em> </strong>(keberanian),<em> <strong>justice </strong></em>(keadilan), <em><strong>temperance </strong></em>(toleransi). Di setiap pembahasannya, sang penulis buku ini menarasikannya dengan gaya dialog dengan salah satu toko stoik, Epictetus.</p>



<p>Sebagai buku yang mengangkat tema stoik, tentu saja banyak penjelasan yang menekankan tentang <strong>dikotomi kendali</strong>, alias mengetahui mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. </p>



<p>Seperti yang dijelaskan di buku stoik lain, pada akhirnya yang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">benar-benar bisa kita kendalikan</a> adalah diri kita sendiri. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil</a> ataupun <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita</a>, yang bisa kita kendalikan adalah respons atas hal tersebut.</p>



<p>Di bagian akhir buku, penulis buku memberikan Latihan-Latihan Praktis Spiritual untuk membantu kita menerapkan filsafat stoik dalam kehidupan sehari-hari. Total ada 12 poin, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Memeriksa kesan yang dirasakan</li>



<li>Mengingatkan diri bahwa sesuatu tidak permanen</li>



<li>Klausul cadangan</li>



<li>Bagaimana saya dapat menggunakan kebajikan di sini dan saat ini?</li>



<li>Berhenti sejenak untuk menarik napas dalam</li>



<li>Membayangkan berada di posisi orang lain</li>



<li>Bicara sedikit tapi bagus</li>



<li>Memilih teman Anda dengan baik</li>



<li>Menanggapi penghinaan dengan humor</li>



<li>Jangan bicara terlalu banyak tentang diri sendiri</li>



<li>Bicara tanpa menghakimi</li>



<li>Merenungkan pengalaman Anda hari ini</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Meskipun dari luar terlihat berat untuk dicerna, sebenarnya buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>relatif mudah untuk dicerna bahkan oleh orang yang belum pernah bersentuhan dengan filsafat stoik sekalipun.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini merupakan <em>a great overview </em>untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat stoik. Memang tidak semua bagian yang bisa dipahami dengan sekali baca, tapi mayoritas isinya mudah dipahami.</p>



<p>Di sisi lain, buku ini juga tetap menarik bagi yang sudah pernah membaca buku stoik seperti <em>Filsafat Teras</em>. Tetap ada <em>insight-insight </em>baru yang akan menambah wawasan mengenai filsafat stoik.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat buku ini mudah dipahami adalah karena Pigliucci sebagai penulis menyisipkan banyak kisah pribadinya atau pihak lain agar mudah kita bayangkan. Ini membuat apa yang ia tuturkan di dalam buku cukup aplikatif.</p>



<p>Sisi negatifnya, hal tersebut membuat buku ini agak terasa sebagai perjalanan Pigliucci sebelum dan sesudah mengenal filsafat stoik. Oleh karena itu, buku ini mungkin akan terasa dangkal dan kurang dalam untuk Pembaca yang sudah mengetahui tentang dunia filsafat. </p>



<p>Selain itu, kekurangan lain dari buku ini adalah narasi dialog dengan Epictetus yang terkadang terkesan kurang natural dan agak dipaksakan. Penulis bahkan sempat merasa bingung kenapa tiba-tiba ada adegan dialog dengan Epictetus.</p>



<p>Terlepas dari kekurangannya, buku ini layak untuk dibaca bagi yang sedang mencari kedamaian hidup. Stoik mungkin bukan cabang filsafat yang terbaik, tapi Penulis merasa kalau stoik sangat cocok untuk diterapkan ke kehidupan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 November 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em> karya Massimo Pigliucci</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Aug 2023 14:26:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[PDKT]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6762</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga. Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga.</p>



<p>Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan hatinya untuk kita, meskipun sudah banyak hal yang kita lakukan untuk meluluhkan hatinya.</p>



<p>Tentu rasanya menyedihkan sekaligus menyakitkan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya tidak ada manusia yang ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, inilah hidup. Inilah kenyataan yang harus kita terima dan hadapi.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-356x237.jpeg 356w " alt="Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/menggadaikan-persahabatan-demi-cinta/">Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Padahal Sudah Banyak Berkorban</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="800" height="450" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg" alt="" class="wp-image-6764" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-768x432.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Meme Norman Osborn yang Menggambarkan Poin Ini (<a href="https://knowyourmeme.com/memes/you-know-how-much-i-sacrificed">Know Your Meme</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika kita sedang mendekati seseorang, tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mungkin uang untuk mentraktir makan atau membelikan hadiah, tenaga untuk mengantarnya ke mana-mana, pikiran untuk membantu mengerjakan pekerjaannya, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika pikiran kita transaksional, tentu kita berharap imbalan dari semua yang sudah dilakukan tersebut. Tentu saja yang diharapkan adalah dia mau menerima perasaan kita. Sayangnya, masalah cinta sangat berbeda dengan matematika.</p>



