<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>stres Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/stres/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/stres/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Mar 2023 15:47:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>stres Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/stres/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 01:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[introvert]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[suntuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, scrolling media sosial untuk mencari sesuatu yang lucu, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut.</p>



<p>Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> untuk mencari sesuatu yang lucu, dan lain-lain.</p>



<p>Penulis juga punya caranya sendiri dan ada beberapa. Namun, satu yang dirasa paling sering memberikan dampak positif adalah <strong>keluar dari rumah dan berjalan sejenak</strong>. Mengapa cara ini Penulis anggap ampuh untuk mengatasi rasa sumpek?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keluar Rumah Itu Berat untuk Orang Introvert (dan Pemalas)</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6356" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kamar adalah Tempat Ternyaman untuk Kaum Introvert (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fbetter%2Flifestyle%2Fback-basics-how-instituting-nightly-reading-ritual-has-become-my-ncna1071391&amp;psig=AOvVaw0lPs3gsEMcRNS8gvg3OCOY&amp;ust=1676336031650000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCMCl3L-kkf0CFQAAAAAdAAAAABAJ">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert</em>, rumah (terutama kamar) merupakan tempat ternyaman yang mampu memberikan perasaan aman. Oleh karena itu, jangan heran jika kamar para <em>introvert </em>terkesan nyaman untuk ditempati.</p>



<p>Penulis pun seperti itu. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan demi membuat <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamarnya nyaman</a>. Bahkan, teman-teman Penulis sudah banyak yang memberikan &#8220;testimoni&#8221; terkait betapa nyaman kamar Penulis.</p>



<p>Apalagi, kamar Penulis juga berfungsi sebagai tempat kerja, mengingat sampai sekarang Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em> (WFH).</a> Jadi ada semakin banyak alasan untuk tetap berada di dalam kamar selama mungkin. </p>



<p>Namun, mau se-<em>introvert </em>apapun orangnya, pasti akan menemui titik jenuh jika terus-menerus berada di dalam kamar atau rumah. Seorang <em>introvert </em>pun butuh interaksi dengan dunia luar selama dosisnya tidak berlebihan.</p>



<p>Apalagi jika sedang suntuk, kamar yang awalnya terasa nyaman pun bisa terasa sumpek. Kondisi kamar yang biasanya dijaga kerapiannya tiba-tiba menjadi berantakan dan banyak barang berserakan tidak pada tempatnya. </p>



<p>Bisa dibayangkan, orang yang sedang sumpek tentu akan makin sumpek jika melihat sesuatu yang berantakan. Ada banyak yang berpendapat, kondisi kamar yang berantakan mencerminkan kondisi pikiran yang berantakan pula. Penulis setuju dengan itu.</p>



<p>Penulis pribadi merasa <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">dirinya cukup pemalas</a>, terutama ketika sedang banyak pikiran. Hobi yang biasanya begitu menyenangkan saja berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Hobi bersih-bersih kamar pun juga ikut ditinggalkan.</p>



<p>Jika sudah sampai berada di titik ini, biasanya Penulis akan memutuskan untuk jalan-jalan keluar sejenak untuk menyegarkan pikiran. Bagi seorang <em>introvert </em>(dan pemalas), itu adalah hal yang cukup berat untuk dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berjalan Sejenak untuk Menghilangkan Suntuk</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6357" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Penulis Seringnya Jalan Setelah Jam Kerja (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.theguardian.com%2Fcities%2F2016%2Fdec%2F15%2Fnight-walks-great-tonic-urban-stress-your-stories-nocturnal-city&amp;psig=AOvVaw1UO8uKwq1d9HVkLxOFjwNz&amp;ust=1676336176761000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCJjNjIWlkf0CFQAAAAAdAAAAABAd">The Guardian</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak perlu jauh-jauh hingga perlu mengendarai motor, cukup berjalan-jalan di sekitar saja. Penulis sendiri biasanya melakukan jalan-jalan selepas jam kerja, sekalian membeli makan malam (yang biasanya dilakukan dengan naik motor).</p>



