<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>stoisme Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/stoisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/stoisme/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Jul 2023 14:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>stoisme Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/stoisme/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jul 2023 15:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6630</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.</p>



<p>Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. </p>



<p>Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu <em>negative self-talk</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. <strong>Hasil dari sesuatu yang kita kejar</strong> <strong>adalah salah satunya</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama <strong>stoisme</strong> atau <strong>stoik</strong>. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah <em>overthinking </em>seperti Penulis.</p>



<p>Diawali dari membaca buku <em>Filsafat Teras</em>, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai <strong>dikotomi kendali</strong>.</p>



<p>Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis <em>Dunia Sophie</em>, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita). </p>



<p>Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami <strong>yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan</strong>. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau <strong>hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan</strong>. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.</p>



<p>Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.</p>



<p>Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya <em>privilege </em>yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.</p>



<p>Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat <strong>hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.</p>



<p>Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.</p>



<p>Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?</p>



<p>Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita </p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@andrew/">Andrew Neel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2021 10:08:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jules Evans]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis tidak pernah belajar filsafat secara formal. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya. (Fyi, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI) Paling banter, Penulis hanya membaca novel Dunia Sophie dan buku-buku karya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis <strong>tidak pernah belajar filsafat secara formal</strong>. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya.</p>
<p>(<em>Fyi</em>, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI)</p>
<p>Paling banter, Penulis hanya membaca novel <strong><em>Dunia Sophie </em></strong>dan <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">buku-buku karya Jostein Gaardner</a> lainnya. Itupun banyak tidak pahamnya.</p>
<p>Semakin beranjak dewasa, Penulis mencoba untuk membaca buku-buku filsafat ringan seperti <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><strong><em>Filosofi Teras </em></strong>karya Henry Manampiring</a> yang menjadi salah satu buku favorit Penulis.</p>
<p>Di sana Penulis belajar tentang <em>stoisme </em>dan tertarik untuk mendalaminya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em><strong>Filosofi untuk Hidup</strong></em> karya <strong>Jules Evans</strong>.</p>
<p>Sebenarnya buku ini berjudul<strong> <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya</em></strong>. Hanya karena terlalu panjang, Penulis memutuskan untuk menyingkatnya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebagai orang yang kerap berkonflik dengan dirinya sendiri, buku-buku bertemakan <em>self-help </em>kerap Penulis baca agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Buku ini Penulis beli untuk alasan tersebut. Ketika membaca sinopsisnya di bagian belakang, tertulis bahwa buku ini mencakup <strong>12 pemikir terbesar di dunia</strong>.</p>
<p>Pemikiran mereka disinyalir dapat membuat kita mampu menangani masalah dalam hidup, seperti meminimalisir emosi berlebihan, mengatur ekspetasi agar tak mudah kecewa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Keduabelas orang tersebut dan tema filsafat yang dibawa adalah:</p>
<ol>
<li>Socrates dan Seni Filsafat Jalanan</li>
<li>Epictetus dan Seni Menjaga Kendali</li>
<li>Musonius Rufus dan Seni Kerja Lapangan</li>
<li>Seneca dan Seni Mengelola Ekspetasi</li>
<li>Epicurus dan Seni Menikmati Saat Ini</li>
<li>Heraclitus dan Seni Kontemplasi Kosmis</li>
<li>Phytagoras dan Seni Mengingat Mantra</li>
<li>Kaum Skeptis dan Seni Memupuk Keraguan</li>
<li>Diogenes dan Seni Anarki</li>
<li>Plato dan Seni Keadilan</li>
<li>Plutarch dan Seni Heroisme</li>
<li>Aristoteles dan Seni Pertumbuhan</li>
</ol>
<p>Di antara bab-bab tersebut, Penulis paling menyukai <strong>bab 2 tentang menjaga kendali</strong> dan <strong>bab 4 tentang mengelola ekspetasi</strong>. Kedua hal ini dibahas di buku <em>Filosofi Teras</em>.</p>
<p>Penulis merupakan tipe orang yang <a href="https://whathefan.com/karakter/terlalu-suka-mengendalikan/">berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu</a> yang ada di sekelilingnya. Bab ini mengingatkan Penulis kalau yang bisa kita kendalikan sepenuhnya hanya diri kita.</p>
<p>Penulis juga masih (sangat) sering berekpetasi kepada orang lain meskipun <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">sudah sering dikecewakan</a>. Bab ini berkaitan dengan bab 2, di mana kita berusaha mengendalikan respon orang lain yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.</p>
<p>Selain dua bab ini, pembahasan yang ditulis cukup menarik meskipun ada beberapa bab yang tidak terlalu Penulis pahami karena keterbatasan otak yang dimiliki.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Filosofi untuk Hidup</em></h3>
<p>Sebagai buku filsafat, sang penulis buku ini berusaha menuliskannya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh pembaca awam seperti Penulis.</p>
<p>Evans menulis buku ini dengan membuat kita berimajinasi sedang mengikuti kelas filsafat, lengkap dengan sesi pagi, sesi siang, hingga ada istirahat makan siangnya.</p>
<p>Dengan menggunakan banyak contoh dari kejadian nyata, kita dibuat lebih mudah untuk memahami dan membayangkan materi di tiap babnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tetap saja ada bagian yang susah untuk dimengerti. Kalau Penulis pribadi merasa kesulitan untuk memahami bab 9 yang membahas tentang seni anarki.</p>
<p>Meskipun keliatan kecil, buku ini terasa sangat padat dan berisi. Penulis menyarankan untuk membacanya tidak lebih dari satu bab sehari agar bisa memahaminya lebih baik lagi.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Nilai: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Filosofi untuk Hidup </em>karya Jules Evans</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