<p>Meskipun kita sudah melakukan banyak hal untuknya, sebenarnya sama sekali <strong>tidak ada kewajiban untuk membalas</strong> baginya, dalam bentuk apapun. Jika dia memutuskan untuk tidak membalas, ya itu keputusan mereka yang tidak bisa diganggu gugat.</p>



<p>Mungkin kadang kita akan merasa tidak terima, bahkan menganggap dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan hanya memanfaatkan kebaikan kita. Lho, ya salah sendiri, kan keputusan untuk melakukan banyak hal untuknya kan keputusan kita sendiri.</p>



<p>Apa yang kita lakukan untuknya dilakukan dengan kesadaran diri, walau kadang memang &#8220;dibodohi&#8221; oleh perasaan cinta. Cinta memang bisa membuat orang tolol luar biasa, sehingga tak heran kita jadi punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.</p>



<p>Seperti kata alm. Meggy Z melalui lagu &#8220;Takut Sengsara&#8221;, <strong>percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara</strong>. Kalau takut cinta kita tidak berbalas meskipun sudah banyak berkorban, ya jangan jatuh cinta dulu. </p>



<p>Apalagi, kalau kita memang sayang ke orang lain, seharusnya <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">kita tidak merasa berkorban seperti kata Sujiwo Tejo</a>. Ketika kita sudah merasa berkorban, mungkin itu artinya kita tidak benar-benar sayang ke orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6766" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Harus Menyadari Perasaan Orang Lain Tidak Bisa Kita Kendalikan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-looking-at-the-stressed-man-6670211/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebenarnya sangat manusiawi jika kita ingin perasaan kita berbalas. Bahkan, rasanya tidak ada orang yang melakukan PDKT tanpa berharap upayanya berhasil. Namun, perlu diingat kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/"><strong>hasilnya nanti memang ada di luar kendali kita</strong></a>.</p>



<p>Hasil dari PDKT tentu saja bergantung kepada perasaan orang lain, yang tentu saja juga tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa melakukan apapun untuk berusaha mengubah perasaan tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap di luar kendali kita.</p>



<p>Dengan memahami hal ini, kita pun bisa <strong>meminimalisir perasaan kecewa</strong> ketika perasaan tidak berbalas. Kita jadi menyadari kalau terlepas dari semua hal yang sudah kita lakukan, orang lain berhak untuk menentukan ingin menaruh perasaannya ke siapapun.</p>



<p>Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri, menentukan ingin sampai sejauh apa melakukan sesuatu untuk orang lain yang disayang. Hanya diri kita sendiri yang mampu menentukan sampai sejauh apa batasan ketika sedang memperjuangkan orang lain. </p>



<p>Jika masih mau berjuang mati-matian meskipun sudah mendapatkan respons yang negatif, ya silakan saja. Penulis tidak punya hak untuk melarang siapapun. Hanya saja, melalui tulisan ini Penulis ingin mengingatkan kalau perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Agustus 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau perasaan orang lain itu memang ada di luar kendali kita</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-on-floor-3767426/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jul 2023 15:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6630</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.</p>



<p>Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. </p>



<p>Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu <em>negative self-talk</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-768x459.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-1024x612.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-356x213.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45.jpg 1279w " alt="Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/">Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. <strong>Hasil dari sesuatu yang kita kejar</strong> <strong>adalah salah satunya</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama <strong>stoisme</strong> atau <strong>stoik</strong>. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah <em>overthinking </em>seperti Penulis.</p>



<p>Diawali dari membaca buku <em>Filsafat Teras</em>, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai <strong>dikotomi kendali</strong>.</p>



<p>Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis <em>Dunia Sophie</em>, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita). </p>



<p>Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami <strong>yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan</strong>. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau <strong>hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan</strong>. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.</p>



<p>Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.</p>



<p>Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya <em>privilege </em>yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.</p>



<p>Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat <strong>hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.</p>



<p>Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.</p>



<p>Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?</p>



<p>Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita </p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@andrew/">Andrew Neel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