<p>Ketika berjalan kaki, benang kusut yang ada di dalam pikiran biasanya pelan-pelan terurai. Entah apakah ada bukti secara ilmiahnya, tapi mungkin dengan berjalan akan membantu melancarkan peredaran darah yang ujungnya membuat otak menjadi lebih jernih.</p>



<p>Berjalan kaki juga bisa memunculkan dopamin (Penulis belum riset yang membuktikan hal ini) yang membantu menimbulkan perasaan bahagia, sehingga perasaan suntuk seharian yang dirasakan juga perlahan sirna.</p>



<p>Selain itu, Penulis jarang membawa ponselnya ketika berjalan keluar. Itu Penulis lakukan agar dirinya lebih fokus pada momen saat ini tanpa terdistraksi dunia maya, walau tentu saja seringkali pikiran tetap melayang ke mana-mana.</p>



<p>Namun, dengan tidak adanya distraksi, Penulis jadi bisa memerhatikan banyak hal. Ketika membeli makan, Penulis jadi bisa memperhatikan abangnya dan bertanya-tanya banyak hal. Tidak hanya abangnya, Penulis juga memperhatikan orang lain di sekitarnya.</p>



<p>Berapa pemasukan si abang dalam sehari? Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Apakah mereka merasa bahagia? Apakah mereka merasa lelah dalam menjalani rutinitas kesehariannya? Apa yang membuat mereka tetap semangat hidup? Dan lain-lain.</p>



<p>Setelah mengamati orang lain, akhirnya muncul perasaan syukur dari dalam diri. Penulis merasa bersyukur masih diberi kerja yang relatif enak, tidak harus banting tulang dari pagi hingga malam yang membutuhkan tenaga super.</p>



<p>Mungkin banyak yang tidak setuju dengan metode &#8220;membandingkan&#8221; ini, tapi Penulis merasakan manfaatnya. Bersyukur setelah melihat keadaan orang lain rasanya tidak salah, kecuali kita jadi merasa sombong dan merendahkan pekerjaan orang lain. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Merasa suntuk atau stres itu sangat manusiawi dan wajar. Justru rasanya aneh, jika ada manusia yang tidak pernah merasakannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi hal tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.</p>



<p>Biasanya setelah berjalan-jalan sejenak, Penulis yang pikirannya menjadi lebih jernih bisa mulai beraktivitas secara normal. Penulis jadi termotivasi untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">merapikan kamar</a>, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dengan begitu, Penulis pun bisa perlahan-lahan kembali produktif kembali. Contohnya adalah dengan menulis artikel ini, setelah hampir satu bulan merasa tidak <em>mood </em>untuk menulis artikel blog. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas pagi</a> yang lama ditinggalkan pun sedang dimulai kembali.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Februari 2023, terinspirasi dari pikiran yang kerap menjadi lebih tenang setelah berjalan keluar</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berbaju-coklat-berdiri-di-lapangan-rumput-coklat-dekat-badan-air-4275893/">Mateusz Sałaciak</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2022 14:47:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6120</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menyadari bahwa waktunya di dunia hanya sebentar, Penulis dalam beberapa waktu terakhir berusaha untuk bisa memaksimalkan waktunya. Rasanya ingin bisa memanfaatkan waktu sebaik dan seproduktif mungkin. Hanya saja, terkadang ada saatnya sangat susah untuk menjadi porduktif. Selain karena kurangnya niat, bagi Penulis pribadi menjadi produktif akan menjadi sulit ketika pikiran kita sedang penuh atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/">Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menyadari bahwa waktunya di dunia hanya sebentar, Penulis dalam beberapa waktu terakhir berusaha untuk bisa memaksimalkan waktunya. Rasanya ingin bisa memanfaatkan waktu sebaik dan seproduktif mungkin.</p>



<p>Hanya saja, terkadang ada saatnya sangat susah untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">menjadi porduktif</a>. Selain karena kurangnya niat, bagi Penulis pribadi <strong>menjadi produktif akan menjadi sulit ketika pikiran kita sedang penuh atau stres</strong>.</p>



<p>Bahkan, Penulis sering mengalami hal ini dan akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Untuk itu, kali ini Penulis ingin berbagi pengalamannya tentang bagaimana dirinya bisa kembali produktif setelah melewati masa-masa stres tersebut.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Keseharian Jika Sedang Stres dan Tidak Produktif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6122" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Rebahan Seharian (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/lazy-asian-woman-using-smartphone-in-bed-4473626/">Ketut Subiyanto</a>)</figcaption></figure>



<p>Bagi orang-orang yang mengenal Penulis, pasti tahu kalau Penulis adalah tipe orang yang teratur dan sistematis. Semua hal yang dilakukan harus berurutan dan rapi. Oleh karena itu, Penulis adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas.</p>



<p>Untuk menunjang hal tersebut, Penulis rutin membuat <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/"><em>to-do list </em>harian</a> agar tahu ada apa saja yang harus dikerjakan. Pada malam harinya, Penulis akan mencatat semacam jurnal harian di aplikasi Google Calendar untuk mengevaluasi hari tersebut. </p>



<p>Nah, ketika sedang stres atau banyak pikiran, <strong>semua kebiasaan tersebut bisa ditinggalkan begitu saja</strong>. Rasanya begitu malas untuk melakukan banyak hal, apalagi yang membutuhkan ketelatenan seperti itu.</p>



<p>Penulis pernah hingga berbulan-bulan berhenti mencatat jurnal harian yang sudah menjadi kebiasaannya sejak zaman kuliah. Google Calendar yang dulu selalu terisi penuh, kini banyak sekali yang bolong-bolong karena tidak diisi.</p>



<p>Akibatnya, Penulis jadi <strong>terkesan menyepelekan waktu</strong>. Banyak pekerjaan yang tertunda atau bahkan tidak selesai sama sekali. Jika Pembaca menyadari ada waktu Penulis berhenti menulis blog selama berbulan-bulan, kemungkinan Penulis sedang berada di fase tersebut.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, Penulis akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">membuang-buang waktunya dengan rebahan</a> dan menonton YouTube atau bermain media sosial untuk jangka waktu yang kelewat banyak. Terhibur tidak, malah merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan waktu yang ada.</p>



<p>Apalagi, Penulis bukan tipe orang yang &#8220;cepat bangkit dari keterpurukan&#8221; sehingga bisa langsung menyetop dirinya untuk tidak produktif dan mulai kembali menata kehidupannya. Oleh karena itu, ketidakproduktifan ini bisa berlangsung lama dan berputar-putar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lalu, Apa yang Harus Dilakukan agar Kembali Produktif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6123" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Contoh Video-Video di YouTube yang Penulis Tonton untuk Memotivasi Dirinya</figcaption></figure>



<p>Yang namanya masalah, tentu harus dicari akarnya untuk mengetahui solusinya. Untuk itu, cara yang paling utama adalah <strong>bagaimana kita bisa mengatasi stres tersebut</strong>. Karena definisi stres, tentu Penulis tidak bisa menjabarkan secara rinci hal tersebut.</p>



<p>Semua orang memiliki caranya masing-masing dalam mengatasi stres. Ada yang dengan cara makan, nonton film, tidur, liburan, ibadah, main bersama anak, dan lain sebagainya. Lakukan apa yang biasanya membuat kita bisa melepas stres tersebut.</p>



<p>Dalam mengatasi stres, durasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Ada yang cukup satu hari, ada yang butuh berminggu-minggu. Penulis kebetulan termasuk kategori yang terakhir, dan sadar kalau dirinya harus bisa mengelola stresnya dengan lebih baik lagi.</p>



<p>Jika stres sudah bisa mulai dilepas, <strong>cobalah untuk mulai kembali produktif kembali</strong>. Pakai bantuan dari eksternal juga sangat boleh. Kalau Penulis, biasanya akan memicu dirinya sendiri dengan cara nonton berbagai video YouTube yang memiliki tema produktivitas.</p>



<p>Contohnya adalah video <em>desk tour</em>, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a> orang lain, ataupun sekadar orang yang memberikan tips produktif. Memang tidak semuanya langsung Penulis terapkan dalam kehidupannya, tetapi itu sudah cukup untuk memotivasi Penulis.</p>



<p>Jika kita sudah mulai tergerak untuk kembali produktif, <strong>mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu</strong>. Jangan langsung mulai melakukan hal-hal produktif dengan jumlah yang besar, seperti lari pagi sepuluh kilometer atau belajar hal baru selama satu jam.</p>



<p>Mulai saja setiap aktivitas produktif dari yang terkecil. Kalau mau lari pagi, satu putaran cukup. Kalau mau baca buku, coba niati satu halaman dulu. Kalau mau meditasi, coba lima menit dulu. Kalau mau bersih-bersih, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">rapikan saja dulu meja kerja atau kamar tidur</a>.</p>



<p>Nah, kalau sudah memulai, nanti seiring berjalannya waktu jumlah atau durasi dari aktivitas-aktivitas tersebut akan bertambah dengan sendirinya. Yang penting mulai aja dulu, karena tubuh biasanya akan menambah porsinya secara otomatis ketika kita sudah memulainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Apa yang Penulis tuangkan di tulisan ini adalah apa yang Penulis alami sendiri. Untuk itu, belum tentu cara di atas juga bisa dilakukan oleh orang lain. Tentu ada orang yang benci dengan rutinitas, tapi bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik.</p>



<p>Penulis sendiri menyadari bahwa dirinya butuh keteraturan. Dalam masa-masa berhenti mencatat jurnal harian, Penulis benar-benar tidak peduli jika mau melakukan hal-hal yang tidak produktif dalam jangka waktu lama.</p>



<p>Beda dengan ketika Penulis rutin mencatat jurnal harian, di mana Penulis merasa terpacu untuk memanfaatkan waktunya agar merasa puas ketika mencatatkannya di malam hari. Jika seharian merasa produktif, seolah ada dopamin yang dikirimkan ke otak.</p>



<p>Untuk itu, solusi jangka panjang dari permasalahan &#8220;kalau lagi stres jadi tidak produktif&#8221; adalah <strong>belajar mengelola emosi dan stres lebih baik lagi</strong>. Penulis pun hingga saat ini masih belajar karena merasa dirinya sangat kurang.</p>



<p>Ketika kita mampu mengendalikan emosi dan stres kita, yang notabene mengendalikan diri sendiri, hidup produktif akan bisa dilakukan dengan lebih rutin dan baik. Kalaupun ada masalah, itu tidak akan terlalu memengaruhi produktivitas kita.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 November 2022, terinspirasi dari pengalamannya sendiri yang bisa benar-benar tidak produktif ketika sedang stres</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-on-chair-while-leaning-on-laptop-3791136/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/">Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2020 03:47:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4021</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam mengelola blog Whathefan ini, Penulis menargetkan diri untuk membuat enam tulisan dalam satu minggu. Jumlah tersebut demi feed Instagram yang rapi dan lebih menarik. Hanya saja, dalam beberapa waktu terakhir Penulis terlihat jarang menulis blog. Tulisan terakhir yang dibuat adalah Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230; yang tayang pada tanggal 26 Juli 2020. Itupun tulisan pendek [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/">Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam mengelola blog Whathefan ini, Penulis menargetkan diri untuk membuat <strong>enam tulisan dalam satu minggu</strong>. Jumlah tersebut demi <em><a href="https://www.instagram.com/whathefan_/?hl=id">feed </a></em><a href="https://www.instagram.com/whathefan_/?hl=id">Instagram</a> yang rapi dan lebih menarik. Hanya saja, dalam beberapa waktu terakhir Penulis terlihat jarang menulis blog.</p>
<p>Tulisan terakhir yang dibuat adalah <em><a href="https://whathefan.com/wp-admin/post.php?post=4015&amp;action=edit">Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230;</a></em><em> </em>yang tayang pada tanggal 26 Juli 2020. Itupun tulisan pendek yang hanya terdiri dari 185 kata.</p>
<p>Lebih lanjut, selama bulan Juli Penulis hanya memproduksi <strong>7 tulisan</strong> dari yang seharusnya 27 tulisan. Bandingkan dengan bulan Juni dengan 16 tulisan walau angka tersebut juga masih di bawah target bulanan.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu?</p>
<h3>Tanggung Jawab Baru</h3>
<p>Salah satu alasan utama mengapa intensitas tulisan Penulis berkurang adalah karena adanya tanggung jawab baru di kantor Penulis. Sekarang, Penulis menjadi <em>lead </em>untuk media sosial sekaligus Apps dan tidak menulis lagi.</p>
<p>Oleh karena itu, waktu dan tenaga Penulis banyak tersita untuk hal tersebut. Ada banyak sekali hal baru yang harus Penulis pahami dan kuasai. Tak jarang akhir pekan Penulis tetap gunakan untuk bekerja.</p>
<p>Meningkatnya tekanan juga membuat Penulis mengalami stres. Apalagi, Penulis menerima tanggung jawab baru ini di kala pandemi yang sungguh menyiksa mental.</p>
<h3>Kehilangan Gairah Menulis</h3>
<p>Stres yang berkepanjangan membuat Penulis sempat merasa kehilangan melakukan hobi-hobinya, termasuk menulis blog dan membaca buku. Padahal, dua aktivitas itulah yang menemani Penulis di kala sunyi menghampiri.</p>
<p>Sekalipun Penulis memiliki waktu luang, sama sekali tidak ada semangat untuk membuat laptopnya dan mulai membuat tulisan. Buku-buku yang baru dibeli pun tertumpuk begitu saja di rak.</p>
<p>Ada sumber yang mengatakan kalau kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu yang disukai merupakan salah satu ciri orang depresi. Bisa jadi benar, namun Penulis tidak berani menganggap dirinya depresi.</p>
<p>Yang jelas, kombinasi antara stresnya pekerjaan dan tidak bisa pulang karena adanya pandemi menjadi penyebab utama Penulis tidak lagi bersemangat untuk menulis dan membaca.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Pada suatu sore, Penulis memberanikan diri telepon atasan untuk meminta izin bekerja dari Malang selama satu bulan. Penulis memaparkan alasan sebeneranya kalau Penulis sedang stres dan butuh pulang.</p>
<p>Untunglah, atasan Penulis memberikan izin dengan mudah sekali. Apalagi, pekerjaan Penulis sangat memungkinkan untuk dilakukan dari mana saja.</p>
<p>Maka dari itu sejak 1 Agustus 2020, Penulis sudah berada di rumah dan akan terus di sini hingga 30 Agustus nanti. Selama di sini, Penulis merasa energinya yang berkurang banyak telah terisi secara perlahan.</p>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga merasa bisa bekerja lebih produktif lagi. Sesekali muncul rasa malas karena merasa sedang liburan, namun tidak sampai menganggu <em>work flow</em>.</p>
<p>Walaupun begitu, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu untuk bisa mulai menulis blog lagi, diawali dengan <em>curhatan </em>ini. Semoga selama beberapa hari ke depan, Penulis bisa mulai rutin menulis lagi di sela-sela kesibukannya.</p>
<p>Lawang, 16 Agustus 2020, terinspirasi setelah lama tidak menulis blog</p>
<p>Foto: <a href="https://myvalleyschools.org/the-fight-on-stress/">Valley Schools</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/">Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suka Duka Seorang Pemikir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Feb 2020 08:14:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3364</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial Aku Ingin Tahu dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal. Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial <em>Aku Ingin Tahu </em>dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal.</p>
<p>Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa tahu, ada yang merasakan hal serupa.</p>
<h3>Sisi Positif Seorang Pemikir</h3>
<p><div id="attachment_3372" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3372" class="size-large wp-image-3372" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3372" class="wp-caption-text">Mampu Merancang Strategi (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@campaign_creators">Campaign Creators</a>)</p></div></p>
<p>Dengan menjadi seorang pemikir, Penulis sering <strong>merencanakan beberapa langkah ke depan</strong> sekaligus sehingga bisa melakukan antisipasi jika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.</p>
<p>Menjadi pemikir juga akan mendorong kita untuk <strong>sering berpikir sebelum bertindak</strong>. Kita akan melihat, konsekuensi seperti apa yang akan dihadapi jika kita melakukan sesuatu.</p>
<p>Hal ini penting jika kita harus merancang strategi di dunia pekerjaan ataupun sedang menghadapi suatu permasalahan. Memang tidak semuanya bisa diantisipasi, namun setidaknya kita lebih siap secara mental.</p>
<p>Sifat pemikir juga bisa <strong>merangsang rasa ingin tahu</strong> yang akan membuat kita banyak membaca literasi ataupun menonton video yang membahas topik yang dicari.</p>
<p>Jika sedang menemukan sesuatu yang tidak diketahui, kita akan langsung mencarinya di Google ataupun bertanya kepada orang yang lebih paham karena dihinggapi rasa penasaran itu tidak enak.</p>
<p>Seorang pemikir juga jadi <strong>banyak merenungi hal-hal yang kerap diabaikan</strong> oleh orang kebanyakan, mulai dari masalah lingkungan yang memburuk hingga <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-terjadi-sebelum-big-bang/">bagaimana alam semesta ini tercipta</a>.</p>
<p>Penulis juga jadi <strong>sering melakukan interopeksi diri</strong>. Apa saja yang harus dibenahi dari diri ini, langkah apa yang harus diambil agar bisa lebih baik, dan lain sebagainya. Sering kali seorang pemikir juga pandai memotivasi dirinya sendiri.</p>
<h3>Sisi Negatif Seorang Pemikir</h3>
<p><div id="attachment_3373" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3373" class="size-large wp-image-3373" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3373" class="wp-caption-text">Mudah Stres (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@gunaivi">ahmad gunnaivi</a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja, jika sifat pemikir yang dimiliki menjadi berlebihan, efek sampingnya juga tidak kalah banyak. Bahkan, bisa lebih banyak dari sisi positif yang sudah Penulis sebutkan di atas.</p>
<p>Entah ini karena Penulis pemikir atau emang dari <em>sononya</em>, Penulis merasa <strong>menjadi orang yang kaku dan kurang bisa santai</strong> dalam menjalani hidup. Terkadang, Penulis iri ketika melihat ada orang yang hidupnya bisa <em>santuy</em>.</p>
<p>Hal itu bisa terjadi karena kita <strong>mudah kepikiran terhadap sesuatu</strong>, termasuk dari kejadian yang sepele. Jika ada seorang teman yang tidak membalas chat, pikiran kita akan melayang ke mana-mana dan mulai menyalahkan diri sendiri.</p>
<p>Contoh dampak negatif lainnya adalah <strong>sulit membuat keputusan</strong> karena terlalu memikirkan banyak kemungkinan. Kita menjadi bimbang dalam memilih tindakan apa yang harus diambil dalam suatu kondisi.</p>
<p>Pemikir juga kerap memikirkan masa lalunya yang membuat kita <strong>melakukan penyesalan tak berarti</strong>. Biasanya, aktivitas ini dibumbui dengan kata <em>seandainya begini seandainya begitu</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pemikir juga <strong>kerap mengkritisi dirinya sendiri</strong> bahkan hingga membenci dirinya sendiri. Penulis telah menyadari bahwa perilaku tersebut tidak baik dan sudah seharusnya tidak dilakukan.</p>
<p>Menjadi seorang pemikir yang berlebihan juga kerap <strong>membuat kita stres</strong>. Ujung-ujungnya, kesehatan kita (fisik dan mental) pun menjadi terganggu.</p>
<p>Kalau yang sering Penulis alami, Penulis sering merasa <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">khawatir secara berlebihan</a>. Kadang khawatir sama masa depan, khawatir kalau orang lain meninggalkan Penulis, dan lain sebagainya. Hasilnya akan membuat kita gampang merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Banyak hal yang Penulis pikirkan dalam hidupnya sehari-hari, mulai yang sepele seperti <em>nanti siang makan apa </em>sampai yang berat seperti <em>bagaimana kalau aku besok mati dengan dosa yang masih menumpuk</em>.</p>
<p>Jika boleh jujur, Penulis ingin menjadi orang yang lebih <em>santuy </em>dalam menikmati hidup. Tetap menjadi pemikir tidak masalah, namun tidak sampai berlebihan yang ujung-ujungnya membuat stres.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kadar pemikirnya dan banyak membaca buku seputar topik tersebut. Dengan demikian, Penulis bisa menjadi seorang pemikir tanpa perlu merasa stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Februari 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang pemikir</p>
<p>Foto: <a href="https://www.visitphilly.com/things-to-do/attractions/the-thinker/">Visit Philadelphia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
